Yasir Alkaf

Movie – Football – Book – Daily Life

Dinamika Pemilihan Bupati Banyumas

Akhirnya Pongkring mengetahui juga sang Bupati Banyumas terbaru. Pasangan Cagub-cawagub yang terpilih yaitu pasangan Mardjoko Husein atau yang dalam kampanye mr\ereka biasa dipanggil sebagai MarHaen yang merupakan akronim nama mereka. Pongkring sendiri sebagai warga Banyumas sejati tanggal 10 Februari kemarin turut serta dalam PilKaDa tersebut. Sambil nunggu adzan isya, Pongkring dan Jay ngobrol-ngobrol di serambi masjid at Tahrim tentang pilkada tersebut. Kyai Syamsuri sang imam Masjid ada di dalam sedang membaca Al Quran.

“Tadi aku nelpon ibuku di rumah, katanya Pilkada Bayumas dimenangkan oleh pasangan Marhaen alias Mardjoko-Husein. Sesuai prediksiku pasangan itu menang juga” kata Pongkring

“Sesuai prediksimu? Berarti jangan-jangan kamu juga milih mereka ya?” balas Pongkring sambil tersenyum

“He..he.., rahasia dong” jawab Pongkring

“Makin mencurigakan nih. Pake acara rahasia-rahasiaan siy.Tapi ya terserah sih kamu mo pilih siapa, toh itu hakmu juga. Denger-denger kader nahdliyin ada di semua pasangan cabup-cawabup ya? Cerita-cerita dong! Lumayan kan sambil nunggu adzan isya” tanya Jay

“Hampir bener Jay, tiga dari empat pasangan cabup-cawabup adalah kader nahdliyin. Tapi tragisnya justru yang menang malah yang satu-satunya itu, alias yang bukan kader nahdliyin.” kata Pongkring

Ketika mendengar penuturan Pongkring ini, Jay ketawa terbahak-bahak karena Jay tahu kalau si Pongkring bisa dikatakan simpatisan muda NU meski dia tidak bergabung dengan organisasi-organisasi yang berkaitan dengan NU.

“Jangan ketawa dulu bro, belum selesai nih…” kata Pongkring

“Sorry, sorry, monggo diterusin”´kata Jay meminta maaf

“Aku lanjutin nih. Aku kenalin dulu namanama calon tersebut ya. Aku urut dari belakang aja. Di nomor urut 4 ada pasangan Aris Wahyudi-Asroru, si Asroru ini putra dari mantan ketua Muslimat NU. Kalo kamu belum tahu, Muslimat itu organisasi perkumpulan para wanita NU. Kemudian selanjutnya di pasangan nomor 3 ada Bambang Priyono dan Tossy. Bambang sendiri adalah anggota Forum Cendekiawan Nahdliyin Banyumas. Selanjutnya pasangan nomor urut 2 yaitu Singgih–Laely, Ibu Laeli itu termasuk pejabat teras NU Banyumas karena ketua Muslimat NU Banyumas periode sekarang. Sedangkan yang terakhir adalah pasangan MarHAein itu. Meskipun keduanya bukan kader struktural NU tetapi mereka maju ke Pilkada dengan mengendarai PKB. Itulah mengapa pasangan Marhaen itu bisa menang, karena mereka mendapat berkah suara dari massa NU dan PKB yang lumayan banyak di Banyumas.” kata Pongkring panjang lebar.

“Masa sih mereka menang cuma karena mendapat berkah massa aja sih. Pastinya program mereka juga mendukung dong” sela Jay

“Bener juga siy. Kemenangan mereka tidak bisa dikatakan hanya karena beruntung aja. Program mereka memang lumayan menarik yaitu katanya akan memajukan Banyumas dengan investasi. Denger-denger meskipun saat itu belum pasti menang pilkada Mardjoko sudah menggandeng satu investor dari lima yang dijanjikan. Sementara itu para Cabup yang lain menurutku kampanyenya kurang kreatif yaitu cenderung hanya mengumbar janji-janji standar seperti pengobatan gratis, pendidikan gratis dan lain-lain yang serba gratis” kata Pongkring lagi

“HA..ha..ha, hari gini janji mau gratis, kencing aja mbayar. Oya bukannya daerah Banyumas merupakan kantong massa PDIP, masa bisa calonnya kalah?” kata Jay

“Emang bener gitu. Banyak daerah di kabupaten Banyumas yang merupakan basis massa PDIP, tapi PDIP tetap saja gagal total. Kata orang-orang siy PDIP salah memilih calon bupati sehingga sebagian suara PDIP mengalir ke pasangan lain. Kebanyakan dari suara mereka mengalir ke Bambang Pri yang aslinya dicalonkan koalisi PPP, Demokrat dan PKS” ujar Pongkring

“Koq bisa?” tanya Jay lagi

“Sekali lagi ini kata warga lho. Aslinya cabup dari PDIP itu Bambang Pri bukannya Aris, tapi entah bagaimana tiba-tiba ada instruksi dari pusat yang membatalkan pencalonan Bambang Pri dan diganti Aris. Bambang Pri akhirnya mencalonkan diri melalui koalisi tiga partai itu. Yang di luar dugaan para pengurus PDIP, ternyata masih ada kader yang setia kepada Bambang Pri karena saat kampanye terbuka Bambang Pri hampir selalu ada bendera PDIP. Nggak bisa dipungkiri ini menjadi bukti terpecahnya suara PDIP. Aris sendiri entah kurang pede atau gimana di setiap kampanyenya selalu menyerukan jangan keliru memilih calonnya PDIP. Calon resmi PDIP adalah dirinya bukan yang lain. Di jalan-jalan bahkan banyak spanduk bergambar Megawati dengan tulisan seolah Megawati berkata ’Saya instruksikan warga PDIP untuk memilih Aris Wahyudi’. Tragisnya ternyata kampanye mereka tidak berhasil. Aris Wahyudi malah menduduki posisi buncit sementara Bambang Pri bisa meraih posisi kedua. Secara logis hal itu nggak mungkin terjadi karena massa PPP, Demokrat dan PKS tidak sebanyak itu” ulas Pongkring

“Repot juga ya kalo keputusan yang sudah disepakati di daerah, tiba-tiba dibatalkan pusat. Mungkin hal itu bisa menjadi pembelajaran PDIP kelak. Berarti bisa dikatakan PDIP melakukan dua kesalahan ya. Pertama salah memilih cabup yang tidak sesuai keinginan suara akar rumput PDIP sendiri. Kedua mereka salah memilih warga nahdliyin yang didapuk sebagai cawabup karena ternyata perolehan dari warga nahdliyin kurang maksimal.” kata Jay

“He eh. Terang aja Aris gagal mendulang suara nahdliyin karena yang sesungguhnya kader nahdliyin kan ibunya bukan Asroru. Kalau ibunya bisa dkatakan masih mempunyai pengaruh di kalangan Muslimat tapi kalo Asroru bisa dikatakan tidak terlalu dikenal oleh warga nahdliyin. Paling mereka tahunya dia anak mantan ketua Muslimat Banyumas. Mungkin harusnya yang diajak ibunya kali ya biar suranya bisa maksimal” kata Pongkring sambil tersenyum

“No comment deh” kata Jay

“Tapi si Bambang Pri emang terkenal ya? Koq bisa meraih posisi kedua?” tanya Jay lagi

“Sebenarnya aku juga rada bingung sih. Antara bu Laely dengan Bambang Pri sebenarnya lebih populer bu Laely, jadi prediksi awalku pasangan Singgih-Laely yang bakal bersaing dengan Marhaen, tapi ternyata prediksiku salah. Kemungkinannya warga nahdliyin berpikir seperti ini, kalo jelas ada Calon Bupati yang warga NU kenapa harus memilih warna NU lainnya yang cuma jadi calon wakil bupati aja? Selain itu kemungkinan kedua sebagian warga kecewa dan menjadi kurang simpati kepada pasangan Singggih-Laely karena mereka melakukan black campaign.” kata Pongkring

Black campaign? Maksudmu mereka melakukan kecurangan? Money politic atau gimana?” tanya Jay

“Kalau money politic aku nggak terlalu tahu ada atau nggak. Yang jelas dan yang lebih heboh pasangan itu mencatut nama Departemen Pendidikan dalam kampanye. Jadi gini. Mereka memberikan semacam bantuan buku pelajaran dan buku tulis ke sejumlah SD. Sayangnya buku bantuan itu bersampulkan gambar mereka dan yang lebih parah lagi diembel-embeli logo Diknas. Harusnya Institusi Pemerintahan bebas dari segala macam kampanye, sehingga meskipun perbuatan itu niatnya bantuan tetap dianggap pelanggaran kampanye. Kemarin sih pihak-pihak yang bersangkutan sudah dipanggil, nggak tahu kelanjutannya gimana” kata Pongkring

“Selain itu beberapa oknum simpatisan mereka masih saja melakukan kampanye meskipun sudah memasuki masa tenang. Mereka juga di masa tenang membagi-bagikan contoh kartu suara yang hanya bergambar Singgih-Laely. Menurutku dua pelanggaran itulah membuat simpati warga menjadi berkurang dan pasangan itu menjadi kalah” kata Pongkring lagi

“Ya itulah resiko dari sebuah pilkada. Ada yang menang ada yang kalah. Pastinya yang kalah kan juga sudah ngeluarin duit yang tak kalah banyak dari yang menang kan? Smoga aja pihak yang kalah bisa menerima kekalhannya dan tidak berbuat anarkis seperti yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia baru-baru ini” kata Jay

“Amiin. Eh udah adzan uth masuk yuk” ajak Pongkring

Dan obrolan mereka pun usai

2 responses to “Dinamika Pemilihan Bupati Banyumas

  1. Kaze Februari 17, 2008 pukul 4:38 pm

    Selamat bekerja buat pasangan Marhein. Semoga sukses dalam mewujudkan program-programnya menjadikan Banyumas lebih makmur.

  2. Yasir Alkaf Februari 18, 2008 pukul 10:44 am

    Dan semoga janji yg dijanjikan bukan sekedar janji belaka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: