Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Tentang Pemenang Panasonic Gobel Awards 2011

GELARAN Panasonic Gobel Awards 2011 akhirnya selesai juga diselenggarakan. Acaranya kalau boleh saya bilang sangat kaku. Hanya terkadang beberapa humor diselipkan oleh pembaca nominasi yang ya lumayanlah bisa untuk memecah keseriusan. Yang cukup berbeda dengan ajang lain, di Panasonic Gobel Awards 2011 kali ini hanya para undangan yang mengikuti acara. Tak ada penonton, yang biasanya alay, layaknya penghargaan yang lain. Kesan yang ingin ditampilkan sepereti nya kesan Eksklusif karena hanya ditujukan untuk insan pertelevisian saja. Bagus, karena kebetulan tempatnya juga representatif dan tak biasa karena di sebuah Gedung Bioskop XXI kalao saya tidak salah.

Kemarin saya membuat tebakan kira-kira siapa saja yang bakal memenangkan awards. Bagaimana hasilnya? Kita lihat saja perbandingannya:

Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Tebak-tebakan Pemenang Panasonic Gobel Awards 2011

BESOK Jumat [25/03/2011] ajang penghargaan Panasonic Gobel Award 2011 akan diselenggarakan. Sambil menunggu siapa saja yang akan memenangkan penghargaan itu, bolehlah kita tebak-tebakkan siapa saja yang bakal memenangi award itu. Kalau tahun lalu akurasi prediksi saya mencapai 50 % *halah*, kira-kira apakah tahun ini akurasinya akan meningkat? 😛

Berikut tebakan-tebakan saya:

KATEGORI PROGRAM ACARA

Baca pos ini lebih lanjut

Ranah 3 Warna: Bersabarlah, dan Anda akan Beruntung

TEPAT tanggal 23 Januari 2011 kemarin Ranah 3 Warna, seri kedua dari trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, resmi terbit. Hampir dua tahun sejak peluncuran novel yang pertama. Bukan waktu yang terlalu lama sebenarnya. Saya sendiri bukan penggemar trilogy ini jadi bukan termasuk mereka yang menunggu novel ini terbit, walaupun konon karya pertamanya sangat fenomenal dan inspiratif. Tapi seperti yang saya ceritakan sebelumnya joinan saya dengan pacar untuk tukar-menukar pinjam Ranah 3 Warna dengan Negeri 5 Menara membuat saya akhirnya membeli novel ini. Jika Negeri 5 Menara mempunyai cerita yang unik, menarik dan inspiratif, lantas kemudian bagaimana dengan novel ini? Sama inspiratifnya atau malah menurun?

Alif masih menjadi sentral dalam cerita novel ini. Hanya saja kali ini dia sudah berpisah dengan para Sahibul Menara. Lulus dari pesantren Alif pulang kampung dan sejenak bereuni denga Randai, sahabat sekaligus kompetiornya, yang sedang libur kuliah dari ITB. Alif ingin menyusul jejak Randai kuliah di ITB. Sayang untuk menggapai itu tidak mudah. Bahkan Randai-pun meragukannya karena Alif hanyalah lulusan sekolah agama, tanpa ijazah pula.

Terinspirasi semangat timnas Denmark yang di luar ekspektasi banyak orang bisa menjuarai Piala Eropa 1992 Alif berusaha keras lulus ujian persamaan SMA dan kemudian lulus SMPTN. Karena kurang mahir dengan ilmu pasti, Alif memutuskan memilih jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Bandung. Sukses, Alif pun menjadi mahasiswa Unpad. Di Bandung dia tinggal bersama Randai. Walaupun rukun, tetap saja mereka bersaing, termasuk untuk mendapatkan perhatian Raisa. Raisa ini tetangga kos Alif dan Randai. Dalam hal ini Randai lebih unggul karena Alif cenderung canggung bila berhadapan dengan wanita. Latar belakang pesantren membuat dia seperti itu.

Baca pos ini lebih lanjut

Negeri 5 Menara: Kisah Inspiratif dari Balik Pesantren

SEBENARNYA saya sudah sangat lama mengincar buku ini. Bagaimana tidak tertarik, banyak nama terkenal yang memberikan testinomi positif atas novel ini di sampul belakang. Ada BJ Habibie, Riri Riza, KH Hasan Sahal [Pimpinan Pondok Modern Gontor], Kak Seto, Ary Ginanjar Kartasasmita, Helvy Tiana Rosa, Syafi’I Maarif dan beberapa nama yang lain yang semuanya memberikan komentar positif. Sayang waktu itu saya main ke toko buku tanpa bawa uang yang cukup dan selanjutnya malah lupa, bahkan tidak jadi pengin lagi.

Sampai suatu ketika di awal Februari 2011 pas main lagi ke toko buku, saya melihat ada novel berjudul Ranah 3 Warna yang merupakan sekuel dari Negeri 5 Menara. Lah, itu novel ada lanjutannya ternyata? Koordinasi dan konsultasi singkat by sms sama pacar yang temannya punya Negeri 5 Menara akhirnya saya putuskan beli Ranah 3 Warna. Jadi untuk Negeri 5 Menara saya pinjam baca dari temennya pacar dan gantinya pacar saya pinjam Ranah 3 Warna yang baru akan saya beli waktu itu. Simbiosis mutualisme.

Koq malah ngelantur? Maaf maaf. Mengenai cerita di novel ini saya kira sudah banyak review dan sinopsis yang membahasnya jadi saya tidak akan berpanjang lebar mengenai isi ceritanya. Secara ringkas novel ini bercerita tentang urang minang bernama Alif Fikry yang ‘dipaksa’ ibunya merantau untuk menjadi santri di Pondok Madani. Alif ini setamat MTs sebenarnya ingin masuk SMA dan kelak ingin menjadi penerus BJ Habibie, tapi keterbatasan biaya ditambah ibunya yang menginginkan Alif jadi penerus Buya Hamka, membuat mimpi Alif kandas. Alif diberi pilihan sekolah di sekolah agama atau mondok di pesantren. Sempat marah tapi akhirnya Alif ikhlas dan menerima saran untuk belajar agama asalkan jauh di Jawa sekalian. Kebetulan pamannya merekomendasikan Pondok Madani [PM] di Jawa Timur maka diambillah kesempatan itu.

Baca pos ini lebih lanjut

Lost in Papua (2011): Keberatan Judul

APA yang ada di bayangan kalian ketika melihat ada sebuah film berjudul Lost in Papua? Kalau saya sih amat penasaran dan tertarik ingin menonton. Bumi Papua yang misterius diangkat menjadi sebuah film dengan tema ketersesatan (kesimpulan awal, berdasarkan judul film), sangat pas menurut saya. Dibanding film Indonesia lain yang horor-horor mulu film ini termasuk unik. Itulah mengapa kemudian saya putuskan untuk menonton film ini. Jarang-jarang loh saya nonton film Indonesia. Film itu harus yang berkarakter kuat, biar uang yang saya keluarkan tidak mubazir. Buat apa nonton di bioskop kalau filmnya sekedar romansa biasa atau horor jayus ala KKD atau Nayato yang menjamur di bioskop itu. Mending pinjam CD-nya di rentalan (atau ngopy kawan) saja kalau pengin nonton.

Dan tenyata ekspektasi akan keunikan cerita dari bumi Papua itu SALAH. Benar-benar tidak saya sangka kalau eksekusi film ini sungguh aneh bin tidak jelas. Konsep ceritanya tidak bermutu. Melompat-lompat dan tidak fokus. Keindahan bumi Papua tidak tereksplorasi dengan baik. Akting? Aduh, kecuali beberapa artis senior yang sudah pengalaman berakting, kacau balau. Mengenai  bagimana cerita film ini selengkapnya bisa baca resensinya di Cineplex 21. Di sini saya hanya ingin banyak sedikit menumpahkan unek-unek saya tentang, maaf, ketidakmutuan film ini.

Baca pos ini lebih lanjut

Dikecewakan (Oknum) Kantor Pos

SEBENARNYA ini bukan kali pertama saya berurusan dengan Pos Indonesia atau yang biasanya orang kampung macam saya sebut Kantor Pos (selanjutnya saya tulis Kantor Pos saja, lebih nyaman di saya). Sudah kali kesekian saya berhubungan baik dengan Kantor Pos, baik itu untuk jasa pengiriman surat maupun paket. Saya memang memiliki kepercayaan penuh kepada Kantor Pos karena selama ini baik surat maupun paket yang saya kirim selalu sampai tepat sasaran dan tepat waktu. Dibanding jasa pengiriman lain Kantor Pos lebih murah dan kantornya tersebar di mana-mana. Itulah mengapa saya lebih memilih Kantor Pos.

Sampai akhirnya saat mengecewakan itu tiba. Saya dan pacar yang saya kirimi paket kecewa karena paket sampai tidak tepat waktu gara-gara ulah oknum pegawai Pos. Bahkan kalau pacar saya tidak komplain ke Kantor Pos, paket yang saya kirim mungkin malah tidak akan sampai. Kantor Pos tidak salah, yang salah pegawainya. Itu kenapa saya sebut oknum. Saya masih dan tetap menghormati Kantor Pos atas jasa-jasanya pada saya. Namun biarlah tulisan ini tetap saya publish. Hitung-hitung bisa digunakan sebagai bahan untuk evaluasi internal Kantor Pos.

Baca pos ini lebih lanjut

Rumah Tanpa Jendela (2011)

DI tengah kepungan film-film lokal yang 90% berbau horor berbau seks (atau seks berbau horror?), kehadiran film anak berjudul Rumah Tanpa Jendela ini ibarat pelepas dahaga. Tentunya terutama bagi anak-anak yang masih menjadi ‘pihak yang terpinggirkan’ untuk dihibur. Sebelumnya memang pernah ada Garuda di Dadaku (2009) yang fenomenal dan banjir penghargaan itu. Juga ada King (2009) yang bertema serupa dengan Garuda di Dadaku, walaupun peruntungannya kurang serupa. Atau yang sedikit lebih berat, Tanah Air Beta (2010), film keluarga yang mengambil seting di perbatasan Indoneisa-Timor Leste. Namun film yang ini berbeda dengan pendahulunya. Film ini jauh lebih anak-anak daripada tiga film yang saya sebut tadi. Saking lebih cocok untuk anak-anaknya mungkin orang dewasa bisa ‘bosan’ menontonnya. Namun apapun, Aditya Gumay selaku sutradara patut kita hargai atas usahanya menghidupkan kembali film anak dan meramaikan bioskop dengan banyak variasi film.

Adalah Rara (Dwi Tasya), seorang gadis kecil miskin yang tinggal di perkampungan kumuh ibukota. Di sekolah singgah tempat Rara sekolah bersama kawan-kawannya yang juga sama-sama miskin, mereka diminta ibu guru untuk menuliskan cita-citanya. Cita-cita Rara unik dibandingkan teman yang lain. Ia hanya ingin rumahnya memiliki jendela. Sebuah keinginan yang amat sangat sederhana tapi sulit terwujud karena mereka hanya tinggal di rumah berdinding tripleks yang hanya bisa digunakan untuk tidur saja. Belum lagi ancaman penggusuran yang bisa datang sewaktu-waktu, sebuah jendela bukanlah sesuatu yang prioritas bagi Raga (Raffi Ahmad) sebagai ayah Rara, dan nenek Rara (Inggit Wijanarko).

Baca pos ini lebih lanjut