Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Khalifah (2011): Kontroversi Cadar yang Gagal Tersampaikan

INDRA Herlambang adalah alasan kenapa saya memutuskan untuk menonton film ini. Penasaran. Secara beliau ini terkenal sebagai sesepuh kaum 4L4Y yang di berbagai acara yang dia pandu selalu tampil gokil, di film ini dia dapat peran sebagai penganut Islam garis keras. Tentu bayangan saya menjadi sangat menarik bagaimana melihat cara dia berperan. Tanpa Indra Herlambang mungkin saya ogah menonton film ini. Peran utama yang lain diisi oleh ‘sekedar’ artis FTV macam Ben Joshua dan Marsha Timothy sih.

Ide film ini unik. Tentang seorang wanita bernama Khalifah [Marsha Timothy] yang begitu taat dengan suaminya, Rasyid [Indra Herlambang]. Dari yang tadinya tidak berjilbab diminta berjilbab sampai akhirnya diminta bercadar semua dituruti oleh Khalifah. Padahal suaminya adalah orang yang misterius yang lebih sering berada di luar daripada di rumah. Sehari di rumah, besoknya pergi dua/tiga minggu. Alasan dia pergi adalah untuk berjualan produk khas Arab Saudi ke berbagai daerah. Sebagai istri yang patuh Khalifah setia menunggu suaminya pulang.

Selain dua tokoh itu adapula Yoga [Ben Joshua], penjahit yang ngontrak di rumah depan pasangan suami istri tersebut. Dari gelagatnya diceritakan Yoga tampak antara suka sekaligus kasihan dengan Khalifah yang sering ditinggal suaminya, termasuk saat mendapati kenyataan kandungan Khalifah keguguran. Namun tidak ada cinta segitiga yang tumbuh di sini karena Khalifah adalah istri yang patuh dan setia.

Sebenarnya dengan latar belakang kemisteriusan Rasyid, adanya pihak ketiga di antara Khalifah dan Rasyid serta latar belakang cerita tentang wanita bercadar, saya berharap cerita film ini akan kuat dan mengagumkan. Ternyata? Kalau boleh jujur saya sangat kecewa. Film ini terlalu lurus, tanpa kejutan, minim konflik dan ceritanya gampang sekali di tebak. Film yang pertama saya tonton di tahun 2011 ini ternyata mengecewakan.

Sebenarnya bukannya tanpa kejutan sih, tapi yang ada kejutannya jelek banget. Begini, apa yang ada di benak Anda ketika ada seorang laki-laki misterius , Islam garis keras dan beristrikan wanita bercadar? Laki-laki itu teroriskah? Saya sempat bersiap kecewa kalau film ini benar seperti itu. Terlalu biasa. Ternyata? Yang ada tidak jelas apakah laki-laki itu teroris atau bukan. Kejutan yang dihadirkan adalah kemisteriusan laki-laki bernama Rasyid yang selama ini disembunyikan adalah dia itu sebenarnya sudah beristri. Khalifah adalah sekedar istri simpanan Rasyid. Sudah itu saja.

Sejenak saya bergumam, lah apa bedanya sama sinetron kalau ternyata yang disembunyikan hanyalah Rasyid laki-laki beristri? Buat apa iklan yang ditonjolkan Marsha Timothy nampak bercadar kalau ceritanya hanya selevel sinetron dan atau FTV? Saya ingin lebih, tapi bukan sekedar Rasyid itu teroris. Terlalu biasa. Bisa mungkin ternyata Rasyid pedofil, homo, swinger, misionaris agama lain atau apalah. Banyak yang bisa digali lewat film ini untuk memunculkan efek kejut yang mengagumkan.

Kelihatannya sih Islam garis keras tapi ternyata homo atau pedofil kan akan mengejutkan penonton. Lah ini kelihatannya sih Islam tapi ternyata beristri dua. Kalau seperti ini apanya yang mengejutkan? Sudah biasa orang yang ‘sangat Islami’ beristri lbih dari satu. Jauh lebih bagus dan mengejutkan Ratu Kosmopolitan-nya Luna Maya. Pas nonton Ratu Kosmopolitan saya terkejut loh waktu ternyata gebetan Luna Maya adalah agen perusahaan yang akan menggusur kampung tempat Luna Maya dan kawan-kawan ngekos.

Saya menduga film ini hendak bermain aman saja tanpa kontroversi, tidak seperti Angel & Demon yang mengangkat konspirasi di balik pengangkatan Paus, pimpinan tertinggi umat Katolik. Atau tidak usah jauh-jauhlah, di Indonesia ada Perempuan Berkalung Sorban yang berani mengangkat feminisme Islam dalam pesantren atau 3 Doa 3 Cinta yang mengungkap praktek homo santri senior kepada juniornya. Isu agama terlalu ‘mengerikan’ untuk dikontroversikan sehingga pembuat film ini tidak mengangkat lebih dalam isu agama yang sebenarnya terbuka lebar untuk diungkap. Padahal sebenarnya sutradara Khalifah juga suttradara 3 Doa 3 Cinta. Entah kenapa dia harus menurunkan standarnya dari film yang bagus dan menyentuh ke film sekelas FTV.

Bermain aman itu bagus, tapi penonton Bioskop yang harus membayar untuk menonton film tentu ingin lebih. Lagian kenapa harus takut kontroversi berbau agama kalau dari awal memang ingin mengangkat karakter agama tertentu? Toh ini cuma cerita fiktif inih? Dan dua film Indonesia yang saya sebutkan sebelumnya juga tidak menimbulkan kontroversi yang berarti di mata masyarakat dan LSF.

Itu yang pertama, yang kedua tentang kehidupan pasca Khalifah bercadar. Buat apa dibentuk karakter bercadar kalau sang tokoh tidak mendapat resistensi dari lingkungannya. Iya memang di film ini menghadirkan resistensi, tapi hanya sekilas lalu dari orang lewat. Lingkungan terdekat seperti keluarga dan tetangga malah tak acuh. Apa ya iya seperti itu? Setahu saya sih tidak. Justru lingkungan sekitar, minimal keluarga, yang pasti akan pertama menentang. Bayangkan, kembang desa pekerja salon mendadak bercadar, masa ya keluarga dan tetangga tidak bereaksi negatif?

Malah reaksi postif justru didapat Khalifah pasca bercadar. Salon tempat Khalifah bekerja menyediakan waktu tertentu hanya untuk melayani pelanggan perempuan, demi untuk mengakomodir Khalifah tentunya. Lantas dimana konfliknya atas cadarnya? Memang ada scene dimana ia dibawa ke kantor polisi tapi tidak jelas kenapa ia dibawa ke kantor polisi. Dan jeleknya lagi, ia akhirnya diizinkan pulang setelah ayahnya datang menjemput. Ayahnya ini ternyata guru ngaji komandan polisinya saat masih kecil dulu. Pertanyaan saya ya ngapain juga pakai ada scene ditangkap polisi dengan tanpa tuduhan, ditambah mudah keluar pula? Benar-benar scene yang tidak perlu

Selanjutnya yang ketiga, tentang tokoh Yoga [Ben Joshua]. Ini karakter benar-benar tidak berguna. Ada atau tidaknya karakter ini tidak mempengaruhi film ini secara signifikan. Di resensi yang saya baca tokoh ini katanya suka sama Khalifah, tapi yang ada tokoh ini tak lebih dari sekedar tetangga biasa. Kesan yang saya tangkap justru si Yoga ini malah kasihan pada Khalifah bukannya suka. Selanjutnya di pertengahan film, karakter ini malah pergi. Terus buat apa ada Yoga kalau begitu?

Dengan demikian harus saya katakan film ini sangat datar. Tidak ada konflik yang berarti dan ide cerita gagal berkembang. Indra Herlambang yang menjadi alasan saya menonton film ini juga kurang jelas aktingnya. Saya tahu Rasyid yang diperankan Indra ini karakternya misterius, tapi apa ya yang namanya misterius itu harus jarang ngomong? Mungkin iya kalau diimbangi perilaku yang juga misterius. Contohnya Nyonya Dara di film Rumah Dara. Wuih karakternya misterius sekali dia. Nah ini Rasyid pembangunan karakter lewat cara dia bertingkah laku kurang saya dapat. Yang ada justru malah Rasyid ini tampal sange [nafsuan, BT-Birahi Tinggi] orangnya. Bagaimana tidak, daripada berdialog si Rasyid ini lebih sering menciumi Khalifah. Halah-halah.

Analisa saya kenapa film ini gagal bercerita adalah karena Prodution House film ini adalah yang biasa membuat FTV di salah satu televisi swasta Indonesia. Saya awalnya tidak memperhatikan itu sampai saat sudah duduk di studio dan terpampang jelas pemroduksi film ini. Pantas saja tokoh utama yang lain Ben Joshua dan Marsha Timothy yang notabene mereka adalah artis FTV. Tidak ada yang salah dengan FTV, tapi biasanya FTV itu ceritanya terlalu simple dan minim konflik, dan sayangnya itu juga yang terjadi pada film bioskop berjudul Khalifah ini.

Akhirnya, menurut saya film ini kurang bagus dan, sekali lagi maaf, saya sangat yakin fim ini didaftarkan mengikuti Festival Film Indonesia tidak akan dapat piala, kecuali mungkin dari sisi musiknya. Djaduk Ferianto menggarap musiknya sangat bagus, khas Timur Tengah. Sesuai dengan cadar yang memang identik dengan Timur Tengah. <

 

 

 

3 responses to “Khalifah (2011): Kontroversi Cadar yang Gagal Tersampaikan

  1. Pingback: Khalifah: Kontroversi Cadar yang Gagal Tersampaikan | Yasir Alkaf - Kumpulan Cerpen

  2. hchoirihendra Januari 15, 2011 pukul 1:21 pm

    Wah, matur nuwun infonya Mas..
    Emang sih, saya merasa kualitas film di Indonesia ini sudah jauh menurun, kurang ‘wah’.. Gitu2 aja, gak kreatip ah..

    Btw, salam kenal ya Mas, blognya inspiratif..

  3. Nia aidyen Februari 4, 2011 pukul 9:19 pm

    Knapa juga sih pemainx harus mereka?..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: