Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Ustadz yang Aneh

Beberapa waktu yang lalu saia jamaah shalat maghrib di salah satu Masjid kecil di Jogja. Setelah jamaah selesai ada seseorang pria yang naik ke atas mimbar untuk memberikan Kultum. Karena saia tidak sedang terburu-buru jadi saia ikuti Kultum itu. Toh saia lama sekali tidak mendengarkan ceramah agama, kecuali shalat Jumat tentunya. Penceramahnya sendiri tampilannya cukup gimana gitu, khas orang-orang yang terobsesi sama dunia kearab-araban. Penceramahnya memakai gamis/jubah setengah betis, berjenggot lebat yang sudah mulai memutih juga pakai sorban yang diikatkan di atas kepala.

Beliau ternyata berbicara tentang shalat jamaah. Isinya sangat mengagetkan saia. Dengan mengobral hadis dimana-mana beliau mengatakan bahwa shalatnya orang yang mendengar adzan apabila ia tidak jamaah maka shalatnya tidak sah. Versi lain masih katanya shalatnya tetap sah tapi berdosa [lah trus ngapain dong shalat kalo ternyata tetap dianggap dosa?]. Bahkan katanya lagi masih mengobral hadis kebatilan yang nyata adalah kekufuran dan kemunafikan yang mana salah satunya adalah tidak berjamaah shalat.

Wow, shock tapi sekaligus ingin ketawa saia mendengar ceramah ustadz itu. Bahkan dia juga menambahi yang bisa dijadikan alasan untuk tidak berjamaah cuma ada dua yaitu sakit dan takut. Takut di sini adalah takut atas keamanan dirinya kalau ia tetap berangkat jamaah. Alasan lainnya tidak diterima.

Jujur saia pengin ketawa mendengar ceramah ustadz itu. Saia membayangkan berat sekali ya jadi orang Islam kalo mengikuti apa yang dikatakn ustadz itu. Dalam keadaan apapun kita harus jamaah. Kerja, sekolah, kuliah atau dalam perjalan tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak shalat jamaah. Trus bagaimana bisa produktif kalau sebentar-sebentar harus istirahat untuk shalat jamaah.

Sebenarnya bagus sih kalau shalat jamaah tegak berdiri di semua waktu. Tapi kita juga harus sadar kita ini hidup tidak untuk akhirat saja, tapi juga untuk dunia. Keduanya harus seimbang. Saia pribadi tidak peduli orang mau shalat jamaah atau tidak. Terserah mereka. Toh sama-sama dapat pahala inih. Cuma kalau berjamaah memang konon dapat 27 pahala.

Saia malah juga tidak peduli orang mau shalat atau tidak. Itu urusan masing-masing individu. Shalat itu urusan antara kita dengan Tuhan. Insya Allah saia juga tidak terlalu peduli dengan pahala shalat yang saia dapatkan. Kalau terlalu dipikir kita malah jadi tidak ikhlas beribadah. Beribadah malah untuk pahala bukan untuk Tuhan. Masalah pahala, apalagi surga neraka itu urusan Tuhan. Anggap saja itu hadiah atau azab untuk kita atas perbuatan kita, tapi jangan terlalu dipikir.

Kembali ke ustadz tadi, saia cuma berkomentar sedikit di sini. Ciri syariat Islam itu tidak memberatkan. Kalau beragama tapi malah merepotkan mending tidak usah bergama saja. Shalat memang ibadah tapi itupun tidak harus malah menjadikan beban bagi kita. Kalau harus jamaah justru malah itu memberatkan dan tidak sesuai dengan ciri agama Islam. Kalau memang ada kesibukan yang tak bisa ditunda apa ya harus kita lepaskan demi shalat jamaah? Polantas saat mati lampu misalnya. Apa dia harus meninggalkan perempatan jalan yang lampu traffic light-nya mati saat adzan berkumandang. Kalau mengikuti ceramah Anda ya polisi itu harus pergi jamaah karena alasan bekerja tidak dapat dijadikan alasan meninggalkan shlat jamaah.

Trus juga yang terakhir setahu saia Rukun Islam itu isi salah satunya adalah shalat bukan shalat berjamaah, jadi mana bisa shalat sendirian dianggap tidak sah. Bicara tidak sah, shalat sendiri mempunyai rukun dan syarat sah, dan lagi-lagi setahu saia yang masih awam ini tidak ada kata-kata berjamaah untuk menjadikan shalat sah dimata Tuhan. Seklai lagi beragama tidak usah dipersulit. Islam sesuai dengan fitrah manusia koq…

Iklan

7 responses to “Ustadz yang Aneh

  1. iamjuz Desember 2, 2008 pukul 4:25 pm

    Gitu tuh yang menyebabkan pandangan salah ttg Islam.
    Islam dicap agama yg mengekang, kaku.

    Klo semua ustad kyk gitu, semua informasi ditelan mentah-mentah tanpa validasi, wahhh kacau…

    Hmmm… di salah satu masjid kecil di Jogja…. tulisan ini bukan salah satu rangkaian curhat ttg KKN to??

    kekekeke

  2. Yasir Alkaf Desember 5, 2008 pukul 4:15 am

    Lah nanti kalo aku tulis di sebuah masjid Megah di Jogjakarta ntar malah dikira masjid Ulil Albab-nya UII. Hehehhe

  3. Habibullah El Firdausy Desember 7, 2008 pukul 8:28 am

    Assalamualaikum Mas Yasir Alkaff
    afwan sebelumnya,
    saya sedikit kurang setuju dengan postingan Mas kali ini! Ada beberapa hal yang Mas harus perhatikan, jangan terlalu mudah menulis namun tidak memperhatikan apa yang mas tulis. Perkara agama ialah perkara yang sangat besar dan tidak bisa dijadikan mainan, dan ditafsirkan sebatas pikiran dan akal. Kalaupu Mas Mau menulis perihal agama, sebaiknya ada rujukan yang jelas dalam mas berhujjah.

    Ada dari ustad tadi yang memang saya kurang setuju, yang kata mas Yasir:
    “alasan untuk tidak berjamaah cuma ada dua yaitu sakit dan takut.”

    saya juga kurang setuju dengan perdapat itu, karena sesuai syariat ada beberapa hal yang membolehkan kita untuk tidak melaksanakan sholat berjamaah yaitu, ketika shafar, hujan, sakit, dll.

    Namun disamping itu ada juga yang saya kurang setuju dari tulisan mas Yasir, dimana Mas Yasir menulis:

    “Penceramahnya sendiri tampilannya cukup gimana gitu, khas orang-orang yang terobsesi sama dunia kearab-araban. Penceramahnya memakai gamis/jubah setengah betis, berjenggot lebat yang sudah mulai memutih juga pakai sorban yang diikatkan di atas kepala.”

    kalau yang saya tangkap dari tulisan mas ini, mas seolah2 kurang begitu suka dengan cara berpakaian ustd tsb, itu bisa sya lihat dari pilihan kata mas yasir yang menggunakan kata “terobsesi”
    kalaupun dugaan saya salah, saya moho maaf, namun kalaupun dugaan saya benar, ketahuilah mas yasir yang saya hormati…

    Sesungguhnya pakaian yang dipakai ustd tadi jauh lebih sunnah daripada pakaian2 yang dipakai orang Indonesia pada umumnya, pakaian dengan celana pantalon yang merupakan peninggalan orang kuffar! Jangan sampai Mas Yasir justru membenci pakaian ustd tadi, karena itu sesungguhnya adalah sunnah Nabi, dan barang siapa yang tidak menyukai sunnah nabi maka bukan termasuk golongannya…!

    masalah sholat jamaah yang mas tulis diatas, saya cuman mau berpesan:
    “yang membedakan kaum muslimin dan munafik zaman Nabi adalah sholat jamaahnya”

    mas juga menulis:
    “Kalau memang ada kesibukan yang tak bisa ditunda apa ya harus kita lepaskan demi shalat jamaah?”

    maka saya jawab ya. Wallahu’alam. Karena sholat adalah kewajiban yang harus ditunaikan terlebih dahulu daripada yang lain. karena saya pernah mendapat nasihat dari seorang ustd, bhwasannya Hak ALlah lah yang harus ditunaikan lebih dahulu, jangan sampai kesibukan kita melalaikan kita dari ibadah kepadanya…

    saya ada sedikit nasehat buat mas, jika tidak berkenan mohon dilupakan saja. Mas yasir tadi menulis:
    “Saia malah juga tidak peduli orang mau shalat atau tidak. Itu urusan masing-masing individu.”

    nasehat saya, Janganlah Mas yasir jadi orang yang apatis, dimana tidak mau peduli terhadap yang lain dan acuh tak acuh. Islam mengajarkan kita untuk saling menasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, beramar ma’ruf dan bernahiy mungkar, mungkin bisa menjadi jalan pahala yang besar dimana di lingkungan kita sendiri masih kurang memahami arti kewajiban shalat kita sebagai manusia yang saling mengingatkan akan jauh lebih baik untuk saling mengingatkan ketika waktu shalat telah tiba. saya yakin mas tahu itu. keadaan inilah yang saya temukan di kantor LEM kita.

    afwan jiddan sebelumnya, mohon dimaafkan jika banyak kata yang kurang berkenan. hafidzakallah…

    -wahyukresna-
    http://elfaruq.wordpress.com

  4. Yasir Alkaf Desember 8, 2008 pukul 5:41 pm

    Hmmm, tdk apa kalo mas Kresna tdk sepakat dengan beberapa poin dalam tulisan saya itu dan saia kira juga tdk perlu sungkan dg banyak meminta maaf segala. Sbg sesama mhs [apalagi dlm kampus yg sama] saia kira cukup baik kalo kita saling mengingatkan.

    Berbicara sunnah sepanjang pengetahuan saia mempunyai 2 arti yaitu pertama segala hal yg pernah dilakukan Nabi dan arti yg kedua perbuatan yg jika dilakukan mendapat pahala tapi jika tdk dilakukan tdk mendapat dosa. Berpakaian ala Arab memang sunnah tapi sunnah dalam artian yg pertama jadi tdk memakainya pun tdk mslh. Nabi berkendara memakai unta tapi apakah kita juga mesti seperti itu? Nabi berjihad (perang) memakai pedang tapi apakah kita juga mesti seperti itu (pdhl lawan sudah pakai tank). Nabi tdk makan sayur bayam apakah kita juga mesti seperi itu, dll. Saia memandang (tentunya setelah belajar dimana-mana) berpakain Arab adalah sama seperti contoh2 yg sebutkan tadi. Diikuti boleh, tdk juga tdk apa. Masalahny yg saia lihat orang2 sprti itu malah cenderung sprti menganggap dirinya mengerjakan sunnah yg mendapat pahala. Padahal saia kira itu bukan ibadah yg bakal mendapat pahala. Pandangan saia sprti itu, mas Kresna tdk sepakat juga tdk apa2

    Masalah shalat jamaah saia kira ini bukan masalah beriman atau munafik karena indikatornya sangat absurd. Islam itu sesuai fitrah manusia shg tdk memberatkan manusia. Saia msh memegang prinsip syariah itu. Ketika tdk bisa berjamaah knp hrs dipaksa? Apa gunanya ada masa waktu shalat kalo shalat hrs dilaksanakan saat itu juga stlh adzan misalnya? Pandangan saia sprti itu, mas Kresna tdk sepakat juga tdk apa2

    Bukan apatis tapi saia lbh suka orang beribadah atas kesadarannya sendiri. Saia lbh suka melihat orang yg beribadah bkn karena kewajiban tpi krn dia memang butuh atas ibadah itu. Bukan tdk suka menasehati tpi saia lbh suka mencotohkan.

    Begitu saja dari saia…

  5. Habibullah El Firdausy Desember 9, 2008 pukul 4:09 am

    ๐Ÿ˜€ ya sudah, kewajiban saya sudah gugur… ๐Ÿ˜€

  6. Yasir Alkaf Desember 9, 2008 pukul 1:20 pm

    tpi ya iu tadi mohon jgn anggap saia “membenci” orang2 yg berpakaian ala Arab. Saia menganggap itu adlh produk budaya saja yg kebetulan dipakai Nabi karena Nabi juga orang Arab. Pakaian sprti itu saia juga punya (dibelikan ayah) koq tpi tdk saia pakai, agak kurang nyaman. Ayah saia malah kemarin pas Idul Adha memakai gamis sprti itu

  7. faisal Januari 7, 2009 pukul 6:42 am

    klo anda tidak sholat berjamaah tanpa uzur anda berdosa tapi tidak membatalkan sholat sendirian. hmm.. ga mau nerusin ah percuma klo jalan hidupnya ga pake Islam. ibadah2 dianggap beban sich

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: