Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Berbagi Cerita di Tanah Suci [6]

SEKARANG sudah tanggal 31 Agustus, posting terakhir perjalanan umrah sudah terpublish 12 Agustus kemain. Padahal perjalan itu sendiri sudah selesai tanggal 20 Juli alias lebih dari sebulan yang lalu. Karena kegiatan yang lain jurnal dan komentar perjalanan ke Tanah Haram kemarin jadi malah terlupakan. Biar tidak menjadi tanggungan akan saya zip menjadi dua bagian saja sisa cerita dari tanggal 17 Juli 2010 sampai 20 Juli 2010 ketika kami pulang kembali ke tanah air. Bagian pertama 17-18 Juli bagian kedua 19-20 Juli 2010.

17 Juli 2010

Seperti yang sudah saya ceritakan kemarin, ritual umrah pertama Alhamdulillah selesai kami kerjakan sehari sebelum ini. Tapi karena kami berombongan memulai waktu sudah malam jadi lepas dini hari baru selesai. Akibatnya cukup ‘mengenaskan’. Karena kelelahan kami jadi agak kesiangan bangun subuh. Akibatnya kami tidak bisa jamaah di Masjidil Haram. Agak sangat disayangkan karena peluang shalat wajib untuk pertama kalinya di depan Ka’bah terlewat begitu saja.

Agenda kami hari ini pasca sarapan adalah menjelajahi Masjidil Haram. Kebetulan hari ini dari travel tidak mengagendakan acara tertentu jadi kami, disamping tentunya beribadah dan jalan-jalan, menjelajahi Masjidil Haram. Satu yang tidak saya duga sebelumnya, ternyata di sini kita diperbolehkan dengan amat sangat bebas untuk berfoto-foto. Kalau di Masjid Nabawi hanya kaum Adam yang diijinkan membawa kamera sementara kaum Hawa-nya dilarang bahkan sampai digeledah segala, disini bebas-bebas saja.

Ya ini sedikit banyak menjadi concern saya. Jujur saya agak takut kesakralan Masjidil Haram akan hilang dan akan menjadi sekedar obyek wisata dengan dizinkannya foto-foto di dalam Masjid. Untungnya sampai saat ini Insya Allah kesakralan itu belum hilang karena yang saya lihat masih cukup sedikit orang-prang yang berfoto di depan Kabah atau di dalam lingkungan Masjid. Tapi bukan tidak mungkin kelak akan semakin banyak yang masuk ke Masjid sekedar untuk berfoto-foto. Tadinya saya juga agak sungkan untuk berfoto di lingkungan Masjid, tapi karena banyak yang mencontohi ya akhirnya pede-pede saja. Yang penting berfoto bukan tujuan utama. Beribadah harus ditekadkan selalu menjadi prioritas.

Selain kesakralan yang rawan berkurang akibat dizinkannya kamera masuk, ada lagi satu yang mengganjal. Di dalam Masjid ada calo. Ya calo. Mereka adalah calo yang akan mengusahakan kita untuk mencium Hajar Aswad. Nah lho, untuk mencium Hajar Aswad saja ada calo. Yang perlu diperhatikan adalah calo itu tidak seperti yang kita kira. Karena bertugas membantu mengantar ke Hajar Aswad pasti si calo bertubuh kekar. Padahal yang saya lihat tidak seperti itu. Si calo itu justru orang-orang dengan tubuh kecil, bahkan ada juga ibu-ibu. Kenapa saya tahu karena mereka menwarkan diri pakai Bahasa Indonesia. Dengan tubuh kecilnya justru bisa menjadi keuntungan karena mungkin menimbulkan belas iba jamaah yang berebut mencium Hajar Aswad. Luar biasa bukan? -__-*

Baiklah lupakan tentang keprihatinan saya itu. Lanjut ke cerita saja. Karena diantara kami berempat ayah yang paling berpengalaman jadi beliaulah yang menjadi guide kami [saya, adik dan ibu]. Kami dibawa masuk ke Masjid lewat pintu yang lain [FYI pintunya memang cukup sangat berjibun], naik ke lantai atas [sayang ga nyampai lantai teratas karena dilarang], mengunjungi bekas rumah Nabi Muhammad yang sekarang jadi perpustakaan dan lain-lain. Cukup mengesankan karena jujur saya benar-benar tak membayangkan bisa sampai ke sini.

Oia ada yang hampir kelupaan. Di bayangan saya Masjidil Haram itu luar biasa luas, terutama pelataran area tawaf. Ternyata sebenarnya ga luas-luas banget. Luas sih iya pasti luas tapi tidak seperti yang terlihat di televise. Kalau di televise kan berhubung di shoot dari atas jadi terlihat manusia begitu kecil dan akibatnya area jadi terlihat luas. Faktanya ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Percayalah, cek saja sendiri. =P

Ketika shalat maghrib, saya dan ayah berkesempatan utnuk dapat shalat di batas antara pelataran tawaf dengan masjid. Bagi yang belum tahu Ka’bah itu posisinya agak ke bawah jadi dari tempat saya salat saya bisa melihat orang yang bertawaf dengan cukup jelas. Kebetulan lagi tempat saya itu termasuk lurusnya Hajar Aswad. Nah dari sini saya mendapat ‘pemandangan’ menarik. Di situ saya shalat memang tidak melihat ke bawah seperti di rumah atau Masjid biasa tapi mata saya melihat ke Ka’bah. Lha wong kiblat di depan mata masa mau ‘dianggurin’ =P.

Ketika shalat dimulai, boleh percaya boleh tidak, tawaf itu benar-benar berhenti. Tadinya saya kira yang dekat Ka’bah tetap bertawaf sampai paling tidak al Fatihah selesai. Ternyata sejak takbirpun mereka sudah berhenti. Nah yang unik terjadi ketika shalat selesai. Begitu salam selesai, langsung jamaah yang dekat dan merasa dekat dengan Hajar Aswad berhamburan menuju Hajar Aswad. Ada yang bahkan sampai melompati orang di depannya. Ya karena saat itu memang Hajar Aswad kosong. Jadi dalam hitungan 1-2 detik langsung itu area Hajar Aswad penuh lagi. Saya membatin, sampai segitunya orang-orang yang hendak mencium Hajar Aswad. J

18 Juli 2010

Hari kesekian di kota Makkah. Kalau hari sebelumnya travel tidak mengagendakan kunjungan ke daerah tertentu, hari ini kami diajak City Tour kota Makkah. Banyak obyek yang kami kunjungi yaitu Arafah, Jabal Rahmah, Muzdalifah, Mina, Jabal Tsur dan Masjid Ji’ronah.

Mencoba mengingat lagi karena sudah lumayan lama, kalau tidak salah yang pertama kali kita kunjungi adalah Jabal Tsur. Jabal Tsur adalah gunung yang disitu terdapat gua tempat bersembunyi Muhammad dan Abu Bakar saat dikejar kaum Quraisy ketika akan Hijrah ke Madinah. Tapi kami tidak sampai ke gua-nya. Kami hanya berhenti di lereng gunung untuk berfoto karena gua-nya ada di atas gunung. Terlalu memakan waktu kalau harus ke sana kata sang pemandu. Ya sudah kami manut saja walaupun agak kecewa. Ya kami, terutama saya, agak kecewa karena wisatanya serba terburu-buru. Jam 12 diusahakan untuk sudah kembali ke hotel, padahal obyek wisatanya masih banyak. Jadinya para pemandu hanya terkesan sekedar menunaikan kewajiban mengantar. -______-‘

Setelah menghabiskan waktu beberapa saatdi Jabal Tsur, rombongan bergerak menuju ke Jabal Rahmah. Konon di sini adalah tempat Adam dan Hawa dipertemukan untuk pertama kalinya pasca diturunkan ke bumi karena ya gitu deh [kalian tau sendirilah ceritanya]. Sebagai penanda di sini dipasang sebuah tugu. Nah tugu ini bagian bawahnya menghitam karena saking banyaknya orang yang mencorat-coret. Ada sebagian yang percaya menulis nama kita dan gebetan atau pasangan akan membuat hubungan kita langgeng. Banyak yang termakan gimmick itu jadi tugu di Jabal Rahmah jadi hitam sangat. Ini saya ada sedikit fotonya:

Biasanya di sini orang-orang pada berfoto naik unta, tapi keluarga kami tidak tertarik. Untuk sekedar peringatan, para jasa foto di sini suka berbuat curang. Katanya sekali kita meminta foto dia nanti akan menjepret beberapa foto sekaligus. Pelanggan mau tidak mau harus membayar sejumlah foto yang dia jepret. Padahal mereka mengambil foto menggunakan kamera Polaroid jadi sebenarnya kurang bagus dokumentasinya. Saran saya sebaiknya bawa kamera digital sendiri dan berfoto sendiri atau minta tolong jamaah yang lain saja.

Praktis setelah mengunjungi Jabal Rahmah kita tidak berhenti lagi di destinasi wisata selanjutnya. Kita hanya melewati saja daerah yang lain seperti tempat wukuf, tempat lontar jumrah [dari jauh], terowongan Mina dan juga terowongan Soeharto. Tempat lontar jumrah tidak bisa dikunjungi langsung disamping karena harus jalan cukup jauh, juga sedang dalam proses perluasan. Tempat wukuf kita juga hanya melihat tenda-tenda yang permanen saja dari dalam bus.

Saya penasaran apakah memang cuma sebatas itu saja City Tour kota Makkah. Dan ternyata setelah googling sebenarnya ada obyek wisata lain yang sayangnya tidak masuk dalam program kunjungan. Di Makkah masih ada peternakan Unta yang mana kita bisa menikmati susu unta yang konon masam-masam gimana. Selain itu tak kalah menarik ada Museum kota juga. Di museum itu ada banyak item menarik seperti kiswah pintu ka’bah, bekas penutup maqam Ibrahim, tangga masuk Ka’bah juga bekas sumur zamzam. Sayang sekali kami tidak mengunjungi tempat itu gara-gara keterbatasan waktu. Bagi saya itu catatan tersendiri untuk Armina selaku penyelenggara umrah.

City Tour kami diakhiri di Masjid Ji’ranah. Masjid ini adalah tempat miqat [niat umrah]. Bagi yang ingin berumrah lagi, atau mengumrahkan kerabat dipersilahkan untuk berniat di sini. Karena sudah jauh-jauh ke sini tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan ini. Alhamdulillah hampir semua rombongan jamaah yang satu bis dengan kami melaksanakan umrah sunnah ini. Jadi kami niat di Masjid ini dengan didahului shalat sunah umrah dulu dan pulang ke hotel. Umrah baru kami laksanakan nanti setelah shalat Dzuhur dan makan siang.

Saat umrah wajib atau umrah yang pertama kebetulan sudah malam jadi kami lumayan nyaman ber-tawaf dan sai, tapi untuk yang kedua suasananya lain sangat. Karena dilakukan di tengah hari di saat matahari sedang terik-teriknya ,stamina benar-benar terkuras. Yang paling terlihat kepayahan ya ibu. Jadinya saat Sa’i beberapa kali kami istirahat sejenak. FYI jarak antara Safa-Marwah sekitar 400 m jadi karena sa’i dilakukan 7x putaran maka jarak yang ditempuh mencapai 2,8 km. Belum lagi jarak tempuh saat tawaf yang juga tak kalah panjang. Kalau saya pribadi dan adik insyallah masih kuat, tapi ya kami tidak boleh egois dan mengikuti ritme orang tua kami saja.

Ketika sa’i selesai, tepat ketika iqamah Ashar berbunyi sehingga mau tidak mau kami harus berhenti sejenak untuk shalat sebelum tahallul. Nah setelah tahalul baru umarh benar-benar selesai dan kami bisa istirahat sambil sedikit berfoto. Karena besok kami sudah harus pulang ke tanah air jadi momen-momen di Masjid suci ini tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja. Tapi fotonya saya simpan saja buat arsip kami ya? =P

Yah kurang lebih itu agenda kami dua hari itu. Insyaallah kegiatan dua hari yang terakhir kan segera saya tulis lagi. Nanggung kalau cerita tapi tidak sampai selesai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: