Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Nostalgia Gempa Jogja

HARI ini tiga tahun yang lalu mungkin meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi segenap warga Jogjakarta. Ya, tiga tahun lalu adalah hari ketika Jogja diguncang gempa 5,9 Skala Richter yang memakan korban mencapai 3098 jiwa. Peristiwa ini juga meninggalkan kesan yang mendalam bagi saia pribadi. Saat peristiwa itu terjadi kebetulan saia sedang berada di Purwokerto. Getaran gempa juga mencapai kampong halaman saia itu. Saia saat itu kebetulan sedang berada di rumah karena 3 hari sebelumnya [24/05/2009] saia mengikuti pelantikan ayah saia di Serang, Banten. Saat itu praktis tidak ada yang menyangka bahwa pusat gempa berada di laut. Semua mengira gempa itu akibat Gunung Merapi yang meletus.

Begitu gempa itu terjadi ayah saia langsung sibuk menerima telpon atau sms menanyakan kabar saia. Sanak saudara saia itu menanyakan kabar saia karena setahu mereka saia sedang kuliah di Jogja. Apalagi setelahnya ternyata mulai muncul berita yang menyatakan korban tewas cukup banyak. Ayah saia jelas santai menanggapi pertanyaan-pertanyaan saudara saia itu karena posisi saia saat itu sedang di Purwokerto.

Keesokan harinya [28/05/2006] saia meminta izin kepada ayah dan ibu saia untuk pulang ke Jogja. Sebagai orang yang tinggal dan menempuh studi di sana saia merasa tidak bisa berdiam diri saja di rumah sementara Jogja sedang ditimpa bencana. Pada awalnya mereka tidak setuju, mungkin karena khawatir. Namun setelah ‘memberi pengertian’ pada mereka akhirnya saia dizinkan pulang ke Jogja. Waktu itu kendaraan umum menuju Jogja cukup sulit diperoleh. Bis-bis banyak diarahkan ke luar Jogja bukan menuju Jogja. Namun setelah menunggu cukup lama akhirnya dapat juga bis itu.

Keesokan harinya, saia bersama beberapa kawan yaitu Indah, Titis, Tenny dan beberapa kawan lain yg sayangnya saia lupa namanya berangkat menuju RS Sardjito untuk menjadi relawan di sana. Kami saat itu berangkat kalau tidak salah bertujuh. Meskipun sudah banyak relawan di sana tapi relawan tambahan masih sangat dibutuhkan. Kondisi di Rumah Sakit cukup memprihatinkan karena banyak korban yang belum terurus dan ditidurkan di selasar rumah sakit. Tugas kami saat itu adalah menempatkan para korban di kamar-kamar sesuai tingkat keparahan luka. Dalam hati saia waktu itu saia berpikir, untung bencana ini gempa jadi luka luar tidak terlalu mengerikan. Kalau bencana itu kebakaran entah mental saia berani atau tidak melihat mereka para korban. Satu yang membuat saia cukup sebal adalah petugas parkir tetap meminta uang parkir pada kami. Ya, malam hari saat kami akan pulang ternyata kami masih ditarik parkir. Tega benar itu tukang parkir.

Hari berikutnya kami tidak ke Sardjito. Jumlah relawan di Sardjito berdasarkan kabar dari kawan yang sudah di sana sudah lebih dari cukup. Bantuan relawan professional yang terorganisir juga sudah banyak. Daripada malah bikin ribet akhirnya kami putuskan untuk tidak berangkat ke Sardjito. Kami mengalihkan tenaga kami untuk membantu salah satu dosen komunikasi UII kalo tidak salah dan sayangnya juga saia lupa namanya untuk membuat ransum bagi para korban. Ransum itu setelah siap didistribusikan ke beberapa Rumah Sakit.

Hari berikutnya lagi kami melakukan sesuatu yang berbeda. Bersama beberapa personil tambahan dari FTSP yang lagi-lagi saia sudah lupa namanya kami memutuskan untuk mencari dana. Dana itu nantinya akan kita belikan barang-barang untuk disalurkan langsung ke Bantul. Dengan menggunakan beberapa alat music perkusi [saia tidak tahu namanya] kami mengamen di premepatan condong catur. Empat sisi perempatan kami isi semua. Pokoknya waktu itu yang penting main music instrumental, tidak pakai lagu apapun. Seharian mengamen hasil yang kami peroleh cukup banyak. Saia lupa jumlahnya, yang saia ingat waktu itu yang jelas ada salah satu pengendara motor, masih muda pula, yang menyumbang Rp 50.000. Nominal sumbangan terbesar yang kita terima.

Hasil ngamen itu keesokan harinya kami belanjakan di pasar Pakem. Tidak semua uang itu kami pakai untuk membeli sembako. Sebagian kami pakai untuk membeli peralatan sehari-hari yang mungkin dibutuhkan seperti pembalut wanita, celana dalam dan popok bayi. Dana hasil ngamen itu full kami gunakan untuk membeli barang-barang bantuan. Tidak ada sepeser pun kami pakai untuk kepentingan pribadi kami seperti untuk beli minum atau sejenisnya. Hail belanja itu kami bagi tiga paket untuk tiga posko berbeda. Distribusi barang itu kami lakukan besoknya.

Saat mendistribusikan barang-barang itu kami jadi melihat langsung kondisi di lokasi bencana. Meskipun kami tidak sampai titik terjauh mendekati pantai, tapi kerusakan yang kami lihat sungguh sangat parah. Banyak anak yang meminta-minta uang dipinggir jalan dan ironisnya di sisi lain banyak pula orang-orang yang tampak seperti hanya melakukan wisata bencana.

Tanggapan dari korban yang kami sambangi cukup positif. Mereka sangat berterima kasih atas bantuan yang kami kirim. Bantuan berupa barang-barang pribadi dan sembako mentah justru yang sebenarnya mereka butuhkan. Sebelumnya mereka pernah dikirim nasi bungkus tapi ternyata sudah basi. Bahan makan mentah kan bisa dimasak sendiri. Barang pribadi seperti celana dalam dan pembalut wanita juga sangat bermanfaat karena sebelumnya belum ada bantuan itu.

Yah, peristiwa itu memang terjadi tiga tahun yang lalu namun kenangan itu masih terasa sampai sekarang. Beberapa kawan yang sama-sama berjuang menjadi relawan mungkin sebagian sudah lulus karena praktis kami sudah tidak pernah kontak lagi. Momen bencana itulah yang menyatukan kita. Saia harap kelak meskipun mungkin kita sudah tidak kenal nama tapi tetap kenal muka. Kita pernah berjuang bersama kawan…

Dan untuk para korban, saia yakin kalian syahid dan semoga mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Untuk para keluarga korban semoga tetap diberi kesabaran dan ketabahan.

Amin…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: