Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Ketika Cinta Bertasbih 2: Nikah, Nikah dan Nikah

posterkcb_1HARI Jum’at, 25 September 2009 kemarin saya berkesempatan menonton Ketika Cinta Bertasbih 2 [KCB 2]. Cukup terlambat sebenarnya, mengingat film ini sudah dilaunching 17 September yang lalu atau tiga hari sebelum lebaran. Tadinya saya berpikir tidak akan menonton film ini karena seri pertama film ini belum saya tonton [walapun novelnya sudah saya baca]. Apalagi posisi saya sedang berada di Purwokerto yang biasanya film-film baru sampainya di kota ini sekian bulan kemudian. Makanya saya sangat kaget melihat poster film KCB itu ada di daftar film yang sedang tayang di Rajawali 21, bioskop satu-satunya di Purwokerto. Langsung timbul keinginan untuk nonton premier-nya. Sayangnya yang saya ajak nonton mendadak tidak bisa, sementara dua hari berikutnya giliran saya yang tidak bisa ada buka bersama kawan-kawan. Nonton di hari lebaran juga sangat tidak mungkin. Akhirnya ya di hari Jumat setelah lebaran itulah saya berkesempatan nonton KCB itu.

Cerita film ini berkisah tentang kehidupan Khairul Azzam di Solo, kampung halamannya, pasca kelulusannya dari Universitas al Azhar Mesir. Dia berjuang untuk mendapatkan pekerjaan disamping mencari cintanya. Lulusan Mesir ini awalnya membuka usaha titipan kilat barang-barang dari Mesir, namun ibunya kurang suka dan akhirnya berdagang Bakso Cinta yang bentuk baksonya cukup unik yaitu berbentuk hati [malah aneh sebenarnya bakso itu]. Film ini juga berkisah tentang Anna, yang kelak akhirnya jadi istri Azzam, dan suaminya Furqon yang tanpa sepengetahuan Anna sebenarnya divonis mengidap HIV.

Film ini cukup bagus saya kira. Sudut pengambilan gambarnya cukup variatif. Dialog juga tak melulu puitis seperti di novel KCB 1 yang konon divisualisasikan apa adanya di film. Perpindahan antara adegan serius ke lucu juga mengalir begitu saja. Penonton jadi tak terlalu berkerut alisnya saat menonton film ini. Iklan di tengah film juga sudah tak sevulgar seperti yang konon terjadi di film pertama. Hanya adegan saat Anna sedang memeluk adik Azzam saat Ibunya meninggal yang tampak mengiklankan merek jilbab. Namun itu juga tidak terlalu vulgar pengiklannya, masih bisa dibilang wajar.

Secara acting saya benar-benar terkesan dengan acting Deddy Mizwar. Di bulan puasa kemarin beliau menghiasi layar kaca melalui sinetron di Para Pencari Tuhan dengan memerankan tokoh bang Jack. Marbot Mushala ini begitu kental dialek Betawinya, namun di KCB Deddy Mizwar benar-benar lepas dari karakter Bang Jack. Sebagai kyai Solo dialek Betawinya berubah menjadi medok Jawa. Dan dialek itu diucapkan dengan sangat halus mirip aslinya. Berbeda dengan para pemain sinetron Kanjeng Doso yang dialek medok Jawanya terlihat sangat dibuat-buat.

Untuk karakter yang lain actingnya saya kira masih standar kalau tidak mau dibilang kaku. Terutama pemeran Furqon, dia menurut saya masih sangat kaku. Bahkan pemeran Azzam sebagai tokoh utama juga demikian. Perpindahan mimik dari gembira menuju sedih yang ia perankan masih terlalu kasar. Padahal pengambilan gambar adegan yang cukup sering ditampilkan itu dilakukan secara close up. Kekasarannya terlihat begitu jelas. Hal itu bisa dimaklumi karena karena KCB, meskipun yang ini adalah seri kedua, adalah debut acting mereka. Hampir semua pemeran utama di KCB tidak memiliki basic acting, jadi sekali lagi bisa dimaklumi jika acting mereka kurang natural. Namun demikian ada satu pemain yang saya kira cukup natural aktingnya. Dia adalah adik nomor dua Azzam. Saya lupa namanya namun menurut saya dia cukup bagus berperan sebagai adik yang senang bermanja-manja pada kakaknya Azzam.

Kalau dari sisi cerita film ini minim konflik. Hal itu terjadi karena KCB 2 memang jawaban dari masalah-masalah di KCB 1. Konflik mungkin sangat terasa di KCB 1 [sekali lagi saya belum menonton KCB 1 jadi saya menggunakan kata ‘mungkin’, namund dari novelnya yang sudah say abaca memang banyak konflik di KCB 1]. Konflik yang terjadi di KCB 2 hanya satu yaitu saat Furqon memberi tahu Anna bahwa dia terkena HIV, itupun hanya sebentar karena setelah memberi tahu itu Furqon langsung menceraikan Anna. Konflik yang lain tidak ada. Padahal kalau mau banyak konflik yang bisa dibuat. Konflik itu misalkan Furqon tidak mau menceraikan Anna, atau kalau dari Azzam sang tokoh utama misalnya bagaimana hancurnya perasaan dia saat Anna wanita pujaannya menikah dengan sahabatnya. Konflik lain misalnya pergulatan batin Azzam saat kakinya patah dan ibunya meninggal. Juga misalnya bagaiman susahnya dia mencari pekerjaan setelah tamat dari Al Azhar dan berbagai konflik lainnya.

Minimnya konflik itu disebabkan saya kira karena cerita cukup berfokus pada pencarian jodoh Azzam. Hanya di situ focus film ini. Di satu sisi mungkin bagus tapi di sisi lain juga kurang bagus. Istilahnya saking kepenginnya nikah, kematian ibu Azzam-pun tidak terlalu menjadi masalah, apalagi cuma kaki patah. Ditolak gadis yang ini dengan mudahnya cari gadis yang lain. Seolah-olah nikah menjadi suatu keharusan yang menjadi obsesi Azzam. Mungkin Habiburrahman Shirazy sebagai penulis novel ingin menekankan cara seperti itulah yang diajarkan Nabi dalam membina hubungan lawan jenis.

Berhubung tema besar film ini adalah nikah, bagi penonton yang datang dengan pasangannya dijamin sedikit banyak akan gerah. Kalau sudah menikah mungkin tidak ada masalah, tapi yang sedang berpacaran serius mungkin jadi timbul perasaan ingin melangkah ke jenjang selanjutnya. Yang agak repot kalau yang sedang pdkt seperti saya. Baru akan mencoba untuk menjalani hubungan dalam artian pacaran malah disuguhi film yang menganjurkan pacarannya nanti saja yang penting nikah dulu. Hahahaha…

Secara keseluruhan film ini termasuk film yang bisa menjadi alternative tontotan film Indonesia yang temanya itu-itu saja. Sedikit banyak kita bisa belajar agama lewat film ini. Jadi film ini pada akhirnya bukan hanya sekedar tontonan tapi juga bisa menjadi tuntunan.

Semoga bermanfaat

————————

Out of topic:

Paragraph ini bukan tetang review KCB tapi sedikit unek-unek saya tentang bioskop tempat saya menonton film ini. Bioskop ini walau kelasnya semenjana tapi adalah satu-satunya di Purwokerto. Saya sudah lupa kapan terakhir nonton di situ. Pas saya masuk ke situ saya benar-benar kaget dengan pelayannanya. Beberapa tahun tidak menjamah bisokop ini ternyata masih sama seperti yang dulu. Tidak ada nomor tempat duduk di tiket yang kita beli. Tiketnya saja bahkan mirip karcis parkir. Jadi jika ingin dapat tempat yang bagus ya harus cepat masuk ketika pintu studio dibuka. Saat saya nonton KCB ini kemarin penuhnya luar biasa, padahal sudah seminggu setelah premiere. Para calon penonton menumpuk di depan pintu studio. Film yang seharusnya dimulai pukul 4 pintunya baru dibuka jam 4 seperempat. Dan ketika pintu dibuka langsung saja para calon penonton menyerbu studio itu lagi-lagi demi mendapat posisi yang bagus.

Di dalam studio jangan bayangkan seperti di bioskop-bioskop jaringan 21 di kota-kota besar. Kursinya saja seperti sofa ruang tamu biasa dengan sandaran tangan terbuat dari kayu tanpa dilapisi kain lagi. Selain itu pendingin di studio juga tidak terlalu maksimal, penonton tetap merasa gerah saat menonton. Belum lagi kualitas sound yang benar-benar seadanya. Kadang suaranya begitu keras tapi sember [cempreng], kadang juga begitu pelan.

Bukan bermaksud menghina bioskop itu [takutnya saya mengalami kasus seperti Prita Mayasari] namun saya hanya bermaksud memberi kritik membangun. Sebagai satu-satunya bioskop di Purwokerto seharusnya layanan yang diberikan semaksimal mungkin. Di Purwokerto ada banyak sekali kampus baik negeri maupun swasta, SMA juga tak kalah banyak. Market share bioskop kan anak-anak muda itu, jadi bisnis bioskop sebenarnya sangat berprospek. Apalagi nonton di bioskop juga adalah sebuah gaya hidup anak muda sekarang. Entah sekedar hangout bareng kawan atau pacar, bioskop masih menjadi prioritas untuk dikunjungi. Perbaiki lagi fasilitas-fasilitas yang ada dan saya yakin pengunjung akan semakin banyak tak hanya saat film-film tertentu seperti KCB ini. 😀

2 responses to “Ketika Cinta Bertasbih 2: Nikah, Nikah dan Nikah

  1. dina Oktober 1, 2009 pukul 1:46 pm

    ceritanya selalu kayak gitu….;-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: