Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Berbagi Cerita di Tanah Suci [4]

MASIH belum bosan baca kisah saya di tanah suci kan? Masih di Madinah ini lho, belum berangkat ke Makkah buat Umrah. Maklum, saking banyaknya yang ingin diceritakan jadi kisah ini sampai harus dipecah-pecah. Kalau seandainya bosan ya ga usah dibaca *sentimentil*.

Kali ini, Kamis 15 Juli 2010, menjadi full day terakhir di Madinah karena besoknya habis jumatan kami sudah harus diberangkatkan ke Makkah. Di Madinah ini, berbeda dengan Makkah, tidak ada ibadah khusus yang dilakukan yang berkaitan dengan umrah sama seperti halnya saat haji. Ibadah yang ada untuk memotivasi rajin ke Masjid paling hanya Shalat Arbain [shalat 40 waktu di Masjid Nabawi]. Sayangnya waktu untuk berumrah sangat terbatas, cuma 3 hari pun tidak full. Jelas tidak mungkin untuk mencapai 40 kali shalat berjamaah. Oleh karena itu para jamaah tidak dianjurkan oleh pemandu untuk beribadah itu. Akibatnya ya memang jelek. Beberapa jamaah ada yang enggan berjamaah di Masjid, padahal jarak hotel-Masjid sangat dekat. Alasan capeklah atau apa. Padahal kalau mau jujur harusnya eman-eman, sudah nyampai Madinah tapi malas beribadah. Ah sudahlah, urusan masing-masing itu.

Di hari kamis itu travel membawa kami untuk mengeliling obyek wisata yang ada di sekitar kota Madinah. Biasanya obyek yang dikunjungi itu Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Kebun Kurma, Percetakan Al Quran, Jabal Uhud dan Jabal Magnet. Nah di sini ketahuan jeleknya Armina selaku travel yang kami ikuti. Di Arab itu weekend-nya Kamis-Jumat, jadi institusi kerja yang ada di Arab libur. Sudah tahu gitu eh kita malah jalan-jalannya hari kamis. Akibatnya, yang boleh dibilang cukup buruk, kita jadi tidak bisa masuk ke percetakan Quran. Padahal di situ kita, terutama jamaah laki-laki, bisa lihat bagaimana Quran dicetak dan kita mendapat Quran gratis terserah mau pilih dengan translation bahasa apa. Bisa dibayangkan kecewanya kami tidak bisa ke situ. Benar-benar heran sama Armina, kenapa tidak hari Rabu aja tour kotanya. Toh agenda kemarin juga cukup longgar.

Oke percetakan Quran terpaksa tidak disambangi, tapi yang nyebeli si Armina juga ga bener nyusun jadwal tour. Obyek yang pertama kita kunjungi adalah Masjid Quba dilanjut ke Pasar Kurma. Nah obyek kedua ini kesalahan Armina. Belanja itu bagusnya diletakkan di akhir karena jelas bakal memakan waktu lebih. Faktanya memang demikian, Pasar Kurma yang harusnya disitu cuma sejam molor menjadi dua jam. Padahal duhur jamaah sudah harus kembali ke hotel. Yang menyebalkan si pemandu seperti membiarkan saja jamaah bermolor-molor ria, jadinya keluarga kami benar-benar geram.

Akibat waktu molor, obyek lain jadi terlewatkan. Masjid Qiblatain dan Jabal Uhud kami hanya lewat di depannya. Jadinya ya gitu, praktis obyek yang benar-benar kita kunjungi hanya Masjid Quba, Pasar Kurma dan Jabal Magnet. Benar-benar melatih kesabaran.

Cukup keluhannya kembali ke cerita, walaupun sebenarnya belum ikhlas benar. Destinasi pertama kami adalah Masjid Quba. Masjid ini adalah Masjid yang pertama kali dibangun Rasul. Sejak dari hotel kami sudah diingatkan untuk berwudhu agar bisa langsung shalat. Di sini kami dipersilahkan untuk shalat, bagi yang mau shalat. Setelah itu foto-foto sejenak. Sekedar berbagi, ini saya sajikan foto di dalam Masjid dan foto luar Masjid. Yang foto luar Masjid di situ saya berfoto dengan ayah. 😛

Nah ketika perjalanan pulang dari Masjid baru kita tahu kalau ternyata sebenarnya halaman depan Masjid Quba ini jauh lebih indah dan sangat bagus buat foto-foto. Yang kita singgahi cuma halaman belakang dan samping. Nyesek banget rasanya. Mau gimana lagi. Sama pemandu kalau sudah shalat diminta cepat-cepat kembali ke bis, foto-foto boleh tapi jangan terlalu lama, jadi ya spot-spot yang bagus buat foto todak ter-explore.

Setelah dari Masjid Quba, kami beranjak menuju ke Pasar Kurma. Walaupun pemandu menyebut pasar kurma tapi yang kami kunjungi sama sekali tidak trlihat seperti pasar. Jadi yang kami kunjungi adalah sebuah toko, lebarnya kurang lebih seukuran auditorium FTI UII, yang berada di lingkungan kebun kurma. Di toko itu kita bebas mencicipi kurma juga coklat dan oleh-oleh makanan yang lain. Di halaman belakang, sambil menikmati teh hangat gratis dan menikmati panorama kebun kurma, kita juga dipersilahkan untuk mencicipi kurma muda. Silahkan bagi yang ingin berbelanja di sini, tapi kalau boleh jujur harga-harga di sini sedikit lebih mahal daripada di kompleks pertokoan yang ada di Makkah dan Madinah. Entah apa alasannya, padahal istilahnya kan mereka punya kebun sendiri.

Sekitar dua jam disitu kami segera menuju ke destinasi berikutnya, Jabal Uhud. Di sini menyebalkannya Armina selaku travel cukup kentara, mereka tidak memberitahu kalau kami tidak akan berhenti di Jabal Uhud. Sang pemandu terus saja bercerita sejarah. Padahal hawa saat itu benar-benar bikin ngantuk. Mungkin bukan hawanya, lebih tepat kami cukup kurang tidur. Well pulang dari Masjid ba’da shalat Isya dilanjut makan malam kalau tidak disambi belanja atau mampir dimana, kami baru bisa istirahat di hotel pukul 22.00. Itupun tidak langsung tidur, bercengkerama dulu tentunya. Baru tidur sejenak jam 2.30 sudah bersiap shalat Subuh di Masjid. Habis subuh tidak tidur lagi, wajar kalau ngantuk.

Dan ternyata oh ternyata, saya dan ayah sama-sama tidur. Kami kira kami akan dibangunkan ketika sampai di Jabal Uhud. Ternyata kami Cuma numpang lewat. Akibatnya Jabal Uhud terlewatkan begitu saja dan perjalanan dilanjutkan menuju Jabal Magnit. Ngehe-nya lagi pas perjalanan pulang dari Jabal Magnit lagi-lagi kami tertidur. Benar-benar nyesel melewatkan Jabal Uhud, terutama saya karena Ayah sudah pernah mengunjungi tempat ini.

Kesal tapi ya sudahlah mau gimana lagi. Destinasi ketiga Jabal Magnit. Nama asli daerah ini Mantiqotul Baido (Tanah Putih). Istilah Jabal Magnet, kata pemandu, adalah penyebutan ala jamaah Indonesia. Tidak ada magnet di daerah ini, namun kendaraan memang bisa tertarik dan dapat melaju tanpa digas. Saat didemonstrasikan speed bis bisa mencapai 120 km/jam. Memang luarbiasa. Kata pemandu sih hal ini terjadi karena tekanan udara. Baru pada tahun 2005 daerah ini ditemukan, itupun gara-gara ada pengaspalan jalan. Jalan di Jabal Magnet ini berujung disuatu tempat dan ada bundaran untuk meutar balik. Tidak ada obyek yang bisa dilihat disini namun terlihat ada beberapa tanaman yang mulai ditanam. Tampaknya pemerintah Saudi mulai ingin menseriusi obyek ini menjadi obyek wisata. Ini foto penghijauan di daerah tandus itu:

Setelah dari Jabal Magnet kami langsung pulang dengan melewati Masji Qiblatain, dan mempersilahkan jamaah memfoto dari dalam bis. Kepulangan ini cukup sesuai target karena kami bisa tetap berjamaah di Masjid Nabawi, tapi dengan catatan bagi yang mau beribadah di situ. Sebagai catatan pemandu memang tidak terlalu mengurusi ibadah jamaah. Silahkan beribadah sendiri tapi kalau mau bertanya atau minta ditunjukan dan diantar ke suatu tempat mereka akan siap melayani.

Oia di Madinah hari kamis ini kami mengalami sebuah peristiwa alam yang amat jarang terjadi, Madinah diguyur hujan. Ini benar-benar kuasa Tuhan. Seharian panas mendera dengan suhu di atas 40 ° C, eh malamnya tepat ketika shalat Isya sedang berlangsung tiba-tiba turun hujan deras. Hujan ini benar-benar sangat deras, ditambah bonus disertai petir juga. Terang saja para penduduk kegirangan. Tak peduli hujan masih turun setelah shalat mereka tetap keluar Masjid. Ketika saya dan ayah keluar untuk pulang ke hotel hujan juga masih turun dan ternyata banyak warga, entah pendatang atau penduduk local, yang mengabadikan peristiwa ini.

Satu yang bikin salut, petugas kebersihan sangat sigap dalam mebersihkan hujan. Walaupun hujan belum benar-benar reda pelatarn Masjid segera dibersihkan, untuk menghindari becek yang berlebihan.

Baiklah karena sudah panjang cerita untuk hari ini kita akhiri dulu. Besok cerita inti akan berlangsung karena kami berangkat ke Makkah dan menjalankan umrah wajib yang pertama.

Iklan

One response to “Berbagi Cerita di Tanah Suci [4]

  1. travel haji umroh Juni 16, 2011 pukul 1:23 am

    numpang baca pengalamannya ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: