Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Nasionalisme dalam Sepakbola [Garuda di Dadaku]

BAYU siswa SD berumur 12 tahun sangat menggilai sepakbola dan penggemar Liverpool. Cita-citanya adalah ia bisa masuk ke Timnas Indonesia U-13. Sayang keinginannya itu berbenturan dengan kehendak kakeknya yang sangat benci dengan sepakbola. Sepakbola yang telah membunuh ayah Bayu membuat sang kakek sangat melarang cucunya itu menyukai sepakbola juga. Lagipula jadi pemain sepakbola di Indonesia juga tidak bakal bisa menjadikan hidup sukses. Sang kakek lebih mengarahkan Bayu untuk lebih menggeluti lukis atau music daripada sepakbola.

Namun halangan itu tidak serta merta mengurangi kecintaan bayu terhadap sepakbola. Keinginan mengenakan seragam timnas dengan emblem Garuda di dada dan diiringi nyanyian ‘Garuda di Dadaku’ oleh para supporter menjadi sumber motivasi Bayu. Dibantu Heri, sahabat sekaligus manajernya, dia berjuang untuk menggapai cita-citanya itu meskipun sampai harus membohongi kakek tersayangnya.

Kurang lebih secara garis besar begitulah inti cerita dari film Garuda di Dadaku yang rilis 18 Juni 2009. Sambutan yang diterima film ini sungguh luar biasa. Tidak hanya anak-anak dengan keluarganya yang menonton film ini, namun banyak juga rombongan dan pasangan muda-mudi yang menyaksikan film ini. Saat saia antri beli tiket ini di depan saia ada pasangan muda-mudi. Tadinya saia kira mereka akan menonton Ketika Cinta Bertasbih yang rilis dalam jangka waktu yang berdekatan, ternyata mereka juga menyaksikan Garuda di Dadaku. Sungguh hal yang sangat mengejutkan. Dengan demikian Ifa Isfansyah, sang sutradara, berhasil mengundang semua kalangan untuk turut menyaksikan film ini.

Sepertinya formula tambahan bernama ‘nasionalisme’ yang menggerakkan banyak orang untuk menyaksikan film ini. Jujur ketika saia melihat iklan film ini di televisi dengan iringan music Netral, saia langsung bertekad untuk menyaksikan film ini. Dan saia sangat puas dengan racikan nasionalisme sang sutradara. Ada semacam rasa bergetar di dada ini ketika Bayu mengatakan kepada kepala pelatih SSI Arsenal alasan kenapa ia ingin bermain sepakbola. Perasaan yang sama juga timbul ketika Heri, yang secara fisik mengalami cacat, mengatakan keterbatasan pada dirinya membuat dia ingin begitu bersemangat mendukung Bayu mencapai timnas. Juga ketika Bayu dan Heri begitu kesulitan mencari lapangan untuk berlatih di Negara Indonesia yang luas ini. Dan puncaknya dada ini begitu bergetar ketika lagu Garuda di Dadaku dikumandangkan di tengah pertandingan Indonesia melawan Laos dengan Bayu sebagai kapten.

Meski demikian harus di akui ada beberapa plot aneh di film ini. Usman, sang kakek Bayu, mengatakan kalau sepakbola tidak akan membuat hidup sukses. Namun anehnya Usman justru mengarahkan cucunya untuk menggeluti music atau lukis. Padahal jaminan lewat lukis atau music untuk sukses juga sangat sulit. Kalau ingin mensukseskan anaknya seharusnya sang cucu diarahkan les computer atau ketrampilan aplikatif lainnya. Selain itu begitu sang kakek tahu kebohongan Bayu entah dapat info darimana tahu-tahu dia langsung menuju SSI Arsenal. Padahal tidak ada yang memberi tahu dia.

Terlepas dari plot aneh itu, saia kira Ifa Isfansyah sangat tepat dalam memilih para pemerannya. Emir Mahir, sang pemeran Bayu, terlihat benar-benar mahir mengolah bola. Juggling yang dilakukannya cukup sempurna untuk anak seusainya. Belum lagi adegan olah bola roulette ala Zidane juga cukup apik diperagakan dia. Juga Ikranagara yang sukses memerankan kakek yang di satu sisi sangat arogan, namun di sisi lain sangat sayang cucunya. Sangat wajar karena Ikranagara pernah mendapat actor terbaik di ajang Indonesian Movies Award. Ramzy juga sukses memerankan peran Bang Dullah secara sangat natural. Celetukan khasnya membuat dia seolah berimprovisasi dalam berdialog.

Faktor pendukung yang tak kalah penting adalah hadirnya Netral yang mengisi soundtrack dengan judul sama. Musik rancak setipe dengan Lintang, lagu yang juga diproduksi Netral untuk film Laskar Pelangi, sangat pas dengan nuansa sepakbola yang senantiasa mengandalkan semangat. Namun begitu masuk reff yang mengambil lagu Garuda di Dadaku yang biasa dinyanyikan para supporter sepakbola Indonesia Netral mengendurkan beat-nya dah hanya memainkan snare dram dengan irama ripple. Cukup tepat saia kira racikan musiknya.

Kesimpulannya, saia sangat merekomendasikan film ini. Meskipun tampak seperti film anak namun percayalah, film ini sangat cocok untuk ditonton semua umur. Bagi kaum muda, film ini bisa untuk meningkatkan semangat nasionalisme kebangsaan yang sudah mulai berkurang di dada kita. Seumur-umur saia menonton film di bioskop baru kali ini saia menyaksikan para penonton bertepuk angan di akhir film. Itu tentu membuktikan kualitas film ini. Ambarukmo Plaza tempat saia menyaksikan film ini bahkan sampai menayangkan film ini di dua studio mengalahkan Ketika Cinta Bertasbih yang hanya ditayangkan di satu studio saja. Silahkan buktikan sendiri dengan menyaksikan film ini di bioskop.

-Film Indonesia selanjutnya yang saia tunggu: KING

14 responses to “Nasionalisme dalam Sepakbola [Garuda di Dadaku]

  1. romailprincipe Juni 20, 2009 pukul 12:55 pm

    hmmm, Garuda di dadaku..ok dah..padahal mau nonton streetfighter..moga aja seru dan bener2 menginspirasi pesepakbola muda om..haha

  2. gurindang Juni 20, 2009 pukul 2:41 pm

    seppp…ntar nonton juga ahhh

  3. KIP! Juni 20, 2009 pukul 10:59 pm

    hohohoh,, manteb bener dah ni pilm..!! walo kemasannya anak2,, tapi pesan yang diberikan gak main2.. nasionalisme..!!

    setuju, mas.. selama pilm ini diputer,, banyak adegan yang bikin merinding.. terutama pas endingnya,, pas suporter pada ngibarin bendera merah putih,, trus backsound nya lagu Garuda di Dadaku… wew,,,

    oya,, aku dari dulu emang gak gitu suka Netral,, tapi racikan musik plus syair di lagu GDD ini bener2 manteb.. sekarang jadi lagu wajib di playlist-ku neh.. hoho,,

  4. bobubaca Juni 22, 2009 pukul 4:06 pm

    Mas, kakeknya bayu kan nge-les in musik sama lukis untuk menggali bakat bayu yang mungkin terpendam doang..

    Kalo yang ngasi tau si kakek, bukannya ayahnya zahra? bayu dan heri sering ngobrol di depan rumah, jadi wajar dong ayahnya zahra dengar

    ups banyak komentarnya:P
    salam kenal ya….
    sama ama orang yang merinding mendenagar garuda di dadaku.

  5. Yasir Alkaf Juni 23, 2009 pukul 1:40 am

    err, saia sih ingatnya musik ato lukis itu adalah jln yg benar buat sukses, tdk serta merta hanya menggali bakat. makanya si Bayu ttp maksa iku SSB bwt menunujkan bhwa sukses jga bsa d capai lewa sepak bola ^_^

    ttg tahu dr ayah Zahra, ya mungkin jga si mas. kan kakeknya nengok kuburan dulu yah…

  6. Pingback: Film ‘King’ Terpengaruh ‘Denias, Senandung di atas Awan’ « Yasir Alkaf

  7. Pingback: Sedikit Komentar tentang Harry Potter and Half Blood Prince « Yasir Alkaf

  8. sentolopimut Juli 28, 2009 pukul 6:57 am

    Plotnya ngak kelihatan aneh…justru bagus, olah raga yang sampai sekarang dan yang berkesan tidak memberikan hidup mapan adalah sepak bola, lain seperti bulutangkis, tenis, kalau musik atau lukis banyak sekali yang memiliki hidup mapan, Justru disini kehebatan sang screenplay, dia tidak membuat cerita yang latah…., selain untuk mengangkat kecintaan terhadap sepak bola nasional, musk dan lukis juga diangkat….,sepak bola, musik dan lukis tidak kalah dengan profesi lain seperti ahli komputer atau dokter, ada misi yang dimasukan…., kalau kita memeperhatkan detail dalam film ini.

  9. Pingback: Merah Putih: Film Perjuangan Pembangkit Nasionalisme?? « Yasir Alkaf

  10. paphie Oktober 30, 2009 pukul 2:04 pm

    boleh……boleh…..boleh…

  11. paphie Oktober 30, 2009 pukul 2:05 pm

    boleh……boleh…..boleh….

  12. Pingback: Tanah Air Beta, Film yang tidak Istimewa « Yasir Alkaf

  13. Pingback: Rumah Tanpa Jendela (2011) | Yasir Alkaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: