Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Seni atau Pornografi

Courbet_GustaveBETUL sekali, tulisan ini berhubungan dengan Kajian Rutin bulan Mei LPM PROFESI FTI UII yang dilaksanakan Kamis [21/05/2009] di basement FTI. Tema yang dipilih oleh RGP dan kabidnya adalah Seni dan Pornografi. Sayangnya mereka Nampak tidak mempersiapkan materi secara matang. Beruntung si Ucup berhasil memancing tema menarik tentang video Kamasutra apakah pornografi atau edukatif. Ditambah juga saia dan Bagus menimpali dengan satu memihak ke pornografi satu ke edukasi.

Itu saja pengantar tentang tulisan ini. Secara keselurahan saia cukup tertarik untuk membahas tentang suatu karya yang mengalami ambiguitas apakah itu seni atau pornografi. Seni yang dimaksud di sini bisa berupa lukisan, patung, video atau bentuk karya lupa lainnya. Memang harus diakui bahwa batas antara seni dan pornografi sangat absurd. Tidak ada batas yang jelas diantara keduanya. Lukisan Gustave Courbet berjudul ‘Woman and Parrot’ di atas itu bisa dijadikan contoh. Mungkin kita semua akan sepakat kalau lukisan itu adalah seni. Namun jika yang dimaksud materi pornografi salah satunya adalah adanya penggambaran kelamin atau bagian tubuh lain yang tidak layak untuk ditampilkan, seharusnya lukisan tersebut dikategorikan lukisan porno juga.

Suatu karya seni memang susah disebut porno atau tidak karena ini menyangkut rasa. Namun hal itu tidak menjustifikasikan semua karya yang mengandung unsur ketelanjangan tidak bisa disebut pornografi dengan alasan ini adalah karya seni. Lukisan yang mengandung gambar vulgar seperti lukisan di atas mungkin tidak bisa menaikan birahi sehingga tetap bisa dikatakan sebagai seni. Disamping tentnya sudah ada semacam kesepakatan bahwa lukisan adalah karya seni. Modernisasi membuat lukisan seperti itu tidak menimbulkan hasrat seksual, karena ada materi lain yang bisa menggambarkan bagian tubuh wanita atau laki-laki dengan lebih jelas macam foto atau video. Foto atau video inilah yang jauh lebih menimbulkan kontroversi. Menetuka suatu foto atau video menjadi sebuah karya seni atau bukan sangat sulit karena tidak ada kesepakatan. Foto majalah playboy yang tidak terlalu terbuka saja di protes keras oleh FPI, apalagi foto Anjasmara dulu yang hanya menutupi bagian kelaminnya dengan daun.

Saia kira fotografer atau calon fotografer atau mungkin secara lebih luas seniman lain tidak bisa serta merta membuat karya yang dipandang sebuah karya porno di Indonesia lantas menolak menyebutnya sebagai porno dengan alasan seni. Salah satu alasan yang sangat penting adalah karena sang seniman itu mempunyai tanggung jawab moral atas karyanya itu.

Sebuah karya seni ketika sudah dilepas ke umum dalam artian di publish, maka sang seniman sudah kehilangan sebagaian hak atas karyanya itu. Hak yang hilang itu adalah hak interpretasi atas karyanya itu. Leonardo da Vinci ketika melukis Perjamuan Terakhir mungkin saja murni tanpa ada tendensi apapun di belakangnya. Namun Dan Brown nyatanya dengan santainya menafsirkan lukisan itu mempunyai maksud rahasia yang mengantarkan munculnya bahwa ‘fakta’ Yesus ternyata berkeluarga dan mempunyai keturunan lewat novel Da Vinci Code-nya yang sangat controversial itu. Artinya, sekali lagi, ketika suatu karya sudah dipamerkan ke masyarakat maka sang seniman suka tidak suka sudah kehilangan sebagian hak atas karyanya itu.

Berkaitan dengan itu maka tentu seniman tidak bisa serta merta membuat sebuah karya yang mengandung unsure seksualitas. Ada tanggung jawab moral yang cukup tinggi dengan karya yang memuat materi seksualitas itu. Apalagi jika ‘karya seni’ itu berupa video. Resikonya luar biasa tinggi. Mungkin sang seniman tidak bermaksud membuat karya seni itu untuk membangkitkan birahi tapi bukan tidak mungkin penikmat umum mempunyai persepsi berbeda. Lebih lanjut lagi bagaimana jika hal itu mengantarkan si penikmat seni itu melakukan hal-hal yang dilarang Undang-undang seperti pemerkosaan dan sebagainya? Sang seniman mempunyai tanggung jawab atas terjadinya peristiwa itu meskipun secara langsung ia tidak terlibat.

3 responses to “Seni atau Pornografi

  1. zairiz Mei 21, 2009 pukul 5:41 pm

    kayanya ini ketuntasan pendapat anda yang tidak tersampaikan di kajian rutin

  2. Daeng Tewa' September 7, 2011 pukul 6:43 am

    klo aku memandangnya sebagai suatu yang tetap tidak pantas dipertontonkan, biarkan seni ini tersembunyi di balik kerinduan insan yang penasaran sehingga mereka harus menemukan sendiri seni ini dengan cara yang benar dan pantas. Dengan demikian mereka tidak mati rasa, dan mencoba membiasakan sesuatu yang tidak biasa, apalagi ini menyangkut hukum-hukum yang pada agama tertentu mungkin tidak membenarkannya.

  3. inthan_cyank bismha. . . . . . .. . . . Januari 11, 2012 pukul 2:43 pm

    .,
    _+” .. bisa gak di pinjem .. .. .. .. .. .. .. .. ..
    ..”+_ .. batunya bagus buat pajangan ,,,,,,, he he he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: