Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Fenomena Epigonisme

Epigonisme berbeda dengan plagiatisme meskipn keduanya berhubungan dan sama-sama berkonotasi negative. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan definisi sendiri mengenai dua term itu. Pertama yaitu epigonisme yang berasal dari kata epigon. Epigon adalah orang yg tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yg mendahuluinya. Plagiatisme berasal dari kata plagiat yang berarti pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri. Imbuhan kata isme di belakang akar kata menunjukkan adanya suatu proses yang menjelasakan kata benda tersebut

Kenapa tiba-tiba saia menulis tentang epigonisme ini? Inspirasi ini datang beberapa bulan yang lalu ketika seorang rekan memegang buku Musafir Cinta dan Munajat Cinta karya Taufiqurrahman El Azizy. Sepintas begitu melihat kedua buku baik dari segi judul maupun sampul terutama Munajat Cinta, benak saia langsung tertuju ke novel Ayat-Ayat Cinta. Desain sampulnya cukup mirip dengan tipikal sampul Ayat-Ayat Cinta yaitu gambar seorang wanita yang tertutup cadar dan hanya menyisakan mata saja. Selain itu nama pengarangnya juga sangat mirip, Taufiqurrahman el Azizy dan Habiburrahman el Shirazy. Secara pronounsiasi kedua nama itu sungguh sangat serupa dan senada. Coba saja lafalkan dua orang itu. Ada suatu kenyamanan yang sama ketika mengucapkan dua nama itu. Siapa yang diuntungkan? Kalian pasti bisa menyimpulkan sendiri.

Kekagetan saia semakin bertambah ketika suatu ketika sedang singgah di sebuah toko buku saia melihat ada sebuah novel yang berjudul Bait-Bait Cinta karya Geidurrahman el Mishry. Wow, belum cukup diduplikat oleh Taufiqurrahman el Azizy kali ini Kang Abik, panggilan akrab Habiburrahman el Shirazy, kembali di duplikat oleh orang lain. Nama jelas masih sama menggunakan embel-embel rahman dan menggunaka gelar el. Sampul juga tipikal Ayat-ayat Cinta dengan menggunakan wanita bercadar yang hanya disisakan matanya saja. Yang cukup keterlaluan judul juga sangat mirip, sama-sama ada pengulangan kata di depan kata cinta. Ketika itu saia hanya bisa berujar benar-beanr keterlaluan orang-orang ini.

aac1munajat_cinta_1_okmusafir-cintagro0017

Kekagetan saia semakin memuncak ketika sedang browsing internet saia tanpa sengaja saia masuk ke sebuah forum diskusi yang membandingkan novel Laskar Pelangi dengan Rumah Pelangi. Desain sampul keduanya sungguh sangat mirip, baik dari sisi gamb,ar warna maupun type font yang dipakai. Bahkan kemiripan sampul novel-novel yang mengekor Ayat-ayat Cinta kalah dengan kemiripan Sampul Rumah Pelangi dan Laskar Pelangi ini.

laskar_pelangirumah-pelangi

Mau dibilang kesal, saia memang cukup kesal dengan orang-orang tersebut. Bahwa novel Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi sedang popular memang iya, tapi apakah harus memirp-miripkan dengan novel tersebut baik dari segi sampul maupun nama pengarang. Apa mereka tidak sadar bahwa hal itu mungkin bisa mendongkrak penjualan tapi itu sama saja menipu konsumen karena konsumen salah membeli novel yang dimaksud. Hal ini terutama bagi novel Rumah Pelangi yang sampulnya sangat mirip dengan Laskar Pelangi yang booming itu.

Ketika sesorang memiliki rasa malu, mempunyai idealisme dan tidak mengejar materi hal ini mungkin tidak akan terjadi. Seandainya saia adalah Samsikin Abu Daldiri si pengarang Rumah Pelangi, saia akan menolak novel saia diterbitkan ketika desain sampul saia dimiripkan dengan Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Seandainya saia desainer sampul Rumah Pelangi tersebut saia akan menolak mendesain dengan memiripkan dir dengan desain sampul novel Laskar Pelangi. Orang akan membeli karya saia bukan karena dia tertarik dengan materi tulisan saia tapi ada kemungkinan lebih cenderung karena salah ambil novel. Dia bermaksud membeli Laskar Pelangi tetapi salah ambil Rumah Pelangi. Buat apa saia berkarya kalo seperti itu. Masih banyak penerbit lain yang bisa dicoba kalo ternyata penerbit itu memaksa demikian.

Fenomena inilah yang bernama fenomena epigonisme. Intinya seseorang tidak memilki ide baru tetapi hanya mengikuti saja yang sudah ada. Sekarang lagi booming penulis menggunakan nama yang berakhiran rahman dengan ditambah el, maka dia ikut dengan mode itu. Sekarang lagi booming sampul menggunakan gambar wanita bercadar maka dia ikut saja. Sekarang lagi booming judul novel pembangun jiwa religi atau semi religi yang berakhiran kata cinta maka dia ikut-ikutan. Disebut plagiat tidak tepat karena mereka tidak menjiplak tapi hanya mengikuti saja. Itulah mengapa fenomena ini lebih tepat disebut sebagai epigonisme.

Fenomena ini memang bukan fenomena baru dan tidak hanya terjadi di dunia tulis menulis. Saia masih ingat dulu ketika sedang booming-nya sinetron Tersanjung maka semua sinetron mengekor membuat judul dengan awalan “ter-” seperti Terpesona, Tersayang, dan “ter-” yang lain saia sudah lupa. Atau sinetron belakangan ini yang mengekor judul sinetron yang booming berjudul Cintra Fitri. Setelah itu banyak sinetron yang menggunakan kata “Cinta” seperti Cinta Indah, Cinta Bunga, Cinta Kirana dan lainnya. Sama seperti pemilihan judul novel di atas ada ketidakkreatifan dengan hanya mengekor yang sedang populer saja.

Satu lagi contoh betapa budaya epigonisme begitu lekat di Indonesia adalah peniruan karakter tokoh. Ada Argo yang meniru AA Gym, Gus Pur dengan Gus Dur, (alm) Taufik Savalas dengan SBY, Kelik Pelipur Lara dengan Yusuf Kalla, Habudi dengan BJ Habibie dan masih banyak yang lainnya. Khusus untuk yang ini memang murni hiburan tapi juga sekaligus bukti betapa meniru memang menjadi budaya negeri ini.

Sebagai penutup budaya epigonisme harus dibuang dari negeri ini. Kalau kita hanya mengekor saja kekreatifan kita menjadi terpasung. Padahal sebenarnya dengan kekreatifan ini bukan tidak mungkin bangsa ini bisa menjadi maju dan bangkit dari keterpurukan yang sudah akut melanda negeri ini. Serta merta dibuang mungkin akan sulit namun jika dilakukan perlahan pasti akan bisa.

Semoga mencerahkan….


Tulisan ini terdaftar dalam Bank Tulisan LPM Profesi 2008-2009

15 responses to “Fenomena Epigonisme

  1. iamjuz Desember 18, 2008 pukul 5:29 pm

    hahahaha…
    Bait-Bait Cinta, penulisnya pernah dimuat di salah-satu-koran-yg-aktif-saya-baca : Kompas / Kedaulatan Rakyat / Jawa Pos.
    Lupa yang mana, yg jelas pernah baca tuh.

    Ga terlalu niat bacanya, abis dah keburu sinis duluan sama penulisnya. Gile ye, Bait-Bait Cinta, ketauan banget copycat nya…..

    Epigonisme…
    Hmmm…. biasa, lebih mudah ngikut yg udah tenar / berhasil, daripada harus susah payah terseok-seok sebagai pure newbie..

    eh, Jepang tuh tingkat epigonisme lebih tinggi dari kita deh menurutku.

  2. Yasir Alkaf Desember 19, 2008 pukul 1:43 am

    Sama, saia juga belum baca semua novel yg ber-embel2 cinta selain yg karangan Habiburrahman. Liat judul ma penulis yg memirip-miripkan dengan yang sudah terlanjur best seller jadi males baca, meskipun konon katanya novel Taufiqurrahman el Azizy lumayan bagus. Saia juga heran sama Geidurahman, namanya aneh banget. Apapula arti Geidur?

  3. gurindang Desember 19, 2008 pukul 12:55 pm

    oh itu namanya Epigonisme..?

    menurutku sih, amlah merendahkan karya sendiri dengan epigonisme itu. mreka gak ngrasa kali, kalo qta liat buku dengan kemiripan bentuk yang amat sangat ituh dengan mata mendelik, mulut mencibir…
    tauk deh..

    numpang nanya juz dunk…dmana letak epigonisme jepang..?

  4. afril Desember 20, 2008 pukul 7:10 am

    Bener. Novel semacam itu malah justru menurut saya seperti sebuah karya picisan. Meskipun sebenarnya mungkin isinya bagus, tapi tetap saja kesan pertama saya melihatnya: picisan. terlepas dari terlibat atau tidaknya penulis dalam pembuatan sampul. tak adakah judul yang lain juga?

  5. benz Desember 20, 2008 pukul 2:31 pm

    dalam setiap proses kreatif penciptaan karya tulis (puisi, cerpen, cerbung, novel, etc.) SELALU ADA SAJA yang namanya epigonisme (entah bagaimana dalam kalimat ini sebenarnya ‘epigon’ diberi imbuhan, apakah ‘isme’ atau yang lain..), terutama pada -penulis pemula-. Secara SADAR ATAU TIDAK, mereka (termasuk saya) “menjadi epigon” saat menulis. Namun hal berikutnya yang harus dicermati oleh si penulis pemula itu sendiri adalah, “sadar bahwa ia tidak boleh menjadi epigon belaka”. Setelah hal tersebut berhasil dilakukan, maka pada proses perkembangan menulis mereka (penulis pemula), mereka akan SECARA OTOMATIS, perlahan namun pasti “menjauhkan” diri dari yang namanya epigonisme (lagi-lagi saya ragu apakah imbuhan yang saya pakai ini -untuk kalimat saya ini- adalah benar).

    Maka, yang ingin saya utarakan adalah: saya ragu bahwa penulis-penulis novel yang sudah ‘bernovel’ itu memang seorang ‘novelis’. Saya curiga mereka adalah PENULIS PEMULA (seperti saya) yang memiliki kadar EPIGON luar biasa BESAR dan masih sangat MENIKMATI ke-epigon-annya itu (ah, saya semakin ragu imbuhan yang saya gunakan untuk ‘epigon’ ini benar atau salah)

  6. Yasir Alkaf Desember 21, 2008 pukul 4:49 pm

    Karena merujuk pd KBBI [versi online] yg menyatakan bahwa epigon itu cenderung sbg kata benda maka saia tambahkan -isme utk menghilangkan makna kata benda tersebut. Biasanya kata fenomena tdk diikuti kata benda. Barangkali ada usulan yg tepat kalau akhiran isme itu kurang tepat?

    Mungkin perlu dibedakan antara epigon itu dg inspirasi. Kalo yg di mskud Benz mungkin inspirasi dari ide karya orang lain. Dan menurut saia itu bukan epigon. Ide itu kan universal. Ide yg sama bisa saja diungkapkan dg cara yg berbeda tergantung penulisnya. Tulisan saia yg “Obrolan tentang…” misalnya terinspirasi dr kolom Ahmad Tohari di kompas. Saia tertrik dg cara dia menulis mslh yg cukup berat dg gaya santai obrolan. Ide itu yg kemudian saia ikuti dg gaya saia sndiri.

    Mungkin juga “novelis” tsb memang “penulis pemula” tpi saia tdk berani berkomentar sprti itu. Saia lbh mencurigai faktor materi yg berbicara di sini karena mnrt saia karya yg mereka tiru tdk terlalu istimewa [laris memang iya]. Novel Ayat2 Cinta yg jadi sumber epigon itu mnrt saia ceritanya tlalu melangit dg tokoh utama yg sngt sempurna itu. Atau Laskar Pelangi yg kadang bahsanya terlalu tinggi utk ukuran Ikal sbg tokoh utama yg sdng bercerita itu. [tapi ini subyektif sekali lho ya…, yg suka k2 novel itu jgn marah]

    Nah dg meniru itu kemudian dia mendapat keuntungan kan sbnrnya itu yg membuat kita keberatan. Kalo utk belajar mungkin tdk mslh. Mereka itu saia kira tdk dlm posisi berlajar karena novel mereka sdh terbit…

  7. gurindang Desember 22, 2008 pukul 7:49 am

    Setuju sekali dangan Adi…
    Aq kira yng dimaksud Benz emang inspirasi,,yang mana setiap penulis pemula pasti memiliki kecendrungan karya, misal tema atau gaya penulisan, yang mirip dengan seorang yng udah punya nama besar, dan itu kayaknya si emang inspirasi (karena penulisan kan dipengaruhi oleh bacaan juga yak?). Katanya sih, seiring jalannya waktu, si penulis pemula akan menemukan gayanya sendiri.

    Hmm,,kalo epigonisme itu…hmm..kalo bole positif siyh..kayaknya emang numpang tenar dan numpang dapat untung..hoohohhoh,,piss!!!

  8. noe April 2, 2009 pukul 10:52 am

    Huh…iya yah…semakinmarak saja penjiplakan…plus penyaduran karya2 sastra….
    sedih deh..

    kurang kratif…

  9. manda :) Juli 1, 2009 pukul 12:27 pm

    what ?
    bener bener dehh 😦

  10. Pingback: Cerita Lebaran 1430 H « Yasir Alkaf

  11. dilla November 5, 2009 pukul 3:38 pm

    MANTAPHHHHHHHHHHHHHHHHHH
    OENGEN JD BAGIN NAAA

  12. opick April 7, 2010 pukul 10:32 am

    bagi penulis pemula tu wajar aja mnjadi epigon, untuk mnumbuhkan kreatifitas dan imajinasi yang blum bisa muncul sndir, jadi masih mmbutuhkan bantuan dari karya2 orang lain, but, jgn terus2an menjadi epigon….krn tu sma aja ama anak kcil yg terus-terusan minta disuapin oleh ibunya…..heheheheheheheh

  13. helmi Juli 21, 2010 pukul 9:33 am

    tapi apakah mengikut desain suatu bangunan (rumah, gedung, dll) itu termasuk epigonisme..,

  14. Pingback: SANG KIAI (2013): Biopik yang Tercampuraduk « Yasir Fuadi

  15. Fern Juli 20, 2013 pukul 10:41 pm

    I was recommended this blog by my cousin.
    I’m not sure whether this post is written by him as nobody else know such detailed about my difficulty. You are amazing! Thanks!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: