Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Perjuangan Negara Islam di Parlemen

Selain melalui jalur militansi yang dilakukan oleh SM Kartosuwiryo, perjuangan menuju Negara Islam juga dilakukan di parlemen. Memang dua jalur itu, yaitu jalur parlemen dan militansi, tidak dilakukan secara terorganisir bersama. Mereka boleh dikatakan berjuang sendiri-sendiri. Namun boleh dibilang kesamaan tujuan itu yang sebenarnya mempersatukan mereka.

Perjuangan menjadikan Islam menjadi dasar negara mulai dilakukan sejak Indonesia belum merdeka. Para tokoh Islam saat itu seperti Wahid Hasyim dan Kahar Muzakkir menghendaki Islam sebagai dasar Negara. Diskusi dasar Negara apa yang tepat terus berlangsung di BPUPKI dan selanjutnya PPKI. Pada akhirnya tercapai sebuah kompromi untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Hal itu terjadi karena setelah dikomparasikan, nilai-nilai Islam sebenarnya sudah terakomidir dalam Pancasila. Sebagai kompensasi umat Islam meminta untuk diberi hak untuk menjalankan syariat-nya. Rumusan Pancasila hasil komparasi dan kompensasi itu tertuang dalam Piagam Jakarta dengan sila pertama Pancasila berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”.

Saat itu sebenernya sudah terjadi kesepakatan antara kaum nasionalis dan perwakilan Islam. Namun menjelang sidang PPKI pasca proklamasi, Muhammad Hatta menghapus kalimat itu dengan alasan akan keluarnya warga Indonesia Timur, yang mayoritas non-Islam, jika kalimat itu diadakan. Dengan persetujuan Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Kasman Singodimedjo dan Teuku Hasan tujuh kata itu akhirnya dihapus dan digantikan menjadi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Perwakilan umat Islam itu menyetujui penghapusan kalimat itu kalimat itu demi persatuan Indonesia. Persatuan saat itu memang benar-benar dibutuhkan demi berdirinya Negara Indonesia. Perjuangan untuk menjadikan Islam sebagai dasar Negara bisa dilaksanakan nanti di parlemen setelah kondisi Indonesia lebih stabil. Selain itu kalimat pengganti tujuh kata itu yaitu ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ juga sudah mencerminkan ketauhidan yang merupakan ciri Islam.

Pasca parlemen terbentuk, yang selanjutnya disebut Konstituante, perjuangan itupun dilanjutkan kembali. Konstiuante dibentuk untuk membuat UUD definitif bagi Negara Indonesia. Melalui partai-partai Islam yang ada seperti Masyumi, NU, PSII, Perti, dan PPTI usul menjadikan Islam sebagai dasar negera diangkat kembali. Sebelum kemerdekaan perjuangan itu sebenarnya jauh lebih mudah karena pendekatan bisa dilakukan melalui personal. Namun setelah proklamasi perjuangan itu jauh menjadi lebih sulit. Islam berhadapan dengan ideologi Pancasila yang sudah settle ditambah musuh baru bernama Marxisme/Komunisme. Lobi di Konstituante menjadi sangat sulit dengan semakin banyaknya kepentingan itu.

Pada kenyataannya Konstituante memang tidak pernah berhasil merumuskan dasar negara definitif. Soekarno selaku Presiden akhirnya mengeluarkan dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang isinya membubarkan Konstituante dan memberlakukan kembali UUD 1945. Keluarnya dekrit itu juga menandai dimulainya Demokrasi Terpimpin Soekarno. Perjuangan umat Islam di parlemen boleh dibilang berakhir sudah. Partai-partai Islam tercerai berai dan sebagian tokohnya seperti M.Nastsir, Syafrudin Prawiranegara, Sutan Sjahrir dan Sumitro Djojohadikoesoemo terpaksa terlibat pada pemberontakan PRRI.

Setelahnya pemerintah membentuk DPRGR. Perwakilan islam hanya dipegang oleh NU karena partai Islam besar lainnya yaitu Mayumi dan PSI dibubarkan Soekarno dengan alasan makar. Di parlemen itu menjadi pengawal terakhir perjuangan Islam di tengah gempuran komunis. Masuknya NU di parlemen sendiri mendapat tentangan banyak pihak karena seolah NU begitu pragmatis, namun kontroversi itu dijawab NU dengan tetap memperjuangkan kepentingan-kepentingan Islam. Diantara pejuangan itu adalah pelindungan makna ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ sebagai konsep tauhid yang sebelumnya oleh PKI ditafsirkan sebaga kebebasan beragama. Jadi keberadaan NU di parlemen menjadi semacam penyeimbangan dominasi komunis yang mendapat banyak keistimewaan dari Soekarno. NU juga mengoptimalisasikan peran Departemen Agama serta melahirkan Perguruan Tinggi Islam.

Pasca turunnya Soekarno dan naiknya Soeharto perjuangan Islam malah lebih menurun lagi. Kalau di demokrasi terpimpin Islam lewat NU masih bisa berjuang di parlemen dengan asas Islamnya, di zaman Soeharto azas Islam sudah tidak diperbolehkan lagi. Soeharto menerapkan asas tunggal dimana seluruh organisasi harus menggunakas asas Pancasila. Soeharto juga mengurangi jumlah parpol. Hanya ada dua parpol saja yang dizinkan yaitu PPP [Partai Persatuan Pembangunan] dan PDI [Paratai Demokrasi Indonesia] serta ditambah satu Golongan Karya. PPP dijadikan sebagai fusi dari partai-partai Islam seperti NU namun tetap harus menggunakan asas tunggal Pancasila. Dan perjuangan menjadikan Islam sebagai dasar Negara pun semakin ‘jauh panggang dari api’.

Kurang lebih itulah bahasan dalam buku ‘TAFSIR NEGARA ISLAM DALAM DIALOG KEBANGSAAN DI INDONESIA ’ terbitan Siyasah Press karya Ahmad Yani Anshari. Buku ini membahas dengan runut mengenai perjuangan Islam di parlemen sampai bahkan di era Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden. Ahmad Yani sangat lengkap menyajikan data-datanya dalam buku ini. Diantara ketiga buku yang lain, saya pribadi paling merekomendasikan buku yang ini. Kedekatan isu dan banyaknya info-info baru yang bisa didapat di buku ini menadikan saya merekomendasikan buku setebal 200an halaman ini.

Tidak seperti di dua bukunya yang lain yaitu ‘MENUJU KHILAFAH ISLAMIYAH, PEJUANGAN IKHWANUL MUSLIMIN’ dan ‘UNTUK NEGARA ISLAM INDONESIA, PERJUANGAN DARUL ISLAM DAN AL JAMAAH AL ISLAMIYAH’ saya tidak menjumpai kekurangan secara materi atau sistematika di tulisan ini. Semua dibahas dengan runut oleh Ahmad Yani. Hanya saja seperti dua bukunya yang lain itu Ahmad Yani melupakan elemen artistik dan informatif dalam sampul bukunya. Sampul hanya warna hitam polos tanpa ilustrasi dan sampul belakang tanpa disertai gambaran isi buku. Untuk selanjutnya mungkin Ahmad Yani perlu mempercayakan desain cover ke orang lain agar sampul buku ini menjadi jauh lebih menarik

-Yogyakarta, 31 Mei 2009-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: