Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Rumah Tanpa Jendela (2011)

DI tengah kepungan film-film lokal yang 90% berbau horor berbau seks (atau seks berbau horror?), kehadiran film anak berjudul Rumah Tanpa Jendela ini ibarat pelepas dahaga. Tentunya terutama bagi anak-anak yang masih menjadi ‘pihak yang terpinggirkan’ untuk dihibur. Sebelumnya memang pernah ada Garuda di Dadaku (2009) yang fenomenal dan banjir penghargaan itu. Juga ada King (2009) yang bertema serupa dengan Garuda di Dadaku, walaupun peruntungannya kurang serupa. Atau yang sedikit lebih berat, Tanah Air Beta (2010), film keluarga yang mengambil seting di perbatasan Indoneisa-Timor Leste. Namun film yang ini berbeda dengan pendahulunya. Film ini jauh lebih anak-anak daripada tiga film yang saya sebut tadi. Saking lebih cocok untuk anak-anaknya mungkin orang dewasa bisa ‘bosan’ menontonnya. Namun apapun, Aditya Gumay selaku sutradara patut kita hargai atas usahanya menghidupkan kembali film anak dan meramaikan bioskop dengan banyak variasi film.

Adalah Rara (Dwi Tasya), seorang gadis kecil miskin yang tinggal di perkampungan kumuh ibukota. Di sekolah singgah tempat Rara sekolah bersama kawan-kawannya yang juga sama-sama miskin, mereka diminta ibu guru untuk menuliskan cita-citanya. Cita-cita Rara unik dibandingkan teman yang lain. Ia hanya ingin rumahnya memiliki jendela. Sebuah keinginan yang amat sangat sederhana tapi sulit terwujud karena mereka hanya tinggal di rumah berdinding tripleks yang hanya bisa digunakan untuk tidur saja. Belum lagi ancaman penggusuran yang bisa datang sewaktu-waktu, sebuah jendela bukanlah sesuatu yang prioritas bagi Raga (Raffi Ahmad) sebagai ayah Rara, dan nenek Rara (Inggit Wijanarko).

Selain keluarga Rara ada juga keluarga Aldo (Emir Mahira). Aldo dan keluarga jauh lebih beruntung daripada Rara karena mereka termasuk keluarga yang berkecukupan. Hanya saja Aldo yang menderita autis kadang membuat Andini (Maudy Ayundya), kakak perempuannya, malu. Untungnya keluarga yang lain yaitu Ayah, Ibu, Nenek dan kakak laki-laki Aldo menerima Aldo apa adanya.

Sebuah kejadian membuat Aldo dan Rara bersahabat. Keluarga Aldo juga tidak keberatan atas persahabatan itu. Bahkan Rara dan teman-temannya kemudian sering diundang untuk bermain di rumah Aldo. Hanya saja kejadian ‘memalukan’ di pesta ulang tahun Andini yang melibatkan Aldo, Rara dan teman-temannya membuat harmoni yang telah terbentuk berantakan. Ditambah di saat yang sama Rara juga harus mengalami kenyataan pahit rumahnya terbakar yang mengakibatkan ayahnya tewas dan neneknya koma. Bagaimana kemudian nasib Rara? Juga Aldo yang dianggap memalukan keluarganya? Apakah persahabatan Rara-Aldo terputus gara-gara peristiwa yang dialaminya masing-masing? Bagaimana nasib jendela yang diidam-idamkan Rara? Silahkan saksikan sendiri film ini. 😀

Sekitar 15-20 menit pertama dari film ini tadinya saya mengira film ini akan berbentuk semacam film musikal. Ada beberapa adegan yang mendadak dilagukan dan ditarikan oleh Rara dan teman-temannya. Wajar, karena mayoritas aktor-aktris kecil yang bermain di film ini berasal dari Sanggar Ananda pimpinan Aditya Gumay. Bukan hal yang baru juga karena dulu ketika film Indonesia bangkit setelah mati suri juga dipicu oleh film musikal anak-anak berjudul Petualangan Sherina dan Joshua oh Joshua. Semacam déjà vu ketika saya menonton film ini.

Namun dugaan saya salah. Musik dan tari setelah itu tidak lagi hadir di film ini. Mereka hadir hanya di awal film saja. Jadinya seperti ada semacam keraguan apakah film ini akan dibawa menjadi film musikal atau tidak dan akhirnya seperti diputuskan tak jadi dibuat menjadi film musikal. Kenapa tidak jadi dibuat musikal saya tidak paham tapi sebenarnya dibuat menjadi film musikla juga tidak masalah. Malah jadi sangat pas untuk dunia anak-anak.

Walaupun ‘tidak jadi’ dibuat menjadi film musikal, saya ada sedikit komentar tentang pemusikalan film ini. Lagu yang ada juga dinyanyikan secara bersama-sama, bukan oleh seorang lead singer seperti halnya di Petualangan Sherina. Lead singer penting untuk menunjukan siap tokoh utama di film ini. Bukannya film ini bercerita tentang Rara? Seharusnya biarkan Rara yang bernyanyi. Sesekali teman-temannya mengiringi baru lebih tepat daripada nyanyi bareng. Koreografinya juga mohon maaf kurang menarik, seolah tidak tampak anak-anak itu adalah anak sanggar yang memang sudah belajar untuk menari Untungnya shoot pengambilan gambar dan dramatisasi tari melalui special effect-nya cukup bagus.

Kemudian tentang masalah judul saya juga merasa agak kurang cocok. Film ini berjudul Jendela Rumah Rara, di awal memang diceritakan akan seperti itu namun anehnya di pertengahan film ke belakang jendela rumah yang menjadi ide cerita awal film ini menjadi terlupakan (atau dilupakan?). Film ini kemudian lebih bercerita tentang kisah Rara dan Aldo. Bahkan sebenarnya film ini menjadi lebih seperti kisah si Aldo. Porsi cerita tentang Aldo justru lebih banyak daripada Rara. Mulai dari saat Aldo sekolah, menolong Rara yang kemudian mereka menjadi bersahabat, cerita di rumah dengan keluarganya, pesta ulang tahun Andini kakak Aldo, Aldo kabur dari rumah, Aldo dicari keluarganya dan seterusnya. Rara seolah hanya pendamping Aldo. Amat sangat disayangkan karena film ini menjadi kehilangan fokus.

Untung saja mayoritas pemain di film ini berakting dengan sangat bagus. Dwi Tasya, si pemeran Rara, ah aktingnya natural sekali. Dia tidak nampak sedang berakting di sini. Semoga dia bisa menjadi the next Sherina (dalam hal karir keartisan tentunya, untuk vocal sepertinya Dwi Tasya ini bukan penyanyi). Emir Mahira juga berakting cukup baik sebagai penyandang keterbelakangan mental. Walaupun di awal nampak kurang natural, tapi selanjutnya cukup baik. Paling tidak dia bisa lepas dari karakter Bayu dari film Garuda di Dadaku yang cukup melambungkan namanya itu. Yang agak mengganggu mungkin Raffi Ahmad. Masa ceritanya Yuni Shara adiknya Raffi Ahmad? Kurang pas. Memang Raffi dibuat berjenggot lebat tapi tetap tidak bisa menghilangkan kesan muda. Disamping itu Raffi juga terlihat cukup rapi untuk ukuran kaum miskin pinggiran. Untuk pemeran yang lain boleh saya katakan bagus.

Kalau mencari kekurangan yang lain sebenarnya masih ada beberapa, mulai dari adegan dan dialog kurang penting yang banyak bermunculan, karakter yang terlalu banyak dengan ceritanya masing-masing, kebakaran di kampung kumuh yang anehnya hanya rumah Rara saja yang terkena, nenek Rara yang terjebak lama di dalam kebakaran tapi anehnya tidak meninggal (justru malah ayahnya yang menginggal gara-gara menolongnya) dan banyak miss lainnya. Namun meski demikian kita patut berterimakasih pada Aditya Gumay dan kawan-kawan yang berani melawan mainstream ini. Istilahnya ide ceritanya cukup bagus tapi eksekusinya ada beberapa missed. Point plus lain film ini, konon seluruh penghasilan film ini akan disumbangkan ke Dompet Dhuafa untuk membantu anak-anak autis. Sebuah niat yang amat sangat mulia.

Overall, terlepas dari beberapa kekurangan elemental yang ada film ini bolehlah bisa dibilang sebagai alternative tontonan keluarga.

 

 

 

4 responses to “Rumah Tanpa Jendela (2011)

  1. Rachmat Wahidi Maret 18, 2011 pukul 4:21 pm

    Artikelnya sangat menarik. Saya minta izin untuk menjadikan artikel ini sebagai referensi saya dalam menulis artikel yang bertopik sama.
    Terima kasih sebelumnya. 🙂

  2. Adenin Adlan Maret 20, 2011 pukul 7:15 pm

    Salam, sebelumnya sy mengucapkan terima kasih atas reviewnya, sy mencoba menjawab bbrp pertanyaan diatas :

    1. Judul film bukan “Jendela Rumah Rara” tapi “Rumah Tanpa Jendela” dan sesuai TAG LINE nya “Buka Jendela mu, Buka hati mu” yg mengartikan bukan hanya bercerita tentang Rara yg ingin Jendela tapi juga mengisahkan tentang Aldo yang mau berbagi (membuka hati) terhadap sesamanya.

    2. Di dalam film ini ada 6 lagu yg full (1 lagu tdk full yaitu lagu slow yg dinyanyikan Adam setelah manggung bersama Rara CS). Walau tidak semua lagu dinyanyikan Rara dan teman-temannya kami menganggap film ini adalah film Musikal. Di tengah film berkesan tdk ada lagu padahal ada lagu Adam dan lagu yg dinyanyikan “Mischa Mawar” lagu ketika Bapak Rara meninggal. Mungkin krn bukan Rara CS yg menyanyikan jadi tidak dianggap lagu ya, hehehe.

    3. Memang awalnya kami mencari talent anak yg bisa berakting dan bernyanyi dengan sangat baik serta memiliki paras cantik indonesia. (kami sdh lama mencari akan tetapi belum menemukan juga), secara fisik Dwi Tasya sangat pas berperan sbg Rara dengan aktingnya yang juga sangat bagus. Dwi Tasya bisa bernyanyi baik walau tidak sebagus Sherina, akhirnya kami memutuskan Dwi Tasya yg main dan nyanyiannya dilakukan secara beramai-ramai, karena kami tidak mau dubbing.

    4. Hanya Rumah Rara yg terbakar karena sdh di informasikan sumber api berasal dari situ dan berhasil dipadamkan warga sekitar sehingga tidak menjalar ke rumah lainnya.

    5. Bapak Rara yg meninggal karena dia yg tertimpa balok yg terbakar ketika menolong Si Mbok (coba perhatikan adegan tsb, ada balok terbakar yg jatuh menimpa Raga). Tujuan kami juga utk mengecoh penonton yg akan mengira Si Mbok yg akan meninggal. (Sebab utama ya memang sdh ajalnya dia, hehehe).

    6. Koreo tarian kurang bagus krn mereka berperan sbg anak-anak pemulung, bukan berperan sebagai DANCER. Jadi kami memilih tarian yang sederhana dan terlihat tidak kompak biar kelihatan natural. Mereka (Anak Sanggar Ananda) pasti sangat mampu menampilkan koreo tarian yg sangat baik jika memang perannya sesuai.

    7. Utk cerita kami memilih multi plot yg saling berhubungan.
    – Andini yg malu punya adik Aldo
    – Rio yg naksir Andini ternyata memiliki adik seperti Aldo juga.
    – Ibu dan Bapak Aldo yg sibuk sehingga kurang memperhatikan Aldo
    – Cerita ttg Presiden Obama yg memotivasi Rara akan impiannya.
    – Bu Alya yg juga membuka hatinya dgn mengajar Rara CS
    – Bu Alya yg memiliki tunangan, agar tidak terlalu kebetulan ia jomblo.
    – Adam yg tdk malu memiliki Aldo (artinya tdk semua saudara seperti Andini)
    – Cincin hilang tp bukan diambil teman Rara (orang miskin belum tentu pencuri)
    Jadi kami menulis skenario tdk hanya terfokus 1 plot, kami menambahi sub plot yg saling berkaitan. Mohon masukannya lebih rinci tentang adegan/dialog yg tidak penting tsb sebagai bahan masukan buat film kami berikutnya.

    7. Yuni Shara bukan adiknya Raffi Ahmad tapi Kakaknya (Budenya Rara). Di film tidak ada penjelasan Raffi Ahmad adalah abangnya Yuni Shara. Yuni memanggil Raffi “MAS” bukan berarti Raffi abangnya Yuni. Budaya Jawa memanggil yg lebih muda “Mas” adalah hal biasa, bahkan orang tua manggil anaknya sendiri “Mas” juga lumrah.

    8. Bapak Raga disini perkiraan usianya 28-29 thn, jika ia menikah usia 20-21 thn (itu lumrah utk kalangan menengah kebawah) maka cukup wajar jika ia memiliki anak usia 8 thn.

    Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas reviw film RTJ ini. Wassalam.

  3. Yasir Alkaf Maret 21, 2011 pukul 11:44 am

    Sebuah kehormatan, scriptwriter film ini mengomentari tulisan saya. Terima kasih atas segala benntuk klarifikasinya mas. Jarang-jarang ada orang di balik layar yang mau menganggapi unek-unek penonton. Terimakasih sekali lagi dan izinkan saya menaggapi lagi.

    1. Oops, sepertinya saya membuat kesalahan. Iya film ini berjudul Rumah Tanpa Jendela, bukan Jendela Rumah Rara. Maafkan kesalahan saya. Anggap saja point saya yang menyangkut judul tdk ada. Terima kasih koreksinya.

    2. Kalau ttg musikal kalau mau dianggap sbg film musikal ada baiknya menurut saya lagu didistribusikan merata di sepanjang film. Di sini kan cenderung hanya di awal saja. Kalaupun di tengah dihadirkan lagu, lagunya menurut saya hanya sbg background musik sprti film biasa, tdk mendukung cerita. Setahu saya yg namanya film musikal itu lagu2 yg ada adalah sebuah bentuk visualisasi cerita dlm bentuk lagu, bkn skdr scoring. *doh gmn ya njelasinnya? :P*

    3. Menurut saya tak apa seandainya suara Dwi Tasya tdk terlalu bagus. Justru disitu letak menariknya. Lebih natural. Soalnya secara acting Dwi Tasya ini sangat bagus sekali. Knp tdk dicoba diorbitkan sekalian dengan dimaksimalkan semua talent-nya, termasuk di tarik suara.

    4 & 5. Surprise? Bolehlah, tp terlalu mengada-ada mas. Kalau penyebaran api bisa dihentikan knp tdk bisa menghentikan api di rumah Rara? Lagipula ini di perkampungan kumuh kan? Bukannya di berita-berita biasanya kalau perkampungan kumuh kebakarannya menyebar ke mana-mana akibta bahan pembuat rumah yg mudah terbakar? Saya ttp menganggap kurang msk akal. 😀

    6. Alasan diterima. Hahaha..

    7. Yg Obama itu sgt amat tdk penting mas. Motivasi Rara sdh kuat, tdk perlu ‘dibangkitkan’ lg. Dan lg knp hrs Obama? Yg sederhana saja, sprti impian Rara yg jg sbnrnya sgt sederhana itu. Kalau boleh jujur, Adam, ibu Guru, Yuni Shara tdk terlalu banyak memperngaruhi cerita. Ada atau tdk adanya karakter itu cerita ttp jalan kan? Yah walaupun kalao disambung-sambungkan pasti ada saja sih.

    Terima kasih jg untuk kunjungannya mas..

  4. Livinycha Chiroyuki Januari 24, 2013 pukul 10:06 pm

    JANGANKAN MIMPI PUNYA JENDELA
    MIMPI JADI PRESIDEN JUGA BOLEEEEEEEEEEEEEEEEH !!!

    😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: