Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Merah Putih: Film Perjuangan Pembangkit Nasionalisme??

BANYAK cara yang dilakukan para sineas kita untuk membangkitkan rasa nasionalisme kia sebagai rakyat Indonesia. Ifa Isfansyah sudah melakukan hal itu lewat Garuda di Dadaku dan dilanjutkan Ari Sihasale lewat King. Kedua film itu seragam menggugah rasa nasionalisme penonton melalui sentuhan olahraga, sebuah media yang walaupun kadang bisa memancing kerusuhan tapi juga sangat efektif untuk menggugah rasa persatuan dan nasionalisme. Kalau Garuda di Dadaku menggunakan sepakbola maka King menggunakan bulutangkis, olahraga yang cukup sering mengharumkan nama Indonesia, untuk menggugah nasionalisme itu.

Belum lama ini, lebih tepatnya 13 Agustus 2009, bioskop Indonesia kembali diramaikan dengan film nasionalis seperti itu. Bahkan kali ini tema itu dihadirkan dengan jauh lebih eksplisit yaitu peperangan pasca kolonialisme Belanda. Merah Putih judul film itu. Disutradarai oleh Yadi Sugandi dan diproduseri Hasjim Djojohadikusumo [kakak kandung Prabowo Subiyanto] film ini mengambil seting di Jawa Tengah tahun 1947 ketika Sekutu yang diboncengi Belanda hendak menguasai kembali Indonesia yang baru saja memproklamirkan kemerdekaannya.

Cerita di film ini berkisar tentang sekumpulan pemuda lintas suku dan agama yang bergabung dengan Tentara Kemanan Rakyat dengan alasannya masing-masing. Ada Thomas [diperankan Doni Alamsyah] pemuda Kristen asal Sulawesi yang seluruh keluarganya dibantai Belanda di depan matanya yang akhirnya membuat ia begitu ingin membalas dendam pada Belanda, Amir [Lukman Sardi] guru sekolah yang Islam taat tapi cukup pluralis, Dayan [T. Rifnu Wikana] pemuda Bali Hindu yang pendiam serta Surono [Zumi Zola] dan Marius [Darius Sinathrya] dua sahabat dari kalangan berada ibukota. Karakter dan latar belakang itu bergabung bersama di akademi Tentara Rakyat yang dipersiapkan untuk menghadapi agresi Belanda.

Perbedaan karakter itu sempat membuat suasana kurang harmonis. Thomas misalnya saat akan masuk akademi sempat dipersulit karena agamanya. Setelahnya ketika bergabung di akademi ia pun kurang rukun dengan Marius yang selalu mengungkit-ngungkit kasta yang berbeda diantara keduanya. Surono dan Amir-lah yang berperan menengahi perselisihan diantara mereka. Tak salah jika akhirnya Surono diangkat menjadi Letnan Satu dan Amir menjadi Letnan Dua. Kepemimpinan dan kekompakan tim benar-benar diuji ketika Belanda tiba-tiba menyerang akademi dan menewaskan Kapten Teguh dan Surono. Kelompok tentara yang hanya tersisa 4 orang itu harus mencegat iring-iringan tentara Belanda yang berusaha memecah Jawa.

Secara ide sebenarnya film ini cukup menarik dan unik. Namun ketika saya masuk ke teater untuk menyaksikan film ini banyak ketidakpuasan yang saya alami. Pertama yang saya kira cukup esensial, sutradara kurang bisa menggambarkan suasana tahun 40an. Memang gaya berpakaian karakter-karakternya cukup sesuai namun latar tempat saya kurang merasakannya. Berbeda dengan Public Enemies yang saya kira cukup berhasilkan menampilkan suasana Amerika tahun 1930an. Saya masih merasakan film Merah Putih ini seperti di desa-desa biasa yang terikat tahun. Sutradara semsetinya lebih paham bagaimana caranya untuk membuat suasana tahun 1940an.

Kedua akting pemain juga kurang maksimal ditambah dialog yang juga cukup kaku. Mungkin karena film Indonesia jarang mengetengahkan cerita perjuangan dan peperangan sehingga acting pemainnya jadi terasa agak kaku. Padahal banyak nama beken di situ. Hanya Doni Alamsyah yang saya kira cukup bagus memainkan perannya.

Terakhir ekspektasi yang tidak sesuai dengan kenyataan. Film ini begitu gembar-gembor menghabiskan dana sekian milyar dan merekrut tim special efek yang pernah menggarap film-film box-office Hollywood. Namun ternyata efek-efek yang ditimbulkan tidak terlalu mengesankan. Entah karena tim promosi terlalu naïf atau apa saya kurang paham. Yang jelas film-film Hollywood tidak hanya mengandalkan special efek di lapangan tapi juga menggunakan tenaga computer grafis. Hal ini-lah yang mungkin tidak terlalu diperhatikan produser Merah Putih sehingga tenaga tim teknis Hollywood tadi terkesan sia-sia.

Satu lagi yang saya kira cukup mengganggu, film ini terlalu pede akan dibuat sekuel menjadi sebuah trilogi. Trilogi ini akan diteruskan dan akan launching tiap tahun di bulan Agustus. Cukup aneh saya kira karena kebanyakan film yang dibuat sekuelnya tidak digembor-gombarkan dulu kecuali fim-film yang diangkat dari novel. Pirates of the Caribbean atau Spiderman misalnya, mereka tidak digembor-gemborkan akan dibuat sekuelnya. Kesusksesan di film perdananyalah yang membuat akhirnya film-film tersebut dibuat sekuelnya. Nah Merah Putih ini kan belum tentu sukses namun sudah berani dikatakan akan digarap sekuelnya. Pernyataan dini akan dibuat sekuel inilah yang membuat cerita film menjadi sangat nanggung dan sederhana. Konflik kurang tergali karena film ini hanya semacam pengantar buat sekuel selanjutnya

Dan dari animo penonton yang menyaksikan film ini saya agak ragu kalau film ini disebut sukses. Saya menyaksikan film ini Jum’at 14 Agustus 2009 dan cukup banyak kursi yang masih kosong. Bahkan saya melihat beberapa penonton meninggalkan teater sebelum film selesai, berbeda dengan Garuda di Dadaku yang antrian tiketnya mengular dan penonton juga memberikan tepuk tangan di akhir film. Padahal secara tema nasionalisme Merah Putih-lah yang harusnya lebih unggul. Namun apapun bentuknya karya ini patut diapresiasi dan patut untuk disaksikan bagi para penikmat film yang bosan dengan tema film Indonesia yang itu-itu saja.

Nb:

Official website: http://www.merahputihthefilm.com/

Review dari 21cineplex: http://www.21cineplex.com/merah-putih,2124.htm

10 responses to “Merah Putih: Film Perjuangan Pembangkit Nasionalisme??

  1. Agus Suhanto Agustus 17, 2009 pukul 5:02 pm

    hai, saya Agus Suhanto, posting yang menarik🙂
    lam kenal yee

  2. gilangdewantara Agustus 17, 2009 pukul 6:49 pm

    wah, pak PU gemar nonton juga ternyata..!!!!

  3. Yasir Alkaf Agustus 17, 2009 pukul 7:09 pm

    ::Gilang
    hahahaha
    belum tau dia
    biar nonton jga lebih bermanfaat makanya ak bikin reviewnya
    jadi ga sekedar nonton habis itu ya udah

  4. zairiz Agustus 18, 2009 pukul 8:37 am

    wew…refrensi yang bagus….

  5. guskar Agustus 19, 2009 pukul 12:22 pm

    produser MP mmg sangat pede ya untuk bikin sekuelnya.. di beberapa resendi film yg saya baca film ini kurang menggigit.. lha, klo film pertama nggak booming masak mau buat sekuelnya ya?🙂
    bisa jd tujuan pembuatan film ini nggak melulu berdasar dari segi komersial, tp lbh banyak misi sosialnya…😉

  6. brightenUpUrday Agustus 26, 2009 pukul 3:26 am

    niyh film ide nya bagus tapi apa ya.. ga ‘ngegigit’ gt..
    hambar aja sepanjang film dan iya banget acting pemain n dialognya kaku
    padahal xpektasi ku dah gede banget karna kukira film ini qren abiz
    eh tawnya bgitu
    palagi pas perang di hutan ntu, kliatan banget boong nya
    padahal konsepnya kan mirip ma Band of Brothers
    bedanya mreka perang di hutan pinus di musim dingin n qta di hutan bambu
    tapi hasilnya JAUH BANGET!!
    yah pokoknya kecewa lah!!

  7. luminous25 September 6, 2009 pukul 4:30 am

    Lumayan utk pemicu,.. mudah-mudahan berikut akan bertaburan film pembangkit nasionalisme yg lebih kuueerreeennn…. daripada fila kuntilanak yg di bikin wuiiiiih serem …..🙂

  8. Bem November 10, 2010 pukul 11:56 pm

    Revwnya keren…:-)

  9. Jeff Guerrette Mei 4, 2011 pukul 8:17 pm

    Pleasantly, the posting is really the recent area of interest for this registry associated issue. I harmonize together with your conclusions and will eagerly sit up for your incoming updates. Simply say provides thanks will not enough, on your lucidity in your posting. I’ll immediately seize your rss feed to maintain abreast of all updates.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: