Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Antara Jamaah Islamiyah dan DI/TII

ADA sebuah pertanyaan menarik yang mungkin timbul setelah membaca judul di atas. Memang ada hubungan antara al Jamaah al Islamiyah atau yang biasa disebut Jamaah Islamiyah saja dengan DI/TII? Ahmad Yani Anshari melalui bukunya yang berjudul ‘UNTUK NEGARA ISLAM INDONESIA, PERJUANGAN DARUL ISLAM DAN AL JAMAAH AL ISLAMIYAH’ menjawab pertanyaan itu dengan cukup lugas. Antara Jamaah Islamiyah dan DI/TII memang ada atau paling tidak pernah hubungan. Abu Bakar Ba’asyir sebagai amir Jamaah Islamiyah dan Abdullah Sungkar tokohnya yang lain pernah berusaha menghidupkan kembali Negara Islam Indonesia, sebuah cita-cita dari SM Kartosuwiryo selaku pendiri DI/TII dulu.

Sebelum melihat koneksi antara Jamaah Islamiyah dan DI/TII perlu kita tahu terlebih dahulu mengenai dua kelompok itu. Pertama adalah DI/TII yang jauh lebih tua dan konseptor utama dari Negara Islam Indonesia yang kelak juga menjadi cita-cita Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar. DI/TII atau yang merupakan singkatan dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia adalah sebuah gerakan yang dipimpin oleh SM Kartosuwiryo untuk mendirikan Negara Islam Indonesia [NII]. Pada kenyataannya Kartosuwiryo sempat berhasil mendirikan NII pada tanggal 7 Agustus 1949 di Jawa Barat.

Kartosuwiryo sebagai pendiri NII benar-benar sudah mempersiapkan berdirinya NII. Jauh sebelum NII didirikan dia sudah memperisiapkan Qanun [Undang-Undang Dasar] NII terlebih dahulu. Dengan demikian berdirinya NII sudah lengkap secara administratif. Tentara sebagai instrument keamanan Negara juga sudah dibentuk oleh Kartosuwiryo dengan TII-nya. Mayoritas dari mereka adalah laskar HIzbullah dan Sabilillah serta laskar-laskar tradisonal lainnya yang ada untuk merebut kemerdekaan dari Belanda yang tidak mau mundur dari sebagian wilayah Indonesia yang menjadi wilayah Belanda akibat perjanjian Renville. Mereka diberdayakan menjadi tentara oleh Kartosuwiryo.

Qanun asasi NII hampir sama dengan UUD 1945 kecuali pada hukum yang mengacu pada syariat Islam. Kesamaan itu sangat wajar mengingat Kartosuwiryo dulu adalah aktivis PSII [Partai Syarikat Islam Indonesia] yang berjuang berlakunya syariat Islam di Indonesia. Karena Konstituante tak kunjung menjadikan Islam sebagai dasar Negara Indonesia maka Kartosuwiryo keluar dan memperjuangkan Islam sebagai dasar Negara di luar parlemen. Perjuangan Islam menjadi dasar Negara diteruskan oleh partai Islam yang lain seperti Masyumi dan NU di Konstituante. Itulah mengapa sebenarnya banyak pihak yang menyatakan bahwa jika Konstituante mengesahkan Islam sebagai dasar Negara, Kartosuwiryo tidak akan memberontak membentuk NII atau Negara Islam Indonesia.

Lembaga-lembaga Negara NII, merujuk pada Qanun NII terdiri dari Majelis Syura, Dewan Syura, Imam, Dewan Imamah dan Dewan Fatwa. JIka dikomparasikan dengan lembaga Negara Indonesia saat ini Majelis Syura sama dengan MPR, Dewan Syura dengan DPR, Imam dengan Presiden, Dewan Imamah sama dengan kabinet dan Dewan Fatwa hamper sama dengan Dewan Pertimbangan Agung. Pasal-pasal dalam Qanun juga isinya hampir sama seperti misalnya bumi, air dan kekayaan alam yang bermanfaat bagi hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.

Satu yang membedakan NII dengan Indonesia adalah pada pemberlakuan syariat Islam sebagai hukum negara. Hanya satu tapi implikasinya sangat luas. TII selaku tentara NII dihadapkan pada kondisi peperangan untuk mempertahankan NII dari pemerintahan resmi Indonesia yang menghendaki mereka ‘bertobat’. Kondisi perang itu membuat NII membagi masyarakat menjadi Muslim dan Kafir. Yang dimaksud muslim jelas para pengikut NII sementara kafir adalah orang-orang yang tidak setuju dengan NII. Itulah mengapa NII terus-terusan berkonfrontasi dengan tentara republik. Perjuangan NII akhirnya berhenti pasca tertangkapnya Kartosuwiryo 14 Juni 1962. Para tentara sebagain bertobat, ada yang tetap bergerilya secara sporadis di hutan-hutan atau lari keluar negeri.

Sekian tahun kemudian ada tokoh bernama Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar. Bersama veteran DI/TII mereka mencoba membuat NII baru. Kesamaan tujuan menjadikan Indonesia menjadi Negara Islam pada akhirnya menyatukan mereka. Sekolah bagi penggemblengan mental prajurit NII adalah di medan perang Afghanistan. Doktrinasi dilakukan di situ. Nasir Abbas, warga Malaysia mantan anggota Jamaah Islamiyah, mengatakan kalau Ba’asyir pernah memberikan ceramah pada mereka saat di Afghanistan.

Namun pada perkembangannya Abdulah Sungkar dan Baasyir memutuskan untuk keluar dari DI baru itu. Mereka dengan berbagai versi alasan memutuskan meninggalkan DI dan eksis dengan Jamaah Islamiyah-nya. Jadi begitulah kurang lebih hubungan antara DI/TII dan Jamaah Islamiyah. Secara hubungan langsung praktis tidak ada karena DI/TII dan NII-nya berdiri 1949 dan bubar pasca Kartosuwiryo tertangkap 1962 sementara Jamaah Islamiyah secara internasional berdiri 1970 di Mesir. Setelah keluar dari koalisi dengan veteran DI/TII itulah Ba’asyir mulai aktif di Jamaah Islamiyah.

Dalam buku setebal 123 halaman inilah serba-serbi mengenai DI/TII dan Jamaah Islamiyah dibahas secara lengkap oleh Ahmad Yani Anshari. Satu yang paling menarik ada di bagian menjelang akhir dimana antara Baasyir, Jamaah Islamiyah, Bom Bali dan pengakuan mantan anggota Jamaah Islamiyah dibahas. Keterkinian isu yang ditaruh dibelakang memberikan kejutan kepada pembaca yang di awal-awal diberi bacaan mengenai sejarah yang cukup lampau.

Yang menjadi keheranan saya pribadi entah mengapa Ahmad Yani membahas Jamaah Islamiyah di Pakistan di bagian awal buku ini. Secara esensi, mengikuti judul bukunya, hal itu sangatlah tidak berhubungan. Buku ini membahas tentang DI/TII dan Jamaah Islamiyah di Indonesia lalu untuk apa Jamaah Islamiyah di Pakistan ikut dibahas. Malah seharusnya justru Jamaah Islamiyah di Mesir, yang merupakan cikal bakal Jamaah Islaiyah secara internasional, yang dibahas mendalam. Kalaupun digunakan sebagai komparasi dengan Jamaah Indonesia seharusnya porsi ini diletakkan di belakang karena bisa dikatakan ini adalah bonus bagi para pembaca.

Kekurangan yang lain, sama seperti bukunya yang lain, buku ini tidak dilengkapi dengan ilustrasi cover dan rangkuman isi buku. Halaman sampul buku ini, baik depan maupun belakang, sangat polos. Sampul depan polos berwarna biru sementar sampul belakang, yang biasanya berisi  rangkuman, diisi oleh gambar lingkaran entah apa. Gambaran lingkaran itu lebih menyerupai kajian filsafat daripada kajian siyasah berlatar belakang sejarah. Desain cover memang sudah bukan tanggung jawab penulis tapi penulis jelas wajib mengkontrol karena pandangan pertama sangat menentukan. Lihat bukunya saja mungkin belum jelas, bagaimana kita mau beli dan membacanya. Buku yang bagus apabila tidak dikemas dengan baik bisa membuat orang enggan membacanya. Akan sayang sekali jika demikian itu terjadi.

-Yogyakarta, 28 Mei 2009-

Iklan

One response to “Antara Jamaah Islamiyah dan DI/TII

  1. Pingback: PARADIGMA SETENGAH MATANG « tatastitis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: