Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Berbagi Cerita di Tanah Suci [5]

TERNYATA keinginan berbagi cerita selama di Tanah Suci sempat terhenti sejenak. Padahal cerita terakhir masih di Madinah, belum sampai ke Makkah untuk berumrah. Yah, karena satu dan lain hal jadi kelanjutan cerita ini baru bisa ter-publish sekarang. Sekarang sudah tanggal 12 Agustus, padahal kami berada di Saudi 10-20 Juli 2010. Sudah sebulan yang lalu euy. Oia karena sudah memasuki bulan Ramadhan jadi sebelumnya saya ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi segenap umat Muslim. Semoga Ramadhan ini bisa jadi momentum perubahan bagi diri kita, maupun bagi lingkungan.

Lanjut, hari ini Jumat 16 Juli 2010, menjadi hari terakhir kami di Madinah. Sekitar pukul 14.00 habis jumatan kami akan diberangkatkan menuju ke Makkah. Jadwalnya memang begiut, 3 hari di Madinah dan 3 hari di Makkah. Berhubung sudah hari terakhir jadi Ayah menganjurkan kepada saya, adik dan ibu untuk sekali lagi berdoa Raudah. Sudah jauh-jauh ke Saudi, ke rumah Rasul, masa cuma sekali saja berdoa di tempat mustajab itu. Ayah saya malam sebelumnya sudah mengunjungi tempat itu untuk kedua kalinya, di menjelang tengah malam ketika kami sudah tertidur kelelahan.

Karena ayah sudah jadi saya berangkat ke Raudah sendirian. Dekat inih jadi no problemo, sekalian meng-explore spot-spot Masjid Nabawi yang belum terjamah. Saya berangkat sekitar jam 9an kalau tidak salah. Untuk masuk ke Raudah ini saya menggunakan trik yang sama seperti pertama kali ke sini, lewat samping. Di sini saya mensyukuri punya tubuh kurus, bisa nylesep ke sana-sini. Tapi ya tetap saja ada resikonya. Karena kurus jadi mudah buat di dorong-dorong. Berhasil masuk ke Raudah tinggal bingung mencari tempat untuk shalat. Bagaimana lagi, tempatnya kecil.

Bingung mencari tempat tiba-tiba ada pemuda Arab, kalau dilihat sekilas sepertinya seumuran atau malah lebih muda daripada saya, memberi kode pada saya untuk menempati sedikit tempat di sebelah dia. Rejeki mana boleh ditolak. Langsung saja saya menghampiri pemuda itu dan shalat berjejeran. Kalau tidak salah kami bersebalahan shalat dua rakaat. Setelahitu dia pergi, mungkin cari spot lain yang lebih mustajab. Begitu juga dengan saya yang berusaha mendekati tiang dan juga mimbar Nabi yang ada di raudah itu.

Setelah dari Raudah sesuai jalurnya saya melewati makam Nabi. Semoga ini bukan bagian dari riya’, saat melewati makam nabi dan menyadari bahwa setelah ini entah kapan bisa mengunjungi Nabi mendadak saya jadi benar-benar terharu dan pengin nangis. Padahal pas pertama lewat tidak ada kesan apa-apa. Cuma membatin oh jadi init oh makam Nabi, sambil berdoa. Namun kali ini rasanya lain. Berdiri sejenak di pinggiran pintu Masjid, saya putuskan untuk masuk lagi dan baca Surat Yasin untuk Nabi di depan makam beliau. Sesengukan di awal, Alhamdulillah surat Yasin bisa saya selesaikan.

Karena ini hari Jumat, area Raudah ditutup lebih awal. Entah kenapa saya kurang paham. Mungkin hendak dibersihkan. Ngomong-ngomong jumatan, di sini saya ‘mencatat’ rekor berangkat jumatan. Biasanya adzan jam 12 paling saya baru berangkat jam 12 kurang lima menit. Di sini beda, saya berangkat jam setengah sebelas. Padahal adzan baru nanti jam 12.30. Mau gimana lagi, kalau nunda-nuda berangkat takut kebagian tempat di pelataran Masjid. Puanas banget padahal. Mending di dalam, adem. Oia selain itu bagi adik dan ibu yang perempuan, di sini mereka juga mengalam jumatan untuk pertama kalinya. Komentar ibu lucu, katanya ternyata Jumatan di Arab imam shalat mengimami dengan suara keras. Lah di Indonesia sih juga begitu. Hahaha…

Setelah jumatan kami segera makan siang dan dilanjut segera bersiap menuju Makkah. Tiga hari menempati kamar 5.02 Hotel Dallah Taibah, akhirnya harus pergi juga. Kalau dibandingkan, saya lebih suka kamar Holiday Inn Jeddah daripada hotel ini. Hanya saja Dallah Taibah toiletnya lebih mudah dipakai orang Indonesia, dan yang terpenting hotel ini sangat dekat dengan Masjid Nabawi.

Kalau tidak salah kami berangkat sekitar pukul dua siang. Biar tidak ribet dari hotel kami sudah diberitahu pemandu untuk memakai baju ihram. Kenapa dipakai dari sini karena biar tidak repot saat niat umrah di Masjid Bir Ali nanti. Di sini untuk pertama kalinya bagi saya memakai baju ihram. Rasanya itu seperti memakai handuk saat habis mandi. Bagaimana tidak, kita hanya memakai dua lembar kain dengan bahan mirip handuk, tanpa dalaman sama sekali. Untungnya di hotel banyak yang juga memakai pakaian ihram, terutama yang dari dan akan ke Makkah. Jadinya rasanya tidak terlalu sungkan. Kalau sendirian pasti rasanya super aneh.

Perjalanan dimulai menggunakan bis dengan waktu tempuh sekitar 4,5 jam. Pada kenyataannya waktu tempuh menjadi molor karena sempat singgah cukup lama di salah satu rest area untuk isitirahat sekaligus shalat Maghrib-Isya. Pengalaman yang bisa dipetik adalah, untuk pertama kalinya saya naik bis, bercampur pria dan wanita, perjalanan lebih dari 400 km hanya dengan berlilitkan ‘handuk’. Hahaha..

Sembilan kilometer dari Madinah, sesaat setelah perjalanan di mulia kami singgah dulu di Masjid Bir Ali. Di sini kami niat melakukan umrah. Niat ini memang tidak bisa dilakukan di sembarang tempat, salah satunya ya di masjid ini. Setelah shalat dan niat di sini maka perjalanan panjang menuju Makkah dimulai. Di tengah perjalanan, kami istirahat shalat Maghrib-Isya di sebuah rest area. Entah apa namanya. Namun yang jelas tempat ini lebih layak daripada saat perjalanan Jeddah-Madinah yang ‘jorok abis‘. Rest area ini modelnya unik. Bangunannya tak terlalu besar. Di dalam bangunan Cuma ada sekitar 10 meja plus beberapa area untuk lesehan. Yang unik justru di halamannya yang boleh dibilang cukup luas. Di sini banyak disediakan blok-blok kotak seluas masing-masing 3×3 m. Tinggi temboknya paling Cuma setengah meter. Banyak orang yang duduk di dalam situ sambil minum minuman hangat. Jadi mungkin orang Arab kalau istirahat di sini seleranya seperti itu, sambil lihat langit lepas.

Saya lupa jam berapa sampai di Makkah, tapi yang jelas sempat mengalami macet di dalam kota. Saya tidak menyangka kalau kota Makkah ini ternyata cukup semrawut. Kontur tanahnya yang berbukit-bukit juga menjadikan lalu lintas dan tata kota tambah runyam. Jangan heran kalau anda melihat sebuah bangunan disebelahnya masih berupa gundukan batu dan sebelahnya lagi sudah bangunan. Intinya kurang tertata-rapi.

http://en.wikipedia.org/wiki/File:Mecca_from_Jabal_Nur.JPG

Kali ini hotel yang kami tempati untuk menginap adalah hotel Dar el Eiman. Lokasinya dua blok dari Masjidil Haram, tepat di belakang Zam-zam Tower [salah satu bagian dari Makkah Royal Clock Tower] dan Hotel Hilton yang legendaris itu. Di sini kami menempati lantai yang cukup atas, yaitu lantai 16. Mungkin karena tanah di sini sangat mahal sementara yang akan menghuni sangat banyak, jadi kamar di hotel ini lebih sempit daripada di Madinah dan Jeddah. Tapi tetap saja fasilitasnya mantap. Sejenak kami foto di dalam kamar hotel, dengan memakai baju ihram kami tentunya.

Setelah makan kami dan rombongan langsung menuju Masjidil Haram. Well, akhirnya saya menjumpai kiblat saya. Ka’bah yang selama ini hanya bisa lihat gambarnya di televise atau sajadah sekarang bisa saya lihat sendiri. Sebuah pengalaman yang amat sangat berharga, apalagi ketika kita bertawaf. Susah untuk mendeskripsikan pengalaman rohani ini. Sangat personal. Tiap orang pasti punya deskripsi sendiri. Lebih baik kalian, para pembaca, mengalaminya sendiri dan menyimpan sendiri kenangan itu.

Di sini meskipun berombongan kami sekeluarga memisahkan diri dari rombongan untuk menjalankan ibadah umrah sendiri dengan dipimpin ayah. Setelah tawaf selesai kami sebenarnya sudah menunggu sejenak jamaah yang lain. Tapi karena tidak terlihat, entah sudah selesai atau belum, jadi kami lanjutkan lagi sendiri rangkaian umrahnya yaitu sa’i [lari/jalan di antara bukit Safa dan Marwa]. FYI, walaupun namanya bukit tapi pada kenyataanya area ini sudah masuk Masjidil Haram sehingga bukitnya praktis sudah diratakan. Yang tersisa hanya sebagian kecil bukit yang ditutup kaca ditambah batu artificial mirip bukit sebagai penanda mana Safa mana Marwa, sekaligus mungkin untuk kenyamanan para jamaah. Kalau tidak ada bukit yang tersisa mungkin ada yang kurang yakin apa ini benar Safa dan Marwa.

Dan ‘ritual’ umrah ini diakhiri dengan tahallul atau memotong sedikit rambut. Setelah rambut terpotong berarti larangan-larangan yang sebelumnya dikenakan pada jamaah umrah sudah terhapus. Jamaah pria misalnya sudah bisa memakai baju normal lagi.

Yang tidak diduga ternyata untuk berumrah ini benar-benar memakan waktu dan tenaga. Kata ayah sih Cuma sejam tapi ternyata baru lepas dini hari ibadah itu baru bisa selesai. Pulang masjid langsung terlelap semua dan akibatnya melewatkan jamaah Subuh di Masjid. Ya sudahlah tak apa.

Lanjut besok lagi ya..

*Taktik sinetron. Bersambung pas cerita lagi seru-serunya 😛*

4 responses to “Berbagi Cerita di Tanah Suci [5]

  1. luthfi faiz apriandi Agustus 21, 2010 pukul 10:37 pm

    Subhanalloh walhamdulillah….beruntungnya dirimu bro, sudah pernah berkunjung ke tanah suci, sholat di masjid nabawi, dan berdoa di roudhoh…doakan saudaramu ini agar kelak sebelum kembali kepada Alloh Azza wa jalla dapat melaksanakan ibadah umroh dan atau haji…tulisanmu ini semakin menguatkan kerinduanku untuk menuju ke tanah suci….T_T

  2. rahasia langsing Agustus 30, 2010 pukul 11:34 pm

    moga menjadi umat Muhammad yang selalu di cintai Allah SWT..Amiin…..

  3. Pingback: Berbagi Cerita di Tanah Suci [6] « Yasir Alkaf

  4. rahmatmuntaha November 24, 2011 pukul 3:38 pm

    subhanalloh…ditunggu lanjutan ceritanya. dan doakan yg belum kesana, biar bs segera nyusul.
    http://kafebuku.com/based-on-true-story-keajaiban-tanah-suci/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: