Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Kepanikan SBY dan Tim Suksesnya

MENJELANG Pemilihan Presiden 2009 makin lama makin kentara kepanikan SBY akan kemungkinan lawan-lawannya bisa menjegal dirinya. Kepanikan itu tidak hanya melanda SBY saja tapi juga kepada tim suksesnya. Antar tim sukses mengalami semcam ketidakkompakan. Beberapa kali tim suksesnya melakukan blunder yang justru sedikit banyak mempengaruhi para undecided voter maupun swing voter untuk tidak memilih dirinya. Tentu saja yang pemilihi yang terpengaruh itu adalah pemilih yang benar-benar memilih presiden berdasarkan analisa bukan karena fanatisme dia akan ketokohan seseorang belaka.

Demi menaikkan citra beliau menjelang Pilpres ini SBY menyewa jasa konsultan politik Fox Indonesia. Ketika banyak parpol yang sudah memberikan dukungan kepada beliau, partai-partai tersebut tidak dilibakan secara aktif di kampanyenya. Mereka hanya dijadikan semacam pajangan saja. Yang bergerak tetap saja tim Fox dengan turunannya itu. Namun tim Fox itu juga terliha semakin panic dan banyak melakukan blunder. Relawan pendukung SBY bahkan akhirnya sampai meminta tim itu dibubarkan saja. Oke langsung saja kita lihat kepanikan SBY dan tim suksesnya akhir-akhir ini:

SBY mengatakan tenang sihir-mensihir

Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba SBY mengatakan kalau di Pilpres ini banyak yang menggunakan sihir. Beliau menempatkan diri seolah-olah banyak yang mencoba menerapkan sihir padanya. Jelas ini adalah sebuah kesalahan yang sangat besar. Buat apa berbicara seperti itu? Mencari perhatian masyarakat seperti politik pencitraan yang biasa dilakukannya? Okelah yang namanya sihir itu memang ada tapi itu kan diluar konteks Pemilu. Akibat dari pernyataannya itu Permadi menjadi sangat heran pada SBY yang doktor tapi percaya sihir dan bahkan Ali Muchtar Ngabalin malah mengatakan SBY punya jimat.

Jusru dengan SBY mengatakan banyak sihir ber-sliwer-an malah bisa menjustifikasi pengikutinya untuk juga menggunakan sihir agar lawan-lawannya kalah. Logika pembalikan, menyuruh dengan berbuat seolah ia jadi korban. Inikan malah tidak bagus. Indonesia malah makin mundur saja. Seharusnya tidak perlu ada pernyataan seperti itu dari seorang SBY. Selain panic dan mulai menggunakan hal-hal irrasional apalagi namanya sikap SBY ini?

Tidak berdaya akan serangan JK tentang Pilpres satu putaran

Saat debat capres kemarin JK berindak cukup offensive. Baru ditahapan visi-misi dia sudah menyerang dengan mengecam iklan Pilpres satu putaran SBY. SBY menjawab serangan itu jusru di sesi-sesi berikutnya dengan mengatakan iklan itu bukan karya Tim Suksesnya. JK langsung menangkis lagi dan mengatakan iklan itu illegal. Bagi yang menonton acara debat itu pasti akan setuju kalau SBY nampak kelimpungan dan panic dengan cecaran pertanyaan tentang iklan itu. Dengan cerdas JK ‘memaksa’ SBY mengatakan iklan itu illegal meskipun SBY tidak mengakuinya secara langsung. Kalau SBY cerdas pasti bisa diotak-atik agar SBY tidak nampak tidak berdaya dengan pertanyaan JK. Akhirnya timnya yang kelimpungan menjawab pertanyaan itu dari para wartawan. Denny JA juga akhirnya memberikan pernyataan soal itu. Kalau bukan panic apa namanya sikap SBY saat dicecar JK itu?

SBY berani mengkritik hanya di depan massanya, tidak di depan capres lain

Ini juga yang saia kurang suka dari SBY. Beliau suka sekali mengesankan dirinya dikeroyok namun beliau hanya berani mengungkapkan hal itu di depan massanya. Resiko incumbent ya memang seperti itu. Entah mau ada dua atau banyak capres lawan pasti dia akan diserang karena mereka punya satu tujuan untuk mengganti posisi dia di kursi Presiden. Pasti SBY sudah sadar hal itu jadi sangat tidak patut kalau hal itu dipamer-pamerkan.

Penyebab gaya-gaya melankolis itu mungkin agar public menaruh simpati padanya seperti saat dia maju di Pilpres 2004 kemarin. Namun kondisi sekarang berbeda dengan dulu. Saat ini posisi SBY adalah posisi orang nomor 1 di Indonesia. Siapa yang bisa menzalimi SBY? Tidak ada. Justru SBY yang punya kuasa menzalimi orang lain. Nyatanya Pemilu kali ini banyak pihak yang protes karena ketidakberesan kerja KPU karena diduga di intervensi pemerintah.

Jusru kalau SBY tegar dan berani menjawab kritikan-kritikan dan balas mengkritisi capres lain bukan tidak mungkin justru SBY akan semakin mendapat perhatian masyarakat. Namun sikap itu tidak dipilih SBY. Beliau lebih suka bertindak konradiktif dengan bersikap ‘santun’ daripada ‘menyerang’ saat berhadapan dengan capres lain dan baru mengkritik setelah tidak berhadapan dengan capres lain. Buktinya SBY pernah mengatakan Lebih Cepat Lebih Baik itu takabur, difitnah kampanye gelaplah dan lain-lain hanya di depan pendukungnya. Kalau bukan tidak berani dan panic apa nama sikap SBY itu?

Andi Malarangeng terjebak ‘rasis’

Oke ‘rasis’ ini saia tulis dalam tanda petik karena memang harus diakui Andi tidak menyebutkan secara gamblang. Rasis itu adalah hasil tafsiran sebagian orang, namun tetap saja pernyataan Andi melecehkan suku tertentu. Kalau Andi menyerang JK secara langsung, bukannya mengatakan ‘orang bugis’ justru itu lebih tepat. Karena menyebutkan orang Bugis iulah maka banyak warga Makasar yang protes meskipun mereka bukan pendukung JK. Buktinya salah satu yang tidak terima dengan ucapan Andi Malarangeng adalah Forum Rektor Makassar. Forum Rektor tentu independen dan lepas dari dukungan pihak manapun

Yang namanya kampanye tentu mengunggulkan jagonya dan menjatuhkan jago lain. Jadi sangat wajar kalo misalnya Andi menyerang JK. Namun jelas yang harus diserang adalah JK dalam kapasitas visi misinya atau segala hal yang berkaian dengan kampanye-nya, bukan ke individu JK. Menyerang kepribadian seseorang atau ad hominem justru merupakan kebodohan yang sangat besar. Rizal Malarangeng pernah membuktikan itu saat menyerang pribadi Prabowo. Kalau bukan panic, apalagi namanya tindakan yang dilakukan Andi Malarangeng itu?

——————

Seharusnya SBY dan tim tidak perlu panic menghadapi Pilpres ini. Kalau mau jujur sebenarnya banyak yang masih menghendaki SBY sebagai Presiden Indonesia lagi. Namun tingkah polah SBY sendiri-lah yang justru membuat dukungan itu mengendur sedikit demi sedikit. Keegoisan SBY saat memilih Beodiono menjadi cawapres boleh dibilang sebagai titik awal berkurangnya dukungan itu. Apalagi ditambah makin congkaknya para tim sukses SBY dengan politik pencitraan SBY yang seolah sukses memajukan Indonesia. Survey SBY bakal memenangi Pilpres dengan suara 70% namun itu survey didanai Fox juga semakin menambah semakin kurang disukainya SBY. Saia pribadipun termasuk ke dalam golongan yang tidak suka itu. Saia cukup yakin Pilpres besok tidak satu putaran. Akan ada putaran kedua. Kalaupun kelak SBY yang menenangi Pilpres ada kemungkinan itu bukan karena pribadi SBY namun hanya karena calon yang lain belum meyakinkan saja.

-karikatur diambil dari inilah.com

5 responses to “Kepanikan SBY dan Tim Suksesnya

  1. romailprincipe Juli 5, 2009 pukul 12:18 am

    vagus amat karikaturnya..itulah indonesia ilmu hitam sangat kental..

  2. tforce2009 Juli 6, 2009 pukul 2:16 pm

    (^_^)v

  3. Wajib Juli 6, 2009 pukul 4:23 pm

    Whatever lah …..

  4. lendri Juli 6, 2009 pukul 9:44 pm

    setuju….

  5. ~noe~ Juli 7, 2009 pukul 11:47 am

    lamanya masa kampanye sedikit banyak mempengaruhi elektabilitas sby. terutama saat tim sukses dikeroyok dua sisi dari tim sukses capres lain.
    yang sering tampil di media adalah kejelekan sby dan tim suksesnya. entah memang begitu atau ini keberhasilan tim sukses capres lain, yang jelas pamor sby memang menurun jika membaca media massa terakhir ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: