Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Pelajaran dari Pemilihan Presiden 2009

125761

PILPRES 2009 sudah selesai dilaksanakan 8 Juli 2009 kemarin. KPU memang belum menetapkan hasil pemenang pilpres ini secara resmi. Kita masih harus menunggu sampai tanggal 25-27 Juli 2009 untuk mengetahui hasi resmi dari KPU. Namun meski belum ditetapkan, hampir semua lembaga survey sudah mempunyai jawaban atas pertanyaan siapa presiden Indonesia unuk lima tahun ke depan. Semua quick count menempatkan SBY Boediono sebagai pemeroleh suara tertinggi dengan presentase di aas 50%. Ditambah lagi pasangan iu juga unggul di hampir semua provinsi. Jadi syarat untuk menjadi pemenang pilpres satu putaran yaitu memperoleh suara nasional di atas 50 % dan mendapat suara di atas 20% di minimal 17 provinsi sudah dapat diperoleh oleh pasangan SBY Boediono ini.

Ada beberapa pelajaran menarik yang saia kira bisa kita lihat dari fenomena kemenangan SBY-Boediono dan kekalahan telak pasangan JK Wiranto. Perolehan suara Mega Prabowo yang ternyata di atas JK Wiranto juga bisa kita ambil pelajaran sekalian. Berikut pelajaran, in my humble opinion, yang bisa diambil dari Pilpres 2009:

1. Politik pencitraan sangat sukses

SBY berhasil memainkan politik pencitraannya dengan sangat baik. Mulai dari pengkarakteran beliau seorang yang santun, permainan survey sampai pengklaiman kesuksesan-kesuksesan. Mainkan itu dengan baik, jalan menuju istana akan jadi sangat mudah. Masalah ternyata keberhasilan itu semu atau bahkan palsu itu urusan nanti. SBY sukses mencirakan kesuksesan itu. Meskipun kesuksesan itu ketemu antitesa dan ternyat keberhasilan iu Cuma semu, rakyat sudah tidak memandang itu. Rakyat merasa yang penting SBY berhasil jadi dia saia pilih lagi.

2. Massa tradisional masih eksis

Megawati ternyata bisa menduduki posisi kedua di quick count dengan perolehan sekitar 27an %. Ini menunjukkan bahwa massa tradisional masih sanga eksis di Indonesia. Ada dua tokoh yang massa tradisionalnya sangat kuat yaitu Gus Dur dan Megawati. Megawati ini harus diakui yang tidak suka sangat banyak. Mahasiswa sepanjang pengetahuan saia paling malas kalau mendengar Megawati berkampanye apalagi nyontreng dia. Namun faktanya dia bisa dapat 27% suara. Dari mana suara itu berasal tentu bisa djawab dari massa tradisonal Megawati atau lebih tepatnya orang-orang yang mencintai Soekarno. Sosok Soekarno sangat diharapkan masih ada di Megawati ini.

Masalahnya dua calon yang lain tidak punya massa tradisional itu. SBY lebih beruntung karena dia incumbent dan sukses memainkan politik pencitrannya, namun JK? Dia dan juga pasangannya tidak punya massa tradisional itu sehingga harus benar-benar bekerja keras untuk mendapatkan massa. Dan usaha itu ternyata kurang berhasil. Jadi kalau kelak mau maju capres pertimbangkan massa tradisional itu. Kalau dirinya tidak punya, mungkin bisa disolusikan dengan mencari pasangan yang punya massa tradisional, disamping jangan lupa bermain pencitraan.

3. Santun lebih disukai

Ini juga berkaian dengan pencitraan terutama di pencitraan karakter seseorang. Ternyata karakter yang disukai rakyat Indonesia adalah karakter yang santun macam SBY. JK yang mencoba membangun karakter sebagai orang yang taktis, trengginas juga pandai berdebat masih kurang disukai rakyat. Memang elektabilitas JK meningkat sangat pesat, namun tetap saja masih kurang. Masyrakat awam kurang menyukai hal itu. Pilihan JK untuk rajin mendebat SBY di acara debat capres justru bagi orang kebanyakan malah semakin mantap untuk memilih SBY. Mereka berpikir SBY kasian diserang terus atau JK iseng banget sih dan sebagainya. Sikap SBY yang tetap santun dan kalem membuat dia juga semakin berhasil dan akhirnya sukses di quick count.

Jadi kalau pengin menunjukkan karakter, tunjukkan karkter sebagai orang santun dan tambahan juga teraniaya. Simpati rakyat akan lebih mudah diraih.

4. Segera klaim kesuksesan

bagi para incumbent Ini mungkin kesalahan JK. Dia tidak buru-buru mengklaim keberhasilan-keberhasilan yang ada selama ia memerintah bersama SBY. SBY keburu mengambil semua. Ketika JK berusaha mengklaim keberhasilan pemerintah seperti BLT, swasembada beras maupun perdamaian Aceh dia sudah sangat terlambat. Jadi kalau misalnya ingin nyapres dan saat ini menjadi bagian dari incumbent, entah wakil atau menteri, segera klaim keberhasilan itu. Jangan sampai diambil alih oleh bagian dari incumbent yang lain. Licik sih, tapi politik kan memang licik-licikan.

5. Komunikasi efektif sangat diperlukan

Oke jingle iklan SBY memang ‘njiplak dengan izin’ lagu Indomie tapi justru itu sangat efektif. Iklan itu justru gampang melekat di benak para penikmat televise. SBY juga memborbardir iklan di media lain dengan slogan yang simple yaitu ‘Lanjutkan’ diirngi keberhasilan-keberhasilan SBY. Komunikasi ini saia kira juga factor yang sangat penting. Konsep JK Wiranto yaitu ‘Lebih Cepat Lebih Baik’ sebenarnya juga bagus,namun implementasi di lapangan masih kurang jelas. Komunikasi maksud dari slogan itu di kalangan bawah sangat kurang. Ini yang saia kira kurang dari JK. Megawati juga demikian. Konsep pro rakyat mereka juga kurang jelas maksudnya. Penerapan Pro Rakyat itu bagaimana Megawati tidak mengkomunikasikan itu. Padahal Prabowo dengan Gerindra dulu 8 konsep perubahan Prabowo terpampang jelas,koq sekarang setelah duet dengan Megawati mereka seakan bergerak tanpa konsep atau mempunyai konsep tapi tidak dikomunikasikan dengan baik.

_____

Kurang lebih itu beberapa kesimpulan yang saia ambil dari penyelenggaraan Pilpres ini. Menurut saia dari 5 faktor itu SBY berhasil meraih 4 faktor. Hanya massa tradisional yang tidak dimiliki SBY. Namun SBY sudah mempunyai bekal lebih dari cukup sehingga massa tradisional tidak terlalu berpengaruh. Justru Megawati yang berbekal massa tradisionalnya ini yang berhasil merebut 27% suara. JK saia kira gagal meraih 5 faktor itu. JK gagal mencitrakan kesuksesan dirinya, klaim yang dilakukan atas keberhasilan pemerintah terlambat, tidak punya massa trdisional selain mungkin warga Bugis di Makassar saja, kurang mengkomunikasikan kampanyenya secara efekif dan lebih memilih trengginas daripada santun.

Dalam pandangan saia sebenarnya banyak yang tidak suka pada SBY tapi sayangnya calon yang lain tak ada yang meyakinkan. Saia pribadi misalnya, sangat enggan memilih SBY tapi calon yang lain juga kurang berhasil meyakinkan saia. JK dan wakilnya adalah warisan Orba dan masih menjabat ketua umum partai. Megawati reputasinya saat jadi presiden sudah sangat jelek, jadi buat apa saia pilih dia. Nah mungkin orang-orang yang mengalami dilemma seperti saia ini akhirnya kalau tidak golput dia akhirnya memilih SBY. SBY menjadi sebuah pilihan best in worse. Karena tidak ada calon lain yang meyakinkan ya sudahlah pilih SBY saja. Bedanya saia tidak memilih SBY namun memilih calon lain berdasarkan analisa semampu saia. Hitung-hitung belajar jadi pemilih rasional, bukan pemilih berdasarkan ketokohan dan iklan belaka.

Walaupun saia tidak memilih SBY dan calon saia kalah, saia sama sekali tidak kecewa. Keberhasilan memilih di pemilu ini tidak melulu karena calon yang dipilih menang. Keberhasilan memilih menurut saia bisa juga berhasil menemukan calon yang sesuai dengan aspirasi dan harapan dia, meskipun pada kenyataannya calon itu kalah. Saia menemukan calon itu dan sayangnya kalah. Sebagai bentuk sportifitas, saia ucapkan selamat buat SBY. Saran saia jadilah pemimpin yang benar-benar baik, jangan cuma tercitra baik saja.

5 responses to “Pelajaran dari Pemilihan Presiden 2009

  1. Indra Juli 9, 2009 pukul 11:04 am

    Ada satu lagi faktor turunnya suara JK-WIN.
    Motor penggerak dari partai golkar tidak sepenuhnya berjalan, terutama dari DPD. DPD yang telah kita ketahui mempunyai peranan yang sangat vital karena face2face dg masyarakat. Kenapa bs terjadi? banyak faktor, misalnya ada yg tidak setuju kalau JK jd presiden,pdhl dr partainya sendiri, dan faktor2 yg lain….
    yg pasti kali ini JK kalah telak…

  2. bay Juli 9, 2009 pukul 12:23 pm

    3.santun lebih disukai
    saya kira masalah santun adalah faktor kebanyakan orang indonesia yang sangat sinetronist, jadi dalam hal sinetron orang lebih suka dengan orang yang protagonis, yang baik-baik bukan yang antagonis, yang bertindak semena-mena…

    MUNGKIN, hal ini juga terjadi pada SBY, sby berperan sebagai orang protagonis, penuh kesantunan, sedangkan 2lawan politiknya selalu menyerang sby, baik dalam debat ataupun dalam berkampanye…

    jadi sebagian masyarakat indonesia KEMUNGKINAN melihat dari hal ini…

  3. ~noe~ Juli 10, 2009 pukul 1:27 pm

    kalo aku lebih menyoroti masalah ke depannya.
    selama pemerintahan sby, bisa dibilang tidak ada sesuatu hal yang menyebabkan rakyat ingin menggantinya. kalopun ada beberapa program yang tidak sesuai target, masyarakat bisa memahami karena pada masa pemerintahannya terjadi banyak bencana. pemerintah dipusingkan banyaknya bencana. dan itu seolah menjadi termaafkan.
    kondisi pemerintahan yang stabil ini membuat banyak orang ingin meneruskannya daripada melakukan perubahan. bolehlah calon lain punya program yang sangat bagus, tapi apakah itu menjamin terlaksananya program itu jika capres tsb terpilih.

  4. Yasir Alkaf Juli 12, 2009 pukul 6:20 pm

    :Indra
    tepat sekali, pdhl dulu yg minta JK jadi capres juga para DPD ya. eh malah ditinggal begitu saja

    :Bay
    yoha Bay. banyak nonton sinetron sih ya rakyat Indonesia

    :Noe
    itu dia mas. SBY berhasil mencitrakan dirinya sukses, jadi meskipun sukses itu semu rakyat ttp milih dia

  5. raditya angga Juli 14, 2009 pukul 2:57 pm

    klo politik pencitraan sih memang kayaknya memegang peranan yang besar dalam gerakan pak sby yang menempatkannya di posisi satu,

    terlihat sebagian masyaratak sedikit susah untuk menerima perdebtan sebagai salah satu jalur yang bisa membuka isi pikiran dari para capres,sedikit di senggol,malah banyak yang gag suka,sedikit menyerang malah disalahkan,sepertinya masyarakat terlalu terbiasa dengan cara2 kampanye yang bisa dibilang kuno,seperti berorasi2 di depan ribuan masa..

    ya memang kalau dibilang sby mempunyai kewibawaan yang bisa dibilang dapat mempengaruhi masyarakat,,tapi sby gag bakal baik jika tidak diimbangi dengan kroni2 nya yang baik juga nanti,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: