Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Menafsir SKB Ahmadiyah

Saya bukan seorang ustadz, juga bukan seorang pengamat hukum apalagi politikus. Saya hanya sekedar mahasiswa biasa namun saya mempunyai pandangan atau bisa juga dibilang mempunyai tafsiran tersendiri mengenai SKB 3 Menteri tentang Ahmadiyah. Secara prinsip saya sepakat dengan isi SKB itu karena isinya cukup mengkompromikan semua kepentingan termasuk seharusnya FPI dan Ahmadiyah-nya sendiri.

Sebenarnya ada tiga kemungkinan isi SKB. Kemungkinan-kemungkinan itu yaitu MEMBUBARKAN AHMADIYAH, MELARANG AHMADIYAH, atau MEMBIARKAN AHMADIYAH. Tiga kemungkinan itulah yang tadinya saya kira akan menjadi isi dan inti dari SKB Ahmadiyah.

Kemungkinan pertama jelas tidak mungkin karena seperti yang sudah pernah saya katakan Ahmadiyahbukan organisasi jadi sangat tidak mungkin dibubarkan . Ada yang bilang Ahmadiyah Indonesia berbadan hukum sejak zaman dulu, tapi saya tidak sepakat. Yang berbadan hukum saya kira Jemaat Ahmadiyah Indonesia bukan Ahmadiyahnya. Saya berani berkata seperti itu karena rentang waktu berdirinya JAI dengan pencatatan badan hukum tidak terlalu lama. Selain itu belum pernah saya dengar ada suatu ideologi, agama, madzhab mempunyai badan hukum.

Kemungkinan kedua agak mungkin tapi sekaligus tidak mungkin. Pelarangan hanya bisa dilakukan apabila pihak yang dilarang yang dilarang tidak ada di wilayah itu. Ada suatu pelarangan yang sering kita lihat. PEMULUNG DILARANG MASUK. Semua pasti tahu jika ada tanda itu berarti tidak ada pemulung di wilayah itu. Kalaupun ada yang masuk maka akan di usir.

Dari analogi di atas jika Ahmadiyah dilarang di Indonesia saat ini maka pelarangan itu tidak tepat karena Ahmadiyah eksis di Indonesia bahkan sejak zaman dahulu. Ketika Ahmadiyah belum ada di Indonesia baru bisa pelarangan dilakukan. Kalaupun dipaksakan SKB berisi pelarangan Ahmadiyah lantas akan dikemanakan para pengikut Ahmadiyah? Kalau sekedar pemulung yang dilarang masuk suatu wilayah dan ternyata ada pemulung di situ gampang saja mereka diusir. Tapi untuk pengikut Ahmadiyah? Mau pergi ke mana?

Kita harus belajar dari kasus pelarangan komunisme di Indonesia. Setelah komunisme dilarang maka para pengikutnya dibantai habis-habisan oleh penguasa. Lantas apakah untuk mengusir pengikut Ahmadiyah caranya juga seperti itu? Memang saya yakin umat Islam tidak akan berbuat slarang maka para pengikutnya dibantai habis-habisan oleh penguasa. u gampang saja mereka diusir. Tapi untukeperti itu. Tapi dengan adanya pelarangan akan timbul pula legitimasi bagi mayoritas untuk menindas minoritas, apapun bentuknya. Mungkin berupa pengucilan, pemaksaan mengikuti mainstream ataupun yang lainnya.

Sementara itu untuk kemungkinan yang ketiga yaitu membiarkan Ahmadiyah tetap eksis jelas saya tidak setuju. Biar bagaimanapun Ahmandiyah seperti bara dalam sekam. Mengaku Islam mempunyai ajaran yang berbeda. Kalau sekedar masalah khilafiyah wajar dan dapat ditolerir tapi menganggap ada NAbi lain setelah Muhammad saw jelas tidak bisa ditolerir. Saya pernah melihat dialog di TV bahwa Nabi yang mereka maksudkan adalah Nabi dalam arti bahasa saja. Meski demikian tetap saja patut dipertanyakan kenapa harus pakai kata-kata Nabi. Lagipula di Tadzkirah seperti yang diungkapkan para ahlinya Mirza menyatakan diri bahwa dia itu Nabi dan NAbi Muhammad juga mengakui dirinya Nabi. Alasan-alasan itu membuktikan ketidaktepatan/kesalahan (saya tdk dengan suka istilah sesat) ajaran Ahmadiyah.

Nah ternyata SKB yang dikeluarkan Ahmadiyah benar-benar di luar dugaan saya. Mungkin sekilas SKB itu kelihatan banci dalam artian tidak tegas tapi saya tidak sepakat dengan mereka yang mengatakan seperti itu. Ahmadiyah memang tetap dibiarkan ada di Indonesia tapi ruang gerak mereka sangat dibatasi sekali. Ibarat tanaman Ahmadiyah itu di-bonsai sekaligus tidak disirami dan diberi pupuk. Akibatnya jelas lama-kelamaan tanaman itu akan mati sendiri. Ahmadiyah tetap dibiarkan tapi mereka harus menghentikan kegiatan yang bertentangan dengan ajaran Islam mainstream dan tidak boleh mendakwahkan ajarannya. Dibiarkan eksis analoginya seperti tanaman yang dibonsai. Ahamdiyah jadi dilokalisir tapi dalam wilayah yang sangat kecil sekali. Tidak boleh berdakwah analoginya sama seperti tidak diberi pupuk. Bagaimana tamanan mau berkembang jika tidak disirami dan dipupuki?

Dari SKB itu saya paling suka dengan kalimat “…sepanjang menganut agama Islam…”. Dengan demikian pemerintah memberi jalan bagi pengikut Ahmadiyah untuk merubah pandangannya. Usulan mendudukan Ahmadiyah sebagai agama baru di luar Islam jelas tidak tepat karena mereka menganggap mereka Islam. Mereka tetap shalat, baca Quran juga hanya saja mereka menganggap ada Nabi baru dan Kitab Baru. Kalimat “…sepanjang…” mengindikasikan kebijakan pemerintah dalam mengahadapi masalah ini. Dengan mereka mengaku Islam tentu seharusnya mereka merubah pandangannya itu.Tidak mau merubah juga tidak masalah tapi tentunya klaim agama Islam mereka bisa dipertanyakan

Saya juga salut dengan isis SKB point 4 dan 5. Dengan point itu jikaAhmadiyah melanggar dengan tetap mendakwahkan ajaran mereka yanf tidak sesuai tersebut maka dia bisa dipidanakan. Sebaliknya pihak yang kontra Ahmadiyah jika merek menggangu bahkan merusak segala asset Ahmadiyah mereka juga bisa dipidanakan. Sebuah keputusan yang saya kira cukup adil…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: