Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

People’s Power di Facebook

DALAM prinsip demokrasi ada yang namanya trias politika, yaitu pembagian kekuasaan didalam sebuah pemerintahan untuk mencapai sebuah kestabilan Negara. Ketiga unsur tersebut adalah Legislatif selaku pembuat UU, Eksekutif selaku pelaksana UU dan Yudikatif sebagai pengawas pelaksanaan UU. Konsep yang dibangun Montesquieu itu sebenarnya sangat bagus. Legislatif sebagai perwakilan rakyat membuat UU yang mana UU itu hakikatnya adalah kemauan rakyat. Kemudian untuk melaksanakan kemauan rakyat itu dibutuhkan sebuah panitia agar kemauan rakyat itu bisa berjalan. Fungsi itulah yang yang dijalankan eksekutif atau yang biasa kita sebut pemerintah [meskipun penamaan pemerintah itu tidak terlalu tepat karena berkesan yang memerintah, padahal pemerintah itu sebenarnya pelayan rakyat -red]. Untuk mengawasi apabila pelaksanaan kemauan rakyat dibentuklah yudikatif. Jadi dengan demikian sesuai prinsip demokrasi dimana vox populi vox dei [suara rakyat adalah suara Tuhan] maka rakyat benar-benar dimanja dengan triaspolitika ini.

Namun yang namanya konsep dalam pelaksanaanya kadang [bahkan cenderung sering] tidak sesuai kenyataan, apalagi di Indonesia negeri tercinta ini. Legislatif yang seharusnya membuat UU yang pro-rakyat malah membuat UU yang berpihak pada golongan tertentu saja. Ekskutif yang menjalankan UU sebagai pelayan rakyat malah kadang bersikap semau sendiri seolah lupa kalo dia itu pelayan. Contoh paling sederhana ya ribetnya kita membuat KTP yang membuat seolah lurah dan camat jadi orang yang sangat penting. Terakhir yudikatif sebagai pengawas juga setali tiga uang dengan eksekutif dan legislatif dengan cenderung hanya melaksanakan pengawasan formal saja.

Dalam kebuntuan itu muncullan kekuatan alternatif yang biasa disebut sebagai pilar demokrasi keempat bernama pers. Pers sebagai kekuatan independen diluar sistem melalui kekuatan media penerbitannya menjadi sebuah kontrol sosial bahkan bagi ketiga pilar demokrasi utama yang lain. Melalui pers masyarakat jadi tahu kebobrokan pemerintah dan bisa menjadi alat untuk mendorong rakyat sebagai penguasa sebenarnya untuk bertindak. People’s power bisa terjadi dengan bantuan pers. Entah itu nantinya rakyat akan bersatu menurunkan penguasa, seperti saat Soeharto diturunkan, atau alternatif lainnya.

Namun sayang terkadang pers juga tidak full menjalankan perannya itu. Rakyat tidak serta merta dapat terlibat aktif disitu. Rakyat hanya diberi tahu dan diberi tahu. Ya kalau informasi benar, kalau salah? Rakyat malah hanya diadudomba saja. Pers kadang kurang memperhatikan suara arus bawah. Pers cenderung melihat ke atas bukan ke bawah. Headline utamanya selalu yang dikutip adalah para tokoh-tokoh. Lantas kapan rakyat bisa mempunyai akses langsung berbicara ke media.

Disinilah teknologi informasi [TI] berperan. Dengan TI rakyat benar-benar menjadi penguasa. Dengan bantuan TI rakyat tanpa melalui perwakilan orang bisa bersuara. Inilah yang bernama people power. TI yang mungkin digunakan adalah blog. Di blog mereka bebas mengutarakan pendapatnya. Hanya saja sayangnya berjuang lewat blog cenderung perjuangan sporadis. Ibarat berjualan, menulis di blog seperti berjualan di warung pinggiran jalan. Penjual harus berjuang keras agar ada pembeli yang masuk. Beruntung sekarang ada yang namanya facebook. Facebook ibarat mal atau swalayan. Pasanag idea tau gagasan dan pengguna lain langsung tahu dan bisa mendukung. Contoh popular tentu 1.000.000 facebooker dukung Chandra-Bibit. Member grup benar-benar mencapai sejuta dan sebagian benar-benar turun ke jalan hari Minggu [08/10/09] di Jakarta.

Melalui grup ini pers yang mungkin kurang peka suara bawah jadi tahu bahwa rakyat juga bergerak dan ‘memaksa’ mereka untuk meliput. Eksesnya sangat terasa. Pers sebagai pelaksana kontrol sosial dan facebooker sebagai suara rakyat atas nama pribadi menjadi sebuah kolaborasi luar biasa yang bahkan sampai akhirnya berhasil membangun opini positif atas ketidakberesan kasus Bibit Chandra ini. Dan akhrinya mereka berduapun sementara bisa bebas untuk menjalani proses hukum yang jauh lebih benar. Kalau dikatakan rakyat mengintervensi ya memang mengintervensi, tetapi itu bukan kesalahan karena rakyatlah penguasa sebenarnya dari sebuah Negara.

Kasus lain dimana rakyat turun langung dengan bantuan TI yang cukup fenomenal tentu saja kasus Prita Mulyasari. Dengan desakan rakyat melalui media TI internet Prita sekarang bisa bebas.

Dengan demikian tak salah ketika akhrinya, mengutip pernyatan Zulkifli senior LPM Profesi, bahwa facebooker menjadi pilar demokrasi kelima. Facebook menjadi saran bagi rakyat untuk mengemukakan pendapatnya secara langsung tanpa diwakili legislatif yang makin tidak beres sekaligus menjadi sarana untuk bergerak bersama. People’s Power terjadi di facebook.

-Jogjakarta, 8 November 2009-

2 responses to “People’s Power di Facebook

  1. pinterpol November 8, 2009 pukul 2:31 pm

    kali ini saya sepakat dg Gus Dur, banyak lembaga makin ribut. kata bu sirikit syah “media dibawah kapitalis”, ngikutin rating. fenomena fecebooker sebagaimana yang diprediksi kang onno purbo, jarak rakyat dan penguasa semakin dekat.

  2. bay November 9, 2009 pukul 5:14 am

    kenapa harus facebook?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: