Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

[review film] Sherlock Holmes: Detektif Superhero

[review film] Sherlock Holmes: Detektif (Superhero)

SUDAH hampir dua minggu Sherlock Holmes menghuni jajaran film yang diputar di jaringan bioskop 21. Baru pada hari Senin [11/01/2010] saya mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan film itu. Saya pribadi sudah mengenal tokoh dan cerita ini lewat novel-novelnya. Kebetulan ada kawan sekolah yang cukup addict dengan certa ini sehingga saya tertular menyukai cerita ini, meski tidak sampai tahap addict. Pengin ikut nonton film itu bareng kawan, tapi karena kebetulan saya habis pendadaran dan setelahnya harus menyibukkan diri dengan revisi jadi terpaksa saya menunda nonton film itu dan baru kesampaian hari senin kemarin.

Plot ceritanya kurang lebih diawali dengan Sherlock dan dr. Watson berhasil menggagalkan rencana Lord Blackwood yang akan mengorbankan seorang wanita untuk ritus ilmu hitamnya. Blackwood akhirnya dihukum mati dengan cara digantung oleh kepolisian dan dr. Watson sendiri yang memastikan kematian dia. Cerita bergulir ketika tiga hari kemudian mendadak Blackwood bangkit dari kuburnya dan menebar terror ke penduduk dengan membunuh beberapa orang penting. Agak berbau mistis memang tapi di akhir cerita akan terungkap semua secara logika bagaimana Blackwood hidup lagi dan teror mistiknya bekerja. Plot cerita selengkapnya silahkan baca disini.

Sebenarnya kalau melihat para pelakon film ini saya pribadi agak heran. Sherlock Holmes diperankan Robert Downey Jr sedangkan dr. Watson rekan sang detektif diperankan oleh Jude Law. Dalam bayangan saya berdasarkan ingatan saat membaca novel, Sherlock Holmes itu orangnya tua, kurus suka menghisap rokok (atau cerutu?) pakai pipa, pakai topi yang khas dan membawa kaca pembesar ke mana-mana. Sedangkan dr Watson dalam bayangan saya adalah pria tua (karena dia adalah veteran perang) berkumis tebal yang selalu memakai topi ala pesulap. Dari pelakon yang ada, terutama dari fisiknya, sungguh sangat jauh dari bayangan saya itu. Dua pelakon itu sama-sama bertubuh atletis dan juga masih cukup muda. Entah kenapa karakter dasar itu dibuat menjadi berbeda. Mungkin karena ini film Hollywood masa tokoh utamanya ceking dan tua. Kurang menjual.

Selain itu karena setting film ini adalah sekitar akhir tahun 1800an saya kira film ini akan minim action ala Hollywood yang biasanya penuh special effect semacam Transformer. Bayangan saya film ini akan seperti Public Enemy yang benar-benar seperti film lawas yang action-nya minimalis. Lagi pula Sherlock Holmes lebih merupakan cerita detektif yang banyak analisa daripada action. Ternyata dugaan saya salah. Walaupun tanpa bom dimana-mana namun special effect-nya cukup mengagumkan terutama saat Sherlock dan dr Watson dikejar anak buah Lord Blackwood si sebuah galangan kapal. Adegannya cukup membuat tegang dan membuat jantung berdegup. Jadi ada dua dugaan saya yang salah. Pertama dari pelakon dan karakternya sementara yang kedua dari special effect-nya.

Setelah salah menduga kemudian saya mencoba memperhatikan kira-kira apa yang bisa menjadi catatan dari film ini. Hanya satu yang bisa saya temukan, Prof. Moriarty sang musuh utama Sherlock belum muncul. Memang sempat muncul sejenak tapi masih misterius karena dia mengincar penelitian yang dilakukan Blacwood dengan tanpa disertakan wajah sang profesor. Nampaknya musuh bebuyutan Sherlock ini sengaja disimpan untuk sekuel selanjutnya dari film ini. Persis seperti Batman Begin yang menyimpan Joker, musuh terkejam Batman, untuk dikeluarkan di seri selanjutnya di the Dark Knight yang sukses luar biasa itu.

Sebagai sebuah film yang banyak dialog analisa dan sedikit action film ini termasuk film yang sukses secara financial. Film ini menduduki Box Office dunia akhir tahun 2009 di awal penayangannya. Sherlock Holmes memperoleh pendapatan 65 juta dolar, satu strip di bawah Avatar yang memperoleh pendapatan 75 juta dolar di minggu yang sama [Sumber baca di sini]. Selain financial dari sisi kualitas film ini juga terbukti mumpuni karena masuk nominasi Golden Globe Awards 2010 untuk pemeran pria terbaik. Apakah Robert Downey Jr akan merebut piala tersebut masih harus kita tunggu sampai 17 Januari 2010 besok.

3 responses to “[review film] Sherlock Holmes: Detektif Superhero

  1. orang bingung Januari 15, 2010 pukul 4:36 pm

    kalo saya bilang sih ending film ini gampang ditebak. cara holmes nyingkapin kasusnya terlalu gampang, ga nunjukkin gimana holmes yang jenius itu.
    terus lu bilang holmes pake topi? saya lupa, di cerita yang mana holmes disebutin sama conan doyle pake topi? kayaknya yang namanya topi tuh cuma dipajang di cover tiap novelnya aja deh,

  2. Yasir Alkaf Januari 17, 2010 pukul 11:07 am

    orang bingung :
    kalo saya bilang sih ending film ini gampang ditebak. cara holmes nyingkapin kasusnya terlalu gampang, ga nunjukkin gimana holmes yang jenius itu.
    terus lu bilang holmes pake topi? saya lupa, di cerita yang mana holmes disebutin sama conan doyle pake topi? kayaknya yang namanya topi tuh cuma dipajang di cover tiap novelnya aja deh,

    iya si mas, tpi namnya juga film.. beda sama novel. klo novel kan deskripsinya dg kata2 jadi kmampuan olmes sgt kelihatan, tpi klo film kan harus dibagi juga sama visul.. 😀

    klo yg topi, imaji yg terbangun di kepala saya disamping dari cerita juga dari cover makanya di bayangan saya holmes itu bertopi kaya pelukis sprti itu 😀

  3. Pingback: [Info] Pemenang 67th Golden Globe Awards 2010 « Yasir Alkaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: