Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Obrolan tentang Hukuman Mati

Masih bersama Ahmad, lik Warjo dan pak Slamet di tempat yang sama, sebuah angkringan di sudut kota Yogyakarta. Kali ini tema yang mereka bicarakan adalah tentang perlu tidaknya hukuman mati sebagai salah satu bentuk hukuman terutama di Indonesia.

“Lagi-lagi hukuman mati. Tidak adakah kesempatan bagi Sugeng atau Sumiarsih yang kemarin baru saja dihukum tembak mati untuk memperbaiki kesalahannya? Apa gunanya Lembaga Pemasyarakatan jika toh ternyata hak hidup orang itu dirampas? Bukannya filosofi Lembaga Pemasyarakatan adalah memperbaiki untuk dipersiapkan dapat kembali ke masyarakat? Bagaimana mau kembali jika nyawa sudah dicabut? Jadi hantu gentayangan?” kata Ahmad mengawali pembicaraan dengan rentetan pertanyaan.

“Wah, jadi pejuang HAM nih mas Ahmad” jawab lik Warjo singkat sambil menghisap rokok lintingannya.

“Nggak juga sih, Cuma menyampaikan unek-unek aja. Tapi di sisi lain saya juga sepakat dengan para aktivis-aktivis HAM bahwa hak hidup adalah hak yang paling mendasar dan Negara harus menjaminnya. Manusia tidak bisa mengambil alih posisi Tuhan untuk menetukan hidup mati seseorang” kata Ahmad lagi

“Kalo lik Warjo sendiri gimana nih, sampeyan setuju atau tidak dengan adanya hukuman mati?” sela pak Slamet

“Gimana ya? Orang kampung seperti saya ini mana ngerti urusan gituan. Tapi yang saya dengar dari Kyai Syamsuri saat pengajian usai yasinan kemarin sih katanya hukuman mati itu sesuai Syariat Islam.” jawab lik Warjo

“Nah ini nih, kebiasaan orang Indonesia, mengaitkan hukum positif dengan hukum agama. Kan kita tahu Indonesia bukan Negara agama jadi harusnya jangan kaitkan urusan ini dengan agama tertentu. Lagipula patut dipertanyakan apakah hukum mati dalam konteks agama yang disebutkan lik Warjo itu bersifat temporal atau berlaku untuk selamanya” jawab Ahmad agak sinis

“Nggak tahu juga. Tapi kalo orang-orang seperti saya sih prinsipnya pejah gesang nderek pak Kyai. Pokoknya apa yang dikatakan pak Kyai saya ikuti” jawab lik Warjo santai sambil menyebulkan asap rokoknya

“Mending jangan kita lihat dari sisi agama soalnya bahaya kalo salah. Lebih baik dari sisi yang lain saja. Sisi sosial kemasyarakatan msialnya. Kalo saya pribadi berpendapat sih tidak masalah ada hukuman mati asalkan untuk kasus criminal yang benar-benar berat dan si terhukum itu benar-benar terbukti bersalah” kata pak Slamet

“Hmmm. Menarik nih. Alasannya apa pak?” tanya Ahmad tertarik, sambil ngemil tempe goreng

“Begini. Tadi mas mengatakan bahwa hanya Tuhanlah yang berhak mengambil nyawa seseorang. Kalo begitu boleh dong kalo saya mengatakan hanya Tuhanlah yang berhak menghukum seseorang atas perbuatan juga kejahatan yang diperbuat orang itu. Tuhanlah yang paling berhak atas diri kita. Orang lain tidak berhak menghukum kita. Tidak perlu ada hukum di dunia ini. Biar nanti Tuhan yang membalasnya di akhirat. Seperti itukah mas Ahmad?” jawaban sekaligus pertanyaan pak Slamet.

“Ya nggak dong pak bisa berantakan bumi ini kalo tidak ada hukum” jawab Ahmad yang tampak mulai ragu

“Pointnya ya ada di hukum itu. Bahwa hukum itu, termasuk di dalamnya hukuman mati, diciptakan untuk menciptakan ketertiban. Hukum itu sendiri yang saya tahu bisa dibuat berdasarkan kesepakatan warga atau cukup dengan mengambil dari teks agama tertentu. Selain itu hukum juga berfungsi untuk menimbulkan efek jera dengan mempertimbangkan aspek keadilan dari pelanggar ketertiban yang sebelumnya sudah disepakati. Kira-kira adil tidak jika Ryan si Penjagal dari Jombang yang sampai membunuh sebelas orang misalnya hanya dihukum penjara lima tahun. Tidak adil dan tidak ada efek jeranya kan? Pastinya jika Ryan tidak di hukum mati nantinya akan muncul Ryan-Ryan lain yang akan membunuh banyak orang juga, Toh hukuman penjaranya Cuma sebentar inih” ulas pak Slamet panjang lebar

“Benar mas Ahmad, nggak adil sekali kalo seperti itu. Koruptor dan penyuap seharusnya juga dihukum mati. Masa Artalyta Cuma dihukum lima tahun. Sebentar banget..” sela lik Warjo

“Tapi tidak ada tuh pak data statistik yang menunjukkan dengan adanya hukuman mati kejahatan besar menurun” jawab Ahmad lagi

“Nah coba mas bayangkan. Ada hukuman mati saja kejahatan besar masih marak terjadi apalagi jika tidak ada hukuman mati. Bisa-bisa malah makin menjamur kejahatan. Yang penting kita sudah berusaha membentuk suatu system untuk menjaga ketertiban dengan berbagai mekanisme hukumannya.Akan menjadi kontraproduktif jika masalah seperti ini diperdebatkan terus-menerus” kata pak Slamet

“Ya ya ya. Bolehlah argument pak Slamet. Tampaknya saya masih perlu banyak belajar lagi nih jaga ketertiban dengan berbagai mekanisme hukumannya besar masih marak terjadi apalagi jika tidak ada hukuman mati. Bisa-bisa” kata Ahmad

“Bisa aja nih mas Ahmad. Kita kan sama-sama belajar dan tukar pikiran. Meskipun saya guru SMA kan saya juga tetap harus belajar. Barangkali ada pandangan mas Ahmad sebagai mahasiswa atau lik Warjo sebagai rakyat pengagum kyai yang nantinya bisa saling kita tukar” tutup pak Ahmad sambil menyalakan rokok Djarumnya.

Dan diskusipun selesai

8 responses to “Obrolan tentang Hukuman Mati

  1. gurindang Juli 31, 2008 pukul 6:26 am

    iya..setuju pak Slamet…

  2. Yasir Alkaf Juli 31, 2008 pukul 7:52 am

    Rencananya tulisan itu bwt bank tulisan dan bank tulisanku kemungkinan konsepnya akan seperti itu terus. Gimana bu mantan Pimred?

  3. gurindang Agustus 1, 2008 pukul 1:21 pm

    oke..oke..
    bakal jadi ciri khas mu tuh Di..
    konsepnya oke juga (eh,,udah yak?) dengan pak slamet,ahmad n lik warjo..
    nambah dunk tokohnya..
    ada ‘mbak gur’ nya donk,,sebagai sinden panggung ternama ato sepupunya ahmad dari kota gituh Di…
    nambah pemain biar makin rame gituh deh,,hehehehe

  4. Yasir Alkaf Agustus 1, 2008 pukul 3:31 pm

    Jgn banyak2 dunx tokohnya, ntar malah jadi novel…

  5. gurindang Agustus 2, 2008 pukul 4:36 am

    yagh gapapa Di…
    ntar dimunculin sekali-sekali gituh..
    hehehhe..kali memang bisa jadi novel loh..trus di filmkan..
    huahahahahahha…

  6. tiyoK Agustus 5, 2008 pukul 4:21 am

    iya jangan kebanyakan tokoh…
    segini ajah ane udah bosen…
    piss di

  7. gurindang Agustus 5, 2008 pukul 10:07 am

    nah,,bosennya si tiok karna tokohnya itu2 ajah..
    skali2,, pak ahmad kemana gituh. ke desa lah. trus dgantiin mbak gur (hehe,teteeeppp)

  8. Yasir Alkaf Agustus 8, 2008 pukul 12:03 pm

    tenang baru 2 episode inih, semua akan diakomodir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: