Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Tag Archives: Kisah Hidup

Catatan Akhir Tahun 2010

MENERUSKAN tradisi 2 tahun ke belakang di sekitaran pergantian tahun, saya akan kembali menuliskan resume apa-apa bagi saya yang berkesan selama tahun 2010 dan sedikit harapan saya di tahun 2011 ini. Walaupun akhir-akhir ini intensitas saya mengelola blog ini mulai agak berkurang, tak elok rasanya jika tidak meninggalkan catatan apapun di pergantian tahun ini.

Tahun 2010 diawali dengan ‘kegembiraan’ yang berbeda. Adalah kenyataan saya lulus 2 hari sebelum tahun baru [30/12/2009, baca cerita pendadaran saya di sini] sebagai mahasiswa Informatika UII yang membuat saya mengawali tahun itu dengan gembira. Yap akhirnya saya lulus juga. Sebuah frase menuju kedewasaan yang sesungguhnya dimulai di penghujung 2009 itu. Moving up time. 😀

Baca pos ini lebih lanjut

Berbagi Cerita Ramadhan 1431 H

INGIN berbagi kisah yang tersisa dari Ramadhan kemarin. So yesterday sih, tapi cerita saat Ramadhan kemarin terlalu sayang jika tidak didokumentasikan. Seperti kata seorang kawan, tak masalah tak ada yang membaca tulisanmu karena paling tidak ada satu pembaca setia tulisanmu yaitu kamu sendiri. Bukan sekarang tapi kelak. Ya tidak sebijak seperti itu sih kata-katanya tapi yang saya tangkap sih intinya begitu. =P

Ramadhan kemarin saya full di kampung halaman. Well, status yang masih jobless sementara ‘kegiatan’ di Jogja juga baru dimulai pasca Lebaran jadi pikir lumayanlah bisa puasa di rumah. Sudah lama juga saya tidak puasa full satu bulan di rumah. Biasanya cuma sekitar seminggu menjelang lebaran saja baru bisa pulang. Nah sekarang mumpung bisa kenapa tidak dimanfaatkan. Lagian dengan berlibur di rumah jadi bisa sering-sering ketemu pacar. #AdaUdangDiBalikRempeyek

Jadi ceritanya Ramadhan kemarin saya turut ‘meramaikan’ Mushalla depan rumah. Saya diminta mengajar ngaji anak-anak kecil [TK-SD] bergantian bersama empat orang yang lain, walaupun pada prakteknya cuma tiga orang saja yang ngajar. Tiga orang itu yaitu saya, bpk Ketua Takmir dan bpk Sekretaris Takmir. Aslinya saya menolak. tapi ternyata bpk Sekretaris Takmir terlebih dahulu sudah ‘melobi’ ibu saya. Jadinya saya tak kuasa menolak ‘serangan’ dari dua orang sekaligus. Tak apalah toh cuma sekali seminggu inih.

Baca pos ini lebih lanjut

Berbagi Cerita di Tanah Suci [7 – Tamat]

INSYA Allah ini menjadi seri terakhir jurnal perjalanan saya ke tanah suci banyak beberapa hari yang lalu. Memang boleh dibilang sudah kadaluarsa jika disambung dengan tulisan hari pertama. Tapi berhubung menimbulkan mood untuk menulis juga ternyata sangat susah jadinya ya begini, tertunda-tunda. Dengan segala kerendahan hati saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan penulisan ini *kaya ada yg baca aja*. Please enjoy seri terakhir serial jurnal perjalanan saya ke Tanah Suci. Oia seri ini sama kaya satu seri sebelumnya, digabungkan dua hari menjadi satu demi keringkasan tulisan.

19 Juli 2010

Hari ini adalah hari terakhir di tanah Saudi. Setelah menyambangi Jeddah-Madinah-Makkah sejak tanggal 13 Juli akhirnya tibalah perpisahan itu. Lepas dzuhur+makan siang kami check out dari Dar el Imaan Hotel. Sebelum meninggalkan Masjidil Haram kami dipersilahkan untuk bertawaf untuk yang terakhir kalinya [tawaf wada]. Jangan ditanya bagaimana rasanya harus meninggalkan lagi Masjidil Haram dan Ka’bah tempat kiblat kita selama ini. Itu sangatlah personal, seperti halnya saat pertama kali melihat dan mengelilingi Ka’bah. Yang jelas amat sangat berat. Saya tanamkan dalam-dalam di benak saya, kelak saya akan ke sini lagi untuk melaksanakan amanat Rukun Islam ke-5, tentunya dengan biaya sendiri bukan dibiayai Kanjeng Romo. ^^

Baca pos ini lebih lanjut

Berbagi Cerita di Tanah Suci [5]

TERNYATA keinginan berbagi cerita selama di Tanah Suci sempat terhenti sejenak. Padahal cerita terakhir masih di Madinah, belum sampai ke Makkah untuk berumrah. Yah, karena satu dan lain hal jadi kelanjutan cerita ini baru bisa ter-publish sekarang. Sekarang sudah tanggal 12 Agustus, padahal kami berada di Saudi 10-20 Juli 2010. Sudah sebulan yang lalu euy. Oia karena sudah memasuki bulan Ramadhan jadi sebelumnya saya ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi segenap umat Muslim. Semoga Ramadhan ini bisa jadi momentum perubahan bagi diri kita, maupun bagi lingkungan.

Lanjut, hari ini Jumat 16 Juli 2010, menjadi hari terakhir kami di Madinah. Sekitar pukul 14.00 habis jumatan kami akan diberangkatkan menuju ke Makkah. Jadwalnya memang begiut, 3 hari di Madinah dan 3 hari di Makkah. Berhubung sudah hari terakhir jadi Ayah menganjurkan kepada saya, adik dan ibu untuk sekali lagi berdoa Raudah. Sudah jauh-jauh ke Saudi, ke rumah Rasul, masa cuma sekali saja berdoa di tempat mustajab itu. Ayah saya malam sebelumnya sudah mengunjungi tempat itu untuk kedua kalinya, di menjelang tengah malam ketika kami sudah tertidur kelelahan.

Baca pos ini lebih lanjut

Berbagi Cerita di Tanah Suci [4]

MASIH belum bosan baca kisah saya di tanah suci kan? Masih di Madinah ini lho, belum berangkat ke Makkah buat Umrah. Maklum, saking banyaknya yang ingin diceritakan jadi kisah ini sampai harus dipecah-pecah. Kalau seandainya bosan ya ga usah dibaca *sentimentil*.

Kali ini, Kamis 15 Juli 2010, menjadi full day terakhir di Madinah karena besoknya habis jumatan kami sudah harus diberangkatkan ke Makkah. Di Madinah ini, berbeda dengan Makkah, tidak ada ibadah khusus yang dilakukan yang berkaitan dengan umrah sama seperti halnya saat haji. Ibadah yang ada untuk memotivasi rajin ke Masjid paling hanya Shalat Arbain [shalat 40 waktu di Masjid Nabawi]. Sayangnya waktu untuk berumrah sangat terbatas, cuma 3 hari pun tidak full. Jelas tidak mungkin untuk mencapai 40 kali shalat berjamaah. Oleh karena itu para jamaah tidak dianjurkan oleh pemandu untuk beribadah itu. Akibatnya ya memang jelek. Beberapa jamaah ada yang enggan berjamaah di Masjid, padahal jarak hotel-Masjid sangat dekat. Alasan capeklah atau apa. Padahal kalau mau jujur harusnya eman-eman, sudah nyampai Madinah tapi malas beribadah. Ah sudahlah, urusan masing-masing itu.

Baca pos ini lebih lanjut

Berbagi Cerita di Tanah Suci [3]

HARI kedua di Tanah Arab [14 Juli 2010], dan hari pertama bakal menjalani sehari penuh di Madinah. Bangun pagi sekitar jam 3 pagi, menjelang adzan Subuh pertama di Masjid Nabawi berkumandang. FYI di sini dan juga Makkah dan mungkin di kota-kota Tanah Arab yang lain, azan Subuh dikumandangkan dua kali. Pertama untuk membangunkan orang-orang dan yang kedua penanda masuk waktu Subuh. Sebagian Masjid di Indonesia setahu saya juga mengadopsi ide ini.

Oia sekedar memberitahu lagi, kemarin saya sudah bilang kalau di Arab sedang musim panas, tebak kira-kira berapa suhu di Arab Saudi? Well jangan terkejut baca tulisan ini. Subuh di Arab, terutama di Madinah yang saya lihat sendiri termometernya, itu suhunya 35° C. Itu baru subuh lho. Siang hari suhu selalu berada di atas 40°. Ayah sempat sms-an dengan saudara yang ada di Riyadh dan saudara kami bilang suhu di sana 50° C. Silahkan bayangkan sendiri bagimana rasanya. Yang jelas ga enak banget hawanya. Begitu keluar dari hotel langsung hawa panas menerpa. Kalau ada angin bukannya bikin sejuk malah tambah panas, karena anginnya membawa hawa panas. Belum lagi matahari juga bersinar begitu terik. Sempurna sudah. Makanya Masjid dan hotel jadi benar-benar tempat yang nyaman. Bagi yang hotelnya jauh Masjid benar-benar jadi tempat istirahat. Jadi jangan heran kalau kita melihat banyak orang yang tidur di sini

Baca pos ini lebih lanjut

Berbagi Cerita di Tanah Suci [2]

HARI pertama di tanah Arab setelah perjalanan panjang Jakarta-Jeddah , 13 Juli 2010, terbangun di kamar Holiday Inn Jeddah yang sangat nyaman. Armina selaku travel tidak mengagendakan acara tertentu hari ini, jadi kami praktis berdiam diri di hotel *sambil foto-foto tentunya*. Sedikit cerita tentang hotel yang saya tempati, hotel ini menurut saya sangat amat nyaman dan mewah. Hanya saja ‘jeleknya’ tempat kencing di WC tidak dilengkapi semprotan jadi kami keluarga Alkaf, terutama saya, sempat kebingungan membasuh setelah kencing. Maklum, tidak terbiasa memakai tisu. Tapi akhirnya bisa diakali. Dan untungnya kami cuma sampai dzuhur menempati kamar itu.

Kamar yang kami tempati ini, kebetulan tertempel di pintu, tipe Suite dengan biaya inap 900 SAR [Saudi Arabian Riyal, 1 SAR = 2500 IDR], silahkan dikonversi sendiri ke rupiah berapa. Itu baru inapnya saja belum room service sama makan. Well, terus terang saya tidak menyangka jika travel menginapkan kami di hotel semewah itu. Bagi sebagian orang mungkin ini tak seberapa, namun bagi saya itu luar biasa. Kamar ini cukup lebar. Di dalam kamar ini ada 2 ruang tidur dengan masing-masing 2 tempat tidur plus kamar mandi. Ada juga tempat pijat ditambah semacam ruang kerja. Silahkan bayangkan sendiri gimana. Di kamar itu juga tersedia TV kabel. Untungnya ada CNN jadi TV itu yang kami tonton, mengingat semua TV berbahasa Arab yang jelas tidak saya pahami. Ini ada salah satu channel yang menyiarkan Prison Break dengan teks Bahasa Arab. Lucu aja ngeliatnya:

Baca pos ini lebih lanjut