Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Melihat Parpol Setelah Paripurna Century DPR

Komentar singkat saja sih, setelah paripurna DPR tentang Century kemarin mulai bisa teraba bagaimana karakter parpol-parpol di Indonesia:

Demokrat: Konsisten mendukung pemerintah. Sikap ini sangat bagus tapi meninggalkan lubang kejelekan yang sangat besar. Tak peduli pemerintah benar atau salah yang penting bela. Selain itu karena ini parpol baru yang mendadak dapat suara banyak terlihat politisi-politisinya masih kurang matang, bahkan termasuk Ketua DPR-nya yang dari Demokrat. Lucu juga melihat dia dengan semena-mena menutup paripurna hari pertama dengan mengabaikan interupsi anggota dan di hari kedua mendata anggota-anggota yang akan interupsi. Interupsi jadi terjadwal, padahal yang namanya interupsi ya spontan. Politikus yang lain juga sama saja. Tere dan Adjie Massaid terlihat sekali ‘gila hormat’ dengan meminta undangan dan yang berada di lobby untuk menghormati mereka. Ruhut Sitompul? Semua sudah mahfum gaya dia yang angkuh, OOT dan suka merendahkan partai lain.

Golkar: Partai ini terlihat jelas sedang berusaha mendapat simpati rakyat, mengingat namanya yang sudah jelek dan terlanjur identik dengan Orde Baru. Berkali-kali mereka dibilang tak mungkin bernai kepada pemerintah karena sifatnya yang sangat pragmatis tapi sekarang dia ingin membuktikan hal itu salah.Apakah sikap ini hanya untuk Century saja yang notabene ada motif tersembunyi  ‘perang dingin’ antara Aburizal Bakrie sang Ketua Umum dengen Sri Mulyani atau tidak kita lihat nanti.

PDI Perjuangan: Partai ini juga konsisten dengan sikap awalnya yang nmenyatakan diri sebagai oposisi dan benar-benar dilaksanakan di pansus dan paripurna kemarin. Ada yang sinis mengatakan PDIP masih tidak terima kekalahan Megawasti di ajang Pilpres kemarin dan mencoba balas dendam dengan mencoba menggulingka SBY-Boediono. Setahu saya ya oposisi memang harus seperti itu. Kritik terus pemerintah biar ada keseimbangan. Dan yang membuat PDIP cukup bisa diacungi jempol mereka berani membangkangi Taufik Kiemas yang cuma gara-gara diberi jabatan Ketua MPR menjadi tunduk pada SBY dan sering bersikap bereda dengan paratinya dan istrinya yang Ketua Umum PDIP. Untungnya kader PDIP tunduknya pada Megawati bukan Taufik Kiemas. Selain itu dari kasus ini muncul kader muda PDIP yang sepertinya akan bakal sering muncul dan naik daun bernama Maruarar Sirait.

Partai Keadilan Sejahtera: Partai ini seperti yang pernah saya tulis posisinya serba salah. Penyebabnya adalah tanpa disadari ekspektasi yang tinggi kepada partai ini karena citra partai ini yang cukup bersih. Di kasus Century ini PKS sudah mendeklarasikan diri untuk bersikap kritis. Prinsipnya kawan yang baik itu yang mau mengingatkan ketika kawannya salah. Peran ini dilaksanakan PKS sejak awal. Akan tetapi Demokrat sangat risih dengan sikap PKS. Jadi kalo bersifat pasif ngikut partai yang lain bakal ribut “partai-bersih-koq-malah-diam-saja-begitu” tapi ketika bergerak aktif dikomentari “ganjen-banget-itu-partai-harusnya-setia-pada-koalisi”. Belum lagi ketika ternyata salah satu anggota partai ini ada yang bermasalah juga dengan Bank Century. Ujung-ujungnya partai ini malah dibilang munafik. Terlepas dari itu PKS dalam pengambilan keputusan cukup solid karena hanya minus satu anggota yang katanya belum dilantik.

Partai Amanat Nasional: Begitu Hatta Radjasa yang notabene orang kepercayaan SBY menjadi orang nomor satu di partai ini sepertinya tidak ada yang berharap PAN akan kritis terhadap pemerintah. Dan nyatanya memang begitu. Sepanjang pansus, terutama menjelang pandangan akhir fraksi, sepengetahuan saya lobi Demokrat berhasil mempengaruhi pandangan PAN dan PPP. Bahkan inisiator penggagas angket dari PAN-pun juga akhirnya tunduk pada keputusan partai. Sebuah langkah mundur dari PAN saya kira.

Partai Kebangkitan Bangsa: Mungkin partai ini adalah partai yang pride-nya begitu kecil kalau dikatakan tidak punya. Tipe-tipe asal bapak senang. Sejak dari pansus sudah setia pada Demokrat. Saya pribadi juga heran koq PKB bisa jadi seperti itu. Tak heran jika banyak celetukan ‘Gus Dur pasti kecewa jika masih hidup’ sering bergema di DPR. Untung masih ada Lili Wahid, adik Gus Dur, yang mempunyai sikap yang berbeda dengan partainya. Terlepas dari motifnya apakah benar-benar murni atau mencari ketenaran saya kira tidak ada yang tahu tapi patut dihargai keputusan beliau. Silahkan PKB bertindak asal bapak senang seperti itu tapi percayalah ke depan tingkat kepercayaan konsituen kepada partai ini pasti berkurang.

Partai Persatuan Pembangunan: Kalau PKB tidak punya pride maka partai ini terlihat begitu peragu a.k.a plin plan. Di pansus kader PPP yang bernama Romy [lupa nama lengkapnya] bersikap begitu kritis. Tapi lobi Demokrat berhasil melunakan sikap partai. Di pandangan akhir saat paripurna partai ini sama sekali tidak mengambil sikap. Penyebabnya mungkin apabila ke opsi A karena taat koalisi nanti akan tidak disukai konsituen yang menghendaki opsi C. Jadinya terlihat ingin menggabungkan dua opsi. Ketika opsi penggabungan opsi A dan C tertolak eh malah akhirnya mereka kompak memilih opsi C. Kalau seperti itu kenapa tidak dari awal mereka pilih C. Kalaupun penggabungan opsi A dan C tertolak yang sebenarnya mereka ingin ke situ ya tinggal abstain saja. Ketika malah memilih C malah terlihat begitu plin-plannya partai ini.

Gerakan Indonesia Raya: Konon partai inilah yang cukup gencar dilobi Demokrat dengan iming-iming Menteri Pertanian. Dan naga-naganya memang tampak mulai melemah partai ini. Tapi ternyata saat paripurna mereka tetap konsisten dengan sikap awal mereka. Gerindra ini sebagai sebenarnya cukup berprospek. Akan sangat disayangkan gara-gara jabatan malah melengos dari platform awal. Dengan bersikap seperti ini minimal Gerindra dan Prabowo masih punya muka di hadapan konstituen.

Hati Nurani Rakyat: partai dan fraksi terkecil ini dari awal sudah bersikap kritis. Ada yang bisa kita puji dari partai ini. Meskipun kecil, Ruhut Sitompul aj bilang partai ini partai gurem ga penting, Hanura masih punya harga diri yang tinggi. Kalau sudah partainya kecil tidak punya sikap pula, lantas apa yang mau dibanggakan dari partai ini. Dan satu lagi dari partai ini adalah meskipun kecil ternyata anggotanya ada yang begitu vocal dan menonjol yang tidak takut pada cercaaan partai Demokrat

Saya tidak memihak suatu partai apapun. Saya juga tidak menjustifikasi Sri Mulyani dan Budino salah atau benar. Saya cuma menulis berdasarakan kasus Century ini oh ternyata begini sikap partai-partai yang katanya wakil rakyat. Paling tidak saya punya bayangan ke depan, saat 2014, partai apa yang bisa saya pilih atau malah tidak saya pilih semua [golput].

Yasir Alkaf, sebuah analisa sok tahu

4 responses to “Melihat Parpol Setelah Paripurna Century DPR

  1. A.J.I Maret 4, 2010 pukul 10:02 pm

    wibawanya bung karno masih ada di bu mega

  2. zain.f Maret 6, 2010 pukul 6:41 am

    Bener cak..sok tahu luh!..he he

  3. Yasir Alkaf Maret 6, 2010 pukul 7:19 pm

    zain.f :

    Bener cak..sok tahu luh!..he he

    hahahaha, makasih atas pujiannya mas..

  4. nuhriadi Maret 9, 2010 pukul 6:16 pm

    yaaaa. klau politik emang gitu mas! tak ada kawan dan lawan sejati yang sejati adalah kepentingan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: