Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Akankah Kita Beda Puasa dan Lebaran Lagi???

Yah tanpa terasa kita akan memasuki bulan Ramadhan lagi. Sebuah bulan suci dimana umat Islam disyariatkan untuk menunaikan ibadah puasa. Satu yang hampir pasti menjadi bahan perdebatan adalah penetuan awal ramadhan antara salah satu ormas islam dengan ormas islam yang lain juga dengan pemerintah. Sebuah perdebatan perbedaan rutin yang hampir selalu terjadi. Akankah perbedaan itu juga akan terjadi di Ramadhan dan Syawal tahun ini?

Ada dua metode yang dipakai oleh dua ormas Islam yang terbesar di Indonesia yaitu Muhammadiyah dan NU. Sudah popular sekali bahwa Muhammadiyah menggunakan system Hisab atau menghitung. Sementara NU menggunakan metode rukyah atau melihat. Satu yang kadang salah persepsi di kalangan akar rumput adalah mereka mengatakan Muhammadiyah lebih modern dan NU sangat tradisonal. Saya berani katakan itu sangat salah. Orang NUpun juga bisa hitung-hitungan ala Muhammdiyah tapi hanya bedanya data perhitungan itu tetap mereka buktikan dengan melihat atau rukyah. Jadi hentikanlah saling ejek-mengejek n ramadhan lagi. Sebuah bulan suci…ksjssdi antara para pengikut dua ormas itu.

Saya pernah sedikit belajar tentang masalah penetuan awal bulan Qomariyah ini dari Ayah sekaligus guru saya. Kebetulan beliau bisa dikatakan ahli hisab. Dulu ketika masih sebagai Pengadilan Agama beliau sering masuk tim rukyah tapi sekarang tidak lagi karena beliau sudah pindah ke Pengadilan Tinggi Agama. Setelah saya melihat data yang disampaikan Muhammadiyah dan Badan Peradilan Agama, Insya Allah Ramadhan dan Syawal tahun 1429 ini tidak akan berbeda antara Muhammadiyah dan NU dan pemerintah.

Sebelumnya sedikit saya uraikan cara penetuan awal bulan Qamariyah. Awal bulan ditandai dengan muncul atau tidaknya hilal pada tanggal 29 bulan tersebut di waktu maghrib. Kenapa magrib karena waktu itulah pergantian hari menurut kalender Qomariyah (bulan). Tempat yang tepat untuk melihat hilal adalah tempat yang lapang dimana kita dapat meilhat garis batas antara langit dan bumi. Diantara tempat tersebut yang paling mudah adalah di pantai. Ketika kita melihat ke laut jelas sekali kan batas antara langit dan bumi. Garis batas itu biasa disebut ufuk atau cakrawala.

Tinggi hilal dinyatakan dengan derajat. Kenapa bisa demikian silahkan ingat-ingat pelajaran SMA dulu mengenai sudut elevasi. Sudut elevasi itu terbentuk antara ufuk dan hilal dilihat dari mata kita. Silahkan bayangkan sendiri seperti apa. Pusing ya?? Daripada pusing kebanyakan teori dan tidak masuk-masuk ke inti persoalan kita hentikan saja terori itu. Pelajari saja kalau berminat.

Setelah tinggi diketahui baru antara Muhammadiyah dan NU berbeda pendapat. Menurut Muhammadiah berapapun tingginya hilal dan betapapun hilal tidak dapat dilihat mata asal tinggi sudah diatas 0 derajat hilal dianggap sudah ada. Kita tidak perlu repot-repot membuktikannya. Berati bulan baru sudah muncul dan besok adalah awal bulan. Kalo NU berbeda, tinggi hilal dibawah 3 derajat sangat tidak mungkin hilal dapat dilihat. Meskipun tidak mungkin biasanya hilal tetap dicoba dilihat. Jika benar-benar tak terlihat maka bulan baru dianggap belum muncul sehingga bulan yang bersangkutan digenapkan satu hari lagi menjadi 30 hari.

Tanggal 29 Sya’ban (bulan sebelum Ramadhan) atau yang bertepatan dengan 31 Agustus 2008 tinggi hilal di salah satu wilayah dilaporkan PP Muhammadiyah sebesar 5 derajat sekian menit. Data dari Direktorat Jendral Badan Peradilan Agama juga hamper-hampir mirip hampir-radi Data daribenar-benar tak terlihat maka bulan baru dianggap belum muncul sehingga bulan yang bersangkutan. Karena tinggi hilal di atas 0 PP Muhammadiyah langsung menyatakan tidak ada tanggal 30 Syaban alias tanggal 1 September adalah 1 Ramadhan. NU dan pemerintah juga Insya Allah besok juga ketika tanggal 31 Agustus besok akan mengumumkan bahwa tanggal 1 September adalah 1 Ramadhan. Hilal setinggi di atas 3 derajat apabila dilihat menggunakan teropong Insya Allah akan terlihat.

Bagaiman dengan 1 Syawal yang bertepatan dengan Idul Fitri? Insya Allah kita juga akan sama merayakannya. Data dari PP Muhammadiyah menyebutkan bahwa tinggi hilal tanggal 29 Ramadahan negative atau di bawah 0. Karena negative maka Muhammadiyah membulatkan bilangan bulan Ramadhan menjadi 30 hari dan 1 Syawal dinyatakan ada pada tanggal 1 September. NU dan pemerintah yang lebih cenderung pada metode rukyah juga besok tanggal 29 Agustus Insya Allah akan mengumumkan hilal tidak terlihat (soalnya jelas-jelas tinggi hilal negatif) sehingga puasa dibulatkan 30 hari.

Semoga saja demikian. Sangat tidak enak sekali jika sementara kita masih puasa tetapi tetangga sudah takbiran begitu juga sebaliknya.

19 responses to “Akankah Kita Beda Puasa dan Lebaran Lagi???

  1. Yasir Alkaf Agustus 15, 2008 pukul 1:09 pm

    Sekali-kali nulis yg sangat serius. Semoga tulisan di atas mudah dipahami

    🙂

  2. tiyoK Agustus 15, 2008 pukul 1:26 pm

    klo perhitungan arab seperti apa bang alkaf??
    tahu gak??
    karena ada teman saya gak ngaruh pemerintah kapan..
    muhamadyah kapan..
    NU kapan..
    tapi ngikut lebaran yang di arab..

  3. gurindang Agustus 16, 2008 pukul 4:39 am

    Oh gitu toh Di..??
    aq siyh biasanya ngikut pemerintah ajah..hehehe..

    @ Tiyok
    iya ad juga yng aq tau begituh..tp bukannya waktu Arab ma kita beda yak??jadi ga bisa ngikut2 gituh ajah..
    eh tauk dink..

  4. uwiuw Agustus 17, 2008 pukul 12:20 pm

    sy mah ngambil yg paling aman. Bagaimana keputusan pemerintah. Hal2 seperti ini hak pemerintah. sekalipun kadang beda dengan negara lain tapi biarlah dosa pemerintah ini hehehehe bukan dosa sy 🙂 lagipula kalau ngak sesuai pemerintah, malah sy yg dosa hehehe lagi

  5. bramoke Agustus 19, 2008 pukul 2:15 pm

    Ada satu lagi bang alkaf, yaitu hari pertama puasa mengikuti orang yang pertama kali melihat bulan. Misal di Arab Saudi sudah bisa melihat bulan, maka walaupun di Indonesia berdasarkan hisab dan rukyat bulan tidak mungkin terlihat, tetap dianggap memasuki tanggal 1. Hal itu berdasarkan hadist nabi, intinya begini: Bila ada seseorang yang telah melihat bulan, maka semuanya ikut berpuasa. begono…

    Biasanya itu orang-orang HTI yang begitu

  6. Yasir Alkaf Agustus 24, 2008 pukul 12:12 pm

    Akhirnya bisa nengok blog ini lagih..

    Baiknya sih kita memang mengikuti pemerintah karena dulu Nabi-pun memutuskan awal bulan dlm kapasitasnya sbg pemimpin negri bukan atas nama golongan tertentu (Muhajirin).

    Kalo berpuasa/berlebaran mengikuti Arab Saudi malah aneh. Kenapa harus Arab? Beda wilayah beda matla’ jadi ada kemungkinan di sini terlihat di sana tidak. Kalo dlm satu wilayah kepemerintahan bolehlah disamakan tapi kalo tidak apalgi wilayahnya sangat jauh jelas tidak bisa. Orang dulu zaman Muawiyah saja antara Syam dg Madinah saja pernah beda awal ramadhan dan sahabat ibnu Abbas tdk menyalahkannya.

  7. iamjuz Agustus 24, 2008 pukul 12:49 pm

    kalo gini biadab ga ya :
    Puasa Pertama –> ikutin yang paling akhir
    Lebaran –> ikutin yang paling awal

    *dalam kasus ada dua / lebih versi perhitungan, dan solusi di atas ituh mengikuti dua versi yang berbeda

    *cari untungnya aja si

    *sangad biadab

    *sudala

    ,, kekeke…

  8. tiyoK Agustus 24, 2008 pukul 1:33 pm

    bukanya biadab..
    tapi gak punya pendirian a.K.a planplin..

  9. Yasir Alkaf Agustus 25, 2008 pukul 12:13 pm

    hmm

    sama aja seperti sahur di Jakarta buka puasa di Jogja. Irit beberapa menit…

  10. tiyoK Agustus 25, 2008 pukul 1:55 pm

    menurutku beda kasusnya..
    klo kasusmu itu kasus musafir..
    nah kasusnya si juz,orang menetap bukan musafir..
    gt ap yak,,jd bingung ndiri..

  11. Yasir Alkaf Agustus 27, 2008 pukul 10:18 am

    Yah, hampir sama siy. Akal2an orang biar enak puasanya

  12. benz Agustus 28, 2008 pukul 4:36 am

    wah, pada bicara agama semua (manut2 geleng2) 😀

  13. bay-kun Agustus 28, 2008 pukul 1:02 pm

    [OOT]
    wekz,slamat datang untuk benz…
    di blog Yasir Alkaf

  14. gurindang Agustus 28, 2008 pukul 5:02 pm

    ha..???
    koq diblogurindang..??

  15. Yasir Alkaf Agustus 29, 2008 pukul 2:30 am

    ga perlu dianggep SPAM cukup diedit ajah. Tuh dah diedit kan???
    Oya buat Benz selamat dateng ajah. Skali2 ngomonngin agama boleh dong, mumpung momennya pas

  16. abiehakim Agustus 30, 2008 pukul 5:48 pm

    Sebenarnya masalah ini lebih kepada egoisme saja, kenapa? Di Arab Saudi gak akan serumit di Indonesia. Disana cukup menunjuk satu Qadhi dan Qadhi tersebut berani di sumpah, udah deh Beres! Di Indonesia? Ntar dulu donk, siapa dulu yg jadi Qadhi rang NU apa Muhammadiyah….( tuh kan balek lagi deh masalah fanatisme golongan ) ape deh

  17. Yasir Alkaf Agustus 31, 2008 pukul 5:11 am

    Yah harus diakui memang di Indonesia utk mslh keagamaan tingkat fantisme thdp golongannya masih sangat tinggi.

  18. Awam Agustus 31, 2008 pukul 2:58 pm

    di http://www.pkpu.or.id/imsyak/ ada jadwal imsakiyah yg dibuat oleh Temu Kerja Evaluasi Hisab Rukyat Departemen Agama RI tanggal 27-29 Februari 2008.
    saya mau bertanya pd teman2 yg pandai2:
    1. Jadwal imsakiyah yg dibuat 6 bln lalu (oleh pemerintah) berdasar atas hisab atau rukyah?
    2. apakah menentukan hilal bulan baru lebih sulit?

  19. Yasir Alkaf September 1, 2008 pukul 9:02 am

    Saya coba jawab mas (tp ni sejauh pengetahuan saia sajah):
    1. Penentuan waktu shalat beda dg penentuan awal bulan. Kalo waktu shalat itu berdasarkan pada matahari sementara kalo awal bulan berdasarkan pada bulan. Jadi 2 hal itu tdk bisa disamakan. Contohnya kpn waktu subuh? ya pas matahari terbit, sementara dhuhur ketika matahari di atas kepala dst. Nah berbeda dg penetuan awal bulan penentuan waktu shalat tdk ada dalil yg khusus jadi tdk ada perdebatan apakah cukup menghitung saja atau perlu dilihat juga. Kalo awal bulan ada dalil khusus yg intinya “berpuasalah kamu karena melihat hilal”. Kata melihat ini yg jadi masalah apakah melihat dlm arti sebenarnya saja atau juga melihat dlm artian lewat hitung2an.

    2. Sulitnya ya karena ada perbedaan persepsi pd arti kata melihat itu dan pada perbedaan cara menggunakan hasil hitung2an seperti tulisan sia di atas ituh. Gampangnya gini. Ada galon air yang tiap hari diambil secara kontinyu. Karena kontinyu maka bisa dihitung setelah 29 hari misalnya masih ada airnya atau tidak. Setelah dihitung misalnya sisa 1 mililiter. Bagi penganut hisab setelah dihitung ternyata msh ada air ya tdk usah beli lagi sementara bagi penganut rukyat ya dilihat dulu setelah dihitung bener msh ada sisa air tidak. Sepanda-pandai orang kan msh mungkin ada kesalahan jadi perlu di cek dulu. Kurang lebih seperti itu. Semoga bisa dipahami

    nb: saia mhs informatika mas jadi tdk pandai masalah ginian cuma dulu pernah belajar saja sama ayah. JAdi kalo mau lebih dalam tanya ke yang lain ajah. Dari saia ya cuma itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: