Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Berbagi Cerita di Tanah Suci [7 – Tamat]

INSYA Allah ini menjadi seri terakhir jurnal perjalanan saya ke tanah suci banyak beberapa hari yang lalu. Memang boleh dibilang sudah kadaluarsa jika disambung dengan tulisan hari pertama. Tapi berhubung menimbulkan mood untuk menulis juga ternyata sangat susah jadinya ya begini, tertunda-tunda. Dengan segala kerendahan hati saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan penulisan ini *kaya ada yg baca aja*. Please enjoy seri terakhir serial jurnal perjalanan saya ke Tanah Suci. Oia seri ini sama kaya satu seri sebelumnya, digabungkan dua hari menjadi satu demi keringkasan tulisan.

19 Juli 2010

Hari ini adalah hari terakhir di tanah Saudi. Setelah menyambangi Jeddah-Madinah-Makkah sejak tanggal 13 Juli akhirnya tibalah perpisahan itu. Lepas dzuhur+makan siang kami check out dari Dar el Imaan Hotel. Sebelum meninggalkan Masjidil Haram kami dipersilahkan untuk bertawaf untuk yang terakhir kalinya [tawaf wada]. Jangan ditanya bagaimana rasanya harus meninggalkan lagi Masjidil Haram dan Ka’bah tempat kiblat kita selama ini. Itu sangatlah personal, seperti halnya saat pertama kali melihat dan mengelilingi Ka’bah. Yang jelas amat sangat berat. Saya tanamkan dalam-dalam di benak saya, kelak saya akan ke sini lagi untuk melaksanakan amanat Rukun Islam ke-5, tentunya dengan biaya sendiri bukan dibiayai Kanjeng Romo. ^^

Karena setelah tawaf wada kita tidak diperbolehkan melihat Ka’bah lagi jadi di hari terakhir itu kami shalat duhur di hotel. Logis, wong sudah perpisahan masa balik lagi. Habis shalat baru makan sekaligus check out. Sebenarnya saya pengin foto bareng bersama semacam supervisor restoran di hotel itu. Si supervisor ini, kalau diliat dari cara ngomongnya sepertinya orang Perancis, telaten banget. Berhubung dia botak, sekilas mirip Voldemort pas pertama kali dibangkitkan Harry Potter. Dia ini punya ‘jabatan’ tapi ga cuma ngawasi atau perintah sana-sini. Sering turun tangan langsung. Sayang waktu itu kebetulan saya tak jumpa dia, jadinya ya sudahlah diikhlaskan saja niat itu. Sebagai gantinya kami foto keluarga saja di depan hotel yang nyaman ini.


Hari terakhir ini travel mengagendakan untuk mengunjungi pusat perbelanjaan [mall] di Jeddah, sekalian perjalanan pulang. Namanya Balad/Corniche. Mall di sini beda sama di Indonesia. Kalau di Indonesia gedungnya tinggi-tinggi, di sini cuma satu lantai tapi luasnya luar biasa. Pernyataan itu dikeluarkan sendiri sama pemandu kami dan kami lihat sendiri pula. Nah begitu sampai di kompleks pertokoan itu kami diarahkan ke salah satu toko. Sudah ketebak, naga-naganya si pemandu bekerja sama dengan pemilik toko ini, jadi kami diarahkan ke situ. Ya tak apalah. Walau begitu, beberapa jamaah lain ada yang ‘desersi’ dengan mengunjungi toko-toko yang lain.

Ada yang menurut saya agak norak dari jamaah kami. Melihat warung bakso mereka banyak yang pada mampir. Lah, jauh-jauh ke Arab koq jajan bakso? Mbok ya kuliner lain yang khas. Kalau kami sekeluarga sih nyoba kuliner khas daerah ini, bukannya beli bakso-yang-cuma-pake-mangkok-seukuran-kobokan-cuci-tangan-dengan-harga-lumayan-mahal-itu. Kami sempat membeli Nasi Bukhari sama Kebab ala Arab. Ngomong-ngomong kebab, jangan dibayangkan rasanya sama kaya Kebab Baba Rafi yang outletnya menjamur di Indonesia itu. Rasanya sama sekali lain. Malah kalau jujur bisa dibilang rasanya aneh, ga pas di lidah orang Indonesia.

Trus selain norak pada beli bakso ada juga jamaah yang beli LAPTOP. Jejeng!! Iya ada yang beli laptop disini. Guess what merk-nya apa? Ga jauh beda sama yang di Indonesia, ACER. Hahahaha. Terang saja saya dibikin ‘mbatin‘ dengan tingkah jamaah itu. Ngapain jauh-jauh beli laptop di Arab? After sales-nya ntar gimana? Maksudnya kalau ternyata ada part rusak gimana klaim garansinya? Ribet kan? Beli laptop koq kaya beli kacang goreng. Pengalaman dari ayah saya dulu pernah beli HP di Arab dan pas rusak dibawa ke Service Center resmi malah kena denda karena dianggap barang selundupan. Ngeri kan?

Setelah beberapa lama rombongan meninggalkan Corniche dan menuju ke Laut Merah dan Masjid Terapung. Sebelumnya kami makan dulu di resto Thailand. Di sini untuk pertama kalinya saya makan masakan Thailand macam Tomyam dsb *norak =P*. Sayangnya kami sampai di sini tepat ketika waktu shalat maghrib tiba. Di Saudi saat waktu shalat restoran dilarang menerima tamu [tutup], kecuali tamu yang sudah di dalam dari tadi. Si pemandu sempat kebingungan, kami juga berasa agak gimana gitu. Apalagi saya juga melihat ada orang yang sedang jamaah shalat dekat tempat parkir. Namun dengan diplomasi entah bagaimana kami bisa masuk lewat belakang.

Saat makan kami sekeluarga dapat satu ruangan ditambah jamaah yang dari Purwokerto jadi genap berdelapan orang. Di Arab sini restoran berbilik-bilik. Satu bilik , yang kami tempati, untuk dua belas orang. Untuk menggenapi ada keluarga ex-diplomat yang masuk ke bilik kami. Tadinya sih asyik saja ayah bercerita dengan itu ex-diplomat, tapi lama kelamaan ketahuan kalo orang itu mengidap ‘aku-centris’. Beliau tidak atau sedikit memberi kesempatan ayah berbicara. Selalu saja dipotong dan dilanjutkan dia yang bercerita. Batin saya, wah ini orang kena post power syndrome kayanya. *eh koq malah ngrasani? Sudah2*

Habis makan kami pergi ke Masjid Terapung dan shalat Maghrib jamak Isya di sana. Sayang kami ke Laut Merah, tempat Masjid Terapung itu berada ketika hari sudah malam. Jadinya keindahan air mancur di tengah lautan tidak bisa kami nikmati. Disebut Masjid Terapung karena tiang pancang masjid ini ditanam di dalam laut. KAlau laut surut tiang pancangnya kelihatan tapi kalau pasang akan terutup air laut sehingga terkesan mengapung. Itulah mengapa jamaah Indonesia karib menyebut masjid ini Masjid Terapung, padahal aslinya ada nama sendiri. Tapi saya lupa namanya.

20 Juli 2010

Setelah dari Masjid Terapung kami langsung ke BAndara King Abdul Aziz untuk pulang. Di bandara ini kami menunggu boarding cukup lama. Ada mungkin sekitar satu jam. Begitu boarding antrinya juga sangat amat panjang. Agak gimana gitu satu pesawat tapi yang meriksa tiket Cuma satu petugas. Sudah gitu mukanya masam banget pula. Tapi ya sudahlah.

Di pesawat kami sekeluarga duduk terpisah. Karena malas ribet kalau harus tukar-tukar dengan penumpang yang lain jadi ya sudahlah kami terima saja. Pesawat berangkat hamper jam 11 malam tanggal 19 Juli jadi kami baru nyampe di bandara Cengkareng sehari kemudian.

Di sini yang tidak saya duga saya diapit dua orang TKW. Dan ‘freaknya‘ dua orang itu ganjennya naujubileh. Saat pesawat belum terbang AC sepertinya belum dipasang maksimal. Sambil mengibaskan rambut di hadapan saya bak iklan sampo dengan pedenya dia bilang ‘panas ya mas?’ Gilee. Untung mereka ga cakep, kalau cakep bakal tergoda kayanya ini iman. Berhubung saya dapat seat pinggir jadi ada 3 kolom tempat duduk. Tadinya saya di tengah tapi mengingat bakal tidak bisa bebas dengan diapit dua TKW ganjen itu saya minta tukar agar saya bisa duduk di pinggir. Untung dia-nya mau walaupun TKW yang satunya yang ‘terpaksa’ harus berjauhan dengan saya agak kecewa gimana gitu.

Karena lelah luar biasa saya banyak tidur di pesawat. Belakangan baru saya tahu ayah, ibu dan adik juga demikian. Saya baru bangun kalau pramugari datang nganter makan. Itupun dibangunkan sama itu TKW. Perjalanan panjang itu ya memang jadi tidak terlalu nikmat karena saya tidur terus. Lama perjalanan sekitar 9 jam ditambah 4 jam beda waktu Saudi-Indonesia. Berarti total perjalanan ini menempuh 13 jam. Busyeeet!!!

Btw lagi, ketika pilot menyampaikan pengumuman sekian menit lagi pesawat akan mendarat, si TKW sebelah saya langsung heboh aja. Langsung ber make up yang nuwun sewu-nya terlalu menor. Ketika pengurusan surat-surat di bandara rombongan tenaga kerja juga di pisah dengan penumpang yang lain. Pantas saja konon TKW ini setibanya di bandara katanya suka ditarik retribusi macam-macam oleh petugas bandara. Lah membedakannya gampang banget sih.

Saya lupa jam berapa kami sampai bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Yang jelas begitu sampai kami diribetkan untuk mencari tas kita dan jatah air zam-zam kami. Setelah beres baru kita bisa meninggalkan bandara untuk pulang, dengan dijemput oleh perwakilan biro Armina di Purwokerto. Saat itu sudah lepas dzuhur tapi belum masuk ashar. Sebelum melanjutkan pulang ke Purwokerto kita menyempatkan diri ke Istiqlal sejenak untuk merapel shalat mulai dari Subuh sampai Isya. Karena di pesawat kita tidak bisa shalat jadi baru ketika sudah sampai di tanah air kita shalat. Sebenarnya kita mengejar shalat dzuhur-asar jamak ta’khir dulu mumpung masih ada waktu. Tapi supirnya agak ‘dong-dong’. Bukannnya mencari masjid terdekat malah meluncur ke Istiqlal, padahal kondisi jalan macet luar biasa. Nyampe Istiqlal pas waktu maghrib sudah masuk, ya sudah mau gimana lagi. Terpaksa dirapel begitu shalatnya. Semoga Tuhan mengampuni.

Setelah selesai shalat sambil beberapa ada yang mandi kami bergegas meninggalkan Jakarta yang sumpek dan padat menuju Purwokerto yang adem dan damai. Kami nyampe di rumah keesokan harinya tanggal 21 Juli 2010, sekitar jam 9an. Tanpas basa-bsai setelah membersihkan tubuh kami semua tepar dengan suksesnya. Mungkin disamping kelelahan ini juga kali ya yang dinamakan jetlag. Bawaan malas untuk beraktivitas dan ingin tidur terus.

Yah dengan demikian selesai sudah rangkaian cerita saya di Saudi dalam rangka umrah ini. Total kami pergi sejak tanggal 11 Juli 2010 ketika final Piala Dunia dan pulang lagi ke Purwokerto 21 Juli 2010. Berarti total 11 hari kami berada di perjalanan.

Semoga rangkaian jurnal tulisan saya bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca sekalian untuk beribadah ke Baitullah. Insya Allah efeknya mencandu. Ibu saya saja pengin lagi ke sana dan mulai nabung lagi. Kalau saya? Nanti dulu, masih belum mandiri. ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: