Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Tag Archives: film

King’s Speech (2011): Simpel tapi Menggigit

-tulisan ini mungkin mengandung spoiler-

TAK salah jika film ini dianugerahi sebagai Best Picture (Film Terbaik) di ajang Oscar 2011 mengalahkan Inception, Social Network, Black Swan dan sederet film lainnya. Film ini walaupun durasinya tidak terlalu panjang plus cerita yang sangat simple tapi bisa membawakan ‘ketegangan’ yang tidak kita sangka, disamping yang tak kalah penting membawa kita sekilas belajar sejarah. Di antara 10 nominasi Oscar untuk film terbaik memang hanya beberapa yang sudah saya tonton, karena sebagian besar sayangnya belum hadir di bioskop kota saya (Jogja –red). Apalagi ditambah kisruh antara distributor film Hollywood dengan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata membuat banyak film Hollywood di-suspend sementara waktu peredarannya di Indonesia. Makin meranalah para pecinta film di Indonesia. Namun meski demikian bisa dipastikan film ini menghadirkan sesuatu yang berbeda.

Film ini simpel, sangat simpel. Tentang seseorang berada di tempat dan waktu salah ditambah kondisi dia yang ‘salah’ pula. Dimana salah-salah itu? Albert atau lebih tepatnya Pangeran Albert (Colin Firth) memang tidak bersalah dengan kedudukan dia sebagai Pangeran Inggris putra George V. Salahnya adalah sebagai putra kedua yang tentunya tidak diprioritaskan sebagai Putra Mahkota, dia mempunyai kakak yang sama sekali tidak kompeten untuk menjadi penerus ayahnya. Ditambah lagi sang kakak, Edward (Guy Pearce), secara moral dianggap cacat karena berkeinginan untuk menikahi seorang janda. Makin lengkaplah kesalahan itu.

Baca pos ini lebih lanjut

The Green Hornet (2011): Powerless Super-Funny-Hero

KONON, menurut Wikipedia tentu saja, film ini harus melalui proses yang amat sangat panjang untuk menjadi sebuah film. Direncanakan sejak tahun 1992, film ini baru berhasil tayang 2011. Banyak aktor yang direncanakan untuk berperan di film ini mulai dari George Clooney, Jet Li, Jason Scott Lee juga Nicholas Cage. Semuanya batal. Di belakang layar juga banyak orang yang silih berganti masuk tapi karena satu dan lain hal ada saja halanagn sehingga film ini gagal produksi. Baru sekitar dimulai tahun 2007 film ini mulai serius digarap lagi dan berhasil tayang tahun ini. Sekedar informasi, film ini diangkat nerdasar sandiwara radia jaman purba dulu AS dan pernah dijadikan serial telvisi dengan dibintangi Bruce Lee.

Adalah Britt Reid [Seth Rogen] anak seorang konglomerat The Daily Sentinel yang mendadak tewas terkena alergi sengatan lebah. Otomatis dengan meninggalnya ayahnya, Britt Reid menjadi pewaris dan memimpin Sentinel. Padahal Britt sendiri orangnya sangat urakan, playboy, party goers dan yang utama tidak suka dengan ayahnya. Awalnya dia tidak memperdulikan keberlangsungan media itu, sampai akhirnya nantinya media itu dimanfaatkan dia sendiri untuk kepentingannya.

Baca pos ini lebih lanjut

RED (2010): Another Bruce Willis on Action

FILM ini memang film ‘lawas’, rilis sekitar Oktober 2010, namun kebetulan saya baru menontonnya kemarin malam sembari menanti laga West Ham vs Arsenal. Ketika film ini rilis sebenarnya saya ingin nonton film ini, apalagi pemeran utama aktor laga veteran kelas wahid, Bruce Willis, tapi karena kurang dana dan kebetulan Oktober waktu saya juga tersita bolak-balik Jogja-Semarang film ini lewat begitu saja. Baru kemarin ini saya menonton dan boleh dibilang saya cukup puas dengan laga dan cerita yang disajikan di film ini.

RED ini singkatan dari Retired: Extremely Dangerous, label yang disematkan pada pensiunan agen rahasia CIA tertentu. Adalah Frank Moses [Bruce Willis] pensiunan CIA, yang mencoba menjalani kehidupan pensiunannya dengan tenang. Kebetulan dia ‘naksir’ Sarah Ross [Mary-Louise Parker] customer service perusahaan tempat Frank menerima pensiun. Saat akan bertandang ke kota tempat Sarah bekerja, Frank mendapati rumahnya diserang oleh agen CIA. Dia menyadari telponnya disadap dan dirinya menjadi incaran pihak tertentu. Dengan demikian ia juga harus menyelamatkan Sarah sebelum mencari siapa yang mengincarnya.

Baca pos ini lebih lanjut

[review film] Sherlock Holmes: Detektif Superhero

[review film] Sherlock Holmes: Detektif (Superhero)

SUDAH hampir dua minggu Sherlock Holmes menghuni jajaran film yang diputar di jaringan bioskop 21. Baru pada hari Senin [11/01/2010] saya mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan film itu. Saya pribadi sudah mengenal tokoh dan cerita ini lewat novel-novelnya. Kebetulan ada kawan sekolah yang cukup addict dengan certa ini sehingga saya tertular menyukai cerita ini, meski tidak sampai tahap addict. Pengin ikut nonton film itu bareng kawan, tapi karena kebetulan saya habis pendadaran dan setelahnya harus menyibukkan diri dengan revisi jadi terpaksa saya menunda nonton film itu dan baru kesampaian hari senin kemarin.

Plot ceritanya kurang lebih diawali dengan Sherlock dan dr. Watson berhasil menggagalkan rencana Lord Blackwood yang akan mengorbankan seorang wanita untuk ritus ilmu hitamnya. Blackwood akhirnya dihukum mati dengan cara digantung oleh kepolisian dan dr. Watson sendiri yang memastikan kematian dia. Cerita bergulir ketika tiga hari kemudian mendadak Blackwood bangkit dari kuburnya dan menebar terror ke penduduk dengan membunuh beberapa orang penting. Agak berbau mistis memang tapi di akhir cerita akan terungkap semua secara logika bagaimana Blackwood hidup lagi dan teror mistiknya bekerja. Plot cerita selengkapnya silahkan baca disini.

Sebenarnya kalau melihat para pelakon film ini saya pribadi agak heran. Sherlock Holmes diperankan Robert Downey Jr sedangkan dr. Watson rekan sang detektif diperankan oleh Jude Law. Dalam bayangan saya berdasarkan ingatan saat membaca novel, Sherlock Holmes itu orangnya tua, kurus suka menghisap rokok (atau cerutu?) pakai pipa, pakai topi yang khas dan membawa kaca pembesar ke mana-mana. Sedangkan dr Watson dalam bayangan saya adalah pria tua (karena dia adalah veteran perang) berkumis tebal yang selalu memakai topi ala pesulap. Dari pelakon yang ada, terutama dari fisiknya, sungguh sangat jauh dari bayangan saya itu. Dua pelakon itu sama-sama bertubuh atletis dan juga masih cukup muda. Entah kenapa karakter dasar itu dibuat menjadi berbeda. Mungkin karena ini film Hollywood masa tokoh utamanya ceking dan tua. Kurang menjual.

Baca pos ini lebih lanjut

Public Enemies: Klasik tapi Asyik

JOHNY Depp menjadi alasan utama saya ingin menonton film ini. Sejak dia membintangi Pirates of the Caribbean saya jadi suka dengan akor yang satu ini. Permainan wataknya sangat bagus dan apalagi setelahnya ketika membintangi Charlie and the Chocolate Factory karakter Jack Sparrow bisa benar-benar hilang total sampai saya hamper tidak mengenail kalau itu adalah Johny Depp saya semakin kagum saja dengan Johny Depp. Itulah mengapa saya ingin menonon Public Enemies, film selanjutnya dari Johny Depp. Namun karena tayang di hampir akhir bulan saya harus benar-benar memperimbangkan kondisi keuangan sebelum akhirnya meyakinkan diri untuk menyaksikan film ini Rabu [29/07/2009] kemarin.

Dan ternyata tak salah saya menonton film ini. Komentar saya setelah menyaksikan film ini cuma satu kata: beda. Ya film ini beda dengan film kebanyakan. Dibandingkan dengan Transformer 2 yang fully sophisticated [jiah, sok nginggris] atau Harry Potter yang walaupun menggunakan sihir tapi tak kalah canggih film ini bisa dibilang minim special efek. Tapi justru itu serunya, kita benar-benar dibawa ke era tahun 1930an diman persenjataan belum scanggih sekarang [untungnya 1930 sudah ada machine gun 😀] sehngga kalaupun ada pertempuran jadi erkesan seadanya.

Baca pos ini lebih lanjut

Tentang Film Transformers 2: Revenge of the Fallen

ASLINYA saia sempat ragu akan membuat dan memposting tulisan ini atau tidak. Soalnya saia khawatir akan membuat kecewa yang belum sempat nonton film ini. Yah walaupun di satu sisi mungkin juga tulisan saia tidak akan terlalu mempengaruhi mereka yang memang sudah ‘niat banget’ nonton film ini. Film ini harus diakui sangat laris. Beberapa kawan bahkan sampai tidak dapat tiket ini meskipun ada empat studio di Jogja yang memutar film ini, tiga di Empire XXI dan satu di 21 Ambarukmo Plaza. Saking larisnya film ini, film lain jadi seolah tidak laku. Hari jumat kemarin misalnya saat saia akan nonton film King ternyata film King ini tidak begitu diminati. Tiga baris kursi deretan depan studio tidak ada penghuninya sama sekali. Bangku tengah dan belakang juga beberapa kosong. Padahal antrian saat saia akan beli tiket sangat panjang. Ternyata panjangnya itu bukan untuk film King tpi untuk Transformers ini.

Saia tidak akan membahas tentang jalan cerita film ini, tapi saia akan menuliskan beberapa hal yang cukup mengecawakan dari film ini. Sebelumnya dari sisi animasi maupn computer grafis, film ini sanga luar biasa. Transformasi saat para robot berubah dari kendaraan menjadi robot aaupun saat bergabung digambarkan dengan sangat mendetail dan sangat natural. Adegan action-nya juga juga sangat luar biasa. Sutradara juga cukup pandai mengatur tempo dengan cukup sering menampilkan adegan humor porno. Jadi kita tidak melulu tegang saat menonton film ini. Namun ya hanya sebatas itu keunggulan film ini. Dari sisi plot cerita atau karakteristik tokoh masih sama seperti film Hollywood yang lain.

Baca pos ini lebih lanjut

Film ‘King’ Terpengaruh ‘Denias, Senandung di atas Awan’

JUMAT [26/06/2009] film King resmi dirilis. Film besutan Ari Sihasale di bawah naungan Alenia production ini bertemakan perjuangan seorang anak dari sebuah desa kecil di Banyuwangi untuk menjadi juara bulutangkis seperti Liem Swi King idolanya. Guntur, nama anak itu, sangat pandai bulutangkis namun sayang berasal dari keluarga kurang mampu. Bahkan raketpun ia tidak punya dan harus mengusahakan ke sana kemari agar dapat memperolehnya. Sinopsis selanjutnya silahkan langsung menuju ke sini.

Ada beberapa hal menarik atau mungkin juga lebih tepat kurang menarik dari film ini. Menurut saia film ini banyak dipengaruhi oleh film ‘Denias, Senandung di atas awan‘. Plot dan karakter yang ada diantara kedua film tersebut banyak yang sama. Memang film Denias ini satu rumah produksi dengan King dan boleh dibilang cukup sukses di masanya karena sempat masuk seleksi Oscar. Namun apakah unuk menggapai kesusksesan serupa harus menggunakan resep serupa juga?

Mari kita lihat beberapa persamaan kedua film itu:

Baca pos ini lebih lanjut