Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

SBY Egois

Hmm, suhu perpolitikan Indonesia kembali memanas. Pertama kita dikejutkan dengan pendeklarasian pasangan capres-cawapres JK-Wiranto, padahal Golkar dan Hanura jelas-jelas bergabung dengan PDIP dan Gerindra menggalang Koalisi Besar. Nyatanya Golkar dan Hanura merusak persahabatan empat partai itu dengan saling bertunangan. Koalisi Besar-pun nampak terlihat kurang solid. Partai besar di Koalisi Besar yang tersisa praktis hanya tinggal PDIP dan Gerindra, sesuai formasi awal Koalisi Besar. Dua partai tersisa itu ternyata sama-sama ngotot mendudukkan petinggi partainya sebagai capres. Tidak ada yang mau mengalah. Setelahnya kita kembali dikejutkan dengan PDIP yang tiba-tiba merapat ke Demorakat, partai yang selama ini menjadi seteru abadi PDIP. Banyak pihak yang menyayangkan kepragmatisan PDIP tersebut. Sudah kemarin saat kampanye sempat mengkrtik BLT dan tahu-tahu mendukung lewat iklan, sekarang PDIP tampak seperti akan mendekat ke DPR. Bahkan orang yang awam politik pun pasti akan menertawakn langkah PDIP yang seperti “melacurkan diri” ini. Koalisi Besar pun sudah tamat.

Sekarang pasca bubarnya Koalisi Besar, sekarang koalisi yang digalang Demokrat pun juga terancam bubar. Hal ini nampaknya terjadi karena kesombongan serta keegoisan Demokrat dan SBY. SBY konon sudah memutuskan Boediono sebagai cawapresnya. Hal ini dikonfirmasikan oleh Anies Matta, Sekjen PKS, yang katanya sudah dikabari oleh utusan SBY. Namun partai peserta koalisi sama sekali tidak diajak berdiskusi menegnai masalah ini. PKS pun menggalang partai peserta koalisi pendukung Demokrat untuk menentukan langkah Selasa [12/05/2009] ini.

Saia kira sangat wajar apabila PKS dan partai koalisi pendukung SBY agak tersinggung dengan pergerakan Demokrat dan SBY. SBY baru akan mengumumkan pasangannya Jumat [15/05/2009] besok atau sehari sebelum pendaftaran pasangan capres cawapres ditutup KPU. Bayangkan, sampai 3 hari menjelang pendeklarasian itu mereka [Partai Koalisi pendukung Demokrat –red] tidak diajak berdiskusi siapa cawapres SBY. Menjadi penting karena mereka juga mengajukan calon untuk mendampingi SBY.

Terlihat SBY dan Demokrat begitu egois tentang penunjukan siapa cawapres. Partai peserta koalisi tidak diikutsertakan berdiskusi. Diajak berkumpul pun juga tidak. Bagaimana bisa kemitraan seperti itu bisa ditunjukan oleh SBY dan Demokrat? Bahwa Demokrat adalah pemenang Pemilu adalah benar. Bahwa memilih cawapres adalah hak sang capres hal itu juga benar. Akan tetapi hal itu tidak serta merta meniadakan atau mengecilkan peran peserta koalisi yang lain.

Misalkan PKS,PKB,PPP dan PAN memutuskan mengundurkan diri dari koalisi, mereka sudah bisa mencalonkan capres-cawapres sendiri. Kita hitung presentase kursi mereka 10.54 + 4.64 + 6.96 + 7.50 = 29.64. Presntase itu sudah lebih dari cukup untuk mengusung pasangan sendiri. Apalagi jika mereka juga menggandeng Gerindra yang perolehan kursinya sebesar 5.36%, jumlah kursi mereka mencapai 35% dari seluruh kursi parlemen. Amien Rais sebagai pentolan PAN juga terisnggung dan bersiap menggalang poros tengah. Bahkan jika mereka mengajukan calon sendiri dan kalah dari pasangan SBY, mereka bisa menjadi duri dalam daging dalam pemerintahan SBY. Bukan tidak mungkin mereka akan mengganggu SBY dan Demokrat lewat parlemen. Ingat, kedudukan parlemen [DPR] di Indonesia cukup kuat. DPR bisa dengan mudah menggagalkan program pemerintah dengan tidak meloloskan UU dan sebagainya.

Pesannya adalah meskipun SBY dan Demokrat adalah pemenang Pemilu, janganlah menjadikan tinggi hati. Anggaplah PKS, PKB, PPP, dan PAN sebagai mitra sejajar yang harus diajak turut berdiskusi. Bukan tidak mungkin mereka tidak bermasalah dengan pencawapresan Boediono tapi paling tidak komunikasikan hal itu dengan baik. Jangan seolah-olah saya [SBY -red] sebagai pemenang berhak semau-mau menentukan cawapres, kalian ikut saja. Kabarkan dengan baik dan lebih awal kepada partai peserta koalisi siapa cawapres SBY. Apa bedanya partai peserta koalisi dengan partai lain dan masyarakat lain kalau mereka juga harus menunggu sampai 16 Mei 2009 untuk mengetahui siapa cawapres SBY. Sebagai partai peserta koalisi, mereka berhak tahu lebih dulu. Kalaupun bukan kader partai yang dipilh sebagai cawapres, argumentasikan dengan baik. Jangan egois-lah SBY dan Demorat, belum tentu kalian yang akan memenangi pilpres besok…

12 responses to “SBY Egois

  1. taUbat Mei 12, 2009 pukul 9:56 pm

    Egois, Sombong, Takabur, Mentang2, merasa dirinya paling hebat adalah perbuatan yang tidak disukai Allah SAW.

    Ada hikmah dibalik disingkirkannya partai yang berbasis islam, agar mereka semua bersatu dalam mengkukuhkan dalam tujuan yang sama. (Air tidak dapat bercampur dengan minyak)

    Bebas dari tekanan otoriter, membangun koalisi yang mapan/jelas, Mempunyai Capres/Cawapres kalangan sendiri, berjuang bersama menuju kemenangan. (Koalisi Religius)

    Dakwah dan doa selalu seiring beserta sosialisasinya (Kemenangan demi kemenangan akan diraihnya)

    === Harapan Itu Masih Ada ===

  2. Abu Azka Shadeq Mei 13, 2009 pukul 12:15 am

    Assalamu’alaikum Wr Wb

    Saya simpatisan PKS yang “terpaksa” memilih PKS karena tidak ada partai lain yang lebih baik. Saya warga Muhammadiyah. Dulu pernah jadi ketua IMM. Kini PNS. Sebenarnya saya kecewa sama PKS waktu pemilu 2004. Kenapa waktu itu PKS tidak sepenuhnya mendukung Amin Rais jadi Presiden. Saya paham kalau politik itu cuma masalah kepentingan. Tapi saya berfikir bahwa tetap diperlukan partai yang selain bersih tapi juga ksatria dan setia pada komitmen. Keluarga saya kebanyakan PAN atau PPP. Mereka umumnya kecewa berat karena PKS tidak SETIA pada persahabatan poros tengah. Amin Rais pernah menunjukkan komitmen yang luar biasa dengan tetap mendukung “rival tradisional” Gus Dur jadi presiden, meskipun konon semua partai di luar PDIP dan teman2nya menghendaki beliau yang maju jadi presiden. Saya berfikir itu masalah komitmen dan ksatria..
    Nah saya sangat berharap POROS TENGAH hidup lagi dengan mengusung satu nama capres ataupun cawapres yang mewakili semua, misalkan Din Samsudin. Beliau selain ketum Muhammadiyah juga mantan aktivis Golkar dan Mantan Aktivis IPPNU dan alumnus Gontor. Dia pun dikenal dekat dengan kaum islam puritan.

    Semoga Islam tetap jaya..

    wassalam

  3. Faiz Mei 13, 2009 pukul 6:21 pm

    ehm…
    kayaknya partai-partai islam, bikin koalisi sendiri aja dech….
    Kumpul bareng satukan visi dan misi membangun bangsa ke depan, musyawarahkan capres dan cawapres bersama, agar satu sama lain merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

    jadi bingung pilpres besok pilih siapa, kalo koalisinya masih kayak gini, apalagi klo beneran PDIP gabung ma PD…..ehm…puyeng euy!

    btw, tulisan politik ente menarik bro….

  4. Yasir Alkaf Mei 13, 2009 pukul 6:50 pm

    :faiz [alias Lutfi teman SMA ku ^_^]
    cuma sepertinya partai2 yg lain itu yg kebetulan islam itu tidak berani mencalonkan capres-cawapres sendiri..

  5. ilyas Mei 14, 2009 pukul 8:30 am

    Huh,politik sekarang mulai hitung2an keuntungan pribadi dan golongan. Masalah mana yg terbaik untuk bangsa mulai d tinggalkan. Realistis sih, dengan modal besar yg telah dikeluarkan saat kampanye masa ga dpt t4 d pemerintahan. Walau menguasai legislatif, jadi oposisi malah bisa menurunkan citra partai seperti PDIP yg turun drastis tahun ini.

    Semoga SBY bisa mendapat pendamping yg sesuai untuk 5 tahun kedepan agar tidak terjadi duolisme kepemimpinan. dan pendamping SBY tidak berdasar pada bagi2 kekuasaan saja.
    Buat partai2 yg berkoalisi dgn PD namum merasa Boediono bukan pendamping yg cocok, semoga hal tersebut memang berdasar pada kemampuan Boediono yg dirasa masih kurang dan BUKAN karena bagi2 kekuasaan. Yg ingin mundur, mundurlah dengan berjiwa besar agar tidak kehilangan pendukung. jangan tarik-ulur dan plin-plan dlm mengambil keputusan. Walaupun tidak berkoalisi, semoga legislatif 5 tahun kedepan dapat bersifat netral dan benar2 BERPIHAK PADA RAKYAT.

  6. Faiz Mei 14, 2009 pukul 9:25 am

    diriku dukung dah kalau poros alternatif itu terbentuk, PKS-PAN-PPP-PKB, ayolah calonin Capres dan Cawapres….

    kan banyak tuh orang-orang yang kompeten, tinggal disusun aja formasinya…

    gimana bung Fathul pendapat ente?

    ^_^

  7. Syamsa Mei 14, 2009 pukul 2:32 pm

    agree.. agree.. ^_^

  8. Videv Mei 14, 2009 pukul 5:42 pm

    Saya yakin partai-partai penjilat dan suka membawa-bawa nama agama itu tdk punya keberanian untuk keluar dari koalisi dgn SBY..

    SBY berani berbuat seperti itu karena sejak awal dia melihat semua parpol2 yang merapat ke dia adalah parpol yang haus kekuasaan juga.. Makanya kalau tdk dapat posisi wapres, mentri saja boleh lah..

  9. Yasir Alkaf Mei 14, 2009 pukul 6:42 pm

    :ilyas
    fakta membuktikan bahwa Indonesia pernah dipimpin oleh oorang yg murni profesional. Habibie namanya. Hasilnya ternyata tidak brhasil. Habibie tdk bertahan lama jadi presiden. Hal itu terjadi karena terkadang kalangan profesional itu tdk cocok kalo di politik yang sangt-sangat dipenuhi intrik. Boediono ini adalh kalangan profesional dan mungkin partai2 koalisi SBY khawatir hal yg sama akan terjadi pada Boediono. Apalagi Boediono selama ini cenderung pendiam. SBY pendiam dan cenderung “jaim”, Boediono juga pendiam. repot tuh

    :Faiz dan Videv
    yup saia sgt berharap mereka berani mengusung calon sndiri karena suara mereka sudah lebih dari cukup, tapi ak agak ragu apa mereka berani. Ongkos politiknya sangat mahal. politk itu sangat pragmatis. partai islam pun mau tak mau pasti jadi pragmatis. Jadi kemungkinan mereka akan maju calon sndiri akan snagat susah dan mngkin enggan juga.

  10. Pingback: Tentang Deklarasi Pasangan SBY-Boediono « Yasir Alkaf

  11. Pingback: Kepanikan SBY dan Tim Suksesnya « Yasir Alkaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: