Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Public Enemies: Klasik tapi Asyik

JOHNY Depp menjadi alasan utama saya ingin menonton film ini. Sejak dia membintangi Pirates of the Caribbean saya jadi suka dengan akor yang satu ini. Permainan wataknya sangat bagus dan apalagi setelahnya ketika membintangi Charlie and the Chocolate Factory karakter Jack Sparrow bisa benar-benar hilang total sampai saya hamper tidak mengenail kalau itu adalah Johny Depp saya semakin kagum saja dengan Johny Depp. Itulah mengapa saya ingin menonon Public Enemies, film selanjutnya dari Johny Depp. Namun karena tayang di hampir akhir bulan saya harus benar-benar memperimbangkan kondisi keuangan sebelum akhirnya meyakinkan diri untuk menyaksikan film ini Rabu [29/07/2009] kemarin.

Dan ternyata tak salah saya menonton film ini. Komentar saya setelah menyaksikan film ini cuma satu kata: beda. Ya film ini beda dengan film kebanyakan. Dibandingkan dengan Transformer 2 yang fully sophisticated [jiah, sok nginggris] atau Harry Potter yang walaupun menggunakan sihir tapi tak kalah canggih film ini bisa dibilang minim special efek. Tapi justru itu serunya, kita benar-benar dibawa ke era tahun 1930an diman persenjataan belum scanggih sekarang [untungnya 1930 sudah ada machine gun 😀] sehngga kalaupun ada pertempuran jadi erkesan seadanya.

Cerita di film ini berkisar tentang John Dillinger [Johny Depp] seorang perampok bank yang oleh pemerintah Amerika dianggap sebagai Public Enemies Number 1. Cerita selanjutnya berkisar tentang kehidupan Dillinger dan Melvin Purvis [Christian Bale], agen FBI yang mengejar Dillinger. Plot selengkapnya baca di sini atau di sini.

Banyak adegan menarik di film ini. Karena teknologi masih sangat minim maka koordinasi antar agen untuk menjadi cukup ribet. Itulah mengapa Dillinger mungkin menjadi susah ditangkap. Suatu waktu ketika Purvis akan menyergap Dillinger di sebuah hotel dan membagi tugas kepada tim untuk berjaga di tempat-tempat tertentu, ternyata ketika terdengar suara tembakan segenap tim menuju ke lokasi tembakan. Tim menjadi tak terorganisir. Orang yang diduga Dillinger itu pun kabur dengan mudahnya.

Ada juga adegan dimana Dillinger masuk ke kantor polisi dan bahkan masuk ke unit kantor yang memburu dirinya. Dengan santainya ia melihat-lihat arsip dirinya dan kawan-kawannya. Tidak ada staff di situ yang curiga sama sekali. Dillinger bahkan juga sempat menanyakan skor olahraga [American football kalu tidak salah] kepada staff-staff di situ. Adegan yang cukup ironis, dimana pemburu penjahat tidak mengenal penjahat itu sendiri. Lagi-lagi itu karen mungkin teknologi yang masih minim sehingga wajah criminal nomor satu tidak tersosialisasikan di masyarakat dan kepolisian itu sendiri.

Ketika akhirnya Dillinger tertembak mati saat digrebek, kordinasi yang dilakukan juga cukup unik. Informan FBI yang akan nonton film bersama Dillinger memberi tahu FBI kalau ia memakai setelan rok warna merah sebagai penanda keberadaan dia dan Dillinger. Agen Melvin Purvis untuk mengkordinasi timnya juga menggunakan kode menyalakan cerutu sebagai tanda Dillinger sudah keluar dari bioskop. Semua itu karena teknologi masih minim jadi koordinasi harus dengan cara yang unik dan manual seperti itu.

Di akhir pemutaran film ini, ditulis kalau film ini diangkat dari buku. Yang tidak saya duga ternyata buku itu diangkat dari kisah nyata. Berawal dari wikiwalking untuk mengetahui sejarah FBI soalnya di film itu nama FBI tidak disebut tapi hanya disebut Bureau of Investigation jadi saya agak curiga kalau itu adalah asal-usul FBI akhirnya saya jadi tahu kalau film ini beserta karakter dan plotnya diangkat dari kisah nyata. John Dillinger, Mervin Purvis sang agen pemburu Dillinger, J.E. Hoover sang kepala Bureau of Investigation, atau bahkan Billie Frechette pacar Dillinger benar-benar tokoh nyata. Plot terbunuhnya Dilinger juga sama seperti aslinya. Kecurigaan awal tentang Bureau of Investigation-nya J.E. Hoover sebagai cikal bakal FBI ternyata juga benar setelah wikiwalking itu. John Dillinger ternyata menjadi salah satu actor terbentuknya FBI karena tindakan perampokannya yang lintas Negara bagian yang otomais merepotkan kepolisian local akhirnya membuat FBI terbentuk.

Jadi bonus dengan nonton film ini kita juga bisa sedikit belajar sejarah Amerika.

Nb: wajah Dillinger yang asli ada di insert gambar poster tulisan ini. Silahkan dibandingkan mirip atau tidak.

Iklan

3 responses to “Public Enemies: Klasik tapi Asyik

  1. Pingback: Merah Putih: Film Perjuangan Pembangkit Nasionalisme?? « Yasir Alkaf

  2. Pingback: Yasir Alkaf

  3. Pingback: Sherlock Holmes 2009.720p.BrRip.x264.YIFY | Vpet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: