Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Ngalor-Ngidul Ngobrol Peta Politik di Indonesia

Malam itu Pongkring sedang menikmati wedang jahe di angkringan lik Warjo bareng si Mangunwijaya alias Jay. Selain mereka bertiga masih ada lagi satu orang lagi yang tidak dikenal Pongkring.

“Tadi aku browsing republika[dot]co[dot]id katanya Golkar mempersilahkan mbak Tutut binti Soeharto sang mantan Presiden RI kembali ke Golkar. Selain itu para purnawirawan Jenderal juga dipersilahkan masuk Golkar soalnya katanya lagi Golkar kan dulunya didirikan oleh para tokoh TNI jadi Golkar sangat terbuka bagi mereka” kata Pongkring

“Alaah paling itu cuma taktik Golkar aja mas, biar bisa menang Pemilu besok” jawab lik Warjo

“Golkar kan emang menang di pemilu 2004 kemarin lik” balas Pongkring

“Bukannya PDIP?” tanya lik Warjo

“Bukan, secara kuantitas jumlah kursi di DPR Golkarlah yang menang. Golkar atau yang sekarang mendeklarasikan diri sebagai Partai Golkar meraih 128 kursi legislatif sementara PDIP cuma 105 kursi. Bahkan menurut hitung-hitungan jumlah pemilih antara jumlah suara PDIP dengan suara Golput atau orang-orang yang berhak memilih tapi tidak menggunakan haknya jumlahnya lebih besar Golput. Jadi menurut urut-urutan pemenang Pemilu 2004 adalah Gokar, Golput baru PDIP” beber Pongkring

“Ooh, gitu ya?” tanya lik Warjo

“Kembali ke awal, kalo menurutku sih ajakan Golkar ke Jenderal-jenderal gabung ke Golkar sepertinya rada sulit soalnya ada satu sainngan yang cukup lumayan yaitu partai Hanura-nya Wiranto. Wiranto kan mantan Jenderal pastinya para Jenderal lebih gabung ke temannya kan? Dan Wiranto pasti juga sudah lebih dulu ngajak para Jenderal. Kalaupun ada yang masuk Golkar, bisa dikatakan dia benar-benar oportunis aja, nggak murni setia pada partai” Jay si ketua BEM yang entah bener-bener ngerti politik atau cuma sok tahu ikutan ngobrol

“Kalo manuver Golkar menarik mbak Tutut?” tanya Pongkring

“Itulah pintarnya Golkar. Saat rakyat masih berduka cita akibat meninggalnya Pak Harto dan simpati rakyat ke keluarga cendana masih tinggi, Golkar masuk panggung. Rakyat sendiri saat ini bisa dikatakan merindukan masa-masa Soeharto dimana harga-harga murah, lapangan kerja luas, dollar cuma dua ribu sekian nggak seperti sekarang apa-apa mahal mau kerja juga sulit. Mbak Tutut sendiri bisa dikatakan keturunan pak Harto yang paling bersih diantara putra-putranya yang lain. Gus Dur dulu pernah bilang bahwa mbak Tutut-lah calon penerus pak Harto. Aku yakin banget dengan mbak Tutut masuk Golkar, rakyat yang merindukan masa keemasan Orde Baru pasti akan memilih partai itu, karena partai yang identik dengan Orde Baru adalah Golkar” jawab Jay

“Tapi dulu kan mbak Tutut pernah mbikin partai sendiri yang ternyata gagal total cuma dapat dua kursi di DPR, mana bisa ngangkat pamor partai sekaligus pendulang suara?” balas Pongkring

 “Trus juga kenapa nggak dari dulu mbak Tutut diajak masuk Golkar. Lagipula bukannya malah dengan bakal masuknya mbak Tutut dan para Jenderal justru membuat citra Orba yang dulu coba dikikis malah muncul kembali?” tambah Pongkring lagi

 “Dulu memang citra Orba coba dikikis Golkar tapi kalo sekarang aku lihat Golkar nggak terlalu peduli tuh. Golkar masih saja mendewakan pak Haro dengan meminta beliau dijadikan pahlawan. Mbak Tutut tidak diajak dari dulu karena momennya waktu itu belum pas. Citra Orde Baru waktu itu sangat jelek. Golkar yang sedang mebangun image baru akan menghindari mengajak mbak Tutut dan atau kroni cendana yang lain bergabung.” jawab Jay

“Bisa dikatakan sekarang Golkar berhasil mewujudkan keinginan memperbaiki citra tersebut. Kita lihat PDIP yang menang di Pemilu 1999 nyatanya di Pemilu 2004 malah kalah kembali dimenangkan Golkar. Ada tiga kemungkinan kenapa hal itu terjadi. Pertama rakyat tidak puas dengan kepemimpinan Megawati yang PDIP selama dia jadi presiden, karena tanpa diduga ternyata setelah jadi presiden ternyata Megawati malah lebih banyak diam dan kurang gerak. Kedua rakyat ingin kembali ke masa Orba dimana segalanya mudah mulai dari makan sampai cari kerja. Golkar yang termanifesto sebagai partai Orba tentunya menurut rakyat bisa mewujudkannya. Yang ketiga Golkar berhasil memperbaiki citranya dan tumbuh sebagai murni partai baru yang berhasil.” ulas Jay dengan meyakinkan

“Yang ketiga itu kelihatannya nggak mungkin deh” kata Pongkring

“Menurutku juga gitu sih. Aku lebih cenderung ke kombinasi kemungkinan pertama dan kedua. Jadi, sekali lagi ini menurutku lho kamu nggak sepakat juga nggak apa-apa, rakyat kecewa dengan kepemimpinan Megawati sekaligus ingin sejahtera lagi seperti di era pak Harto dengan jalan memilih partai Golkar alias partai Orba meskipun sebenarnya saat ini sudah bukan partai Orba lagi. Bukti kekecewaan rakyat dengan ibu Megawati yang paling jelas ya kekalahan dia di Pilpres” kata Jay lagi

“Padahal bisa dikatakan Megawati beruntung mendapatkan pasangan sekelas Hasyim Muzadi sang ketua PBNU. Megawati yang punya banyak penggemar fanatik berduet dengan ketua PBNU yang mempunyai basis massa sangat banyak  harusnya bisa dengan mudah menangin Pemilu ya?” sela lik Warjo

”Bener sekali lik, analisisku lagi-lagi disamping pamor SBY yang sedang naik yang berduet dengan Golkar yang massanya tak kalah banyak rakyat kecewa dengan Megawati. Perolehan massa dari PBNU tidak maksimal karena kemungkinan juga karena banyak warga nahdliyin yang kecewa Gus Dur tidak dapat maju di Pilpres. Selain itu Hasyim malah berduet dengan Megawati yang ’mengkhianati’ Gus Dur saat beliau jadi presiden tambah kecewa deh warga nahdliyin. Ya sudah dipilihlah calon yang lain. Tetanggaku di Lampung sana ada yang NU sejati tapi dia nggak milih Mega-Hasyim tapi malah dengan bangga ngaku milih SBY-JK. Kata tetanggaku itu Jusuf Kalla juga orang NU jadi sama-sama cawapres-nya orang NU mending milih yang presidennya tidak ada masalah” jawab Jay

”Denger-denger sih gitu, JK itu pengurus NU di Makassar. Analisismu ngeri juga Jay, nggak sia-sia kau jadi ketua BEM Universitas” kata Pongkring

”Harus dong. Malu-maluin banget aktivis kampus nggak tahu peta perpolitikan Nasional.” jawab Jay sambil mengakhiri diskusi

 

 

Iklan

2 responses to “Ngalor-Ngidul Ngobrol Peta Politik di Indonesia

  1. kamal Agustus 15, 2008 pukul 8:05 am

    halo… halo…

    ada blog baru nih, ttg politik yg dibahas secara shanthaaiii….

    ini alamatnya

    ngobrolpolitik.co.nr

  2. Yasir Alkaf Agustus 15, 2008 pukul 12:21 pm

    terima kasih atas kunjungannya. Tema blog saya ini memang ingin bahas politik dg bahasa santay disamping juga utk menuliskan pengalaman2 pribadi saia. Btw ngobrolpolitik.co.nr ga aktif tuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: