Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Kenapa PDIP Bisa Kalah?

pdip1Hasil quick count beberapa lembaga survey sudah menyatakan Partai Demokrat sebagai pemenang pemilu. Real count KPU juga menunjukkan hal serupa, meskipun perhitungan belum selesai sepenuhnya. Yang jelas meskipun sudah diprediksi banyak lembaga survey, kemenangan Partai Demokrat tetap saja mengejutkan banyak orang. Banyak orang termasuk saya masih menganggap PDIP atau Golkar-lah yang akan menang. Bahwa suara Partai Demokrat akan naik, saia juga yakin, tapi untuk menjadi pemenang pemilu hal itu sungguh mengangetkan. Tadinya saia kira urutannya Golkar-PDIP-Demokrat dengan perimbangan suara yang cukup seimbang. Artinya tidak ada yang unggul terlalu jauh. Akan tetapi ternyata prediksi saia itu salah. Kalau hiburan dari teman katanya ya tidak apa, namanya juga prediksi.

Kenapa Demokrat bisa menang? Ada beberapa tulisan blogger yang bagus membahas masalah itu. Dintaranya ini, ini dan ini. Ibarat jungkat-jungkit, naiknya suara Demokrat saia kira tidak hanya karena kecerdasan mereka tetapi juga karena kesalahan dua partai besar saingan, PDIP dan Golkar. Nah tulisan saia ini mencoba membahas kenap Golkar dan PDIP. Untuk serie pertama kita bahas kenapa PDIP bisa kalah dan tulisan selanjutnya nanti akan kita bahas kenapa Golkar bisa kalah

Dulu saia pernah membuat prediksi bahwa PDIP akan di atas Partai Demokrat. Waktu itu saia cukup optimis karena iklan PDIP yang tiba-tiba menjadi mendukung BLT belum keluar. Tapi ternyata tiba-tiba ada iklan PDIP mendukung BLT. Inilah yang saia kira salah satu faktor membuat pemilih enggan memilih PDIP. Dan sayangnya sepertinya faktor itu cukup berpengaruh

Selengkapnya ini beberapa faktor penyebab PDIP bisa kalah. Saia bukan siapa-siapa. Hanya seorang mahasiswa yang kebutulan seorang pemilih pemula yang turut serta mengamati kondisi Indonesia

  1. Faktor Megawati yang kurang santun berorasi dan terkesan plin-plan

    Ya seperti yang kita tahu, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba Megawati berkampanye mengkritik BLT plus terkesan mencaci maki SBY dan anehnya mendekati masa kampanye selesai tiba-tiba ada iklan mendukung BLT. Kesannya PDIP dan khususnya Megawati menjadi plin-plan. Akibatnya lagi yang tidak suka kepada mereka juga semakin bertambah. Ketidaksukaan orang-orang pada Megawati bisa terlihat pada banyaknya anggota grup “Say No to Megawati” di fesbuk

  2. Tidak ada prestasi yang bisa diiklankan dari PDIP

    PDIP pernah menjadi ruling party pasca pemilu 1999. Megawati juga pernah menjadi presiden menggantikan Gus Dur yang di impeachment oleh MPR. Nah sayangnya ketika mereka memerintah boleh dibilang tidak ada prestasi yang mereka raih. Yang ada justru malah mereka “terkenal” menjual asset Negara. Kalaupun ada prestasi adalah katanya zaman Megawati bensin 2000 dan zaman SBY 4500. Ini salah satu iklan yang disuguhkan PDIP. Akan tetapi saia kira anak SMP-pun tahu iklan itu sangat pembodohan. Biaya hidup saat itu dan sekarang kan berbeda. Jadi sebenarnya dua hal itu tidak bisa dibandingkan.

  3. Hanya mengandalkan pemilih tradisional, tidak mencoba menjaring pemilih baru.

    PDIP terlalu pede mengandalkan pemilih tradisional mereka yang mereka sebut “wong cilik”. Tidak ada kesan sebuah upaya untuk menjaring pemilih baru. Kita lihat PKS begitu gencar mengincar anak muda lewat iklan-iklannya yang sangat muda. Ditambah dengan jargon Partai Kita Semua. Itu membuktikan PKS mencoba menjaring massa baru disamping massa asli mereka. Nah ini yang tidak ditiru PDIP. Saia kira hampir tidak ada anak muda ataupun pemilih pemula yang memilih PDIP sebagai partai plihan mereka

  4. Terlalu memfigurkan Megawati

    Partai-partai besar Indonesia memang masih menggantungkan diri pada figure, termasuk Partai Demokrat sang pemenang Pemilu 2009 dengan SBY. Nah sayang-nya citra Megawati saat ini sedang dalam tidak keadaan baik. Akibatnya figure yang diharapkan bisa mendongkrak suara partai tidak berhasil menjalankannya.

  5. Tidak ada strategi kampanye yang matang

    Apa jualan PDIP? Saia kira cuma memperjuangkan wong cilik katanya, dengan memperjuangkan sembako murah. Program lainnya tidak jelas. Ini juga saia kira faktor yang cukup berpengaruh atas menurunnya suara PDIP. Karena bukan partai yang berkuasa seharusnya PDIP menawarkan program-program yang menarik untuk menarik massa. Gerindra saia kira bisa dijadikan contoh sebuah partai yang mempunyai promosi program yang matang. Seharusnya paling tidak PDIP juga seperti itu untuk menjaring massa.

  6. Berpindah dan keluarnya para tokoh senior PDIP

    Laksamana Sukardi dkk keluar dari PDIP dan membentuk PDP. Permadi juga keluar untuk bergabung bersama Gerindra. Belum lagi tokoh lain yang juga meninggalkan PDIP. Meskipun mungkin kecil tapi faktor ini saia kira juga turut berpengaruh. Sebagian massa PDIP akan mengganti pilihan mereka ke PDP meupun Gerindra

Enam faktor itu saia kira yang cukup mempengaruhi turunnya suara dan sekaligus kalahnya PDIP. Yang saia tulis di atas adalah faktor intern dari PDIP. Secara keseluruhan memang sayangnya PDIP sedang tidak beruntung tahun ini. Di TPS saia yang merupakan daerah kantong PDIP, kemenangan PDIP kali ini pun tak terlalu sempurna. Partai Demokrat sebagai runner up tidak terlalu jauh jaraknya [detail perolehan suaranya saia lupa]. Padahal Pemilu 2004 kemarin pemilih Partai Demokrat di TPS saia sangat sedikit. Justru Golkar dan PKB yang lebih unggul. Jadi kecemerlangan Partai Demokrat dan 6 faktor intern PDIP itu yang saia kira membuat PDIP kalah kali ini.

-Semoga bermanfaat-

Iklan

16 responses to “Kenapa PDIP Bisa Kalah?

  1. Health Life April 11, 2009 pukul 1:53 am

    review yang bagus. Mau gimana lagi, PDIP cuman punya satu sosok figur, Ibu mega, yang sayangnya memang saat ini tidak terlalu siap untuk difigurkan. Minimal kalah pamor sama figur2 yang lain yang memang sedang lebih mencorong.

  2. nur April 11, 2009 pukul 5:12 am

    cma menambahkan, ang0ta Dewan dr PDIP baik dpusat maupun di daerah2, bnyak yg terjerat dlm kasus k0rupsi, mbuat rakyat enggan memilih..

  3. Asmar Abdullah April 11, 2009 pukul 7:38 am

    Pada pemilu legislatif kali ini, memang tidak ada (atau kurang) alasan yang kuat untuk menaikkan popularitas PDI Perjuangan. Sebabnya, selama lima tahun terakhir, PDIP memposisikan diri sebagai partai oposisi, sementara masyarakat cenderung menilai kinerja pemerintah cukup baik. Sekiranya kinerja pemerintah ‘amburadul’, maka kemungkinan besar PDIP akan tampil sebagai pemenang pada pemilu kali ini.

    Sebuah analisa yang bagus kawan, terimakasih dan tetaplah berkarya!

  4. bintoro April 11, 2009 pukul 8:09 am

    selain 6 hal di atas, kampanye yang di gelar PDIP lebih tampak kepada kampanye TEROR, NORAK, n GAYA PREMAN kampanye. sehingga gak ada orang yang seimpatik. Seandainya PDIP berkampanye dengan santun dan simpati mungkin lain lagi kejadiannya. Dalam berkampanye ada saja masyarakat yang jadi korban premanisme simpatisan PDIP, gimana orang akan tertarik kalau PDIP kampanye seperti menebar TEROR, lagian yang nonton arak2an kampanye cuma anak2 kecil. Jadi yang berkampanye pun cuma masih berpikiran seperti anak2 kecil.

  5. gurindang April 11, 2009 pukul 8:13 am

    MSP sok kebanyakan ngritik dan ngrasaa paling OK…dan akhirnya dia harus nyadar, masyarakat gak buta untuk melihat tindak-tanduknya selama ini…

  6. Pingback: pelajaran pemilu 2009: (1) tentang ketokohan… « Rumah Sejuta Ide

  7. bangkadir April 11, 2009 pukul 10:20 am

    Kalahnya PDIP karena memang segmennya terbatas. Pendukung PDIP hampir semuanya penggemar fanatik SOEKARNO dan itu hanya ada di Jawa Tengah & DIY dan sebagian kecil Jawa Timur. Kebanyakan mereka orang-orang yang fanatik dengan budaya Jawa (Kejawen?). Hingga saat ini PDIP selalu mengusung isu-isu ketokohan Soekarno & marhaenisme, yang menurut saya tidak laku bagi orang-orang Sunda, Jawa Timur tapal Kuda dan sebagian besar masyarakat luar pulau Jawa.

  8. Dedhy Kasamuddin April 11, 2009 pukul 4:01 pm

    Assalamu ‘alaikum mas, aku mau bertukar link ama mas, gimana mas?? salam kenal Dedhy Kasamuddin

  9. Pingback: Kenapa Golkar Bisa Kalah?? « Yasir Alkaff

  10. JABRIG April 13, 2009 pukul 1:16 pm

    wah wah wah. kalo menurut saya, Demokrat menang karena pak SBY. ya… nama SBY lebih besar dari nama partainya itu sendiri. nama SBY begitu menarik perhatian massa. dan dapat menjadi mesin penyedot raksasa. sampai2 memenangkan pemilu 2009 ini. ini terbukti ketika pemilu 2009 lalu, banyak sekali masyarakat pemilih menanyakan kalo pak SBY ya…???masyarakat itu menanyakan kepada saksi. dan di jawab dengan jujur oleh saksi itu. dan belakangan diketahiu bahwa saksi itu dari PKS. wah wah wah… salut sama tuh saksi, bisa meletakan kejujuran diatas kepentingan partai. padahal menurutku kalo tuh masyarakat pemilih yang sudah bapak bapak itu di tipu dengan menunjukan partai dia (partai si saksi) sungguh sangat amat mudah. dan bisa jadi menambah suara partainya… ha ha ha… salut salut saluttttt. buat orang2 yang tetap menjaga kejujuran diatas segala galanya…

  11. sukron_ma'mun April 14, 2009 pukul 2:19 pm

    mengapa PDIP bisa kalah????
    saya sependapat dengan argumen anda Mr Yasir Alkaf.

    Seandainya Ibu berkenan lebih santun, saya kira masih banyak yang simpati pada PDIP.
    Rakyat kecil sekarang sudah pinter menganalisis, merasa dan memahami karakteristik dan sifat pembesar.,

  12. Yasir Alkaf April 15, 2009 pukul 12:38 am

    Tapi ada satu yg salut dari PDIP, tetap konsisten “melawan” SBY. Tidak seperti Golkar yg tiba2 berubah haluan, PDIP masih tetap setia “melawan” SBY

  13. budi00 April 19, 2009 pukul 4:30 am

    Pemilu Legistatif 2009 di klaim sebagai pemilu paling buruk sepanjang sejarah reformasi.
    Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya pelanggaran yang ditemukan selama proses pemilu dilaksanakan. Banyaknya demonstrasi yang berhubungan dengan ketidakberesan proses pemilu juga menjadi tolok ukur tersendiri.

    Dan pada pemilu kali ini partai demokrat yang notabene adalah partai underdog mampu memenangi perolehan suara secara nasional. Sungguh suatu hal yang di luar dugaan kita semua.

    Terlintas dibenak saya begitu saja, mungkinkah kisruh pemilu tahun ini ada hubungannya dengan naiknya suara P Demokrat yang sungguh luar biasa ini?

  14. Pingback: Ketika Berita Saling Menutupi « Yasir Alkaf

  15. Heriyanto Mei 15, 2009 pukul 4:51 pm

    Menurut saya kenapa PDIP kalah, karena selama ini yang dijual hanya partaine wong cilik dan selalu hanya menampakkan gambar proklamator kita pak Sukarno. Tidak pernah mengusung permasalahan yang dihadapi bangsa ini dan bagaimana menyelesaikannya masalah tersebut yang ada di negara ini. Tidak menyadari bahwa dinegeri ini tidak hanya wong cilik saja, sehingga seolah olah yang bukan orang cilik wis partai iki bukan tempatmu, dan selalu memfigurkan pak Karno, ini juga tidak disadari bahwa pak Karno adalah milik bangsa Indonesia bukanlah pribadi milik keluarga atau PDIP. Sehingga dengan adanya itu saya teringat waktu kecil anak anak apabila berantem dan kalah terus menangis sambil ngumpat ( awas kamu nanti tak bilangin ke bapakku ). Saran saya kepada ibu Mega hal seperti itu mungkin bisa dipikirkan dan berikanlah kepercayaan kepada kader untuk tampil semoga hal hal baru bisa ditemukan dan tidak akan menjadikan kesan partai yang berjuang terus.

  16. agus hendrawan Mei 29, 2013 pukul 1:02 pm

    Anda yang berpikir kalau PDIP itu kalah dalam pemilu karena 6 hal yang ditulis di atas itu adalah salah besar. kenapa Megawati menolak BLT? apakah ada yang tau alasannya kenapa? apa anda tau dari mana BLT itu di dapat? BLT itu didapat dari pinjaman oleh SBY sehingga indonesia mempunyai hutang yang sungguh begitu banyak. coba anda pikirkan apakah dengan diberikannya BLT ada yang menjadi kaya? dan apakah dengan adanya BLT masyarakat menjadi sejahtera? TIDAK.. semua itu hanya menyengsarakan rakyat yang pada akhirnya indonesia menanggung hutang yang akhirnya masyarakat pula yang merasakannya, harga menjadi naik, BBM naik dan lain-lainnya. anda tau berapa hutang indonesia saat ini?? hampir 2000 trilyun.. sekarang anda yang bisa merasakannya dengan kenaikan-kenaikan harga begitu jga BBM.
    siapa yang bilang kalau Megawati tidak ada prestasi ketika menjabat sebagai presiden.. asal anda tahu ketika megawati menjabat sebagai presiden walaupun hanya 2 tahu tapi beliau bisa membayar hutang negara sebanyak kurang lebih 800 trilyun, banyangkan jika megawati menjabat selama 5 tahun mungkin indonesia tidak akan mempunyai hutang sama sekali..
    semoga anda yang membaca ini bisa terbuka pikirannya sehingga tau mana yang salah dan mana yang benar.. anda bisa merasakannya di zaman sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: