Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Analogi Idul Fitri

Kemarin iseng bikin serial tweet tentang Analogi Idul Fitri dalam kehidupan sehari-hari. Analogi lewat kehidupan sehari-hari dan sepakbola itu saya buat karena ada kawan yang tampak bingung koq bias ada perbedaan dalam menentukan hari raya. Daripada tweet itu Cuma numpang lewat saja di Twitter tanpa terarsipkan, jadilah saya copy ke blog ini yang jauh lebih timeless. Seperti apa analoaginya? Enjoy this:

ANALOGI 1: Menentukan Awal Bulan

Seorang ayah berpesan pd anaknya, tiap tgl 29 galon dicek msh ada air atau tidak. Kalau sdh habis besoknya harus diisi ulang.

Pd dasarnya anak2 ayah itu mengikuti perintah tsb, sampai ada perbedaan pendapat antar kakak beradik dlm menanggapi perintah ayahnya.

Anak ketiga, rutin tiap akhir bulan ngecek galon. Kalau dari luar sdh terlihat terlihat tdk ada air, maka galon dicopot dan ganti beli baru.

Anak kedua yg ‘lebih pintar’ berpendapat lain. Karena pandai menghitung dia membuat rumus utk mengetahui sisa air di galon..

.. berdasarkan bbrp kriteria. Kalau mnrt hitungan msh ada air ya tanpa perlu diperiksa, galon tak perlu diganti.

Walaupun mslnya mnrt hitungan, air TINGGAL SETETES ya tdk diganti. Perintahnya kan ganti kalau habis. Ini kan belum habis.

Anak pertama lain lg, dia paham, bisa & mempraktekan jg hitung2an anak kedua. Tp bedanya stlh menghitung dia ngecek si galon jg..

Kalau berdasarkan hitungan air msh ada tp tdk cukup utk bisa diminum ya galon diganti. Dia bikin kriteria jika hasil hitungan…

… di bawah angka tertentu air tdk mungkin bisa diminum maka walaupun msh ada ya ttp diganti. Hitungan jalan, cek galon jg dilaksanakan.

Siapa yg benar dan paling masuk akal silahkan ambil kesimpulan sendiri.

ANALOGI 2: Hitungan yang Pasti Benar

Tanggal 30 Februari 2012, Barcelona akan bertanding lawan Persija di Nou Camp memperebutkan Trophy Bang Bepe Cup.

Untuk menentukan pemenangnya tentu kedua tim hrs bertanding sesuai peraturan2 FIFA yg ada.

Akan tetapi suporter dan petinggi klub, baik dari Barcelona maupun Persija, terpecah menjadi dua kubu, kubu A dan kubu B.

Kubu A berpendapat: Pertandingan itu tdk perlu diselenggarakan karena berdasarkan hitungan dipastikan Barcelona akan menang.

Berdasarkan Castrol Index masing2 pemain dpt dihitung bahwa pertandingan akan dimenangkan Barcelona dg skor 5-0.

Karena sudah pasti, buat apa pertandingan diselenggarakan, dan buat apa jg superter hrs nonton? Buang waktu, energi & duit.

Kubu B berpendapat lain: Secara matematis memang Barcelona akan menang, tp itu hanyalah PREDIKSI, kenyataan sangatlah bisa lain.

Jadi, untuk memastikan pemenang pertandingan harus dilaksanakan dan juga ditonton.

Kubu B, yg sebenarnya menjalankan aturan FIFA, disebut kuno oleh kubu A. Masyarakat awam melihat ada perdebatan antara Kubu A & B.

Padahal kenyataannya justru Kubu A berbeda pendapat dg FIFA, bkn dg Kubu B. Adalah salah menyebut Kubu A dan Kubu B musuhan.

Siapa yg benar silahkan ambil kesimpulan sendiri.

ANALOGI 3: Kerumitan Pasca Perbedaan

Peraturan dari FIFA ‘memerintahkan’ bahwa pertandingan sepakbola adalah 90 mnt dlm bentuk 2 x 45 menit.

PSSI sbg pemimpin sepakbola Indonesia tentu menjalankan aturan itu & memerintahkan pertandingan sepakbola Indonesia = 90 mnt (2×45 mnt).

Ketika ada klub di Indonesia, taruhlah misalnya Persibas, bikin aturan sendiri pertandingan sepak bola = 3 x 30 mnt apakah salah?

Alibi Persibas adalah toh 2 x 45 mnt = 3 x 30 mnt. Janganlah perbedaan dijadikan sebuah masalah karena perbedaan adlh rahmat Tuhan.

Berdasarkan pendapat itu, Persibas mewajibkan pertandingan sepakbola dijalankan 3 x 30 mnt & para supporter klub hrs menjalankan aturan itu.

Jadinya Persibas menganut paham pertandingan sepakbola = 3×30 mnt & kalau supporter bikin pertandingan jg ikut aturan itu.

Ketika Persibas bertanding lawan Persija yg mengikuti aturan PSSI maka pertandingan dijalankan berdasarkan aturan masing2.

Apakah bisa? Bisa, dengan masing-masing klub hrs toleransi & menghargai pendapat masing-masing klub. Bingung? Saya juga..

Siapa yg benar  silahkan ambil kesimpulan sendiri.

2 responses to “Analogi Idul Fitri

  1. farah September 4, 2011 pukul 12:00 pm

    Aha…interesting post, fella..

  2. rizky Oktober 3, 2011 pukul 2:08 pm

    1.
    kalau dua perbedaan masing2 dasarnya kuat.. mbok iyao yang diutamakan adalah kebersamaannya…

    2.
    NU ikut pemerintah, karena dalil mentaati pemimpin. Muhammadiyah dalilnya UUD pasal 29 tentang negara menjamin kegiatan beragama…
    NU mengangggap negara dan agama adalah menyatu, Muhammadiyah menganggap Islam adalah agama yang menumpang di negara,

    apa itu enggak termasuk faham sekuler ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: