Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Negeri 5 Menara: Kisah Inspiratif dari Balik Pesantren

SEBENARNYA saya sudah sangat lama mengincar buku ini. Bagaimana tidak tertarik, banyak nama terkenal yang memberikan testinomi positif atas novel ini di sampul belakang. Ada BJ Habibie, Riri Riza, KH Hasan Sahal [Pimpinan Pondok Modern Gontor], Kak Seto, Ary Ginanjar Kartasasmita, Helvy Tiana Rosa, Syafi’I Maarif dan beberapa nama yang lain yang semuanya memberikan komentar positif. Sayang waktu itu saya main ke toko buku tanpa bawa uang yang cukup dan selanjutnya malah lupa, bahkan tidak jadi pengin lagi.

Sampai suatu ketika di awal Februari 2011 pas main lagi ke toko buku, saya melihat ada novel berjudul Ranah 3 Warna yang merupakan sekuel dari Negeri 5 Menara. Lah, itu novel ada lanjutannya ternyata? Koordinasi dan konsultasi singkat by sms sama pacar yang temannya punya Negeri 5 Menara akhirnya saya putuskan beli Ranah 3 Warna. Jadi untuk Negeri 5 Menara saya pinjam baca dari temennya pacar dan gantinya pacar saya pinjam Ranah 3 Warna yang baru akan saya beli waktu itu. Simbiosis mutualisme.

Koq malah ngelantur? Maaf maaf. Mengenai cerita di novel ini saya kira sudah banyak review dan sinopsis yang membahasnya jadi saya tidak akan berpanjang lebar mengenai isi ceritanya. Secara ringkas novel ini bercerita tentang urang minang bernama Alif Fikry yang ‘dipaksa’ ibunya merantau untuk menjadi santri di Pondok Madani. Alif ini setamat MTs sebenarnya ingin masuk SMA dan kelak ingin menjadi penerus BJ Habibie, tapi keterbatasan biaya ditambah ibunya yang menginginkan Alif jadi penerus Buya Hamka, membuat mimpi Alif kandas. Alif diberi pilihan sekolah di sekolah agama atau mondok di pesantren. Sempat marah tapi akhirnya Alif ikhlas dan menerima saran untuk belajar agama asalkan jauh di Jawa sekalian. Kebetulan pamannya merekomendasikan Pondok Madani [PM] di Jawa Timur maka diambillah kesempatan itu.

Di PM, hukuman saling jewer akibat terlambat berangkat ke Masjid, membuat Alif berkenalan dan menjadi karib dengan Baso, Atang, Said, Raja dan Dulmadjid. Mereka berenam berasal dari etnis yang berbeda dan tentunya dengan karakter yang berbeda-beda pula. Mereka kemudian mempunyai markas yang cukup tersembunyi yang tenang untuk belajar sampai sekedar leyeh-leyeh di bawah menara Masjid tempat para santri salat berjamaah. Karena seolah menjadi penunggu menara inilah mereka dipanggil Sahibul Menara oleh teman-temannya. Dan novel ini kemudian bercerita tentang suka-duka kehidupan mereka di dalam pesantren sambil menceritakan mimpi mereka yang kelak akan terwujud di seri lain novel ini. Inti dan pesan yang diambil kemudian adalah tentang mengejar mimpi. Jangan remehkan mimpi itu sekecil apapun mimpimu. Dengan ‘mantra’ Man Jadda wajada tidak ada mimpi yang tidak bisa direalisasikan karena Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Menurut saya novel ini sangat amat menarik. Latar belakang cerita tentang dunia pesantren ini menjadikan novel ini berbeda. Kalau tidak mengangkat dunia pesantren mungkin novel sekedar menjadi versi lain Laskar Pelangi. Bagaimana tidak, cerita novel ini tak jauh beda dengan Laskar Pelangi yaitu tentang anak dengan passion yang tinggi untuk belajar dan bermimpi untuk kelak bisa ke luar negeri. Kemiskinan juga menjadi latar belakang cerita beberapa tokoh utama, termasuk Alif. Dan yang sama dengan Laskar Pelangi, murid terpintar di antara kelompok pertemanan ini harus mengundurkan diri dari sekolah. Kalau di Laskar Pelangi ada Lintang, di Negeri 5 Menara ada Baso yang juga harus pulang dari pondok di menjelang ujian terakhir karena neneknya sakit.

Tentang latar belakang pesantren yang menjadi background cerita, Ahmad Fuadi [penulis novel] mengakui sendiri kalau PM ini terinspirasi dari Pondok Modern Gontor tempat dulu dia menjadi santri. Sungguh, ini yang menjadikan novel ini menarik. Tentang remaja dan dunia pesantren. Jarang sekali novel yang mengangkat background seperti ini. Saya sendiri sebenarnya dari dulu penasaran bagaimana caranya pesantren yang terkenal dilarang berbahasa Indonesia itu mengajarkan santrinya berbahasa Arab-Inggris, sekaligus memastikan santri-santrinya hanya berbicara dua bahasa itu. Jawabannya bisa ditemukan di sini. Bagaimana cara PM membuat Bahasa Arab-Inggris menjadi bahasa bawah sadar para santri bisa dibaca di bab yang berjudul Keajaiban itu Datang Pagi-Pagi. Sementara untuk memastikan bagaimana hanya dua bahasa itu yang digunakan santri bisa dilihat pada bab Agen 007.

Sedikit bocoran jadi ternyata untuk memastikan penggunaan dua bahasa itu dan mengawasi para santri agar tidak melanggar peraturan-peraturan yang ada, PM mempunyai jasus [intel/mata-mata]. Yang menjadi jasus itu adalah mereka para pelanggar peraturan. Cara kerjanya adalah, para pelanggar peraturan akan dipanggil ke ruang sidang. Setelah dikonfirmasi melanggar aturan, disamping terkena tindakan hukuman, mereka akan dihukum menjadi jasus. Mereka harus menjadi intel untuk mencari 2 kesalahan santri lain dalam waktu 24 jam. Jika deadline tidak terpenuhi maka jumlah kesalahan yang harus dicari bertambah lagi. Ini bukan perkara mudah karena santri-santri juga tahu ada banyak jasus [yang bisa santri muda bisa santri senior] berkeliaran. Karena tahu maka mereka cenderung hati-hati dan menjalankan perataruan setertib mungkin. Sampai tertangkap melanggar, si pelanggar akan dihukum menjadi jasus juga. Jadinya berantai. Saya jadi paham; ooooh jadi begitu toh sistemnya. Sangat menarik.

Selain cerita jasus banyak juga cerita tentang kehidupan pondok pesantren di novel ini. Mulai dari kecanggungan para santri berhadapan dengan wanita [Problem klasik para santri. Hahaha..], lobi Dulmadjid kepada salah satu ustadz agar santri diizinkan nonton TV, tips & trik bagaimana agar tidak kena antrian panjang saat makan-mandi-cuci, cerita tentang gairah yang tinggi mengahadapi ujian, minum kopi sekamar dengan ember [iya ember] juga banyak problem dan fakta lain di lingkungan pondok. Kesemuanya membuat novel ini sangat menarik untuk dibaca.

Tak hanya menarik, novel ini juga sangat inspiratif. Iya inspiratif. Anda yang kepayahan untuk bisa ataupun melancarkan Bahasa Inggris ataupun bahasa asing lainnya bisa belajar dari kisah Alif ini. Dan yang utama, saya sangat yakin, novel ini banyak menginspirasi para pembacanya untuk kelak menyekolahkan anaknya ke pesantren. Kenapa demikian karena novel ini bisa dibilang menghapus stigma negatih pesantren yang udik, tradisional atau mengajarkan terorisme. Tidak, pesantren tidak seperti itu. Pesantren sekarang sudah modern dan tidak melulu belajar agama. Banyak hal yang bisa dipelajari di pesantren. Novel ini membuka mata kita akan semua itu.

Sepertinya saya terlalu menyanjung novel ini jadi baiknya saya tuliskan juga ‘kekurangannya’. Yang pertama tentang ide cerita utama yang sebenarnya tidak istimewa dan cenderung bisa dimiripkan Laskar Pelangi. Namun kemasan di pondok pesantren membuat novel ini berbeda dan akhirnya malah menjadi istimewa. Sebenarnya oxymoron karena novel ini biasa tapi istimewa. Inilah kelebihannya dan tampaknya Fuadi tahu itu.

Kekurangan yang kedua tentang judul, Negeri 5 Menara. Sebagai mantan wartawan saya yakin Fuadi tahu kalau penulisan seperti itu adalah salah. Seharusnya yang benar Negeri Lima Menara. Entah apa pertimbangannya sampai Fuadi melanggar kaidah bahasa seperti itu. Saya coba cari pembenaranya di dalam novel tapi tidak ketemu.

Kekurangan yang selanjutnya juga masih di sekitar wilayah judul. Tadinya saya pikir maksud dari Negeri 5 Menara itu adalah PM menjadi Kawah Candradimuka tempat para calon menara, yaitu Alif dan kawan-kawan, berkembang dan kelak menakhlukan negara-negara tempat menara yang ada di sampul depan berada. Sampai akhirnya saya sadar kalau kelompok pertemanan itu berjumlah 6 orang! Hipotesa saya saya. Kalau pakai hipotesa saya harusnya neovel ini berjudul Negeri 6 Menara.

Jawaban yang masuk akal tentang apa maksud Negeri 5 Menara setelah saya baca ulang novel ini ada di Bab Lima Negara Empat Benua. Yap, 5 Menara itu maksudnya adalah refleksi awan atas negara yang ada di benak Alif dan kawan-kawan saat sedang leyeh-leyeh di menara markas mereka. Alif merefleksikan awan itu sebagai Amerika, Raja merefleksikan menjadi Eropa, Baso dan Atang Asia Afrika sementara Said & Dulmadjid melihatnya hanya sekedar langit Indonesia biasa. Itulah 5 Menara yang dimaksud, Negara yang kelak mereka janji akan takhlukkan. Indonesia-Amerika-Eropa-Asia-Afrika. Muluk-muluk? Tentu tidak. Karena novel ini  bertujuan untuk membangkitkan motivasi kita. <

 

 


10 responses to “Negeri 5 Menara: Kisah Inspiratif dari Balik Pesantren

  1. Pingback: Ranah 3 Warna: Bersabarlah, dan Anda akan Beruntung | Yasir Alkaf

  2. maya Maret 15, 2011 pukul 1:24 pm

    saya juga penasaran dengan buku itu, blum baca sih, tpi nanti saya baca pinjam teman..hehe

  3. upay Maret 21, 2011 pukul 11:14 am

    boleh juga untuk tambah koleksi buku saya heheh

  4. eci Maret 21, 2011 pukul 4:40 pm

    sudah baca dua duanya…
    Ranah 3 warna yg paling bagus dr dua novel ini mnurut saya…
    thumbs up

  5. RATNA SULISTYOWATI Maret 21, 2011 pukul 6:54 pm

    WAH…jd penasaran pengen baca
    eiittss beli buku nya dulu…. ru bisa baca
    thank’s

  6. elisabet panggabean November 15, 2011 pukul 2:18 am

    yapps bner banget tuch
    aq aja udah baca critanya
    seru banget loh 🙂

  7. susilawati November 25, 2011 pukul 7:57 pm

    oh yahh……….?? gmna tuch crita nya…………..??

  8. Desy Irmayasari Maret 6, 2012 pukul 12:33 pm

    aku udah baca ke2 bukunya dan menurutku ceritany sangat inspiratif banget, mulai dari penokohan sampe latarny oke.. n_n

  9. AgpNandae NtuCyank FamilyClamax Maret 16, 2012 pukul 9:38 am

    Duch” penasaran bnget, aque ktnggalan jman nie mcih lom bca…
    Hehehe

  10. faradila ananda Juni 3, 2013 pukul 9:52 am

    aku dah baca bukunya, aku suka banget ceritanya.”^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: