Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Untuk Ayah: Sebuah Testimoni Ulang Tahun

BERHUBUNG gara-gara Antasari Azhar kata testimony jadi lumayan terdengar lagi saya jadi ingin membuat testimony juga. Bukan testiomni tentang dugaan suap di kampus saya akan tetapi sebuah testimony tentang ulang tahun ayah saya. Jadi ceritanya 10 November yang lalu ayah saya berulang tahun untuk yang kesekiankalinya. Sebenarnya tanggal lahir aslinya bukan hari itu, tetapi tanggal 25 Oktober. Karena satu dan lain hal yang tercatat ya yang tanggal 10 November itu. Biar keluargakami saja yang tahu penyebabnya. 😀

Err saya ingin sedikit bercerita tentang ayah saya. Ayah saya itu, tak usahlah saya sebutkan namanya, lahir dan tumbuh di keluarga besar di sebuah desa di Kebumen. Ayah saya adalah anak terakhir dari 12 bersaudara. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya jika mereka semua berkumpul, dijamin penuh sesak. Untungnya walauppun lahir dari keluarga besar ternyata setelah bekeluarga ayah memutuskan tidak banyak-banyak mempunyai anak. Dua anak cukup yaitu saya sebagai anak pertama beserta satu orang adik perempuan. Alasan kenapa Ayah hanya membentuk keluarga kecil silahkan tanya langsung kepada beliau karena saya sendiri juga kurang paham.

Tentang pekerjaan saya sangat bangga pada pekerjaan beliau karena pekerjaan yang beliau tekuni menuntut sebuah tanggung jawab yang sangat besar dan konon rawan ‘dosa’. Ayah saya adalah seorang Hakim, dan sejak tahun 2005 akhir bahkan naik jabatan jadi Hakim Tinggi. Memang sih ayah saya bukan hakim biasa namun hakim agama alias hakim di Pengadilan [Tinggi] Agama, bukan bukan Pengadilan [Tinggi] Negeri yang mengurusi perkara pidana umum. Namun yang namanya hakim ya tetap hakim, mereka harus bisa memutus masalah dengan adil tanpa berpihak ke salah satu pihak. Padahal seperti yang kita tahu institusi hukum di Indonesia kan lagi parah-parahnya saat ini.

Dan setahu saya ayah saya termasuk bersih tidak seperti aparat hukum yang lain. Saya sendiri pernah menyaksikan ada seseorang yang hendak berperkara datang ke rumah. Mau semacam ‘konsultasi’ gitu, tapi oleh ayah saya ditolak. Disuruh datang ke pengadilan saja orang itu oleh Ayah. Selain itu, memperbincangkan sebuah kasus di telpon kepada seseorang entah siapa setahu saya juga tidak pernah. Tidak seperti aparat-kejaksaan-entah-siapa-itu yang terekam berbicara dengan Anggodo the-Indonesian-public-enemy-number-one.

Ayah saya itu orangnya sederhana. Kesederhanaan itu bisa dilihat dari sikapnya. Sampai sekarang ketika sudah menjadi Hakim Tinggi beliau masih suka berangkat ke kantor naik motor. Ada sih mobil di rumah tetapi jarang beliau pakai. Bahkan ketika belum lama ini beliau diangkat jadi Hakim Tinggi di Jogja ia memilih ngekos di dekat kantor dengan pertimbangan bisa berangkat ke kantor jalan kaki. Kos-kosan itu ya kosan biasa, ukurannya kurang lebih sama dengan kamar kosan saya. Malah dibanding dengan kosan kawan saya masih bagusan kos kawan saya karena kosana kawan saya mirip hotel dengan kamar mandi di dalam sementara kosan ayah kamar mandinya di luar.

Ayah saya itu di satu sisi bisa menjadi pribadi yang disegani tapi bisa akrab dengan yang lain yang mungkin secara jabatan mungkin di bawah beliau. Di lingkungan kampung ayah termasuk orang yang disegani. Hampir tidak ada yang berani menentang pendapat beliau. Kesannya beliau itu orang yang sangar. Padahal kalau sudah kenal orang akn tahu banwa dibalik sikap sangarnya itu ayah termasuk orang yang mudah bergaul dan cenderung sangat gampang bercanda. Ayah mudah bergaul bahkan dengan siapa saja. Saya masih ingat dulu saat pertama pindah ke Banten dan belum punya tempat tinggal ayah lebih memilih nginap di kantor dulu. Dan di sana ia tidur satu ruangan dengan OB kantor. Tak ada gengsi sama sekali seorang hakim nginap di kantor bareng OB. Bagi ayah tidak masalah dan justru malah bisa mengakrabkan dengan karyawan yang lain. Dan keakraban itu tetap tidak mengurangi rasa segan [atau lebih tepatnya hormat] terhadap beliau.

Ayah saya juga pandai bercanda. Ada saja bahan candaan yang bisa ia dapat. Teman-teman kantor pasti tahu itu dan sedikit banyak bakat itu menurun ke anak-anaknya. Kalau pas lagi kumpul di rumah kami bertiga yaitu saya ayah dan adik hampir pasti sering tertawa tukar menukar candaan nggak jelas. Kalau dalam kondisi begini yang kadang kasihan ibu, karena beliau kadang kurang konek dengan kita yang hobi bercanda ini. Hahaha..

Ayah saya itu termasuk agamis tapi berpikiran terbuka. Keagamisan [sebenarnya kata ini tdk ada, tdk ada akhiran –isan dalam struktur bahasa Indonesia] itu tidak ditunjukan seperti orang-orang yang bercelana cungklang dan berjenggot serta istri bercadar tapi tampil seperti orang Indonesia kebanyakan. Dari saya pribadi saya dididik ayah kenal agama dari kecil. Sampai ketika akhirnya lulus SMA saya mempunyai jadwal ngaji rutin kepada beliau tiap sore habis maghrib dan pagi habis subuh. Ngajinya bukan baca Quran lagi karena kalau saya tidak salah ingat awal SMP ayah menganggap saya sudah bisa baca Quran dengan tajwid yang benar jadi bisa mengingkat ke kitab fiqh. Terakhir kitab yang saya pelajari dari ayah adalah kitab al Ibriz, salah satu kitab tafsir, sampai juz 12an. Namun karena lulus SMA dan saya kuliah di Jogja dan kebetulan ayah juga dimutasi ke Banten jadi kegiatan mengaji terpaksa berhenti.

Meski dulu kadang ogah-ogahan tapi manfaatnya terasa, minimal saya bisa membaca Arab pegon selancar membaca tulisan latin dan ilmu agama sedikit banyak juga ada bekal. Di kampus ayah juga membiarkan saya bergaul dengan golongan agama manapun. Catatan beliau yang penting jangan merubah identitas islam yang saya pakai sekarang. Perumpamannya boleh belajar apapun yang penting salat subuh saya harus tetap pakai qunut. Hahaha..

Ayah saya juga termasuk orang yang demokratis. Pilihan saya masuk kuliah di Infotmatika UII adalah murni pilihan saya sendiri, meskipun sebenarnya sepertinya ayah pengin saya meneruskan jejak karier beliau. :D. Ketika saya meminta izin untuk mencoba double degree ayah saya juga mengizinkan asalkan bisa membagi waktu antara kampus yang satu dengan kampus yang lain.

Ayah saya juga orang yang suka berorganisasi. Ayah saya dulu tercatat jadi pengurus salah satu ormas. Saat kuliah juga aktif di organisasi baik intra maupun ekstra. Ada untungnya dengan kegemaran ayah berorganisasi itu bagi saya. Jadinya ketika saya memilih untuk pengin aktif berorganisasi juga untuk mendapat izin dari ayah sama sekali tidak ada masalah. Lagi –lagi asalkan saya bisa membagi waktu, apalagi mengingat saya double degree itu.. Ketika beberapa orang tua melarang anaknya berorganisasi, ayah saya justru mendukung. Manfaatnya akan terasa kelak ketika sudah lulus katanya.

Sudah cukup panjang sepertinya. Kurang lebih itulah ayah saya. Meskipun telat beberapa hari saya ucapkan selamat ulang tahun buat ayah. Semoga mutasinya ke Jogja belum lama ini menjadi mutasi yang terakhir. Biar lebih dekat dan kumpul dengan keluarga. Biar saya saja yang gantian berkelana ke mana-mana. Kalau dulu ayah berkelana bertahun-tahun ke Kalimantan jadi kalau besok saya juga mau pergi ke luar jawa juga atau bahkan ke luar negeri ya seharusnya jangan dilarang. Kan like father like son. Hahaha..

2 responses to “Untuk Ayah: Sebuah Testimoni Ulang Tahun

  1. bay November 12, 2009 pukul 12:43 pm

    kirain judulnya ayah saya, soalnya kebanyakan awal paragrafnya “ayah saya”

  2. Pingback: Review 2009 dan Resolusi 2010 « Yasir Alkaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: