Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Berpusing-pusing dengan Silsilah Keluarga

DSC00127BEBARENGAN dengan kepulangan saya ke Purwokerto untuk menunaikan ‘kewajiban suci’ memilih Presiden Indonesia untuk tahun 2009-2014, saya juga sekalian mengambil sebuah buku tentang kakek buyut saya yang juga berisikan tentang silisilah lengkap sampai ke buyut-buyutnya. Jadi ceritanya tahun 2008 kemarin kakek saya membuat sebuah buku berjudul  ‘Mengenang 50 Tahun Wafat Almarhum Mbah H. Muhammad Thoyib, Wareng 26 April 1958 – 26 April 2008’. Penulis buku ini, Mbah Ahmad Riyanto, adalah kakek saya tapi bukan kakek langsung. Beliau itu putra dari kakek buyut saya, yaitu mbah Thoyib yang jadi bahasan utama buku ini, tapi beda ibu dengan Ibunya ayah saya. Sepertinya agak rumit ya? Gampangnya penulis buku ini adik dari nenek saya tapi berasal dari beda ibu.

Keluarga saya, terutama yang dari ayah saya, memang bisa dibilang keluarga sangat besar. Dan anak cucu serta buyut dan bawahnya buyut itu menyebar kemana-mana. Akibatnya diantara kita beberapa jadi tidak saling kenal. Jangankan yang dari mbah buyut Thoyib, dari kakek yang merupakan bapak dari bapak saya beberapa keturunannya tidak saya kenal. Bayangkan mbah Mu’thi kakek saya punya 13 anak dan ayah saya adalah anak ke 12. Antara ayah saya dengan kakaknya yang pertama, bude Nafisatun, jaraknya sampai 23 tahun. Wajar dong kalau saya tidak mengenal satu persatu karena kitapun jarang  berkumpul.

Resiko dari keluarga besar dan jarak lahir yang jauh seperti itu adalah pemanggilan yang sangat tidak sesuai dengan umur. Dengan putra putri dari bude pertama saya itu misalnya berarti saya cukup panggil mas atau mbak, padahal mungkin mereka sudah mempunyai anak yang bahkan umurnya juga mungkin lebih tua dari saya. Beberapa sepupu tua saya itu ada yang sudah sering bertemu jadi sudah agak cukup akrab, tapi ada juga yang belum pernah jadi agak canggung. Kalau yang sudah sering bertemu itu  meskipun posisi beliau saat ini sudah cukup berumur, sudah punya anak dan bahkan menjadi seorang Kepala Sekolah saya cukup terbiasa memanggil dengan sebutan ‘mas’ saja. Tapi harus diakui perasaan ‘aneh’ tetap tidak hilang-hilang.

Anak para sepupu saya atau cucu bude itu berarti praktis memanggil saya dengan sebutan ‘pak lik’ atau ‘om’ biar lebih modern sedikit. Untuk ukuran semuda saya [22 tahun] dipanggil dengan sebuan ‘om’ juga rasanya tak kalah aneh. Dan itu benar-benar terjadi beberapa hari yang lalu. Jadi cucu bude Nafisatun itu hari Sabtu [11/07/2009] kemarin baru saja menikah. Saya belum cukup akrab dengan keluarga yang inggalnya di Jakarta itu. Besarnya keluarga dan menyebar ke mana-mana menjadi apologi bagi saya atas ketidakakraban ini. Ketika pada akhirnya kami berkumpul dan dia yang mau menikah itu memanggil saya dengan panggilan ‘om’ rasanya sungguh aneh. Aneh karena dia lebih tua dari saya. Lebih aneh lagi adik-adiknya yang juga ‘harus’ memanggil saya ‘om’ juga padahal umurnya sepantaran dengan saya. Saya sadari keanehan itu juga dialami mereka karena saya dengan adik dari keponakan saya itu jadi saling sungkan satu sama lain. Akibatnya kita malah jadi jarang ngobrol.

Itu cerita ribetnya punya keluarga besar. Sebelum adanya buku ini, saya hanya mengetahui hubungan persaudaraan ini dari penuturan ayah saya. Karena hanya berdasarkan cerita tentu sangat sulit dipahami dan mudah dilupakan. Adanya buku ini sungguh sangat membantu saya. Saya misalnya jadi tahu kalau saya ini ternyata cucu ke-47 dari mbah Thoyib. Selain itu ntuk mengetahui bagaimana saya memanggil saudara saya juga bisa dilihat dibuku ini.

Di buku ini ditampilkan silsilah dari mbah buyut sampai ke buyutnya. Dengan istri yang ini mbah buyut punya anak siapa dan cucu siapa saya dan buyutnya siapa saja. Begitu seterusnya. Selanjutnya di bagian yang lain juga ditampilkan profil singkat beserta contact yang bisa dihubungi.

Buku ini meskipun untuk konsumsi internal keluarga tapi digarap dengan sangat serius. Nama-nama keturunan mbah Thoyib terkumpul dengan sempurna dengan disertai profilnya. Padahal seperti yang sudah saia sebutkan keluarga ini tersebar di mana-mana. Tebal buku ini sebagai informasi juga mencapai 336 halaman. Covernya juga memakai kertas yang biasa dipakai di buku-buku yang dijual di toko. Mbah Ahmad Riyanto menyusun dan mencetak buku ini dengan sukarela. Setahu saya tidak ada kita diminta menyumbang dana unuk mencetak buku ini. Masing-masing cucu dan buyut dikasih dengan gratis satu buku. Saya dan adik saya masing-masing mendapat buku ini, begiu juga ayah saya. Entah berapa dana yang dikeluarkan kakek saya untuk menyelesaikan buku ini. Tapi paling tidak ayah saya turut membantu penyusunan buku ini dengan menyumbangkan format silsilah yang mudah dipahami. Kontribusi itu tertulis di pendahuluan buku ini.

Sebagai keturunan generasi muda saya akui saya buku ini sangat bermanfaat bagi saya untuk mengenal keluarga saya yang sangat besar ini. Paling tidak meskipun mungkin tidak bertemu dengan keluarga itu, saya tetap bisa tahu bahwa orang ini keluarga saya. Memalukan sekali kalau generasi ini sampai terputus

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: