Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Berbagi Cerita di Tanah Suci [2]

HARI pertama di tanah Arab setelah perjalanan panjang Jakarta-Jeddah , 13 Juli 2010, terbangun di kamar Holiday Inn Jeddah yang sangat nyaman. Armina selaku travel tidak mengagendakan acara tertentu hari ini, jadi kami praktis berdiam diri di hotel *sambil foto-foto tentunya*. Sedikit cerita tentang hotel yang saya tempati, hotel ini menurut saya sangat amat nyaman dan mewah. Hanya saja ‘jeleknya’ tempat kencing di WC tidak dilengkapi semprotan jadi kami keluarga Alkaf, terutama saya, sempat kebingungan membasuh setelah kencing. Maklum, tidak terbiasa memakai tisu. Tapi akhirnya bisa diakali. Dan untungnya kami cuma sampai dzuhur menempati kamar itu.

Kamar yang kami tempati ini, kebetulan tertempel di pintu, tipe Suite dengan biaya inap 900 SAR [Saudi Arabian Riyal, 1 SAR = 2500 IDR], silahkan dikonversi sendiri ke rupiah berapa. Itu baru inapnya saja belum room service sama makan. Well, terus terang saya tidak menyangka jika travel menginapkan kami di hotel semewah itu. Bagi sebagian orang mungkin ini tak seberapa, namun bagi saya itu luar biasa. Kamar ini cukup lebar. Di dalam kamar ini ada 2 ruang tidur dengan masing-masing 2 tempat tidur plus kamar mandi. Ada juga tempat pijat ditambah semacam ruang kerja. Silahkan bayangkan sendiri gimana. Di kamar itu juga tersedia TV kabel. Untungnya ada CNN jadi TV itu yang kami tonton, mengingat semua TV berbahasa Arab yang jelas tidak saya pahami. Ini ada salah satu channel yang menyiarkan Prison Break dengan teks Bahasa Arab. Lucu aja ngeliatnya:

Setelah istirahat kami sarapan pagi, sekitar jam 7 di Ruang Makan. Ada dua ruang makan. Yang satu menu Eropa dan satunya sepertinya menu Asia. Kami semua jamaah Armina diarahkan menuju Ruang Makan Menu Asia. Menunya untungnya nasi, nasi kuning. Yang agak aneh itu nasinya panjang-panjang. Dirasa-rasa ada mungkin 2 kali lipat panjang nasi yang biasa kita makan. Entah kenapa bisa jadi panjang seperti itu. Apa karena di Arab yang segalanya besar dan panjang maka nasinya juga panjang-panjang? #oops.

Sudahlah, lupakan saja nasi yang aneh itu. Yang jelas rasanya luar biasa enak. Racikannya pas di lidah Indonesia. Lumayanlah. Pas makan siang juga masih makan nasi, nasi goreng. Nasinya juga panjang. Beda dengan Nasi Goreng Indonesia adalah kalau di Indonesia kecapnya cukup banyak yang membuat nasi jadi agak coklat. Di sini sepertinya tidak pakai kecap. Tapi ya tetap saja enak. Hahaha. Awas aja kalau hotel internasional masakannya ga enak.

Agenda dari travel baru nanti setelah dzuhur, yaitu berangkat ke Madinah, lalu apa yang kami dan jamaah lain lakukan? FYI jamaah Armina yang ikut umrah ini ada 140an orang. Silahkan bayangkan sendiri riuhnya hotel itu jadinya. Nah yang kami, terutama ibu-ibu, lakukan adalah berbelanja. Salah satu sayap hotel disediakan semacam shopping center. Jadilah ibu-ibu berbelanja di situ. Apalagi koper pakaian oleh travel belum diizinkan dibongkar mengingat kami cuma transit di situ. Sebagian besar ibu-ibu akhirnya berbelanja pakaian di situ. Hitung-hitung untuk pakaian ganti.

Yang tidak saya duga ternyata itu toko menerima duit Rupiah. Kalau belum bawa Riyal, pakai Rupiah pun tak mengapa. Pintarnya itu toko, mereka membuat harga yang pas bulat jika dirupiahkan. Misalkan Abaya [baju kurung khas Arab] dijual 40 SAR alias 100.000 ribu rupiah. Kaos-kaos di jual 20 SAR alias 50.000 rupiah. Laris manis tu bapak-bapak yang jual baju, walaupun sebenarnya cukup mahal dan minim pilihan. Di keluarga kami cuma ibu yang belanja baju, saya bapak dan adik tidak. Yah gapapalah, namanya juga ibu-ibu. KAlau Ibu belanja, saya dan adik lebih memilih foto di luar. Ini salah satu foto di luar hotel, maap kalau aga narsis 😛

*Langsung di flash aja ya biar cepet? Tidak ada yang istimewa juga di sini. Ibadah juga belum dimulai* Setelah dzuhur kami berangkat menuju Madinah. Jarak yang ditempuh sekitar 450 km dengan waktu tempuh sekitar 5 jam. Secara matematis waktu tempunya sangat cepat, mengingat kalau di Indonesia Jogja-Purwokerto yang cuma 200 km ditempuh dengan waktu yang sama kalau kita naik bis. Jalan sepanjang Jeddah-Madinah halus banget, sayang minim pemandangan. Yang kita lihat cuma padang pasir saja. Nih, lihat saja fotonya:

Sebelum perjalanan lagi-lagi saya gelisah. Kali ini gelisahnya beda dengan waktu akan berangkat ke Arab. Kegelisahan saya karena kami akan memasuki salah satu Tanah Haram, Madinah. Emang kenapa kalau ke Tanah Haram? Ini jawaban saya. Pernah nonton sinetron religi TPI atau stasiun TV lain tidak? Kalau tidak pernah baca majalah-majalah ‘Islami’ macam Hidayah atau Nurani tidak? Sering ada cerita kalau di Tanah Haram perbuatan kita selama di kampung halaman dibalas. Ada yang mendadak buta lah, mendadak budek lah, mendadak lumpuh lah dan sebagainya. Yakin pasti yang belum pernah ke Tanah Haram pasti berpikiran ini. Dan ternyata ustadz pembimbing sepertinya paham. Diberi penjelasanlah kami kalau jangan khawatir saat nanti memasuki Madinah. Asal kita beriman dan masuk dengan ikhlas tidak akan terjadi apa-apa katanya. Legalah sudah hati ini. 😛

Nah di perjalanan ini ada peristiwa bisa dibilang menjijikkan. Jadi di tengah perjalanan kami singgah di semacam Rest Area. Tempatnya haduh jan kotor banget. Dan yang lebih mengerikan WC-nya saudara-saudara. Hampir semua bilik WC, baik WC laki-laki maupun perempuan, kotoran di pispot belum disiram!! #hueeek. Saya yang mau kencing mending nahan aja. Beda sama bapak, ibu dan adik yang berhubung sudah ‘diujung tanduk’ jadi walaupun jorok gitu tetap dilibas.*masih berasa mualnya waktu itu*

Ternyata oh ternyata, menurut TKW yang kebetulan sepesawat dengan saya pas perjalanan pulang ke Indonesia, orang Arab sana itu memang jorok-jorok. Si TKW itu pembantu di sebuah keluarga Arab dan katanya tiap kali majikannya buang air, dirinya yang menyiram atau nge-flush. Gila aja. Dan ini juga seperti yang dikatakan Valiant Budi Yogi [vabyo], penulis yang sedang jadi barista [pembuat kopi] di Dammam Jeddah demi riset untuk proyek buku berikutnya, di Twitter-nya. Dia ini tiap pagi nge-tweet Arabian Underkampret. Nah salah satu tweet-nya pernah berisi seperti itu, bahwa orang Arab malas banget nyiram bekas buang hajatnya. Saking terbiasanya apa-apa dilakuin sama pembantunya. Ckckck..

Okeh, lupakan soal kejorokan orang Arab. Kita kembali ke cerita saja. Kita sampai di hotel di kota Madinah sekitar pukul 19.30, tepat ketika Masjid Nabawi mengumandangkan iqamah salat maghrib. Hotel tempat kami menginap bernama Dallah Taibah. Hotelnya ini tepat di pelataran Masjid Nabawi, jadi hotel ini adalah salah satu hotel yang terdekat dengan Masjid. Betapa ‘beruntungnya’ kami. Tapi walaupun dekat karena masjid ini sangat luas, Masjid 100.000 m2 sementara pelataran Masjid 135.000 m2, tetap saja lumayan capek kalau mau shalat.

Saat tiba di hotel tepat ketika iqamah jadi kami ‘terpaksa’ merelakan jamaah maghrib, tidak keburu kalau mau shalat di Masjid. Dan ternyata oh ternyata nunggu pembagian kamar juga memakan waktu yang lama. Kami baru bisa masuk kamar setelah adzan isya berkumandang. Yah lumayanlah, paling tidak bisa jamaah isya di masjid + shalat maghrib sekalian di Masjid. Di jamak ta’khir ceritanya, tapi maghriban masing-masing karena kami sekeluarga shalatnya terpisah.

Di hotel ini kami menempati kamar 5.02. Yang unik dari bangunan di Madinah, terutama di sekitar Masjid Nabawi, adalah TINGGI BANGUNAN TIDAK BOLEH LEBIH DARI 14 LANTAI. Jadi kemegahan Masjid Nabawi tidak tersaingi oleh bangunan sekitar Masjid. Berbeda dengan Makkah yang bangunannya luar biasa tinggi-tinggi. Zamzam Tower misalnya, bangunan termewah di lingkungan Masjidil Haram itu tingginya luar biasa, menurut Wikipedia tinggi Zamzam Tower mencapai 265 meter alias 48 lantai. Itu baru salah satu tower di komplek yang bernama Mecca Royal Clock Hotel Tower. Tower yang lain, yang dipuncaknya ada jam raksasa, bernama Hotel Tower tingginya bahkan mencapai 600 meter [85 lantai]. Padahal tinggi menara Masjidil Haram ‘cuma’ 89 meter. Tinggi ka’bah yang berada di Masjidil Haram bahkan cuma 11 meter, itupun agak turun [tidak sejajar dengan Masjid]. Paling tidak Masjid Nabawi di Madinah lebih terlihat bersahaja daripada Masjidil Haram, walaupun didalamnya ada kiblat umat Islam. :no hope:

Wah malah ngelantur ya? Kembali ke topik, setelah shalat kami kembali ke hotel dan makan malam dilanjut istirahat, sebelum esok hari jamaah subuh lagi. Oia di sini berhubung lagi musim panas siang jadi lebih lama. Masuk waktu Maghrib aja di hari itu baru pada pukul 19.11 dan Isya pukul 20.41. Kalau di Indonesia memang sudah gelap, tapi di Arab sana jam 7 malam pun masih terang.

Ups sudah 3 halaman Ms Word. Lanjut besok aja ya kawan. Mbok bosen. Sampe jumpa esok hari.

One response to “Berbagi Cerita di Tanah Suci [2]

  1. Pingback: Berbagi Cerita di Tanah Suci [3] « Yasir Alkaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: