Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Tentang Rumah Sakit Internasional

BLOGWALKING hari ini saia mendapat fakta menarik. Ternyata RS OMNI yang nama resminya Omni Internatiol Hospital ternyata bukan rumah sakit Internasional. Saia tahu saat bertandang ke blog ini, yang mengutip pernyataan Menteri Kesehatan di tempointeraktif. Nama RS OMNI sendiri menjadi begitu heboh akibat tingkahanehnya menuntut Pita Mulyasari karena dianggap mencemarkan nama baik RS tersebut dan melanggar UU ITE gara-gara menulis email ke kawannya tentang buruknya pelayanan Rusmah Sakit tersebut.

Berikut pernyataan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, seperti yang dikutip dari Tempo:

“Omni itu sebenarnya bukan rumah sakit internasional, hanya namanya,” kata Siti di Jakarta kemarin. Ia telah menegur rumah sakit tersebut sejak Agustus tahun lalu supaya tidak menggunakan kata ‘internasional’ di belakangnya.

Saat membaca pernyataan ibu Menteri yang berada di awal berita, saia langsung teringat akan RS Internasional yang ada di Jogjakarta. Ya, di Jogja ada Rumah Sakit yang dengan begitu bangganya menambhakan kata-kata International di namanya yaitu Jogja International Hospital [JIH]. Orang yang tinggal di Jogja pasti tahu rumah sakit yang didirikan oleh UII, kampus tempat saia menempuh studi. Saia langsung bertanya-tanya apakah JIH itu termasuk kualifikasi rumah sakit internasional asli atau Cuma rumah sakit internasional papan nama saja seperti RS Omni itu.

Setelah selesai membaca tulisan itu saia langsung ‘semacam kecewa’. JIH ternyata sama seperti Omni itu. JIH hanyalah rumah sakit internasional nama saja. Seperti yang dikatakan Mulya Hasmi, Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan, Rumah Sakit Internasional adalah rumah sakit yang mengandung kepemilikan modal asing
bukan standar pelayanan yang internasional. Masih menurut beliau, di Indonesia saat ini baru ada 7 Rumah Sakit Internasional yaitu Rumah Sakit Mitra Internasional, Rumah Sakit Permata Hijau, Rumah Sakit Brawijaya dan Rumah Sakit Internasional Bintaro. Dua rumah sakit lainnya berada di Medan sementara satu lagi di Surabaya.

Tidak ada nama JIH ataupun Yogyakarta ada di nama rumah sakit yang sah mendapat label internasional. Kalau melihat yang dimaksud Rumah Sakit international adalah rumah sakit yang dimiliki modal asing, JIH memang seharusnya tidak masuk. JIH setahu saia murni dibangung oleh UII lewat badan wakaf UII. Tidak ada setahu saia modal asing dalam pendirian JIH.

Ya tidak apalah JIH tidak termasuk rumah sakit internasional yang sebenarnya. Akan tetapi biar bagaimanapun JIH tetap kebanggaan UII dan sedikit banyak saia ikut nyumbang lewat bayaran SPP saia dan masyarakat Jogja pada umumnya. Tanpa modal asing juga merupakan kebanggan tersendiri

-Gambar diambil dari halaman fesbuk JIH

Iklan

13 responses to “Tentang Rumah Sakit Internasional

  1. ~noe~ Juni 8, 2009 pukul 5:49 pm

    dan makin terbuka boroknya yang lain, termasuk saat ini sedang menuntut ahliwaris mantan pasiennya (meninggal) karena tidak mau membayar tagihan, dikarenakan tidak ada kejelasan catatan medis (lagi). kasus yg sama dengan prita.

  2. gurindang Juni 10, 2009 pukul 12:06 am

    berarti, JIH juga kena tegur…?

  3. Yasir Alkaf Juni 10, 2009 pukul 12:27 am

    harusnya si gitu, tapi mungkin maksud si menkes pemerintah tdk ikut tanggung jawab atas keinternasionalan JIH klo tnjadi apa2 sama pasien JIH

    *sepertinya komenku agak membingungkan nih
    ^_^

  4. tforce2009 Juni 10, 2009 pukul 11:45 am

    T_T
    ternyata luarnya saja yang bagus.
    http://tforce2009.wordpress.com

  5. goupgoup Juni 10, 2009 pukul 1:19 pm

    belom pernah ke JIH pak,,kemaren pas sakit saya kesana,,dibilang mw ditelpon dulu dokternya,,heheahaheha

    emnk klo swasta gitu pemerintah bisa campur tangan ya pak??

  6. wahyu kresna Juni 12, 2009 pukul 1:37 pm

    tapi JIH bagus kok.. :mrgreen:
    mungkin karena SPP saya juga ya JIH jadi bagus., haha…

    *kabuuurrr…

  7. raditya angga Juni 12, 2009 pukul 3:31 pm

    hahaha,,SPP saya juga ada dsana,,,wkwkwkw

  8. Yasir Alkaf Juni 14, 2009 pukul 10:13 pm

    ya ya ya
    karena SPP kalian lebih mahal dr saia berarti saham kalian d sana lebih besar juga kali ya…

    hehehehehe

  9. darmawanta Juli 7, 2009 pukul 1:50 am

    yang menulis dan memberi komentar hanya asal ngomong, apakah saudara tahu yang sebenarnya??? hati-hati;;;

    UU ITE ada disamping kamu??!!!

  10. edo September 6, 2009 pukul 1:16 pm

    assalamu’alaikum wr.wb SPP darimana pak….. apakah tertera dalam print out pembayaran SPP…?!?!?! kalo gitu gak ada tranparansi dong… jangan-jangan isu? ada buktinya atau tidak?
    kabar-kabar burung… insya allah akan terjawab anatara tahun 2014-2016,
    jika anda tahu banyak tentang JIH coba liat ke belakang…. mengenai hal perijinan ketika akan medirikan JIH…. setiap kota, pemerintah atau daerah mana saja yang akan mebangun RS memiliki perijinan… mas-mas dan Mbak-mbak pasti tahulah… perijinan RS UMUM atau RS PENDIDIKAN coba telusuri…. karena… isi dari perijinan JIH tidak sesuai dengan fakta setalh berjan 5 tahun dalam perijinan akibatnya : salah satu fakultas di UII kecewa….., mudah-mudahan kekecewaan tersebut tergantikan, mudah-mudahan anak-anak UII menjadi orang baik (tahu yang salah dan yang benar), mudah-mudahan anak UII tanggap,lugas, cermat perduli jika ada hal yang merusak merusak/mencoreng nama baik bangsa termasuk nama baik UII, entah dari dalam atau dari luar……. sukseslah untuk anak UII……. anmiin-amin allahumma amin…. wass salam……

  11. mesinantrianmurah November 19, 2015 pukul 12:58 pm

    Jadi Namanya saja yang mengandung Internsional sudah seakan-akan RS bertaraf Internasional ya… ya boleh lah…

  12. yoga Juni 25, 2016 pukul 5:45 am

    Mau meralat mas, sebenarnya RS internasional tidak harus rumah sakit yang mengandung kepemilikan modal asing. Tapi berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 659/Menkes/Per/VIII/2009, tanggal 14 Agustus 2009, tentang Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia, pasal 15. Standar dan kriteria Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia yaitu:

    1.Standar pertama, mempunyai izin operasional pelayanan kesehatan, laboratorium, apotik, radioaktif, pengelolaan limbah yang masih berlaku dari pihak yang berwenang, mempunyai ikatan kerjasama dengan Fakultas Kedokteran setempat dalam rangka pendidikan kedokteran/spesialis (Sp1 maupun Sp2) sesuai dengan Sistem Pendidikan Nasional RI, dan mempunyai Hospital Bylaws dan Medical staf bylaws yang telah dievaluasi dan ditindaklanjuti.

    2.Standar kedua, mempunyai visi, misi, tujuan serta nilai-nilai rumah sakit meliputi bidang pelayanan, pendidikan dan penelitian serta mempunyai rencana strategis untuk mencapai visi dan misi untuk ketiga bidang (pelayanan, pendidikan dan penelitian) yang mengacu kepada Sistem Kesehatan Nasional dan Sistem Pendidikan Nasional telah dievaluasi dan ditindaklanjuti.

    3.Standar ketiga, mempunyai struktur organisasi dan uraian tentang fungsi, tugas, wewenang, kewajiban dan tanggung jawab setiap unit dalam bidang pelayanan, pendidikan dan penelitian yang telah disahkan oleh Dewan Pengawas dan pemilik rumah sakit dan telah disosialisasikan, dipahami, dievaluasi dan ditindaklanjuti, dan rumah sakit mempunyai kebijakan tentang mekanisme pengambilan keputusan secara tertulis telah disahkan oleh pimpinan/pemilik institusi.

    4.Standar keempat, mempunyai program efisiensi biaya pelayanan kesehatan, program layanan kesehatan terpadu, program keselamatan pasien, mempunyai pedoman pelayanan kesehatan yang telah disahkan pimpinan RS, program pendidikan dokter yang mengacu kepada program pendidikan dokter FK setempat dan pendidikan dokter spesialis (Sp1) serta pendidikan dokter spesialis konsultan (Sp2) yang mengacu kepada standar pendidikan profesi dokter, pendidikan dokter spesialis (Sp1) dan dokter spesialis konsultan (Sp2) FK setempat dan standar pendidikan profesi dokter dari kolegium terkait yang telah disahkan oleh KKI, dan mempunyai program penelitian kesehatan (kedokteran, keperawatan dan manajemen RS).

    5.Standar kelima, menggunakan obat-obatan sesuai dengan Daftar Formularium Rumah Sakit yang telah disusun dalam 3 tahun terakhir, menggunakan antibiotik secara azaz manfaat dan selektif (>80%), memberikan pelayanan pasien sesuai dengan kegiatan Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) (80%), memberikan pelayanan pasien sesuai dengan Standar Pelayanan Medis (>80%), mempunyai Clinical Pathways dalam memberikan pelayanan pasien (>80%), dan melaksanakan program cuci tangan dalam memberikan pelayanan pasien (>80%).

    6.Standar keenam, mempunyai SDM tenaga profesi (medis, keperawatan dan apoteker) rumah sakit dan pengelola rumah sakit (direksi/manajer) lulusan dari institusi dalam ranking 300 dunia (top QS institutes) (>80%), dan kemampuan SDM tenaga profesi dan pengelola (direksi/manajer) rumah sakit berkomunikasi mempergunakan bahasa internasional dan bersertifikasi nilai minimal TOEFL 550 atau IELTS 21 (>80%).

    7.Standar ketujuh, mempunyai sarana peralatan penunjang diagnostik dan terapeutik yang dibutuhkan untuk bidang pelayanan, pendidikan dan penelitian tingkat tersier dan berfungsi baik sesuai standar, mempunyai sarana teknologi informasi dan audiovisual, mempunyai perpustakaan, mempunyai sarana pertemuan ilmiah, serta sarana dan prasarana yang berwawasan ramah lingkungan atau Green Hospital.

    8.Standar kedelapan, mempunyai program monitoring dan evaluasi pelayanan, pendidikan dokter/dokter spesialis dan penelitian telah disahkan oleh pimpinan institusi serta telah disahkan, dipahami, dievaluasi dan ditindaklanjuti.

    9.Standar kesembilan, mempunyai program Peningkatan Mutu (Quality Improvement, yaitu mempunyai kebijakan tentang pertemuan rutin tingkat unit dan institusi yang terjadwal mengenai perkembangan pelayanan, pendidikan dan penelitian rumah sakit serta program upaya perbaikan dan peningkatan mutu pelayanan, pendidikan dan penelitian ditingkat unit maupun institusi telah dievaluasi dan ditindaklanjuti.TATA LAKSANA PENGAJUAN –
    See more at: http://www.depkes.go.id/development/site/jkn/index.php?cid=823&id=rs-dilarang-menggunakan-kata-kelas-dunia/internasional/global.html#sthash.VXRQ14fR.dpuf

    Tentang penghapusan kata “Internasional” sendiri yaitu karena untuk mewujudkan pelayanan kesehatan rumah sakit Indonesia yang bermutu dan setara dengan pelayanan kesehatan rumah sakit kelas dunia. Ketentuan itu diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 659/MENKES/PER/VIII/2009 tentang Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia tanggal 14 Agustus 2009 tentang RS Kelas Dunia. “Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia dilarang mencantumkan kata kelas dunia/internasional/global atau yang sejenis sebagai nama rumah sakit. Semua RS yang menggunakan nama kelas dunia/ internasional/global dan sejenisnya diberi batas waktu sampai 14 Agustus 2010 untuk menghilangkan atau mencabut kata kelas dunia/internasional/global.”
    Jadi tidak ada yang namanya harus memiliki kepemodalan asing. Terimkasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: