Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Calon Wakil Presiden Pendamping SBY

sby1okeSebagai pemenang Pemilu, Demokrat berada di atas angin sekarang. Kalau dulu di Pemilu 2004 SBY hanya bermodalkan elektabilitas yang tinggi dengan minim dukungan kursi parlemen, maka sekarang SBY dan Demokrat sudah menguasai keduanya. Jadi SBY bisa sedikit lebih mudah dalam memilih pendamping. Dulu SBY dan SBY harus berkompromi dengan Golkar dan banyak partai lain agar parlemen juga bisa mendukung dia. Golkar memang punya Capres sendiri, tetapi praktis suara lebih banyak masuk ke psangan SBY-JK karena toh nyatanya pasangan yang diusung Golkar tidak dapat masuk ke putaran pilpres yang kedua.

Nah sekarang dengan modal suara partai yang cukup tinggi Demokrat bisa mengurangi ketergantungannya pada parpol lain. Apalgi elektabilitas SBY masih sangat tinggi. Dengan siapapun, seolah SBY pasti jadi presiden. Tidak peduli JK, HNW, Muhaimin atau mungkin calon yang lain. Memang sepertinya koalisi yang akan terbentuk masih melibatkan Golkar,yang notabene Ketuanya adalah wapres SBY sekarang. Akan tetapi karena perolehan suara Golkar di bawah Demokrat sekarang Golkar tidak terlalu dibutuhkan oleh Demokrat. Demokrat sudah bisa agak jual mahal. Kalau memang Demokrat berkenan, tidak harus cawapres yang diusung dari Golkar. Kalau elektabilitasnya rendah kenapa harus dipilih. Barangkali ada calon dari partai lain yang elektabilitasnya lebih tinggi, atau malah mungkin memakai kader Demokrat sendiri. Kompensasi koalisi mungkin bisa dengan mengangkat kader partai pendukung mereka di kementrian saja.

Saia mempunyai saran untuk SBY dalam memilih cawapresnya. Eh barangkali saja beliau membaca blog ini. Kan kadang suara arus bawah juga perlu didengar. Tidak melulu dari fungsionaris partai saja saran itu didapat kan?

  1. Jangan memilih cawapres yang jelas-jelas memiliki ambisi menjadi presiden.

    Belajar dari struktur sekarang dimana sang wapres turut mendeklarasikan diri menjadi presiden maka pemerintahan menjadi terkesan tidak kompak. Terlihat ada semacam persaingan, terutama menjelang jabatan berakhir. Antara Presiden dan Wapres kan seharusnya saling mendukung tapi di akhir masa jabatan SBY-JK ini terlihat sekali antar mereka ingin saling menonjol. Tidak bagus kondisinya kalau seperti itu. Negara menjadi seolah terurus. Dilihat juga tidak nyaman, masa presiden dan wapres saingan? Jadi kesimpulannya kalau ngin memilih kader Golkar sebaiknya jangan Jusuf Kalla. Cari saja nominator yang lain. Dari partai lain-pun juga sama, jangan memilih yang terang-terangan ingin jadi presiden.

    Akan tetapi saia kecewa juga dengan JK seandainya dia bersedia menjadi cawapres SBY. Terlihat tidak punya mal sekali dia. Kemarin mendeklarasikan maj sebagai capres dan katanya lebih cepat dan lebih baik, eh setelah partainya kalah merapat ke SBY lagi. Saran buat JK, ikhlaskan saja ke kader lain pak. Atau kalau berani tetap saja maju nyapres.

    HNW bagaimana? Kader PKS ini mungkin bisa dipilih SBY, toh dia juga tidak terang-terangan mendeklarasikan diri jadi capres. PKS juga selama ini terlihat setia pada pemerintahan SBY.

  2. Pertimbangkan memilih kader internal Demokrat

    Karena faktor SBY-lah Demokrat bisa menang. Padahal jika SBY terpilih menjadi presiden lagi, ini adalah masa jabatan terakhir beliau. Kontitusi membatasi presiden hanya dapat menjalani dua kali masa jabatan saja. Lantas apa yang akan menjadi daya tarik dari Demokrat lagi di pemilu lima tahun ke depan jika SBY sudah tidak dapat berperan aktif lagi? Memang SBY masih bisa mengiklankan diri di Demokrat tapi akan jauh lebih efektif jika ada seseorang yang berposisi seperti SBY sekarang. Artinya orang itu duduk di pemerintahan. Anas Urbaningrum saia kira cukup bagus untuk disandingkan dengan SBY. Dia adalah salah satu kader yang saia kira cukup menonjol dari Demokrat. Yang jelas jangan pilih Edie Baskoro, bisa digugat karena nepotisme nanti.

  3. Bisa juga memilih dari kalangan professional

    Jika memilih dari kalangan professional, SBY bisa lepas dari rongrongan parpol lain. Kondisi saat ini, kader parpol yang mungkin duduk sebagai cawapres SBY adalah dari PKS dan Golkar. Kalau kader PKS yang dipilih, nanti Golkar bisa protes “kan suara kami lebih banyak dari PKS, masa PKS yang jadi cawapres“. Sementara kalau Kader Golkar yang dipilih, PKS akan berterik: “pak SBY, saia sudah sejak awal mendukung anda, masa anda memilih cawapres yang jelas-jelas di awal Pemilu mendeklarasikan secara tersirat akan mengajukan calon sendiri“. Dua partai itu bisa ribut nanti. Jadi dengan memilih kalangan professional, konflik antar partai pendukung koalisi bisa ditekan. Untuk menenangkan parpol pendukung, semuanya disamakan dengan diberi jatah menteri. Yang berbeda mungkin jumlahnya sesuai posisi akhir merek di tabulasi pemilu. Di sini saia tidak punya saran tokoh yang dimaksud. Beliau saia kira lebih tahu

Saia kira tiga factor itu bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan SBY untuk cawapres-nya. Saia pribadi kalau menjadi SBY memprioritaskan yang pertama akan mengangkat kader sendiri. Kalau itu tidak mungkin, baru memilih dari kalangan professional. Kader partai lain hanya akan saia jadikan alternative terakhir saja.

Sekian, semoga bermanfaat

Iklan

17 responses to “Calon Wakil Presiden Pendamping SBY

  1. bay-kun April 15, 2009 pukul 7:27 am

    saya kira, beringin akan merapat terus ke PD…
    karena beringin tidak siap jadi oposisi pastinya…
    tapi belum tentu Kala akan di pilih kembali untuk jadi pendamping Yono…

  2. il April 15, 2009 pukul 12:59 pm

    dari kalangan profesional, saya kira Sri Mulyani bisa jadi alternatif pilihan. pengetahuan ok, penampilan cocok, pinter bicara, ya cuma dukungan parlemen bisa jadi berkurang..^^

  3. Yasir Alkaf April 15, 2009 pukul 3:30 pm

    dulu posisi tawar golkar cukup tinggi di parlemen makanya dia sanngat dibutuhkan. skrg dg perolehan suara demokrat+PKS+PAN+PKB sudah cukup tinggi koq di parlemen jadi ga harus orang Golkar jadi wapres. biar adil dg semua partai, beri aja jatah menteri ke mereka. tapi semua terserah SBY dan Demokrat si

  4. il April 15, 2009 pukul 4:12 pm

    tapi mas,klau tanpa golkar posisi SBY d parlemen juga ga aman. gabungan demokrat+PKS+PAN+PKB kan msh krg 50% parlemen. demokrat juga banyakan menang di daerah yg nilai kursinya mahal, ntar keputusan SBY digoyang trus dong diparlemen (partai oposisi).
    hehe..,cuma opini saya sih..^^

  5. Asmar Abdullah April 15, 2009 pukul 4:55 pm

    Lebih baik SBY memilih Hidayat Nur Wahid sebagai Cawapres. Atau kalau mau dari Golkar cari yang selain Pak JK, misalnya Akbar Tanjung (ini kayaknya lebih pas). Kalau nanti Pak JK tetap maju sebagai Capres didukung oleh Golkar, pastinya kan sulit untuk menang (seperti kasus Pak Wiranto pada Pilpres 2004). Dengan demikian, setelah Pilpres, Golkar bisa merapat lagi ke Demokrat dan mendaulat Akbar Tanjung jadi ketua umum (seperti yang dialami Pak JK pada pilpres 2004). Ini skenario karma namanya…. 🙂

    terimakasih,

  6. Pingback: Pak JK Offside…? « Rumah Sejuta Ide

  7. bay-kun April 16, 2009 pukul 2:59 pm

    Pengen Kursi cawapreS, Pasti Kalla Sebel…:D

    perhatikan huruf besarnya

  8. Yasir Alkaf April 16, 2009 pukul 4:40 pm

    :baykun
    Hahahaha
    ciri2 kader yg baik, pintar mengolah singkatan partainya

  9. gurindang April 17, 2009 pukul 9:29 am

    HNW boleh juga tuh…

    Sri Mulyani juga boleh…

  10. Deni April 17, 2009 pukul 3:36 pm

    Sangat setuju klo Anas jd cawapres SBY.

  11. Yasir Alkaf April 17, 2009 pukul 5:05 pm

    tp ternyata Anas Urbaningrum itu kader baru di Demokrat. Sebelumnya dia anggota KPU. Jadi utk dipilih jadi wapres agak sulit, masih baru sih. Padahal dibanding ketum atau sekjen lebih menonjol Anas tuh. Ketum Demokrat ma Sekjen-nya ga jelas..

  12. bay-kun April 17, 2009 pukul 5:24 pm

    Saya Bukan Kader Partai Itu……

  13. forlan April 17, 2009 pukul 5:26 pm

    saya yakin eSBeYe sudah enggan lagi ama pak Kalla yang sering bermanuver lincah. sayayakin eSBeYe mau yang lebih kalem seperti Hidayat Nur Wahid atau Sri Mulyani. kalo Mas anas tunggu dulu lah karena pengalamannya masih baru

  14. Arsi April 21, 2009 pukul 2:20 pm

    Cawapres pasangan SBY cocoknya Anas, dia kalem, tegas dan pinter (tidak meledak ledak).
    SBY bisa mempersiapkan yang muda untuk memimpin bangsa ini pada pemilu 2014 nanti, jadi yang muda digembleng dulu dari sekarang

  15. Darmawel April 28, 2009 pukul 12:53 am

    Yg ptg sby jgn mrasa sombonglah.ttp terkendali dan lbh legowo. Spt pilpres 2004. Yg tak terkalahkan adalah sby vs mr prabu wo. Ini ujian buat mu bung sby iklas ndak u baikan sama mr prabu.

  16. Pingback: 31 – 23 = 8 | Hitung-hitungan cawapres pendamping SBY « Yasir Alkaf

  17. drheris Mei 14, 2009 pukul 2:00 pm

    Saya setuju Wapresnya GusDur saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: