Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Perjuangan Dua Perempuan Afghanistan

a-thousand-splendid-suns2Ada beberapa persamaan antara novel ini dengan novel perdana Khaled Hussaeni yang fenomenal berjudul The Kite Runner. A Thousand Splendid Suns ini masih menggunakan setting Afghanistan tanah air penulis, serta melibatkan tokoh yang merupakan anak hasil hubungan gelap antara majikan dan pembantu. Kalau di the Kite Runner ada Hasan di novel ini ada seorang anak perempuan bernama Mariam. Keduanya sama-sama merupakan harami, anak hasil hubungan gelap ayah ibunya.

Demi menjaga kehormatan keluarga, Jalil ayah Mariam mengasingkan ibu Maryam ke sebuah lereng gunung yang sulit dijangkau manusia. Ketika akhirnya Mariam lahir dan tumbuh dewasa, tidak banyak yang bisa dikenal Mariam. Ia hanya mengenal ibunya yang sangat membenci Jalil tapi tetap menghormatinya demi Mariam, bibi Mariam yang kadang berkunjung, seorang guru mengaji dan ayah Maryam yang rutin mengujungi Mariam seminggu sekali.

Ibu Mariam menganggap kedatangan ayah Mariam adalah sebagai sebuah penebusan dosa setengah-setengah saja. Ia tidak benar-benar menyayangi Mariam, nyatanya Mariam tidak pernah sekalipun di ajak meninggalkan gubuk mereka dan mengunjungi rumah mewah sang ayah di kota. Meski demikian Mariam tidak mau mempercayainya. Di ulang tahunnya yang ke-15, ia nekat mencari rumah ayahnya. Ternyata sang ayah tidak mau menemui Mariam. Ia bahkan dibiarkan tidur kedinginan di luar pagar.
Kecewa dengan ayahnya, Mariam pun pulang ke rumah dan menghadapi kenyataan pahit ibu tercintanya bunuh diri karena berpikir Mariam sudah tidak menyayanginya lagi dan lebih memilih sang Ayah daripada dia. Mau tak mau sang Ayah harus merawat Mariam. Atas rongrongan tiga istri ayah Mariam yang lain meskipun belum genap tujuh hari kematian bu Mariam, dia dipaksa menikah dengan pria yang berumur tiga kali lipat dari umurnya dan harus pergi ke Kabul mengikuti suaminya. Pada awalnya sang suami begitu perhatian pada Mariam tapi lama kelamaan sifatnya yang kasar muncul dan membuat pernikahan Mariam seperti mimpi buruk saja.

Cerita kehidupan Mariam hanyalah salah satu fragmen dalam keseluruhan novel ini. Fragment selanjutnya mengisahkan tentang Laila dan keluarganya. Mereka adalah tetangga Mariam dan suaminya. Ayah dan ibu Laila sangat liberal dan intelek. Sang ayah sangat menghargai perempuan. Ketika anak seusia Laila [14 tahun] sudah dijodohkan, Laila masih diharuskan oleh ayahnya untuk sekolah. Kelak setelah Taliban menguasai Afghanistan, impian Ayah Laila hancur berantakan. Wanita dilarang sekolah dan harus tinggal di rumah. Perang yang tiada henti akhirnya mengakibatkan ayah dan ibu Laila tewas. Keadaan memaksa Laila hidup yatim piatu dan terpaksa menikah dengan suami Mariam. Bersuamikan orang yang sama inilah yangmenjadi benang merah fragmen kehidupan Mariam dan Laila dan menjadi fragmen ketiga dalam novel ini.

Secara keseluruhan novel ini sangat bagus. Novel ini tidak hanya mengetengahkan cerita roman belaka. Ada nilai lebih ketika kita membaca novel ini. Kita seolah dibawa menyelami kehidupan warga Afghanistan yang sebuah kedamaian di negeri itu sangat sulit di dapat. Kita serasa dibawa ke keadaan saat Afghanistan masih damai di bawah monarki Raja Zahir Syah sampai kudeta oleh Daud Khan yang mengakibatkan setelahnya Afghanistan tak pernah lepas dari konflik.

Pertama Afghanistan di invasi Russia. Kemudian Russia berhasil diusir pasukan Mujahiddin dan ternyata setelah Russia pergi mereka justru terlibat perang saudara atau lebih tepatnya perang antar suku. Belum lagi setelah rezim Taliban mengusai Afghanistan dan membentuk Negara Islam. Meskipun konon berlandaskan syariah ternyata rezim itu sangat otoriter dan menerapkan syariat dengan sangat kaku. Hussaini menyelipkan aturan-aturan syariah ala Taliban di halaman 340-343. Beberapa peraturan sangat aneh seperti misalnya bermain catur dan layang-layang diharamkan. Peraturan yang ada juga sangat merendahkan kedudukan wanita. Di akhir novel juga sedikit diceritakan keadaan di Afghanistan pasca serangan 11 September.

Keunikan lain dari novel ini adalah tokoh utama novel ini adalah perempuan sementara Hussaini sang pengarang adalah laki-laki. Kemudian sudut pandang tokoh juga berganti-ganti. Seperti yang sudah disebutkan tadi ada empat fragmen dalam cerita ini. Fragmen pertama menceritakan kehidupan Mariam dan kita dibuat seolah kita adalah Mariam. Fragmen kedua menceritakan Laila dan kita akan dibawa menjadi Laila. Yng cukup unik ada di fragmen ketiga dimana kadang bercerita sebagai Mariam kadang juga sebagai Laila secara bergantian.

Sebagai penutup saia sangat merekomendasikan novel ini untuk dibaca, sebagai bahan pembuka wawasan kita tentang kehidupan di Afghanistan sana yang mungkin tak pernah kiat bayangkan susahnya.

Nb: Tertarik dengan novel ini? Anda dapat memperolehnya beserta novel-novel yang lain di Bazar Buku LPM PROFESI yang akan diselenggarakan 10-14 Maret 2009 di hall FTI UII.

One response to “Perjuangan Dua Perempuan Afghanistan

  1. gurindang Maret 9, 2009 pukul 10:05 am

    kyahahhahah…sekalian promosi ternyata…

    ehm,,kayaknya buku kedua bikin sakit ati…??ugh.pinjam duonk..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: