Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Tanah Air Beta, Film yang tidak Istimewa

SATU lagi film karya Alenia Picture. Setelah kemarin cukup sukses Denias dan dilanjutkan dengan King dan Garuda di Dadaku, kali ini PH yang dipimpin Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen itu meluncurkan film selanjutnya yang berjudul Tanah Air Beta. Seperti biasa Alenia masih konsisten untuk menceritakan kisah di penjuru Indonesia. Kalau di film Denias setting cerita berada di Papua, King di Jawa Timur maka Tanah Air Beta mengambil setting cerita di NTT dengan bercerita tentang pengungsi warga ex Timor-Timur di NTT yang keluarganya terpisah. Sayangnya karena daerah NTT begitu kering maka keindahan alam Indonesia yang sebelum-sebelumnya diangkat Alenia tidak bisa diangkat. Sisi positifnya kita jadi tahu bahwa masih ada daerah di Indonesia yang kering dan gersang.

Film ini berkisah tentang Tatiana dan 2 orang anaknya Mauro dan Merry. Akibat adanya referendum yang mengakibatkan Timor-Timur lepas dari NKRI menjadi Timor Leste, Mauro dan Merry terpaksa harus berpisah. Tatiana dan Merry tinggal di sebuah kamp pengungsian di wilayah NTT sementara Mauro tertinggal di rumah pamannya di Timor Leste. Kondisinya saat itu Mauro sedang sakit sehingga tidak bisa dibawa mengungsi dan dititipkan kepada pamannya. Ternyata hasil referendum Timor Timur resmi lepas dan mau tak mau keluarga mereka harus terpisah.

Suatu hari salah seorang relawan mengkonfirmasikan bahwa Mauro berhasil ‘ditemukan’ dan akan dibawa oleh relawan tersebut ke perbatasan. Sayangnya kondisi Tatiana sedang sakit. Akhirnya Merry memutuskan menempuh perjalan 8 jam dari kamp ke perbatasan dengan bekal seadanya. Awalnya ia berangkat sendirian, tapi di tengah jalan ia disusul oleh sahabat sekaligus musuhnya, Carlo. Perjalanan dan kerinduan Merry pada kakaknyalah yang menjadi inti dari cerita ini.

Seperti biasa saya tidak akan banyak bercerita mengenai jalannya cerita tapi lebih ingin berkomentar atas film ini. Pada dasarnya cerita film ini sorry to say sangat biasa. Yang membuat saya tertarik adalah background cerita di perbatasan Timor Leste – Indonesia plus berharap barangkali ada sedikit sisipan tentang kisah di kamp pengungsian.

Pertanyaannya apakah background itu berhasil mengangkat tema film yang biasa ini? Jawabannya TIDAK. Ari Sihasale sebagai sutradara dan kru yang lain menurut saya gagal membuat film ini istimewa. Ceritanya sangat datar. Seharusnya banyak konflik yang bisa dimunculkan di sini tapi sayang saya berani bilang tidak ada konflik sama sekali di film ini.

Kehidupan pengungsian digambarkan layaknya desa biasa tanpa terkesan ada ‘penderitaan’, kecuali mungkin lingkungannya yang kering. Orang-orang di situ terlihat ramah-ramah tanpa terlihat mereka itu sepeprti pengungsi. Perjalanan Merry dan Carlo ke perbatasan yang sepertinya dimaksudkan sebagai polt besar film ini juga sangat lancar tanpa halangan berarti. Padahal karena tidak tahu jalan bisa saja dibuat kesasar, diculik orang, kecelakaan atau apalah yang membuat pertemuan dengan kakaknya dramatis. Sayangnya peluang membuat konflik itu tidak dimanfaatkan.

Selain itu Merry juga entah bagaimana ceritanya bisa pas sampai ke perbatasan dan bertemu kakaknya padahal mereka tidak janjian. Bahkan relawan penghubung sendiripun juga tidak bisa memastikan kapan mereka bisa bertemu. Tapi mendadak saja mereka dengan mudahnya bertemu. Tatiana yang konon sakit-pun mendadak tiba muncul juga di perbatasan bertemu anaknya. Pertemuan lintas Negara-pun juga terlihat sangat gampang. Jadi saya yang nonton sampai bingung, ini konfliknya mana?

Kemudian saat akan masuk studio saya pikir cerita ini akan mengharukan tapi mohon maaf saya sama sekali tidak terharu. Justru susah-nya Denias di Papua untuk sekolah malah lebih membuat saya terharu. Beberapa kali humor juga diselipkan di sini lewat karakter Abu Bakar yang diperankan Asrul Dahlan [temennya hansip Udin di sinetron Para Pencari Tuhan. Main juga di Alangkah Lucunya Negeri Ini]. Namun kelucuan yang dibangun nanggung, tidak berhasil membuat tertawa. Okelah penonton mungkin tertawa di beberapa adegan tapi tawa yang hadir tawa nanggung. Tawa yang langsung hilang begitu saja. Jauh lebiih lucu Alangkah Lucunya Negeri Ini lewat satir-satirnya.

Jadi menurut saya film ini, jika dibandingkan tiga film Alenia sebelumnya Denias, King dan Garuda Di Dadaku, bisa dikatakan kurang greget. Kalaupun banyak ditonton orang mungkin itu lebih dikarenakan penasaran dengan background cerita yang di perbatasan dan pengungsian itu. Saya sendiri awalnya kenapa menonton film ini juga karena itu. Tapi dengan berat hati saya harus keluar dari studio dengan kecewa. Saat film diputar bebarapa kali saya juga mohon maaf harus menguap gara-gara ngantuk.

Namun ya saya harus jujur, film ini juga tidak serta merta jelek. Ada juga bagusnya film ini. Kita jadi tahu kalau di NTT sana kondisinya sangat kering dan gersang. Selain itu masih banyak saudara-saudara kita yang hidup miskin di sana dan perbatasan. Yah barangkalai ada diantara kita yang belum tahu kondisi itu film ini bisa membuka mata kita tentang keberagaman Indonesia.

Saya juga salut dengan Alenia yang mengangkat setting di daerah yang tidak biasa. Dua kali menghadirkan keindahan alam Indonesia memang sudah waktunya kita melihat sisi lain Indonesia. Masih banyak ketidakmerataan di Indonesia, dan Alenia berani menghadirkan kenyataan itu. Salut buat Alenia.

Akhirnya saya tidak akan secara tegas merekomendasikan atau tidak merekomendasikan film ini untuk di tonton. Silahkan pembaca simpulkan sendiri. Yang jelas background oke tapi cerita jelek

-Yasir Alkaf, Sok-sokan Jadi Pengamat Film-

Iklan

17 responses to “Tanah Air Beta, Film yang tidak Istimewa

  1. sewa elf Juni 25, 2010 pukul 11:35 pm

    Nice article. Thanks

  2. Kimi Juli 3, 2010 pukul 11:30 am

    saya setuju dengan riviu. film tanah air beta mengecewakan. pas di akhir cerita juga saya bingung inti cerita film ini apa? mau menceritakan Merry terpisah dengan kakaknya kah, atau apa? dan oh rupanya tentang perjalanannya menuju perbatasan menemui kakaknya. dan di sepanjang perjalanan itu banyak ga masuk akalnya kalo menurut saya. 😀

    untung saja film ini “diselamatkan” oleh carlo. aktingnya sangat natural. dia terlihat polos sekali (bandingkan dengan merry!). dan dia juga lucu. kalau tidak ada carlo, jelas deh film ini akan lebih membosankan. 🙂

  3. Agustin Juli 7, 2010 pukul 2:00 pm

    Wah…… sepertinya Bapak tidak menemukan keindahan cerita yang ada di dalam film tersebut. Ketulusan, kejujuran dan indahnya persaudaraan yang seandainya masih ada di Pejabat2x kita, maka rakyat ini tidak akan sengsara.

  4. adam Juli 14, 2010 pukul 1:20 pm

    aq gak setuju aq malah kecewa sama pembuat blog ini

  5. Purple Cihuy Juli 22, 2010 pukul 4:27 pm

    ya betul, menurut saya film ini ga istimewa, datar banget. so agak mengecewakanlah.

  6. tomy Juli 24, 2010 pukul 11:18 pm

    maaf yang buat blog ini..anda jangn bisa berkomentar..mentang2 anada tinggal di jawa yang tanahnya jauh lebih subur anda bilang NTT gersang..apakah anda orang indonesia..apakah anda punya rasa nasionalisme, untuk menghargai daerah yang lain yang masih dalam NKRi..

    jangan hanya bisa berkomentar…apakah anda bisa membuat film, dengan riset yang pasti…???!!!

  7. Yasir Alkaf Juli 25, 2010 pukul 8:20 pm

    @brader Tommy

    lah emang knp kalo saya bilang gersang? emang kenyataannya begitu. NTT mmng daerah yg kering & salah satu propinsi miskin di Indonesia. Faktanya begitu. Indonesia tdk hanya berisi daerah subur kawan. Apakah dg sy mngatakan NTT gersang saya tdk nasionalis? ga ada hubungan sm skali lah. Jgn2 mnurut anda yg namanya nasionalis adalh memuji2 daerah di Indonesia? kalo sprti itu sm saja anda tdk jujur.

    justru sy mlh membuka mata orang2 yg belum tahu, sprti anda mngkin, bahwa ini loh msh ada daerah di Indonesia yg balum maju. Ayo mari kita berkontribusi semampu kita. Sementara yg baru bisa lakukan ya baru gini, memberi tahu ke orang2 lwt tulisan saya yg ini..

    utk kritik saya ttg film ini yg anda bilang jgn cm komentar. saya penonton mas. Saya membayar dan saya berhak mendpt tontonan menarik. kalo krng menarik ya tdk ada salah sam sekali saya ngritik.

    pernah ga ada berpikir gini. bagaiman jika orang selaku penonton tdk boleh mengkritk film yg ia tonton? apakah film indonesia bakal maju. 100% NO. kritik itu perlu kawan, biar para film maker lebih kreatif dan menghasilkan karya2 yg lebih bermutu. kalo ga ada kritik orang akan cenderung berpuas diri

  8. Erwin Juli 28, 2010 pukul 12:57 pm

    Review yang bagus. Sedikit koreksi saja. Film Garuda di Dadaku bukan produksi Alenia, tapi Mizan Cinema.

  9. Yasir Alkaf Juli 28, 2010 pukul 10:25 pm

    @erwin
    wah, terima kasih koreksinya mas. saya memang tdk terlalu mendalam riset ttg Garuda di Dadaku. Berhubung ada Ari Sihasale, yg mana biasanya film2 Alenia si Ale ikut main juga, jadi saya kira Garuda di Dadaku bikinan Mizan
    skali lagi terimakasih koreksinya mas..

  10. dilla September 21, 2010 pukul 2:13 pm

    Mungkin menurut saudara2 ceritanya jelek, tapi coba diambil pesan moral yang ada pada film tersebut…

  11. Radolan Oktober 11, 2010 pukul 12:24 pm

    Saya yg saat ini lagi tinggal di Kupang (NTT) yg notabene masih satu pulau ma timor leste aja belom sempet” (baca: bisa) nonton filem ini…… knapa y ?? tapi bener jg comment Yasir Alkaf yg Sok-sokan Jadi Pengamat Film (he..he…)…. disini masih gersaaaang….. asli gersangnya……..

  12. Pingback: Rumah Tanpa Jendela | Yasir Alkaf

  13. imran rosyadi Oktober 13, 2011 pukul 4:34 am

    @yasir alkaf
    eh mas klo mo blang gersang jgan pake nama NTT, soalnya bnyak jga kok daerah di NTT yg sbur.
    NTT jga luas mas, masih bnyak daerah2 yg blum di ekspos, tpi memilki smber daya,

  14. nadya Oktober 30, 2011 pukul 10:19 am

    kamu aja yg lelet kalii ya? emang kamu asli org mana? jawa? kalimantan? atau sulawesi? kalau km org ntt di jamin ngakak, tapi kalau bukan, gimana bisa ngakak, ngerti aja kagak!! dasar bolot

  15. nadya Oktober 30, 2011 pukul 10:33 am

    skali lagi, kalu lu sonde tau ntt pung bahasa darah, sonde usah lu ksh komentar, mending lu urus diri lu sndiri atau lu buat film tentang lu pung daerah.
    saya salut dengan masyarakat ntt pada kehidupan nyata sehari2, sopan santun, kekeluargaan dan sikap bermasyarakat yang sangat baik. dan jangan anda berkata ntt itu daerah miskin, ntt punya pulau komodo, hanya saja tata cara kehidupan mereka masih kuat memegang adat daerahnya dan yang paling mengagumkan dan membuat saya merasa nyaman waktu saya berkunjung ke ntt, tidak ada rampok seperti di jawa dan daerah lain itu berarti masyarakat di sana sejahtera, kalau di jawa banyak rampok krn banyak yg miskin. saya berani bicara krn saya pernah datang langsung ke daerah ntt tepatnya di kabupaten soe, di sana sejuk dan sangat rimbun dengan pohon cendana yang masih tertata rapi. mau bukt? silahkan datang sendiri. di jamin anda betah di sana.

  16. Yasir Alkaf Oktober 30, 2011 pukul 4:44 pm

    @nadya

    Biasa aja kali mbak, ga usah pakai esmosi.
    🙂

    Knp harus ngakak? Bagi saya film ini memang mencoba menghadirkan humor. Dan bagi saya hasilnya tdk terlalu lucu. Kalau bagi anda lucu ya silahkan, tdk ada yg melarang. Selera masing2..

    Terus yg kedua, saya cinta Indonesia, tdk ada sama sekali saya menghina satu wilayah di Indonesia. Sama saja saya menghina rumah sendiri kalau saya seperti itu. Silahkan baca lagi tulisan saya dg lebih tenang.

  17. Yudirada Agustus 12, 2012 pukul 3:03 pm

    Menurut saya, kelebihan dari film ini adalah konsistennya karakter dalam cerita. Contohnya, watak Carlo yang “nakal” tapi sebenarnya baik/perhatian. Dari segi karakter, Carlo tidak mungkin mau menggantikan harmonika Merry jika ia bukan orang yang bertanggung jawab dan perhatian.
    Sebenarnya, alasan Carlo sering “mengisengi” Merry adalah karena ia ingin membuka pebicaraan dengannya.

    Berbeda dengan Carlo, Merry adalah anak yang mandiri (dia tidak pernah menceritakan masalahnya kepada orang lain), dia sangat sayang dengan keluarganya. Menurut saya, yang menjadi inti ceritanya bukan di perjalanannya. Tetapi dilema atau perang batin antara bertemunya dia dengan Mauro di perbatasan atau menemani Tatiana yang sedang sakit. Kemudian, tokoh Carlo masuk sebagai tokoh yang sebenarnya perhatian dan dapat menemani Merry dalam kebimbangannya itu.

    Memang ending dari cerita ini kurang masuk akal (tiba-tiba Tatiana datang), tetapi jalan cerita yang sederhana menjadi nilai tambah bagi film ini, walau kurang dibubuhi konflik minor, sedangkan penambahan konflik seperti penculikan, tersesat, dll, akan membuat cerita keluar dari tema dan membuat kesan “dibuat-buat”, karena permasalahan utama dari suatu perjalanan adalah lelah, sedankan “penculikan” dan “tersesat” adalah permasalahan yang mungkin terjadi.

    Jadi, kesimpulan dari film ini adalah: Film ini lebih mementingkan hubungan (atau konflik) sosial, yaitu hubungan antar tokoh, seperti sayangnya Tatiana dengan Merry, rindunya Merry dengan Mauro, perhatiannya Carlo terhadap Merry, serta hubungan antara tokoh-tokoh di penampungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: