Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Obrolan tentang Ujian Nasional

“KARENA malam ini saya sedang bergembira jadi sedulur-sedulur yang ada di sini silahkan makan sepuasnya. Biar saya yang bayar” seru lik Warjo mendadak di angkringan.

“Walah-walah, tumben ni lik. Ada apakah gerangan sampai lik Warjo yang biasanya itung-itungan koq sekarang mau bayarin kami?” tanya seseorang di ujung.

“Anak saya si Joko hari lulus SMK. Tadi dia sudah laporan ke saya dan saya juga sudah lihat sendiri surat pemberitahuannya. Alhmadulillah nilainya juga ga ada yang mepet, di atas 7 semua..” jawab lik Warjo gembira sekaligus bangga.

Satu per satu orang yang sedang berada di situ mengucapkan selamat kepada lik Warjo, termasuk juga Kang Markoum sang pemilik angkringan juga pak Slamet sohib setia lik Warjo.

“Sudah saya duga lik, si Joko itu pasti lulus. Gini-gini dulu kan saya sempat ngajar juga jadi walikelas dia pas masih kelas 2 MTs. Termasuk anak yang pintar dia tuh. Jadi lik Warjo sebenarnya ga perlu khawatir sampai harus minta doa ke mana-mana kemarin.. hehe,, ” kata pak Slamet.

“Yah sepintar-pintarnya anak, yang namanya orangtua bawaannya pasti khawatir. Itu juga yang saya rasakan pak. Apalagi kemarin saya sempet ketemu mas Ahmad katanya dia baca di internet ada bocoran katanya presentase kelulusan tahun ini menurun. Tambah gugup saya lah pak..” jawab lik Warjo

“Ehem ehem, sepertinya ada yang nyebut-nyebut nama saya nih..” mendadak Ahmad datang juga di angkringan itu.

“Walah, panjang umur kamu mas. Baru aj disebut sama lik Warjo eh mendadak mas Ahmad muncul. Ini lik Warjo lagi semringah, anaknya si Joko lulus dari SMK-nya. Nih kita semua dibayarin sama beliau ini” jawab pak Slamet sambil menepuk-nepuk pundak lik Warjo.

“Wooo, pantes rasanya malam ini rasanya saya pengin banget ke sini. Ternyata lagi ada acara traktiran. Selamat-selamat lik. Beruntung sekali saya pas datang ke sini . Hahaha. Aku pesen jeruk anget aja ya Kang!!” kata Ahmad sambil pesan minuman ke Kang Markoum.

Sembari ngemil gorengan dan segala macam makanan yang ada di angkringan mereka bertiga seperti biasanya ngobrol dan ‘semidiskusi’. Kebetulan karena mereka sedang merayakan kelulusan anak lik Warjo mereka ngbrol tentang Ujian Nasional atau yang sebagian orang menyingkat sebagai UN atau UAN atau UNAS saja.

“Eh tapi beneran lho lik yang kemarin saya bilang pas kita sengaja ga ketemu. Kelulusan tahun ini cukup menurun. Pak Menteri yang bilang sendiri di media. Eh tapi dibilang tidak lulus juga kurang tepat ding. Lebih tepat kelulusan yang tertunda karena mereka masih bisa ngulang bulan depan untuk pelajaran yang belum lulus. Kata beliau secara nasional lebih dari 10% siswa harus mengulang. Dan yang sebenarnya agak miris, presentase pelajaran terbesar yang harus diulang itu bukan Matematika atau Bahasa InggriS atau apa tapi justru Bahasa Indonesia bahasa nasional kita..” terang Ahmad panjang lebar

“Iya mas, kawan saya bekerja di Dinas Pendidikan DIY juga bilang begitu. DIY dari yang tahun sebelumnya yang kelulusannya mencapai 97% sekarang anjlok menjadi 76% saja. Luar biasa..Kalau yang Bahasa Indonesia itu juga parah je mas, secara Bahasa Indonesia adalah bahasa pribadi kita” kata pak Slamet sambil geleng-geleng.

“Hu uh tu. Tadi saya nonton berita di Metro banyak siswa yang belum lulus pada njerit-njerit, pingsan sampai ngamuk segala. Kasihan sekaligus miris saya ngeliatnya..” kata lik Warjo

“Nah itu dia yang bikin saya agak gimana gitu. Mereka itu kan bukannya TIDAK LULUS tapi BELUM LULUS. Kalau sudah down begitu gimana mereka mau ngulang besok? Toh tidak semua pelajaran diulang. Hanya yang belum lulus saja yang diulang. Kalau tidak lulus satu pelajaran saja kan sebenarnya peluang mereka untuk lulus di Ujian Ulang besok kan ya lumayan besar. Apa ya guru-guru mereka tidak ngasih tahu ke mereka sebelumnya? Gimana niy pak Slamet? Njenengan kan guru juga, anak-anaknya di MTs sudah sikasih tahu belum tu?” tanggap Ahmad sekaligus bertanya pada pak Slamet.

“Sudah dong mas, tapi ya gimana ya? Mindset di anak-anak sudah takut duluan.Mereka takut malu sama teman, orang tua, saudara juga tetangga kalau tidak lulus. Belum lagi kawan mereka yang lulus bukannya berempati kepada mereka, malah bergembira ria tak peduli. Orang tua mungkin bisa paham tapi tetangga yang biasanya nynyir kalau tahu ada anak yang tidak lulus. Padahal seperti yang mas Ahmad bilang, mereka itu bukan tidak lulus tapi belum lulus” jawab pak Slamet.

“Tapi sebenarnya ada bagusnya juga lho pak mereka para siswa belajar gagal. Yah, hidup ini kan tidak selamanya sesuai harapan kita. Baru lulus SMA yang tertunda saja stress-nya sampai segitunya. padahal cobaan hidup kelak justru lebih berat. Gimana kalau misalnya mereka ga lolos SPMB? Nilai kuliah dapat E?,Ujian skripsi gagal? Nglamar pacar ditolak orangtuanya? tes kerja gagal dan sebagainya? Gimana tuh? UAN itu kan hanya test case mental gitu. Lah baru kaya gitu saja sudah menye-menye je, gimana besok? Ups, koq saya malah jadi memprovokasi yang tidak lulus ya?” kata Ahmad lagi.

“Wah, kurang bijak juga mas menyalahkan mental anak-anak. Justru salah orang-orang sekitarnya;lah yang saya kira lebih berpengaruh. Orang-orang itu demen banget ngomongin orang. Buktinya ya acara gossip yang berjubel itu. Nah karena tahu seperti itu jadi anak-anak yang belum lulus jadi stress. Bukan karena tidak siap gagal, tapi menurut saya lebih kepada tidak siap malu” jawab pak Slamet menanggapi pernyataan Ahmad.

“Wadu wadu, susah kalo ngbrol sama orang pinter kaya kalian berdua. Jadi bingung harus komentar apa, hehehe. Apa gini aja. Kalau saya boleh ikut mewacanakan, lebih baik hapus saja UAN atau UNAS itu. Kembalikan kepada sekolah saja yang menentukan siswa lulus atau tidak. Kisruh ini kan tidak akan terjadi seandainya tidak ada ujian-ujianan itu” sela lik Warjo.

“Ga sesimpel itu lik. Percaya saja, kalau kelulusan diserahkan full murni ke sekolah orang akan benar-benar memandang dari sekolah mana kita berasal. Akan ada cibiran ‘ah dia mah dari sekolah X yang emang gampang lulus, ga kaya anak saya yang di sekolah favorit Z’. Sekolah yang bagus makin bagus, yang jelek juga makin jelek. Sia-sia kita sekolah tiga tahun tapi karena sekolah kita sekolah cupu jadi dilirik sebelah mata oleh orang-orang kebenyakan” jawab Ahmad tidak sepakat.

“Atau dikembalikan saja ke EBTANAS? Secara psikologi beda lho antara EBTANAS dan UNAS. Lihat saja kepanjangannya EBTANAS, Evaluasi Belajar Tahap Akhir. Ada EVALUASI yang berarti sebuah proses melihat ke belakang untuk kemudian diperbaiki dan setelahnya diambil sebuah kesimpulan. Ada BELAJAR yang mengindikasikan penekanan pada proses transfer ilmu sehingga pembebanan tidak hanya diserahkan pada siswa tapi juga komponen pendukung lainnya. Juga ada TAHAP AKHIR yang menunjukan urutan terakhir dari tahap-tahap lain yang sudah dilaksanakan. Jadi sebelumnya sudah ada ujian yang lain. Dengan demikian nilai filosofis EBTANAS sangat tinggi, tidak Cuma langsung ujian. Kalau Ujian Akhir Nasional kan terlihat bahwa yang akan kalian jalani itu adalah Ujian yang terakhir kalinya. Ada gap saya penguji kalian yang diuji. Kalau kalian lolos kriteria yang sudah saya tentukan ya berarti kalian lolos. That’s it” kata pak Slamet membuka wacana.

“Wah iya juga ya pak, saya malah baru sadar walaupun kesannya sederhana tapi ada makna yang dalam di baliknya” jawab lik Warjo.

“Saya kurang paham je pak. OKelah secara nama mungkin EBTANAS lebih baik tapi intinya kan sama saja ujian kan pak?” tanya Ahmad

“Beda mas. Kalau UAN tu kan yang diambil ya dari ujian itu saja. Jadi 3 hari itu benar-benar sangat penting. Kalau EBTANAS beda, nilai akhir diambil dari rata-rata nilar semester 1, semeseter 2 dan nilai EBTANAS murni atau NEM. Jadi tidak hanya mengandalkan ujian akhir saja” jawab pak Slamet.

“Kelihatannya memang ideal pak. Tapi komposisi penentu yang lebih banyak dipegans sekolah membuat sekolah bisa mengotak-atik nilai supaya murid-muridnya lulus. Tinggal besarin aja nilai semester 1 dan semester 2 maka walaupun NEM jelek tetap saja bisa terdongkrak. Kalau seperti itu tidak bisa dipetakan daerah mana yang pendidikannya kurang atau sudah bagus” kilah Ahmad

“Iya juga sih, makanya mungkin pemerintah mencoba bikin formulasi baru lewat UAN ini. Tapi ternyata setelah sekian tahuan UAN, kisruh ini masih saja ada. Saya justru tertarik dengan perkataan mas Ahmad tentang pemetaan itu. Dengan UAN yang terstandarisasi secara nasional memang jadi ketahuan mana daerah yang kurang mana yang sudah bagus. Nah Cuma pemerintah koq ya ga kunjung-kunjung membenahi kekkurangan daerah itu. UAN ini kan sudah jalan sejak 2003. Harusnya ya bisa terdeteksi perkembangan per daerah tingkat kelulusannya. Dan kalau niatnya memperbaiki harusnya 2003 ketahuan daerah ini kurang, trus diperbaiki dan berapa tahun kemudian dicek lagi dan harusnya kelulusan naik. Lha ini mbuh datanya benar-benar dianalisa atau tidak. Kalau tidak ya kebangetan sekali. Anak-anak jadi kelinci percobaan gini. Malah justru mending kelinci dia berkorban tapi ada hasilnya demi penelitian. Lha ini?” ujar pak Slamet

“Mungkin gara-gara ganti Menteri kali pak. Biasa, ganti menteri ganti kebijakan. Semua yang dirintis pendahulunya terlupakan” sabot lik Warjo.

“Muahahaha, betul betul betul. Bisa juga itu lik” jawab Ahmad disusul tawa pak Slamet dan lik Warjo.

“Jadi kesimpulannya menurut pak Slamet UAN tetap perlu ga nih?” tanya Ahmad nyambung lagi.

“Demi kestandaran pendidikan di Indonesia seharusnya masih perlu. Cuma ya itu tadi pemetaan itu harusnya sudah selesei kemarin-kemarin dan sekarang waktunya membenahi yang kurang agar yg tertinggal bisa mengejar standar. Nah teman-teman yang masih SMA seharusnya juga jangan mengeluh. Mumpun masih muda buka wawasan selebar-lebarnya untuk semua pengetahuan jangan Cuma focus di satu mata pelajaran saja. Fokusnya nanti pas kuliah dan lebih focus lagi setelah S2 dan jauh lebih focus lagi di level pendidkan selanjutnya. Kalau masih SMA sudah ngeluh atas banyaknya pelajran takutnya wawasan kalian jadi sempit…” tutup pak Slamet mengakiri perbincangan.

*Sebenarnya perbincangan masih berlanjut tapi takutnya akan kepanjangan jadi dihentikan sampai di sini saja*

Obrolan-obrolan yang lain

3 responses to “Obrolan tentang Ujian Nasional

  1. Aas Maesyanurdin Mei 4, 2010 pukul 5:30 am

    Cerita yang mengasyikan, sekaligus sarat pesan dan makna. Salam kenal…

  2. Pingback: Statistik Pengguna Facebook Indonesia « Yasir Alkaf

  3. Obrolan September 1, 2010 pukul 9:24 pm

    Really great story. Thank you for posting. You do an excellent job, you have an interesting blog. Keep it up!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: