Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Ditilang Gara-gara Pasal Sampah Bernama Light On

KALI ini saya pengin bercerita pengalaman menyebalkan saya berurusan dengan polisi. Apalagi kalau bukan ditilang. Kejadiannya belum lama ini, di kampung halaman saya. Ditilang itu wajar tapi yang menyebalkan, saya ditilang menggunakan pasal sampah
melanggar light on
alias tidak menyalakan lampu di siang hari. Seandainya ditilang gara-gara SIM atau STNK mati atau tidak dibawa saya bisa menerima. Juga kalau misalnya saya melanggar lampu merah, jalan verboden atau rambu yang terpampang dengan jelas. Lah ini, saya ditilang gara-gara tidak menyalakan lampu. Enek banget saya. Aturan masih lumayan baru (baru sekitar setahunan) sudah main langsung tilang aja. Sebal sekali. Masyarakat belum terbiasa pak!

Kembali ke cerita, saat itu saya berkendara dengan surat-surat lengkap. Motor juga dalam kondisi baik tanpa ada bagian motor yang dipreteli sama sekali. Bahkan tutup pentil ban juga ada. Kejadian penilangannya berada di depan kantor polisi tempat pembuatan SIM. Lupa istilahnya apa. Itu kantor persis terletak di pojok perempatan. Posisi saya saat itu sedang melintasi kantor itu dan kemudian belok kiri. Pas baru belok saya langsung dihadang sama rombongan polisi. Ada razia ternyata. Saya tidak tahu ada razia karena dari arah saya jalan tidak terlihat sama sekali para polisi itu. Tapi kalaupun lihat saya juga pasti akan terus saja karena surat-surat saya lengkap.

Belok kiri ketemu polisi langsung dihentikan dan diperiksa surat-suratnya. Nah di sini yang menyebalkan. Saya ingat banget kata-kata polisi muda itu. “Surat-surat anda lengkap tapi ada satu yang tidak anda laksanakan, menyalakan lampu. Silahkan anda ikuti saya“. Waktu itu saya sela dengan langsung nyalakan lampu karena di Jogja selama ini begitu, tapi tetap malah disuruh ikut itu polisi.

Emosi sekali saya, juga orang-orang lain yang senasib dengan saya. Bukan disuruh menyalakan lampu tapi malah ditilang. Apa iya penerapan UU itu sudah tidak sosialisasi lagi sampai saya ditilang gitu? Koq tidak ada pemberitahuan tentang hal itu? Dengan kondisi seperti itu bagaimana tidak geram coba? Malah ada satu cewek yang nasibnya lebih memprihatinkan. Dia sudah menyalakan lampu dari awal tapi lampu kabut bukan lampu utama. Tetap dianggap salah euy! Kelihatan geregetan sekali itu cewek.

Kata polisi yang bertugas STNK-nya ditahan dulu. Silahkan ikuti sidang di PN tanggal 10 Maret 2011. Jelas saya tidak bisa karena, domisili saya di Jogja. Saya berada di kampung halaman karena lagi libur dan sudah akan segera berangkat lagi. Saya katakan seperti itu kepada ibu polwan dan katanya bisa titip sidang dengan bayar dan ambil STNK besok di kantor polisi tersebut. Ya sudah mau bagaimana lagi. Mau tidak mau saya besok harus ke kantor polisi.

Di rumah saya coba baca UU Lalu Lintas dan surat tilang yang saya pegang. Berdasarkan UU, katanya denda maksimal pelanggaran yang saya lakukan adalah Rp. 100.000. Sementara di surat tilang ada tulisan jika titip sidang maka saya harus bayar denda maksimal. Jika ternyata denda hasil putusan sidang lebih kecil daripada uang titipan maka uang kembalian bisa diambil ke bank yang ditunjuk. Huffft, berarti saya harus bayar seratus ribu hanya gara-gara masalah ini? Jelas ga ikhlas lah. Ga layak sama sekali. Memang ada klausul uang kembalian bisa diambil tapi bullshit sekali. Tak percaya saya. Pasti diakalilah sama polisi di kantornya klausul pengembalian itu.

Benar ternyata, aturan tersebut diakali oleh kepolisian. Jadi ketika saya ke kantor polisi untuk membayar tilang dan mengambil STNK kata petugas polisi saya harus bayar denda Rp. 50K. Kata petugas polisi, itu adalah denda maksimal yang harus dibayar. Harus maksimal karena saya titip. Ketahuan busuknya. Dikira saya tidak baca aturan kali. Jelas-jelas denda maksimal itu Rp. 100.000 dan ada catatan di surat tilang jika putusan sidang lebih ringan maka kembalian bisa diambil pelanggar. Di spanduk yang terpampang di dalam halaman kantor polisi juga ada tulisan denda maksimal Rp, 100K. Aturan resmi itu tidak dilaksanakan dan diganti. Denda maksimal sesuai aturan, dipotong separuh. Rp. 50K itu jalan tengah yang bisa diikhlaskan pelanggar dan sisanya bisa masuk kantong, tidak di kembalikan. Iya tidak dikembalikan karena petugas polisi itu sama sekali tidak bilang ke saya akan ada kembalian.

Berdasarkan sms dari polisi junior teman pacar saya, kalo kena dijalan biasanya akan ditarik Rp. 30.000. Tapi berhubung saya kena di kantor polisi jadi ada kemungkinan bisa tembus ratusan. Karena ini aturan baru dan kalau mau jujur sebenarnya tidak terlalu signifikan dalam mengurangi kecelakaan serta bukan pelanggaran seberat seperti halnya tidak punya SIM harusnya dendanya memang kecil.

Taruhlah misal benar 30K dan dianggap pelanggar tahu kemungkinan dendanya memang segitu, denda 50K bagi pelanggar yang mentalnya sudah down gara-gara masuk kantor polisi tentu ya sudahlah terima saja. Daripada 100K? Kan mending 50K kan? Dan di sini pelanggar tidak bisa tawar menawar karena resmi di kantor, bukan pelanggaran insidental yang si pelanggar dipanggil ke pos dan bisa diminta uang damai. Kepolisian juga untung. Daripada memberlakukan terima 100K tapi repot harus atur pengembalian dan kepolisian tidak dapat apa-apa, mending 50K tapi tidak usah dikembalikan. Kan pelanggar sudah maklum. Entah kebijakan resmi atau tidak saya tidak tahu, tapi kalaupun resmi juga saya percaya koq karena itu adalah hak kepolisian. K

Ya sudahlah. Dengan berat hati saya bayar 50K. Seandainya ini kejadiannya di Jogja atau saya punya banyak waktu lebih di kampung pasti lebih baik saya ikut sidang. Insya Allah kena-nya lebih murah. Saya sangat yakin karena ini pelanggaran yang amat sangat ringan sekali.

Sebelum bayar saya sempat ‘nyentil’ petugas polisi tentang peraturan sampah ini. Bagaimana kalau seandainya lampu rusak apa ya akan di tilang? Kemudian apabila khusus pas di hari itu si pengendara lupa padahal biasanya dinyalakan, apa ya akan ditilang? Kan tidak adil sekali. Kata polisi itu sudah resikonya. Dengan pernah ditilang maka seharusnya pengendara jadi pengalaman dan tidak akan lupa lagi. Enteng banget dia cuma jawab segitu. Pengin rasa saya jawab lagi tapi apadaya ga berani 😛

Saya juga sempat bilang ke polisi itu berarti motor-motor baru harus dibuat otomatis saja. Jadi kalo motor di-starter otomatis lampu juga nyala. Biar orang tidak perlu repot dan pastinya ingat terus lampu nyala. Jawab dia untuk Shogun yang baru sudah seperti itu. Kepolisian sudah menghimbau ATPM untuk membuat seperti itu. Iseng saya coba tanya ATPM apa sih pak, ternyata beliau tidak tahu kepanjangannya. Hihihi.

Terus sebenarnya pengin saya tanya lagi ‘Ya kalau motor baru dan merk-nya Shogun kalau motor lama? Motor yang bukan Shogun? Gimana coba? Kenapa ATPM cuma dihimbau sementara pengendara diwajibkan? Kalau demi keamanan seharusnya timpakan kewajiban light on itu ke ATPM. Itu namanya menerapkan kebijakan di hulu bukan di hilir. Hanya saja alau di-otomatis gitu apa malah jadi ga gampang rusak lampunya? Nyala terus jeh.‘. Sebenarnya saya pengin men-skakmat petugas itu tapi apa daya tak berani. Lagi di kandang macam jeh, ngapain juga bikin ulah. ;P

Yah begitulah ceritanya, saya tetap menganggap pasal light on itu pasal sampah. Konon sih bisa mengurangi kecelakaan tapi entah itu sudah terbukti atau belum secara empirik di Indonesia saya tidak tahu. Kepolisian juga sepertinya tidak pernah mem-publish data penelitian itu. Coba diteliti juga lebih banyak mana kecelakaan akibat infrastruktur jalan yang payah atau gara-gara motor tidak menyalakan lampu. Infrastruktur saja masih jelek malah melimpahkan kesalahan ke pengguna jalan.

Okelah karena ini UU jadi harus dilaksanakan, tapi karena aturan baru dan pengguna jalan belum terbiasa harusnya UU itu disosialisasikan dengan kencang, bukan asal tilang. Minimal perbanyak peringatannya dan jangan langsung main tilang. Aturan tentang default belok kiri di perempatan/pertigaanyang ada traffic light harus berhenti bisa ditiru. Karena kebiasaan sejak jaman penjajahan belok kiri itu jalan terus jadi di tiap traffic light sekarang ada papan peringatan apakah boleh belok atau tidak. Harusnya untuk light on ini begitu juga. Harus banyak sosialisasi karena aturan ini sangat berbeda dengan kebiasaan yang sudah mengakar lama. Jangan asal langsung tilang seperti ini. Sekali lagi, sosialisasikan dulu! Sosialisasi cuma masang spanduk di beberapa tempat, baru setahun sudah langsung tilang kan tidak adil.

Iklan

8 responses to “Ditilang Gara-gara Pasal Sampah Bernama Light On

  1. zairiz Februari 28, 2011 pukul 5:12 pm

    light on itu aturan yang mengadaptasi aturan luar yah??? kegunaan di indonesia itu apa yah??? hahaha

  2. ladeva Maret 1, 2011 pukul 4:26 pm

    Whahahaha…ditilang ya Mas…sabar ya. Penjelasannya runut banget meskipun lagi emosi.

  3. triyudantoo Maret 3, 2011 pukul 3:16 pm

    APARAT emang KEPARAT…!!!
    Hehehehe

  4. rizky Maret 4, 2011 pukul 5:48 am

    “Kenapa ATPM cuma dihimbau sementara pengendara diwajibkan? Kalau demi keamanan seharusnya timpakan kewajiban light on itu ke ATPM.”

    melu gemlethek kiye bang! digaji koh teyenge nilang tok, masa ana kancaku sing kecelakaan, bukannya ditulungi, eh malah ditilang juga… kebangeten banget si pada.

  5. roy Oktober 10, 2011 pukul 10:28 pm

    wah.. sama.. kejadian ane belum sampe 2 minggu lalu.. nih ane copy paste sharing yg ane buat di kaskus gan..
    Sore tadi sekitar jam 4 (30 September 2011) saya sedang mengendarai sepeda motor di pojokan lampu merah restoran Forum, JemurSari Surabaya… dari ARAH jalan Plaza Marina (saya sendiri dari restoran Forum) menuju arah Jl. Raya Jemursari arah ke Jl. Ahmad Yani. Ketika lampu merah saya berhenti di lajur yang tepat tanpa melanggar arus lalu lintas yang ada. Tiba-tiba saya didatangi oleh seorang Polisi (saya tidak tahu namanya) dan mengatakan motor anda tidak ada speedometer-nya. Lalu tiba-tiba kunci motor saya yang mana mesin motor dalam keadaan hidup.. polisi ini mencabut & mengambil kunci sepeda motor saya, yang otomatis menjadi mati dan saya harus menepikan motor saya pada lajur kiri pojokan di komples ruko seberang jalan restoran Forum.

    Setelah itu datanglah polisi yang lainnya.. yang bukan mengambil kunci sepeda motor saya.. namun kuncinya sudah ada pada polisi yang kedua ini.. lalu mengatakan bahwa sepeda motor saya tidak ada speedometer-nya.. lalu ditanyakan kelengkapan surat saya.. saya merasa surat lengkap akhirnya saya tunjukkan SIM C dan STNK motor yang ada. Lalu kunci motor dikembalikan setelah polisi yang kedua ini memegang SIM C dan STNK saya.. sambil saya diajak untuk masuk ke dalam pos kecil yang ada di pojokan situ. Setelah melihat bahwa SIM C saya berasal dari luar kota Surabaya, akhirnya polisi kedua ini, yang bernama Briptu R ini mengatakan bahwa Undang-undang yang baru jelas mengatakan bahwa saya sudah melanggar peraturan undang-undang lalu lintas yang ada.. beliau menjelaskan dengan pasal yang saya tidak ingat (ada tertera di surat tilang namun tidak jelas tulisannya sebab ditulis bukan pada posisi kolom yang tepat.. sehingga tidak terbaca dengan jelas).. tapi jelas tertera bahwa ada pasal yang mengatakan saya melanggar karena sepeda motor saya tidak ada alat pengukur kecepatannya. Lalu saya bilang maaf kalo saya salah.. dan saya bilang.. “bukankah jika ditemukan pelanggaran seperti ini akan dikenakan peringatan terlebih dahulu?” .. sebab kejadian yang pernah saya alami sebelumnya.. seorang polisi lalu lintas juga pernah menghentikan saya ketika saya mengendarai sebuah mobil.. dan singkat cerita saya tidak ditilang.. namun hanya diperingatkan .. sebab polisi ini mengatakan bahwa ada 2 jenis pelanggaran.. yaitu pelanggaran yang hanya diberi peringatan terlebih dahulu .. dan pelanggaran yang memang harus ditilang. Lalu Briptu R ini balas mengatakan kepada saya.. “siapa bilang?” saya jawab polisi juga. Sejak Briptu R menjawab hal itu.. saya kemudian dengan tegas membela diri saya.. sambil saya mengatakan kalau saya mengendarai sepeda motor yang sama ini dan bertemu dgn razia-razia dijalan.. karena surat-surat saya lengkap.. saya tidak pernah dikenakan tilang atas pelanggaran jenis ini (tidak ada speedometer).. bahkan tidak pernah diberikan peringatan sebelumnya. Singkat cerita akhirnya saya ditilang.. dan saya dengan tegas meminta surat tilang yang berwarna biru. Sempat saya mengatakan akan saya laporkan tindakan bapak.. lalu jawaban Briptu R adalah.. silahkan saja.

    Yang ingin saya tanyakan.. apakah tindakan yang dilakukan rekan Briptu R yang pertama.. yang melihat speedometer saya tidak ada di sepeda motor yang saya kendarai.. dan mengambil kunci motor saya pada posisi ditengah jalan berhenti lampu merah.. padahal saya sedang tidak melanggar arus lallu lintas maupun marka jalan yang ada.. dan juga bukan di saat operasi razia kendaraan bermotor.. adalah tindakan yang tepat & benar? Bukankah sebaiknya diberikan peringatan kepada saya bahwa motor saya perlu dilengkapi dengan speedometer.. yang mana belum pernah petugas lalu-lintas yang pernah menyetop saya di jalan maupun pada razia-razia kendaraan yang saya lewati.. yang mengingatkan saya untuk memperlengkapi speedometer di sepeda motor yang saya kendarai.. bahkan langsung menilangnya seperti ini. Penilang Briptu R.

    Mohon tanggapannya gan..

    Quote:
    Originally Posted by bagoesfamilly
    ane anak hukum gan !!

    dan ente terbukti bersalah, dengan tidak melengkapi kendaraan bermotor anda sesuai uu (lupa ane ) yg terbaru tuh, si polkis berhak menilang anda

    tinggal bijimana ente bersikap, menerima ente salah atau menolak tuduhan, silahkan keduanya ada resiko masing-masing

    ane ngerti salah pas itu polisi kasih tau pasal2nya.. tapi ya itu gan..
    apakah setiap pelanggaran seperti itu harus ditilang.. tanpa diberi peringatan dahulu.

    dan ane sempet bilang sama itu polisi.. loh.. kalo gitu.. kenapa ga semua di stop satu2 di cek klaksonnya.. ato dsb..

    ini bukan disaat saya melanggar arus lalu lintas.. lagi santai2 berhenti di lampu merah.. ane yg kena sasaran.. kalo pas momen razia ane maklumi gan..

    lagian yang buat ane bertanya-tanya.. apa bener tindakan itu polisi pertama datangi ane bilang speedometer ga ada.. lalu tiba2 kunci motor ane diambil? kenapa harus diambil? takut ane lari? wah.. posisi saja di lampu merah… YANG ANEH malah motor2 depan ane jelas-jelas beberapa ngelanggar marka garis tengah dan juga stop di zebra cross-nya GA DI TILANG.. yg jelas di depan mereka.. ga ditangkap dan ditilang?

    ehmmm….

  6. kaidin supriono Januari 30, 2014 pukul 8:04 am

    numpang bagi pengalaman juga broo

    Pada hari Rabu, 29 januari 2014 saya perjalanan ke polres sidoarjo untuk mengurus skck sebagai pengantar surat pindah istri saya. Saat melewati perempatan kletek sidoarjo saya dihentikan oknum polis pukul 09.36 Ditanyakan surat-surat saya, saya tunjukan kelengkapan surat saya. Kemudian saya di suruh ke pos polisi di sebrang jalan dan di dalam pos ada beberapa orang yang dianggap melanggar peraturan lalulintas. Lalu saya tanyakan apa kesalahan saya pak? “dibilangnya plat nomor saya tidak sesuai spesifikasi karena angka plaat nomor saya seperti angka jam digital” Sedangkan sepeda motor yang saya beli seken dari tahun 2011 itu menggunakan plat nomor tersebut sejak awal saya beli dan tidak pernah saya rubah sama sekali dan setiap ada operasi resmi di surabaya dan daerah lain tidak pernah ada masalah dengan plat nomor saya. Pada saat di dalam pos, oknum polisi tersebut mengatakan titip sidang Rp 50.000 atau tilang, awalnya saya mau pilih titip sidang. tapi saya takut nanti di jalan di tilang lagi, karna saya tidak dapat tanda terima bahwa saya sudah titip sidang kepada oknum polisi tersebut. Akhirnya saya minta ditilang saja. Yang menjadi pertanyaan saya, apakah memang seperti itu peraturan lalulintas sidoarjo? Dan pada saat itu saya melihat ada 5 orang polisi yang melakukan razia semuanya memakai rompi warna hijau. Sedangkan nama petugas polisi ada di seragam mereka. apakah memang seperti itu prosedurnya? atau sengaja ditutupi? Dan pada surat tilang yang saya bawa tertulis tanggal kejadian pukul 01 padahal kejadianya pukul 09.36. dan saya tidak begitu jelas dengan tulisan pasal yang dikenakan pada saya dalam surat tilang tersebut. dan nama penyidik yang tertulis pada surat tilang saya adalah BUBUG, pangkat tidak dituliskan, kesatuan tidak jelas tulisanya.
    untuk kedepanya agar tidak ada kesan semena-mena polisi terhadap masyarakat alangkah lebih baiknya ada surat resmi untuk melakukan razia dan surat itu di pampang di depan masyarakat yang kena razia. Biar masyrarakat mengetahui benar-benar razia atau permainan oknum polisi untuk mencari keuntungan. Dan nama yang ada pada baju seragam polisi sebaiknya ditunjukkan jangan ditutupi rompi, kalaupun harus pakai rompi. Kasi nama juga dong rompinya. Dan kemana larinya uang titip sidang yang dimaksud agar masyarakat jelas dan tidak ada kecurigaan terhadap oknum penegak hukum yang melindungi dan mengayomi masyarakat. Kalau memang titip sidang itu ada, alangkah baiknya ada tanda bukti/kwitansi bahwa telah menyerahkan sejumlah uang kepada oknum polisi sebagai titip sidang.

  7. udinn November 14, 2014 pukul 11:44 am

    Dan ternyata smua itu benar yg dikatakan polisi, skrg smua motor otomatis light on, msalah itu gunanya apakah tepat sasaran atau tidak , kan ada uji materi UU, silakan gugat UU, polisi hanya menjalankan amanat UU, ttg sosialisasi biasanya sdh dilaksanakan , sya yakin 200% , polisi bekerja dg pperencanaan, jka ga pakai sosialisasi pasti kasat lantas itu sdh dimutasi krn ga bsa menejemen kerja,

  8. udinn November 14, 2014 pukul 11:46 am

    oh ya pasalnya klo gak lupa , “menyalakan lampu utama,”skalian menjawab yg mnyalakan lampu kabut knp teta[p ditilang, klo misal lampu rusak , berarti gak laik jalan,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: