Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Sedikit Komentar tentang Harry Potter and Half Blood Prince

harry-potter-and-the-half-blood-princeENTAH ekspektasi saya yang berlebihan terhadap film Harry Potter and Blood Prince ini mengingat jarak yang terlalu lama dengan film seri sebelumnya atau apa, saya merasa kurang puas dengan film ini. Novel yang aslinya luar biasa ini jadi Nampak biasa saja setelah difilmkan. Padahal di seri sebelumnya, Harry Potter and Order of the Phoenix, cukup memuaskan filmnya. Namun di seri yang ini saya kurang terpuaskan dengan film ini. Perasaan ini mungkin juga dialami penonton yang lain karena tidak ada penonton yang bertepuk tangan setelah film ini selesai seperti saat premiere Transformer dan Garuda di Dadaku kemarin. Padahal saya menonton Harry Potter ini di hari kedua tayang yang berarti kemungkinan besar penonton yang lain belum menonton film ini.

Saya merasa ketegangan yang saya rasakan saat menbaca novelnya tidak saya dapatkan di film ini. Endingnya tidak memuaskan. Hal ini juga diamini oleh kawan-kawan yang menonton bersama saya. Adegan pertempuran pasca terbunuhnya Dumbledore antara murid-murid Hogwarts dibantu Order Phoenix melawan Pelahap Maut yang berhasil menyusup ke Hogwarts tidak divisualkan di film ini. Padahal justru adegan inilah yang sepertinya paling ditunggu-tunggu oleh penggemar Harry Potter. Ekspektasi akan divisualkannya adegan pertempuran ini saya kira tidak berlebihan mengingat di seri sebelumnya, Harry Potter and the Order of Phoenix, adegan pertempuran di Kementrian Sihir digambarkan dengan begitu apik.

Tidak adanya pertempuran itu rasanya membuat seolah-olah Hogwarts tidak berdaya menghadapi musuh-musuhnya. Lantas apa gunanya para murid itu berlatih sihir. Selain itu apa gunanya juga Draco Malfoy menyelundupkan para Pelahap Maut ke Hogwars kalau pada kenyataannya mereka tidak bertempur. Sekedar memastikan Draco membunuh Dumbledore juga terlalu berlebihan karena seharusnya cukup menyelundupkan satu orang saja bukan empat orang seperti di film ini.

Pada akhirnya dengan ditiadakan adegan pertempuran itu membuat beberapa karaker menjadi sia-sia. Fenrir Greyback sang manusia serigala maupun Bellatrix Lestrange menjadi tidak tergali kekejaman karakternya. Begitu juga dengan Order Phoenix sebagai garda bentukan Dumbledore tidak tergali sisi heroic mereka. Dan yang tak kalah penting, kemampuan para murid Hogwarts seperti Luna Lovegood, Ginny Weasley dan yang lain menggunakan ilmu mereka jadi terkesan sia-sia.

Satu lagi yang saya kira juga mengecewakan. Dumbledore justru mempersilahkan Snape untuk membunuh dirinya. Padahal di novel Dumbledore memohon kepada Snape untuk tidak membunuhnya. Ketika oleh sang sutradara Dumbledore dibuat meminta Snape membunuh dirinya saya kira efek dramatis dari terbunuhnya Dumbledore hilang. Emosi Harry terhadap Snape justru menjadi tidak beralasan. Kalau Dumbledore tidak meminta Snape membunuh dirinya dan bahkan memohon untuk tidak membunuhnya Harry mempunyai alasan yang sangat kuat untuk semakin membenci Snape yang akan sangat terekspose di seri terakhir Harry Potter

Dua hal itu yang membuat saya kurang puas dari film ini. Harap diingat kurang puas bukan berarti tidak puas. Saya menduga adegan pertempuran itu sengaja dibuang karena film ini difokuskan pada cerita sebagai bekal di film selanjutnya. Adegan action mungkin ditahan untuk seri ketujuh Harry Potter yang konon akan dipecah menjadi dua episode. Hanya saja tetap disayangkan pembuangan adegan pertempuran itu.

Di sisi lain saya sangat suka dengan adegan laga Quiditch di film ini. Meskipun singkat dan kepemimpinan Harry Potter sebagai kapten tidak terlalu kentara namun laga menlawan Slytherin digambarkan dengan sangat bagus. Fokus diarahkan kepada Ronald Weasley sebagai kipper baru tim Gryfindor. Ruppert Grint sendiri cukup bagus mmerankan kipper itu. Cukup tampak mengesankan adegan penyelamatan-penyelamatan yang dia lakukan.

Di seri ke-6 ini juga untuk pertama kalinya opening score film tidak menggunakan komposisi music yang biasanya. Di seri-seri sebelumnya unuk opening selalu menggunakan scoring berjudul Another Story. Namun di film yang ini opening score, sekaligus closing-nya juga, yang digunakan adalah Fireworks-nya Nicholas Hooper yang di film Harry Potter and Half Blood Prince diputar saat si kembar Weasley mengacaukan ujian yang diawasi Umbridge, menebar kembang api ke mana-mana dan akhirnya pergi meninggalkan sekolah. Musik ini lebih rancak disbanding dengan music yang biasanya.

Masih banyak sebenarnya yang ingin saya komentari dari film ini seperti misalnya beberapa inkonsistensi dan kesalahan plot yang sempat terjadi. Namun daripada saya dikira menyebar spoiler lebih baik saya cukupkan saja di sini. Masih banyak yang belum dapat kesempatan menonton film ini karena antrian yang sangat panjang. Teman saya saja harus mengantri selama sekitar dua jam untuk mendapatkan tiket. Padahal hari itu hari jumat. Entah mereka sempa shalat jumat saya tidak tahu :D. Silahkan tonton saja langsung film ini untuk mengobati penasaran anda dan membuktikan apa yang sudah saya tulis sebelumnya.

15 responses to “Sedikit Komentar tentang Harry Potter and Half Blood Prince

  1. otniel Juli 19, 2009 pukul 1:21 pm

    hehm… sedikit komentar… saya juga udah melihat film ini.. dan memang sih yang perang itu lho kok ga ada.. padahal saya tunggu.. dan apa emang yah klo selese nonton bioskop ada orang tepuk tangan ?.. selama ini saya di surabaya nonton bioskop ga ada yang tepuk tangan wuakakakakak

    apa emang orangnya.. Hmm okhe katanya untuk film selanjutnya..
    dibikin 2 seri dan persis apa yang ada di buku.. jadi tak di tambai dan di kurangi.. mohon infonya thx be4

    my YM : otniel_oc@yahoo.co.id

  2. Yasir Alkaf Juli 19, 2009 pukul 8:09 pm

    Sebelum2nya saya juga tdk pernah menyaksikan orang2 pada tepuk tangan setelah film selesai. Hanya pada Transformer dan Garuda di Dadaku tepuk tangan itu saya jumpai. Dengan mereka sampai tepuk tangan berarti dua film itu kan cukup mengesankan penonton…

  3. vhiie Juli 21, 2009 pukul 10:24 am

    huh !
    bner bgt tuh , ni film mnrut gw bner” ngecewain . adegan yg ditunggu” malah ga seru , malah ga ada tuh adegan ereka tempur pas bellatrix dll msuk hogwrt .
    lain bgt kyk di novel ny ,
    prasaan byk crita ga pnting de dsana, kyk cuma perluasn crita aja.

    pokoknya bner” ngcewain deh !
    moga aja HP yg trakhir bkal sm kyk imajinasi kita waktu kita baca novelny 🙂

  4. bobubaca Juli 22, 2009 pukul 9:27 pm

    Saya suka lo sama potter ke-6 ini..suka justru karena detail2 kecil keseharian Harry ditampilkan, jadi sosoknya itu terasa hidup dan manusiawi.

    cuma, endingnya memang ga seseru yang di novel, flat banget. Gapapa, sejak HP 3 saya memang nganggep film-nya sebagai pelengkap buku, mbantu saya memvisualisasikan kisahnya. Kalo dbanding2in sama novel jadinya pasti kecewa terus lah…

    Btw, di novelnya Albus memang minta snape membunuhnya kok, kan Albus bilang ” please, snape please”
    “please” maksudnya memohon agar snape membunuhnya, cuma interprestasi Harry saat itu memang Albus memohon snape untuk tidak membunuhnya.

  5. Yasir Alkaf Juli 22, 2009 pukul 9:39 pm

    @bobubaca
    iyakah? klo bgitu seharusnya sutradara membuat kita berinterpretasi sbg Harry dong biar kita jga merasakan perasaan itu. Sayang hal itu ga dilakukan dan jadinya terkesan kurang dramatis..
    Saya juga suka koq sama seri fim ini mas, cuma saya kurang puas aja
    ^_^

  6. fridy Juli 27, 2009 pukul 6:04 pm

    (Btw, di novelnya Albus memang minta snape membunuhnya kok, kan Albus bilang ” please, snape please”
    “please” maksudnya memohon agar snape membunuhnya, cuma interprestasi Harry saat itu memang Albus memohon snape untuk tidak membunuhnya)

    iya, Dumbledore emang minta dibunuh…..jadi interpretasi mas kalo Dumbledore minta jangan dibunuh, kurang tepat.

  7. Pingback: Public Enemies: Klasik tapi Asyik « Yasir Alkaf

  8. Imad Agustus 2, 2009 pukul 10:47 pm

    Di film ini ada kesalahan terjemah. “Severus, please” harusnya jadi “Severus, tolong” bukan “Severus, silahkan”. Jadi, efek kejutannya harusnya terasa (sebelum buku 7 semua mengira Dumbledore meminta tolong), cuma salah terjemah.
    Pertarungan Hogwarts disimpan untuk film ke-7 (atau 8), supaya nggak terasa diulang, kata sutradaranya. Justru orang Barat lebih suka film ini daripada Order of the Phoenix karena sisi cerita, karakter, keseimbangan tema (komedi dan misteri), dan gerak kameranya lebih ditonjolkan. Harap diingat, Harry Potter bukan film action. Tak perlu mengharapkan adegan aksi yang bagus di seri ini (kecuali film 8, tentu).

  9. Aikawa September 5, 2009 pukul 5:32 am

    Ia emang bener efeknya ga kena

  10. MELLY ANGGRAENIE Februari 17, 2010 pukul 4:15 pm

    film harry potter yg ke-6 ni seru bangeds . Semua adegan – adegan.a bagus . Menurutku berbeda dari film harry potter yg laennya g2 . . . . .
    Film harry potter memang pnts bwt di acungin jempol . . . . .

  11. icha Oktober 21, 2010 pukul 1:52 pm

    filmx keren bgt……

  12. Yolanda Ditvidasari Desember 11, 2010 pukul 1:58 pm

    Dari Pertama Q dah Like B-A-N-G-E-T cerita , adegan,n tempatnya Keren Banget…! Huffff….! tapi Buku ke -6 ini Q suka lho…!!! [ meskipun ceritanya Khayal …! ]

  13. Yolanda Ditvidasari Desember 11, 2010 pukul 2:02 pm

    Dari Pertama Q dah LiKe Cerita Harry Potter …tapi ysng keenam Ini Zuper-duper Keren Lho…. Ya Bgslah Pantes dah di Acungin Jempol …Hufffff….!!! ^_^ i like it

  14. AULIA TEAKU Maret 7, 2011 pukul 4:54 pm

    I LUPH TOU HARRY POTTER
    WAIT ME IN LONDON. I AM COMING

  15. Lizzie Maret 3, 2013 pukul 1:21 am

    Rowling are now available in digital format. Toddlers have no
    sympathy for any living creature. It cannot be contested
    that Harry Potter has enthralled and enchanted millions all over the globe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: