Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Ketidakadilan dalam Deklarasi Pasangan SBY-Boediono

sbyboedionopidatoSemalam [15/05/2009], presiden Indonesia incumbent resmi mencalonkan diri lagi menjadi calon presiden Indonesia periode 2009-2014. Seperti bocoran yang sudah ada, Boediono-lah yang dipilih sebagai pasangan cawapres SBY. Keduanya kompak menggunakan baju warna merah, bukan warna biru khas Demokrat. Deklarasi ini sendiri dilaksanakan di Sasana Budya Ganesha ITB dan dimulai sekitar pukul 19.30 setelah perwakilan partai pendukung koalisi SBY hadir. Kebetulan yang hadir terakhir adalah Tifatul Sembiring, Presiden PKS, sehingga membuat beberapa wartawan heboh mengngat ketegangan yang sempat terjadi akibat pemilihan Boediono oleh SBY sebagai cawapresnya.

Acara deklarasi itu sendiri berlangsung biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari deklarasi itu. SBY dan Boediono masing-masing sedikit memberikan sambutan pasca pembacaan deklarasi pencalonan oleh Gamawan Fauzi. Setelahnya mereka foto berdua dan dilanjutkan dengan berfoto bersama 21 partai pendukung calon tersebut. Satu yang saia akui cukup cerdas dari acara deklarasi ini adalah pemilihan waktu deklarasi di malam hari. Dengan waktu malam hari, penonton yang menonton acara ini cukup banyak. Berbeda dengan siang hari yang mungkin sebagian orang sedang bekerja. Deklarasipun bsa menjadi semacam promosi/kampanye awal. Meski demikian saia merasa ada beberapa hal yang tidak cocok atas deklarasi pasangan ini:

  1. Keegoisan SBY dalam Memilih Pasangan

    Seperti yang kita tahu SBY sama sekali tidak melibatkan partai peserta koalisi untuk menentukan pasangan cawapresnya. Oke sistem pemerintahan kita adalah sistem presidensiil sehingga kendali ada di tangan presiden tapi peran parlemen di Indonesia juga tidak bisa dihiraukan. Presiden tidak akan berdaya jika tidak mendapat dukungan parlemen. Lihat saja kejatuhan Abdurrahman Wahid karena ketidakakuran dengan DPR. Bandingkan dengan Soeharto yang didukung penuh parlemen. Akibatnya Gus Dur jatuh di tengah jalan sementara Soeharto lancar menjalankan program-programnya. Dukungan parlemen sangatah penting dalam menjalankan pemerintahan.

    Demokrat sebagai pemenang hanya mempunyai kursi 26% di DPR. Sangat kurang sekali kalau mau berjalan sendiri. Itulah mengapa koalisi diperlukan. Koalisi dengan PKS-PAN-PKB-PPP saia kira sudah sangat baik karena sudah berjumlah 50% lebih kursi. Sayangnya SBY dan Demokrat agak sombong atas kemenangannya. Partai-partai lain sama sekali tidak diajak berdiskusi mengenai cawapres SBY. Apalagi ditambah ternyata cawapres yang dipilih adalah non-partai. Dari berita yang saia lihat sebenarnya partai-partai tidak bermasalah dengan dipilihnya Boediono. Yang sangat disayangkan mereka adalah ketidakrespekan SBY terhadap PKS dkk. Paling tidak di kasih tahu sejak awal jangan disembunyikan. Kalau mengaku sahabat, tentunya tidak ada rahasia. Mungkin ini sebagai pembelajaran SBY dan Demokrat ke depan. Penghargaan terhadap mitra koalisi sangatlah penting.

  2. Deklarasi Pencapresan oleh Gubernur Sumatera Barat

    Yang membacakan deklarasi pencapresan SBY-Boediono adalah Gamawan Fauzi. Menjadi sebuah masalah adalah Gamawan Fauzi adalah Gubernur Sumatera Barat aktif. Tercatat ia adalah bukan kader partai manapun meskipun ia menjadi Gubernur dengan dicalonkan PDIP. Ketika ia membacakan deklarasi itu, patut dipertanyakan ia mendeklarasikan diri dalam kapasitasnya sebagai apa? Sebagai aparatur pemerintahan seharusnya ia bersikap netral. Meskipun ia maju sebagai gubernur lewat PDIP-pun ia tidak etis mendeklarasikan capres PDIP jika ia diminta, apalagi Partai Demokrat yang bukan apa-apa beliau. Sebagai seorang gubernur, beliau harus hati-hati dalam bertindak.

  3. Atribut Deklarasi Hanya Fokus di SBY

    Ini juga yang saia tidak sukai dari acara deklarasi semalam. SBY terlalu narsis. Sampai acara dimulai praktis backdrop hanya berisikan foto-foto SBY saja tanpa ada foto Boediono. Slogan-slogan yang bertebaranpun hanya berkisar di SBY. Misalkan: “I love SBY”, “SBY Presidenku” atau “SBY Yes”. Seharusnya SBY menghargai cawapresnya. Dulu saja dia menghargai JK sebagai pasangannya, masa sekarang tidak? Ibarat pasangan suami istri antara suami dan istri seharusnya kedudukannya seimbang. Tidak ada yang satu menonjol sementara yang satu dipinggirkan. Kasihan..

  4. Slogan SBY ber-BUDI terlalu menunjukkan kenarsisan SBY

    Ini juga yang saia tidak suka. Bukan SBY-No seperti yang dibuat orang-orang, tetapi SBY Berbudi. Slogan itu saia kira SBY-sentris. Seolah dengan slogan itu SBY adalah makhluk yang berbudi. Sebuah slogan saia kira harus merepresentasikan kesejajaran antara dua orang itu. Slogan SBY-JK yang dulu dipakai SBY saia kira cukup bagus dan mungkin banyak orang yang setuju. Sebaliknya slogan yang sekarang saia sangat tidak setuju. Secara pronounsiasi SBY Berbudi hampir sama panjangnya dengan SBY Budiono. Untuk lebih menghargai Boediono saia kira seharusnya slogan SBY Berbudi diagnti saja dengan SBY Boediono. JK saja sedah mengganti slogan JK-Win yang terlihat terlalu JK-sentris menjadi JK-Wiranto.

Mungkin hanya itu saja point-point yang saia tidak sukai dari acara tersebut. Satu hal lagi, sperti yang disampaikan oleh salah seorang pengamat di tvOne, seharusnya SBY tidak menghambur-hamburkan uang sebanyak itu untuk sekedar deklarasi. Harus selalu diperhatikan bahwa rakyat masih dilanda kemiskinan. Akan sangat miris sekali kalau para pejabatnya justru malah menghambur-hamburkan uang

-Semoga Bermanfaat

Iklan

10 responses to “Ketidakadilan dalam Deklarasi Pasangan SBY-Boediono

  1. ilyas Mei 16, 2009 pukul 12:02 pm

    dlm persiapan pilpres kali ini, SBY memang meakukan blunder yg lumayan berbahaya.
    Blunder yg paling berbahaya adalah memilih boediono namun tidak segera mengumumkan pada public, public baru tau saat perwakilan dari PKS mengumumkan ketidaksetujuan mereka pada Boediono sebagai wapres SBY.
    Tapi klau menurut saya, banyak sisi positif SBY memilih Boediono sebagai wapres. minimal ini menjadi sesuatu yg adil bagi parpol lain, dan mengurangi kecemburuan antar parpol. dgn wapres pilihan sendiri, bisa menghindari kemungkinan terjadinya kepemimpinan ganda. yg paling penting untuk mencitraan SBY adalah terhindar dari kesan bagi2 kekuasaan.
    SBYBerbudi, SBY bersama Boediono cukup keren menurut saya. sedangkan SBY-no itu tidak keluar secara resmi…

    Semoga aja yg terbaik yg terpilih, tanpa curiga dan tanpa rekayasa.

  2. Yasir Alkaf Mei 16, 2009 pukul 3:57 pm

    bagi sby mngkin adil, tp bagi PKS mungkin g adil krn dia sdh sejak awal mndukung sby dan perolhan suaranya jga cukup besar. Ttg SBY Berbudi, bagus si tapi ya itu tadi kelihatan narsis bgt pak SBY-nya dan terlalu berpusat d SBY juga. Keberadaan Boediono seolah jadi ban serep aj

  3. nusantaraku Mei 16, 2009 pukul 4:00 pm

    Satu lagi,biaya deklarasinya sangat mahal.
    Berbudi yang mana?
    Tahun 2004 menerima dana non-budgeter DKP : http://nusantaranews.wordpress.com/2009/05/16/sby-mega-jk-wiranto-penerima-dana-korupsi-dkp-2004-kembali-nyapres/

  4. ADA Grosir Mei 17, 2009 pukul 7:17 am

    tidak adil bila dilihat dari persepsi yang berbeda mungkin ya….

  5. Yasir Alkaf Mei 17, 2009 pukul 9:58 am

    hihihi, karena blog adalah semacam media opini pribadi maka otomatis tulisan2 yg ada di sini dalam perspsi saia. kalau dibilang ketidakadilan ini hanya persepsi maka saya katakan itu benar, itu adalah perspsi saia
    ^_^

  6. bodrox Mei 17, 2009 pukul 4:24 pm

    yah saya ada sadari ketimpangan pasangan ini. Hmm… kalo gak cepat diperbaiki, bisa-bisa disalip oleh JK-win neh.

  7. Faiz Mei 20, 2009 pukul 3:01 pm

    saya setuju dengan kaliam t terkhir ini :

    “seharusnya SBY tidak menghambur-hamburkan uang sebanyak itu untuk sekedar deklarasi. Harus selalu diperhatikan bahwa rakyat masih dilanda kemiskinan. Akan sangat miris sekali kalau para pejabatnya justru malah menghambur-hamburkan uang”

    terlalu mewah…sungguh terlalu…..

  8. M Shodiq Mustika Mei 20, 2009 pukul 3:19 pm

    Suka mengamati perkembangan politik, ya? Mudah-mudahan dari situ, kita bisa banyak belajar. Ambil positifnya, ambil juga negatifnya. Yang positif turut kita dukung. yang negatif kita kritik.

  9. Yasir Alkaf Mei 20, 2009 pukul 3:59 pm

    : Faiz
    iya, boros

    : pak Shodiq Mustika
    wah terharu saia, ada seleb blog sudi berkunjung ke sini. terima kasih atas kunjungannya pak…

  10. den AGUS Juni 8, 2009 pukul 4:39 pm

    siapa sebenarnya pembela rahyat. kami tak butuh tebar pesona. kami lebih memilih pemimpin yang amanah.cerdas.tangkas.jujur.berwibawa. bukan penebar pesona. kami lebih membutuhkan JUSUFKALA dan WIRANTO. MAJU TERUS PANTANG MUNDUR. RAKYAT MENUGGUMU.jangan kecewakan kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: