Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Pendeta di Malam Hari, Ksatria di Siang Hari

Pernah mendengar kalimat ini, Rubban fi al-lail wa fursan in nahar atau Pendeta di Malam Hari, Ksatria di Siang Hari? Kalimat itu adalah moto atau slogan yang digunakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan al Banna. Sebuah slogan yang menampakkan sisi religiusitas yang berdampingan dengan semangat militansi dalam tiap jiwa kader Ikhwanul Muslimin. Perjuangan tentang Ikhwanul Muslimin dimulai dari awal pembentukannya oleh Hasan al Banna inilah yang dicoba untuk di bahas oleh Dr Ahmad Yani Anshari lewat bukunya yang berjudul “Menuju Khilafah Islamiyah, Pejuangan Ikhwanul Muslimin”.Dalam buku setebal 135 halaman terbitan Siyasat Press ini, Ahmad Yani Anshari mencoba mengupas secara mendalam mengenai Ikhwanul Muslimin.

Secara keseluruhan buku ini terbagi menjadi enam bagian. Bagian pertama dan terakhir berisi pendahuluan dan penutup sementara 4 bagian yang lainnya berisikan Biografi Hasan al Banna, Tahapan Menuju Khilafah Islamiyah, Pengaruh Ideologi Sayyid Qutb serta yang terakhir tentang al Ikhwan dan Kemelut di Mesir.

Berbicara mengenai Ikhwanul Muslimin mau tidak mau kita akan dibawa ke belakang ketika institusi  Khilafah dihapus Mustafa Kemal Attaturk 1924 M. Ikhwanul Muslimin didirikan 1928, empat tahun pasca runtuhnya khilafah, oleh Hasan al Banna di Ismailiyyah Mesir. Berdirinya Ikhwanul Muslimin didasarkan pada keprihatinan al Banna pada modernisasi, liberalisasi, westernisasi dan sekulerisasi yang melanda Arab terkhusus di Ismaliyyah Mesir tempat tinggal al Banna. Semua itu terjadi konon karena Islam sudah kehilangan identitas pasca Khilafah Ismailiyah runtuh. Itulah mengapa al Banna merintis Ikhwanul Muslimin, mengembalikan identitas Islam di bawah Khilafah Islamiyah.

Ikhwanul Muslimin bercita-cita menegakkan kembali syariah Islam di segala sendi kehidupan termasuk dalam bentuk Negara dan menegakkan kembali Khalifah Islamiyah. Hasan al Banna sudah memperhitungkan dengan matang fase-fase untuk mencapai Khilafah Islamiyah itu. Al Banna membagi fase menuju khilafah menjadi tiga fase yaitu fase pengenalan [marhalah al ta’rif], fase pembinaan [marhalah al takwim] dan fase pelaksanaan [marhalah al tanfidz]. Fase-fase itu dalam pelaksanaanya diformulasikan dalam 4 langkah yaitu al Da’wah al Ammah, al Da’wah al Khassah, Iqamah al Daulah dan Iqamah al Khilafah al Islamiyah al Ammah.

Di langkah yang pertama, yaitu al Dakwah al Ammah, gerakan Ikhwanul Muslimin memfokuskan diri untuk mendidik umat, menyucikan jiwa, menebarkan semangat jihad,dan peringatan menuju kebaikan. Fokus utamanya masih di pematangan individu. Cara yang digunakan adalah dengan melalui kajian, diskusi, orasi, tulisan atau melalui ceramah. Disini kaderasasi juga mulai dilakukan dengan memilih dan membidik kader yang dirasa potensial di berbagai organisasi.

Setelah dirasa sudah cukup mendapat dan membekali kader dengan kemantapan rohani maka langkah selanjutnya al Dakwah al Khassah. Di sini gerakan sudah mulai masuk ke pemerintahan. Misi dakwah disampaikan kepada para pemimpin negara, birokrat, menteri, kepala departemen dan berbagai pejabat pemerintahan. Kader akan mengusulkan dan mengusahakan agar elemen syariah dapat diterapkan di Negara. Jadi di sini para ikhwan sudah dakwah secara terang-terangan.

Langkah setelahnya adalah Iqamah al Daulah, membentuk Negara Islam. Sayangnya Hasan al Banna selaku konseptor gerakan Ikhwanul Muslimin tidak sempat mengerjakan bagian ini. Dia keburu wafat ditembak tentara Mesir. Gerakan Ikhwanul Muslimin yang sangat progresif ini diangap sebagai ancaman oleh pemerintah Mesir. Tak heran Hasan al Banna sebagai pemimpin tertinggi menjadi target utama pemerintah dan berhasil dieksekusi.

Langkah terakhir yang sampai saat ini belum terwujud yaitu Iqamah al Khilafah al Islamiyah al Ammah. Setelah Negara-negara Islam terbentuk maka pasti mereka akan saling membantu. Nantinya akan terbentuk semacam persatuan antar negara-negara Islam. Persatuan antara Negara-negara Islam yang dipimpin oleh  semacam Imam yang dijadikan simbol khalifah sebagai pemersatu negara-negara Islam. Inilah langkah puncak dari cita-cita gerakan Ikhwanul Muslimin yang digagas Hasan al Banna.

Al Banna mengkonsep gerakan Ikhwanul Muslimin harus mengedepankan langkah damai. Namun keadaan di lapangan menuntut al Banna juga perlu menyusun sebuah sayap militer. Sayap militer ini dinamai al Banna sebagai Tanzim al Khas [Pasukan Khusus] atau Tanzim al Sirr [Dinas Rahasia]. Awal mulanya pasukan ini awalnya untuk mem-protect al Banna dari ancaman pemerintah Mesir akibat keprogresifan perjuangan Ikhwanul Muslimin memperjuangkan syariat Islam. Pada perkembangannya Tanzim al Khas ini, yang karakternya memang keras karena pernah terjun di perang Arab-Israel, dijadikan legitimasi pemerintah Mesir untuk menghukum atau menjerat para tokoh Ikhwanul Muslimin dengan pasal-pasal makar, termasuk Sayyid Qutb ideolog kedua Ikhwanul Muslimin.

Terlepas dari represi pemerintah, Ikhwanul Muslimin berhasil mengimpor ideologinya ke luar Mesir. Di Sudan, Hasan Turabi mendirikan Ikhwanul Muslimin Sudan. Begtu pula dengan Rasyid al Ghanussy di Tunisia, Mustafa al Shibai di Syria, Abdul Latif abu Qurah di Yordania serta Abdullah Azzam di Palestina. Mereka semua mengimpor ideologi Ikhwanul Muslimin di Negara masing. Semangat itu juga diikuti oleh organisasi yang belakangan terbentuk, Hizb al Tahrir di Yordania, meski dalam beberapa hal mereka berbeda prinsip dengan Ikhwanul Muslimin. Semangat menjadi pendeta yang rajin beribadah sekaligus ksatria yang siap berperang melalui konsep-konsep di atas inilah yang menjadi tekad setiap kader Ikhwanul Muslimin.

Kurang lebih demikian isi dari buku “Menuju Khilafah Islamiyah, Pejuangan Ikhwanul Muslimin” karangan Dr. Ahmad Yani Anshari. Sebagai sebuah buku yang lebih menonjolkan sisi sejarah Ikhwanul Muslimin, Ahmad Yani menuliskan data-data yang ada dengan sangat lengkap. Sesuai judulnya perjuangan Ikhwanul Muslimin yang ditulis dalam buku ini tidak sebatas hanya di Mesir tetapi juga di luar Mesir. Semua dibahas oleh Ahmad Yani.

Terlepas dari kelengkapan data itu, ada beberapa hal yang membuat buku ini menjadi kurang menggigit. Pertama dari dari judulnya. Untuk sebuah buku, judul “Menuju Khilafah Islamiyah, Perjuangan Ikhwanul Muslimin” terlalu panjang. Judul yang panjang itu malah lebih menyerupai judul sebuah makalah atau tema sebuah acara semiloka.

Selain masalah judul, cover juga terlalu sederhana. Cover buku ini polos warna merah dengan judul dan penulis berwarna putih. Sebenarnya ada gambar awan yang sanga tipis berlafazkan Allah. Untuk sebuah cover yang seharusnya mencerminkan isi, cover buku ini sama sekali tidak mencerminkan isi. Cover yang terlalu sederhana ini pada akhirnya tidak menceritakan atau memberi gambaran mengenai isi buku ini. Belum lagi ditambah Ahmad Yani juga tidak penjelasan singkat mengenai isi bukunya di cover belakang buku seperti lazimnya buku yang lain. Sebuah pengantar di belakang buku meskipun bukan sebuah kewjaiban tetapi mempunyai peran yang sangat penting. Fungsinya adalah sebagai gambaran calon pembaca mengenai isi buku. Jadi pembaca tidak terkesan membeli kucing dalam karung. Kalau saya pribadi tidak mengenal Ahmad Yani Anshori sebagai dosen UIN dan diwajibkan membuat resume buku ini, mungkin saya harus berpikir seribu kali untuk membeli buku ini.

Selanjutnya secara isi buku, dalam beberapa hal terkesan melompat-lompat. Di bagian awal buku ini membahas mengenai Ikhwanul Muslimin Mesir tapi kemuadian di bagian ketiga buku melompat ke pergerakan Ikhwanul Muslimin di luar Mesir dan selanjutnya di bagian ke lima malah kembali ke Mesir lagi. Jadi Ahmad Yani tidak memfokuskan tulisan ke Mesir terlebih dulu sebelum beranjak ke negara lain. Selanjutnya Ahmad Yani juga melupakan untuk membahas Sayyid Qutb yang merupakan ideolog kedua. Kalau buku ini dimaksudkan untuk menjelaskan Ikhwanul Muslimin dari awal sampai sekarang seharusnya peran Sayyid Qutb tidak bisa dilupakan begitu saja. Dalam salah satu bagian di buku ini memang ada yang membahas pengaruh Sayyid Qutb terhadap beberapa tokoh, namun pembahasan tidak difokuskan ke pemikiran Sayyid Qutb melainkan kepada tokoh-tokoh itu. Pemikiran Sayyid Qutb sebagai tokoh utama justru tidak dikaji.

Terlepas dari semua itu buku ini cukup bagus bagi yang belum tahu mengenai Ikhwanul Muslimin. Paling tidak pembaca bisa tahu strategi Ikhwanul Muslimin dalam menerapkan syariat Islam menuju khalifah Islamiyah.

-Yogyakarta, 18 Mei 2009-

3 responses to “Pendeta di Malam Hari, Ksatria di Siang Hari

  1. nuriana Maret 4, 2016 pukul 1:08 pm

    Assalamu’alaikum. afwan perkenalkan nama sya nuriana . sya sangat membutuhkan buku itu untuk kperluan penelitian sya. boleh kah saya membeli bku tersebut atau pun meminjam jika masi ada.. krn sya kesusahan menemukan bku tersebut

  2. nuriana Maret 4, 2016 pukul 1:13 pm

    mohon hubungi saya di alamat email nuriana@gmail.com

  3. nuriana Maret 4, 2016 pukul 1:26 pm

    maaf alamaty salah maksudy nurianakhoir@gmail.com
    atau di no 085728598383

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: