Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Teknis Hukuman Mati di Indonesia

Eksekusi mati terhadap tiga terpidana mati bom Bali sudah tinggal menghitung hari. Umur Imam Samudra cs pun praktis sudah di ujung penghabisannya, apalagi segala macam upaya yang dilakukan tim pembelanya untuk merubah atau mengurangi hukuman sudah mencapai titik akhir pula. Dari banding sampai grasi ke Presiden semua ditolak. Bahkan satu upaya hukum lain yang sebenarnya tidak terlalu jelas manfaatnya yaitu uji materiil tentang tata cara pelaksanaan hukuman mati-pun ditolak juga.

Di sini saia tertarik untuk membahas mekanisme atau tata cara pelaksanaan hukuman mati di Indonesia. Tata cara pelaksanaan pidana mati itu sendiri pemformalannya dalam tata perundangan Indonesia juga mengalami perjalanan yang cukup panjang. Pada dasarnya ketika Indonesia dijajah Belanda pidana mati sudah ada. Tata cara pelaksannannya adalah dengan cara dihukum gantung. Setelah Jepang masuk menjajah Indonesia menggantikan Belanda teknis pidana mati menjadi melalui hukum tembak ala militer, dan diteruskan pemerintah Indonesia sampai saat ini.

Setelah Indonesia merdeka penetapan tata cara atau mekanisme pelaksanaan pidana mati ini diformalkan dalam Penetapan Presiden Nomor 2 tahun 1964 dan tercatat dalam Lembaran Negara 1964 Nomor 38. Penetapan Presiden ini kemudian diundangkan 27 April 1964 melalui UU No 2/Pnps/1964 dan kemudian ditetapkan menjadi Undang-undang dengan UU Nomor 5 tahun 1969.

Masuk ke masalah teknis, pertama adalah tempat dimana si terpidana akan di pidana tembak mati. Berdasarkan pasal 2 undang-undang tersebut tempat pelaksanaan eksekusi adalah di wilayah hukum pengadilan dimana putusan tingkat pertama dijatuhkan. Dalam kasus Imam Samudra cs maka lokasinya berada di Bali. Selain itu berdasarkan pasal yang sama Imam Samudra tidak bisa dieksekusi sendiri. Imam Samudra harus dikesekusi pada waktu dan tempat yang sama dengan Amrozi dan Ali Gufron karena putusan hukuman mati dijatuhkan dalam satu putusan.

Kedua adalah mengenai waktu dan lokasi. Pihak yang berhak menentukan adalah Polda tempat eksekusi dengan memperhatikan nasehat Kejaksaan karena kejaksaan adalah penanggung jawab pelaksanaan pidana mati ini. Maksimal tiga hari (3 x 24 jam) sebelum pelaksanaan si terpidana harus sudah diberi tahu dan si terpidana berhak untuk menyampaikan pesan terakhirnya dengan dititipkan Kejaksaan. Khusus bagi terpidana yang sedang hamil maka pelaksanaan pidana mati menunggu empat puluh hari pasca terpidana melahirkan.

Ketiga adalah siapa saja yang berhak menghadiri pelaksanaan tembak mati. Pelaksanaan hukuman mati tidak boleh dilaksanakan di depan umum serta dilaksanakan secepat dan sesederhana mungkin. Kejaksaan sebagai penanggung jawab pelaksanaan wajib hadir. Kepala Polisi Daerah atau perwira yang ditunjuk juga wajib hadir sebagai pemimpin pelaksanaan. Pembela juga berhak hadir atas permintaan sendiri atau terpidana untuk menjadi saksi. Selain itu diundang pula dokter untuk memastikan kematian terpidana. Terakhir rohaniawan apabila diperlukan juga dapat dihadirkan saat pelaksanaan untuk menguatkan hati terpidana.

Keempat yaitu tim penembak. Tim penembak ini terdiri dari satu Regu Penembak dari Brigade Mobil (Brimob) dengan anggota seorang Bintara, 12 orang tamtama dan di pimpin satu orang perwira.

Kelima yaitu persiapan pelaksanaan. Terpidana datang ke lokasi dengan pengawalan secukupnya dan dengan mengenakan pakaian yang sederhana. Terpidana berhak memilih apakah ia hendak ditutup matanya atau tidak. Terpidana bisa menjalani hukuman dengan posisi berdiri, duduk atau berlutut, tergantung kebutuhan. Jika diperlukan terpidana juga dapat diikat pada sebuah sandaran khusus. Regu penembak juga segera menempati posisinya dengan senjata sudah terisi peluru. Jarak tembak sendiri minimal 5 meter dan maksimal 10 meter.

Keenam, pelaksanaan hukuman. Setelah jaksa memerintahkan hukuman segera dilaksanakan maka tim pengiring (polisi, rohaniawan, pembela) harus segera menjauhkan diri dari terpidana. Perwira mengangkat pedangnya sebagai tanda agar Regu Tembak mengarahkan senjatanya ke jantung korban. Ketika pedang disentakan ke bawah maka berarti itu adalah tanda perintah penembakan dan regu penembak pun menembak terpidana. Apabila setelah penembakan terpidana terlihat belum mati maka Kepala Regu memerintahkan bintara untuk menembak jarak dekat terpidana tepat di atas telinganya sebagai tembakan pamungkas. Untuk memperoleh kepastian terpidana sudah meninggal, maka dokter dapat dimintai bantuannya.

Keempat, pasca pelaksanaan hukuman. Setelah pelaksanaan maka jenazah terpidana diserahkan kepada kerabat atau sahabat terpidana untuk dikuburkan. Apabila tidak ada kerabat atau sahabat yang menerima jenazahnya maka penguburan diserahkan kepada Negara berdasarkan agama yang dianut terpidana. Kejaksaan juga tidak boleh lupa membuat Berita Acara Pelaksanaan Hukuman mati ini.

Seperti itulah teknis pelaksanaan hukuman mati di Indonesia. Tata cara pelaksanaan ini tercantum dalam UU No 2/Pnps/1964. Pemerintah sudah mengupayakan terjadinya pelaksanaan hukuman mati yang wajar dan tidak menyiksa. Aparat pelaksananya pun sudah jelas dan netral. Tidak seperti saat eksekusi Saddam Husein di Irak dimana terlihat sekali si pelaksana sangat membenci Saddam Husein. Bahkan pelaksanaannya menurut saia terlihat barbar karena ada banyak yang menyaksikan dan meneriakkan nama Muqtada (al Sadr) yang merupakan musuh Saddam. Ada unsur balas dendam di sini. Saia harap pelaksanaan hukkuman di Indonesia tidak sperti itu.

Satu yang agak mengehrankan dari yang saia lihat di televise koq tampaknye eksekusi hukuman mati Imam Samudra cs akan dilakukan di Nusakambangan.Padahal sesuai amanah Undang-Undang tersebut tempat eksekusi harusnya di tempat putusan tingkat pertama dijatuhkan yaitu di Bali. Apa kasus Imam Samudra ini termasuk kasus special? Atau jangan-jangan wartawan-wartawan dikibuli Kejaksaan? Semua wartawan sudah kumpul di Cilacap ternyata si terpidananya nggak ada di situ. Kabarnya Lapas Batu sekarang tertutup untuk umum. Terus bagaiman kita tahu Imam Samudracs ada di situ? Jangan-jangan mereka sudah di Bali. Wallahu a’lam

Iklan

12 responses to “Teknis Hukuman Mati di Indonesia

  1. gurindang November 2, 2008 pukul 11:11 am

    ho’oh…dngar2 gosip d berita,,mang katanya di Nusakambangan…

    kecuali masalah hukum,,dimnapun tempat pelaksanaannya,,gag ada bedanya kan yak…?

  2. bijax November 6, 2008 pukul 3:50 pm

    ah hukuman mati Amrozi cs koq heboh banget.. banyak pro dan kontra padahal sudah banyak pelaksanaan hukuman mati yg telah dilakukan.. yah kalo emang harus dihukum mati ya cepet lah.. bikin merinding aja… hii gmn rasa ngerinya yah jadi terpidana mati.. hiii ngeriiii

  3. Yasir Alkaf November 7, 2008 pukul 6:30 am

    Menjdi heboh karena mereka membunuh ratusan orang dg landasan katanya mereka “menjalankan perintah Tuhan”.

    Masalah ngeri saia kira tembak mati ala China jauh lebih ngeri. Terhukum duduk berlutut sementara tentara eksekutor menmbak jarak dekat dari belakang. Satu eksekutor menembak satu terhukum. Entah apakah sang ekskutor tadi mendapat beban moral atau tdk saia tdk tahu karena dia jelas2 membunuh orang itu. Sementara di Indonesia “beban moral” itu paling tdk “dibagi” kepada 12 orang

  4. xXx Februari 4, 2009 pukul 3:10 am

    Taubatlah kalian Para pengedar narkoba,pembunuhan berencana,teroris..
    Kita hidup di dunia ini hanya sementara

  5. ricky citra Februari 21, 2011 pukul 6:23 am

    gwa gk setuju..hukuman mati ad di indo…soalnya manusia ada hak untuk hidup.dalam logika,,apakah smua yg terpidana mati bsa mngmbalikan kslahan nya…apa lg pemrintah indo adalah,,hukum yag selalu di politik..misal oarng yg belum tentu bersalah..lalu dia berurusan dengan hukum namun di jatuhi vonis mati…apa kah smua bisa terjawab..by ricky

  6. melkianus benu April 8, 2012 pukul 9:18 pm

    kalau kemudian pelaku terpidana mati ditembak hingga mati oleh tim eksekutor, namun warga lain tidak takut dengan penjatuhan hukuman itu, apa artinya hukuman mati bagi rakyat indonesia,,,yang tahu cuman para hakim yg tahu namun mereka sengaja diamkan persoalan ini

  7. Jerikho September 8, 2012 pukul 2:16 pm

    KRTIK DIKIT : “Kalo emang terpidana saat satu kali tembakan di jantung belum mati, JANGAN DI HEADSHOT atau tembak kepala. Kalo memang belum mati tembak lagi di jantung satu kali lagi. Max. 2 kali tembakan di jantung. Sebab kalo di headshot (tembak kepala) terpidana akan kaget ketika peluru masuk ke kepalanya .dan itu adalah MENYIKSA

  8. mujahidin September 9, 2014 pukul 5:05 pm

    hukum tembak sebenarnya dilarang karena menyiksa terpidana, lebih baik hukuman pancung karena lebih praktis dan tidak menyiksa terpidana

  9. Pingback: Eksekusi Terpidana Mati Kasus Narkoba | Cara Daftar

  10. nila Januari 18, 2015 pukul 8:59 pm

    Hihi..…ngeri bgt klu kita hrs merasakan hukuman mati, nauzubillahiminjalik.

  11. bejo Januari 19, 2015 pukul 4:21 am

    mantap artikelnya gan, ane baru tau juga. hehehe, keep posting gan

  12. RACHMAT HERYADI Januari 19, 2015 pukul 3:10 pm

    ya hukuman mati itu negara manapun ada dalam kasus-kasus berat, tp di indonesia sangat manusiawi tempat, jam tidak ada yang tau pasti….,dan saya yakin regu tembak pun yang jmlahnya 12 orang tidak tau senjata nya ada peluru atau tidaknya supaya tidak menjadi beban moral.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: